CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
7. Terpesona


__ADS_3

...Happy Reading...


Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Semua upaya dilakukan, baik memberi kasih sayang maupun pendidikan yang layak. Sejak kecil, orang tua sebisa mungkin menanamkan nilai-nilai baik kepada anak. Selain dengan memberikan teladan, orang tua juga senantiasa memberikan nasihat yang membangun.


Namun apalah daya, orang tua kandung Yoyo sudah meninggal semua, dan Paman yang sekaligus menjadi ayahnya itu memikul beban yang cukup berat dari perusahaan warisan orang tuanya, sehingga waktu dan kasih sayangnya pun tidak tercurahkan untuk Yoyo.


Setelah menyelesaikan administrasi dan pemindahan Yoyo ke ruangan VIP, Niar masuk kedalam ruang rawat inap Yoyo.


" Niar..."


" Mana pak presdir?" Tanya Jani tanpa suara.


" Tadi dia kesini sebentar."


" Saat melihat Yoyo baik-baik saja dia kembali pergi."


" Katanya ada meeting!" Niar berjalan mendekat dan segera membereskan barang-barang Yoyo.


" Heh?"


" Kamu mau ngapain?"


" Apa Yoyo sudah boleh dibawa pulang?" Tanya Rinjani saat melihat Niar membereskan baju Yoyo.


" Belom."


" Pak presdir menyuruh kita memindahkannya di ruangan VIP."


" Aku sudah mengurusnya, sebentar lagi pasti perawat datang memindahkannya."


Benar saja, tak lama kemudian beberapa perawat masuk dan memindahkan Yoyo kedalam ruangan yang terlihat mewah, bahkan seperti kamar dihotel berbintang.


" Buset dah..."


" Uang memang tidak bisa menipu ya cuy!"


" Berapa biaya rawat inapnya dalam sehari ya?" Rinjani melihat-lihat disekeliling, bahkan terlihat bagus pemandangan luar dari ruangan itu.


" Paling dalam semalam, bisa buat kita makan satu bulan!" Ucap Niar ngasal.


" SOTOY luu..."


" Kayak yang tau aja!" Rinjani langsung menoyor kepala Niar sambil tertawa.


" Kok nggak percaya luu!"


" Gw yang bayar ke ruangan administrasi tadi!" Ucapnya tidak terima, karena memang dia sendiri yang melihat biaya rawat inap Yoyo dilayar monitor perawat tadi.


" Uang dari mana luu?"


" Habis ngepet tadi?"


" Belom juga malam jumat, udah ngimpi pasang lilin luu!" Rinjani tertawa mendengar ucapan Niar yang terkesan mustahil.


" Nah... nah...!" Niar menunjukkan blackcard pemberian presdirnya.


" Buseeett dah!"


" Habis godain om-om tajir mana luu?"


" Bisa langsung dikasih blackcard gini?"


" Wooooww... luar biasa kamu!"


" Udah siap digrepe-***** sama tu om-om luu? Hahaha..." Rinjani langsung menggoda Niar habis-habisan.


" Astaga...!"


" Otak luu ya!"

__ADS_1


" Melenceng aja ke arah keme suman!"


" Taulah kelamaan jomblo, jadi jablay kan luu!"


" Sudahh gw bilang, embat aja tuh juragan bakso!"


" Biar nggak tampan yang penting setia, dan yang lebih penting lagi, bisa makan bakso gratis sepuasnya, haha..!" Niar tak kalah heboh membully Jani balik.


" Trus siapa dong om-om apes yang eluu kadalin itu!" Rinjani sontak penasaran.


" Tuh om-om bapaknya tu bocah!"


" Dia ngasih ini tadi sebelom dia pergi!" Niar menyerahkan blackcard itu ketangan Jani.


" Berapa kira-kira isinya ya cuy?"


" Kita gesek dikit buat beli bakso ketahuan nggak yah?"


" Laper gw belom makan sedari tadi!" Rinjani mengusap-usap perutnya sendiri.


" Mau beli bakso sama warung-warungnya juga paling nggak ketahuan!"


" Tapi yang bener aja, masak iya beli bakso harus nyuri punya bos loe!"


" Kayak orang tipis saja luu..!"


" Entar gw beliin bakso didepan deh!" Ucap Niar sok soleha, kalau bukan dia yang dititipi blackcard itu juga mungkin dia yang jadi setannya.


" Ckkk..."


" Iya bu Nyai..!"


" Lagian juga kang bakso tidak mungkin menerima pembayaran lewat gesekan!" Rinjani langsung tersenyum miring melihat sahabatnya itu.


" Yaiyalah... gesek doang mana aciiik! hahaha.." Niar kalau hal-hal melenceng langsung nyaut.


" Hallo... assalamualaikum mah?"


" Apaah?"


" Okey mah... aku pulang sekarang juga!" Entah apa yang terjadi namun Niar langsung buru-buru mengambil tasnya.


" Woi.. woi.."


" Ada apa?"


" Kenapa dengan tante?" Rinjani ikut ketakutan melihat Niar yang terlihat khawatir.


" Penyakit bokap gw kambuh!"


" Bilangi sama presdir ya gw izin!"


" Dan ini.. blackcardnya jaga baik-baik!"


