CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
46. Dibalik Pintu Kamar


__ADS_3

...Happy Reading...


Pun terkadang, kita tidak perlu menjadi mereka, untuk dilihat oleh mereka-mereka yang lain, sekalipun jalan kita berbeda, bukan berarti kita Kalah.


Itulah pedoman seorang gadis cantik yang bernama Niar, dia tidak perduli dengan apa dan siapa orang yang berada didekatnya, panduan hidupnya, selama dia tetap ada di jalur yang benar, dia tidak akan memperdulikan apapun disekelilingnya, dia hanya ingin hidup tenang, enjoy, damai dan sentosa saja.


Bugh!


" Aw.. aw.. pelan-pelan dong pak." Niar protes ketika Marvin menurunkan tubuh Niar dikasur tanpa kelembutan sama sekali.


" Bapak ini kasar banget sih?"


" Masak jadi dokter galak-galak!"


" Miris banget yang jadi pasien bapak!" Hujat Niar yang langsung memelototkan matanya kearah Marvin, yang terlihat langsung memicingkan kedua matanya.


" Owh..."


" Kamu mau saya perlakukan dengan lembut seperti pasien-pasien saya?" Marvin mendekatkan wajahnya ke arah Niar dengan tatapan sinis.


" Tentu saja." Niar langsung mengubah raut wajahnya menjadi sok imut.


" Aku juga manusia biasa, yang selalu menginginkan kelembutan dalam setiap perkataan." Ucap Niar dengan ekspresi wajahnya yang terlihat meyakinkan sekali.


" Dan asal pak dokter tahu nih yaa, jangan pernah membeda-bedakan orang lain, apalagi hanya karena soal status!"


" Kalau kata Yoyo sih.."


" Emm.. iissh.. iissh.. iissh.. tak baik tauuuuuuu!" Niar langsung menirukan gaya Yoyo si bocah ajaib itu yang selalu membuatnya angkat tangan.


" Ciiiihhh...!"


" Jangan pernah menodai otak suci Yoyo kamu ya!" Marvin langsung tidak terima Yoyo dibawa-bawa dalam masalah mereka.


" Herrm... tapi, apa kamu yakin mau jadi pasien spesial saya?"


" Yang akan saya prioritaskan?"


" Dengan penuh kelembutan?"


" Tapi ada syaratnya!" Marvin bersedekap didepan Niar dan mulai tersenyum dengan licik.


" Diiihh..."


" Kok aku malah jadi merinding ya, liat senyum bapak?" Niar mengamati setiap pergerakan tubuh Dokter tampan itu.


" Tapi dari pada dikasarin aku tetep milih dilembutin sih?"


" Emang apa syaratnya?" Niar mengusap lengannya sendiri, seolah ada hawa-hawa aneh yang berhembus disekelilingnya.


" Kamu yakin?" Tanya Marvin memastikan.


" Yakin dong!" Ucapnya dengan mantap.


" Apaan tuh?" Niar bahkan memajukan wajahnya dan menajamkan pendengarannya.


" DE PRE SI." Marvin menekankan setiap hurufnya.


" Atau orang awan sering menyebutnya GILA!"


" Mau?" Marvin memiringkan wajahnya tepat didepan wajah Niar yang langsung mengaga.


" HAH!" Bahkan biji matanya seolah mau menggelinding keluar dari cangkangnya saat mendengarnya.


" Enak saja!" Niar langsung beringsut mundur.


" Pahit.. pahit.. pahit..!" Dia pun sontak memukul-mukul kepalanya dengan jarinya.


" Kalau begitu nggak usah cerewet kamu!"


" Karena diam lebih baik daripada gendang telingaku rusak gara-gara suara jelekmu itu!"


" DIAM..!" Ditariknya kaki Niar untuk melihat seberapa parah kakinya tadi.


" Astaga pak dokter!"


" Pelan-pelan, kalau kakiku patah memangnya bapak mau menggendong aku apa!" Teriak Niar sambil meringis kesakitan, kakinya benar-benar terasa nyeri, karena sendalnya tadi lumayan tinggi juga saat terjatuh.

__ADS_1


" Kurang kerjaan banget aku gendong kamu!"


" Buang-buang waktu dan energi!"


" Apa gunanya diciptakan kursi roda di dunia ini?" Marvin langsung menatap jengah wajah Niar.


" Loh... ini semua kan gara-gara bapak!"


" Jadi manusia itu harus bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan, baik secara sadar maupun tidak sadar!"


" Apalagi anda seorang dokter!"


" Mesti anda ingat itu!" Kata-kata bijak Niar tentang kehidupan langsung keluar lancar dari mulutnya.


" Jadi beneran, mau aku patahin sekalian kakimu ini!" Marvin memijit agak keras dibagian pergelangan kaki Niar.


" Arrrrrggghhhhh... sakit pak!"


" Hiks.. hiks.. Mamiiiiiiii..." Teriak Niar mengaduh kesakitan, bahkan air matanya keluar karena kakinya kembali berdenyut nyeri.


" DIAM." Marvin mendekap mulut Niar dengan satu tangannya.


" Kamu mau mengacaukan acara lamaran sahabat kamu apa!" Marvin langsung mengeratkan barisan gigi putihnya didepan wajah Niar.


" Tapi beneran sakit ini pak.."


" Sakit banget malah!" Niar memejamkan matanya menahan rasa sakit dikakinya.


" Makanya diem!"


" Nggak usah mewek!" Marvin mengusap lembut air mata Niar yang menetes.


" Jangan lemah!" Walau suara Marvin terdengar kasar tapi sentuhan tangan diwajah Niar sangat lembut.


Weiissh... gile? ternyata dokter pria yang satu ini, biar galak tapi nggak tegaan liat orang nangis, sentuhan tangannya OMG..! lembut sekali...?


Niar masih memejamkan matanya dan merasakan sentuhan lembut tangan Marvin saat mengusap air matanya di pipi kanan dan kirinya.


" Tahan sedikit ya?" Tangan Marvin langsung pindah kepergelangan kaki Niar.


" Mungkin ini sedikit sakit!" Marvin memijit dulu dengan perlahan pergelangan kaki Niar.


Kleeek!


" Arrrgghh!"


Bukan suara Niar yang berteriak sekilas itu, namun malah suara Dokter Marvin sendiri, karena Niar menggigit lengan Marvin sekuatnya, dia tidak mau membuat kekacauan kedua kalinya dalam acara lamaran sahabatnya, jadi dia tidak berteriak, dia lebih memilih menggigit apa yang ada didepannya, bahkan kedua tangannya memeluk tubuh Marvin dari belakang karena posisinya membelakangi tubuh Niar ditepi ranjang.


" Kamu mau melubangi lengan saya dengan gigi taringmu itu!"


" Dasar DRAKULA!" Marvin protes namun tangannya masih tetap memijit kaki Niar setelah dia menarik pergelangan kaki Niar untuk membetulkan ke posisi semula, karena mungkin kakinya tadi kesleo.


" Hiks.. Hiks.." Niar kembali terisak perlahan.


" Dokter beneran mau matahin tulang aku?" Bahkan Niar memukul punggung Marvin yang belum beranjak dari aktifitasnya.


" Sebentar lagi aku mau wisuda dokter!"


" Aku juga belum menikah!"


" Arrgghh... Gimana kalau kekasihku tidak terima kalau kakiku pincang." Niar bahkan memukulkan keningnya berulang kali dipunggung kekar Marvin.


" Ini semua gara-gara dokter!" Niar mengoceh kesana-kesini walau dengan nada yang lemah.


" Ciiiiiihhh!"


" Buang saja lelaki model seperti itu!" Umpat Marvin yang malah tertawa mengejek mendengar ocehan Niar.


" Enak saja!"


" Maksud dokter apa!" Niar langsung melupakan rasa sakitnya, saat kekasih hatinya yang dia agung-agungkan itu dihina oleh orang lain.