" Kasih sama dia kalau dia datang nanti!"


" Bye..." Niar langsung buru-buru keluar dan berlari pulang.


" Hati-hati Niar...!" Teriak Jani ikut khawatir melihatnya, ayah Niar memang punya riwayat sakit jantung.


Akhirnya Jani hanya bisa menahan rasa laparnya, dia kembali berbaring diranjang Yoyo dan memeluknya bahkan tanpa dia sadari dia ikut terlelap bersama Yoyo.


Saat Malam tiba Samuel datang, dia tersenyum melihat Rinjani dan Yoyo saling berpelukan.


" Yoyo... sayang." Samuel mengusap dan mengecup kepala Yoyo, dia ikut berbaring diranjang disebelah kiri Yoyo dan Jani berada disebelah kanan Yoyo.


" Hmm... sudah tidak demam." Samuel memiringkan tubuhnya untuk mengecek suhu badan Yoyo, namun tanpa sadar tangannya berpindah menyibakkan rambut Jani yang terjulur kedepan menutupi wajah cantiknya.


" Cantik.." Ucap Samuel tanpa sadar mengusap rambut kemudian berpindah mengusap pipi Jani dengan lembut, entah mengapa Samuel begitu terpesona dengan wajah dan sikap keibuan darinya, dia selalu tersenyum saat melihat Jani mengobrol atau berinteraksi dengan Yoyo dan ternyata sentuhan Samuel membuat Jani terbangun.

__ADS_1


" Argh!" Jani mengeliat dan memandang ke arah Samuel.


" Allohuakbaarrrr...!" Jani terkejut melihatnya.


" Eh... bapak?" Jani langsung bangun dan merapikan rambutnya.


" Kenapa kamu belom pulang?" Tanya Samuel yang ikut kaget juga.


" Saya nungguin bapak sedari tadi?" Rinjani tersenyum canggung jadinya.


" APA..?"


" Kamu menungguku?" Perasaan Samuel sudah melayang, entah mengapa dia merasa bahagia ketika ada seorang wanita mengatakan bahwa dia menunggunya.


" Emm.. maksud saya, saya nungguin bapak buat menggantikan saya menjaga Yoyo disini."


" Karena Yoyo sepertinya kurang nyaman kalau dijagain suster saja."


" Dia bahkan tadi menangis saat melihat tangannya ada selang infus." Jelas Rinjani tidak ingin presdirnya salah paham, dia sadar diri, siapalah dirinya yang berani-beraninya menunggu kepulangan presdir tajir mlintir itu pikirnya, dia hanyalah remahan rengginang ditepi toples.


Siaaaal... kirain nungguin aku! argh... apa yang kamu pikirkan Samuel, harga diri dong!


" Eherrrm.. ehermm.." Samuel terlihat menetralkan suaranya.


" Kalau begitu saya permisi pamit pulang saja pak!" Jani langsung bersiap-siap membereskan tas dan barang-barangnya.


" Kamu mau pulang jam segini?" Samuel melihat jam dipergelangan tangannya.


" Yakin kamu berani?" Samuel tersenyum miring, karena waktu menunjukkan pukul dua pagi.


" Haah... astaga?"


" Ternyata sudah jam dua pagi." Rinjani mengecek ponselnya, ada beberapa panggilan dari adeknya, dia pun segera mengirimkan pesan, bilang bahwa dia tidur ditempat Niar.


Krucuk.. krucuk..


Tiba-tiba suara perut Rinjani sampai ditelinga Samuel, hingga membuatnya tersenyum miring.


" Hehe.."


" Maaf.. saya belom sempat makan tadi."


" Saya ketiduran!"


" Kalau begitu saya pergi ke kantin bawah dulu pak, hehe..." Rasa malunya sudah tidak tertahan lagi, suara perutnya begitu nyaring terdengar.


" Tunggu disana!"


" Biar aku suruh sopir membeli makanan direstaurant terdekat.


" Kalau dikantin jam segini pasti cuma ada mie rebus saja!"


" Tidak baik terlalu banyak makan mie instant!"


Samuel langsung mengirimkan pesan kepada sopirnya yang masih standby dibawah.


" Hehe... maaf pak, merepotkan!" Ucap Rinjani tersenyum malu-malu, padahal dalam hati dia mengumpat habis presdirnya itu, gara-gara dia datang terlambat dia harus kelaparan disini pikirnya.


Tak selang beberapa lama, seorang pria berseragam hitam sudah membawakan dua kotak makanan yang baunya sungguh menggoda selera, apalagi disaat perut lapar, Rinjani terlihat tersenyum saat menerimanya, bagi Rinjani hidup bahagia itu simpel, bisa makan enak apalagi gratisan, sungguh nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan.


" Aku membutuhkanmu!"


" Uhuuukk... uhuuukkk..."


Baru saja makanan lezat itu ingin masuk kedalam tenggorokan Rinjani, tiba-tiba langsung mun crat keluar kembali saat mendengar ucapan Samuel.


..." You will never find a reason when love someone its because a true love comes with no logical reason."...


..." Jatuh cinta adalah anugerah dan kita nggak akan pernah bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta dan akan di jatuhi cinta oleh orang lain."...

__ADS_1


__ADS_2