" Loh benarkan?"


" Saat pasangan kita tidak menerima kita apa adanya dan malah memilih untuk pergi karena kekurangan kita, untuk apa dipertahankan?"


" Buang-buang waktu saja!"

__ADS_1


" Perasaan kita terlalu berharga untuk disia-siakan oleh seseorang." Ucap Marvin menggebu-gebu, seolah dia ikut benci membayangkannya saja.


" Ciiieeeeeee?"


" Dokter curhat ni ye?" Niar malah tersenyum mendengar umpatan Marvin, seolah-olah dokter itu pernah mengalaminya.


" Baru putus cinta ya?"


" Pantesan galaknya minta ampun!"


" Kalau gw mah enggak!"


" Pacar gw mah Uwooooowww banget!" Dia bahkan mengacungkan jempolnya.


" Nggak bakalan kayak gitu dia mah!" Niar kembali pada sifat aslinya yang cerewet itu, karena kakinya sudah terasa enakan setelah aksi penarikan tadi.


" Hidiiih."


" Emang kamu tahu dibelakang kamu dia kayak apa?"


" Memangnya kamu bisa memantau dia dua puluh empat jam!"


" MUSTAHIL." Marvin langsung menatap tajam wajah Niar yang selengekan itu.


" Enak saja!"


" Cowok gw tuh ya pak TOP BANGET."


" Setia, perhatian, pengertian, penuh kasih sayang."


" Dan yang paling penting nih yaa, tampannya itu lho, beuuuhhh... luaarrr biyasaaa!"


" Kalau bapak cewek juga pasti langsung klepek-klepek saat melihat senyuman manisnya."


" Dia itu penuh dengan kelembutan, nggak kayak pak dokter sukanya marah-marah." Umpat Niar puas bisa membanggakan kekasihnya sekaligus mengumpat Marvin langsung.


" Ciiihhh!"


Ingin sekali rasanya Marvin muntah ditempat, saat mendengar pujian Niar untuk kekasihnya itu.


" Ya jelas bapak ditinggalkan kekasih bapak."


" Orang bapak galaknya minta ampun!"


" Nih yaa... resep hubungan langgeng."


" Saling mengerti, saling memahami dan saling mengasihi satu sama lain."


" Owh ya?"


" Pak dokter mau tau enggak, Trik jitu agar pasangan kita tidak mudah berpaling?" Niar bahkan seperti sudah kenal dekat dengan Dokter super dingin itu.


" MALAS." Ucap Marvin masih terus memijit kaki jenjang Niar itu.


" Diiihh beneran pak!"


" Ini trik jituu banget!"


" Rata-rata nih ya, orang yang aku kasih tips ini, langeng sampai menikah, sampai punya anak banyak tau!"


" Sini aku bisikin." Niar menarik-narik baju Marvin agar dia menoleh kebelakang.


" Kurang kerjaan banget!" Umpat Marvin.


" Sini deh aku bisikin!" Niar memajukan kepalanya disamping tubuh Marvin.


" Emang bapak mau jomblo sampai tua?" Niar bahkan sedikit mengubah nada suaranya lebih ke horor.


" Nggak laku-laku sampai rambut bapak putih semua gituh?"


" Emang ba------"


Cup


Saat Niar masih gencar-gencarnya berbicara, tiba-tiba Marvin menoleh kearah suara itu, karena merasa terhina ada kata-kata 'TUA' disana. Karena wajah Niar ada disamping tubuh Marvin, tanpa sengaja bi bir mereka tabrakan disana, dan membuat kedua insan itu mematung sejenak, entah apa yang ada difikiran mereka masing-masing, yang pasti sekarang, tubuh mereka seolah-olah seperti terkena setrum aliran listrik daya tinggi.


..." Cinta bisa datang dan pergi kapan saja, tapi cinta sejati, pasti datang tepat pada waktunya."...

__ADS_1


Dan cinta bisa datang, saat hadiah anda mampir dibawah sini🄰


__ADS_2