CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
9. Kebahagiaan Yoyo


__ADS_3

...Happy Reading...


...“ Anak terlahir ke dunia dengan kebutuhan untuk disayangi tanpa kekerasan, bawaan hidup ini jangan sekalipun didustakan.”...


Dalam mendidik dan mengasuh anak, jangan lupa untuk memberikannya kasih sayang yang tulus.


Anak-anak yang nakal itu wajar. Sebagai orang tua, kita harus lebih bersikap sabar dan bijaksana dalam menghadapi kenakalan anak.


Begitu juga dengan Yoyo, dia memang terkadang sangat nakal, namun itu dia lakukan hanya untuk mencari perhatian orang-orang didekatnya saja, saat didekati dan dinasehati dengan lembut dia pun menurut, dia anak yang cerdas sebenarnya, hanya kurang kasih sayang saja dihidupnya.


" Yoyo.. hari ini kita sudah boleh pulang." Rinjani berucap dengan semangat, walaupun disana seperti dihotel, tapi akan lebih nyaman tinggal dirumah, suasananya lebih menentramkan dan yang pasti tidak bau obat.


" Tapi aku masih ingin disini kak?" Yoyo berucap dengan tatapan berharap saat Samuel sedang mengambil obat Yoyo di apotek rumah sakit.


" Loooh...?"


" Kenapa?"


" Ini rumah sakit Yoyo sayang, bukan hotel atau taman bermain?"


" Kenapa kamu suka tinggal disini?"


" Kamarmu bahkan lebih mewah kan dari pada ini?"


" Banyak mainannya juga?"


" Kalau disini cuma ada selang infus tuh?" Rinjani merasa heran, kenapa Yoyo seakan tidak rela pulang kerumah mewahnya dan lebih betah disini.


" Karena kalau disini, daddy nemenin aku terus."


" Bahkan nemenin aku tidur."


" Kalau dirumah daddy selalu sibuk dengan pekerjaannya!" Kata-kata yang terlihat sederhana namun membuat hati Rinjani merasa iba, melihat sosok anak kecil, yang sepertinya dalam keseharian Yoyo dia selalu merasa kesepian.


" Hmmm... begitu ya?"


" Daddy kan pekerjaannya memang banyak nak?"


" Tapi... tenang saja!"


" Mulai hari ini kakak akan nemenin kamu dirumah?" Jani mencoba memasang wajah imutnya.


" Haaah.."


" Kakak mah sama aja!"


" Sorean juga sudah pulang!"


" Yoyo itu cuma pengen bobok ditemenin!"


" Kayak daddy tadi!" Yoyo melengos sambil bersidekap.


" Oooo..."


" Begitu?"


" Kalau kakak yang nemenin kamu bobok gimana?" Jani memiringkan wajahnya melihat wajah lucu Yoyo.


" Kalau cuma bobok siang itu Yoyo cuma sebentar!"


" Nggak ada bedanya! huh..." Bibir Yoyo kembali dia monyongkan, membuat siapa saja gemas melihatnya.


" Ahaha..."


" Owh Tuan Muda, anda begitu menggemaskan sekali!"


" Sini.. sini kakak bisikin!" Rinjani membawa Yoyo kedalam pangkuannya.


" Selama Yoyo belum dapat mbak yang baru, Kak Jani akan menginap dirumah Yoyo."


" Nemenin Yoyo bobok juga?"


" Gimana.. mau nggak?" Jani menyandarkan dagunya dikepala Yoyo.


" Aciiiiiiiiiiiiiikkkk...!" Teriak Yoyo kegirangan.


" Really kak?" Yoyo langsung berbalik menghadap Jani.


Dugh!


" Aaww Yoyoooooo...!"


" Gigi kakak bisa patah kalau begini!" Rinjani mengerang kesakitan saat kepala Yoyo menyundul mulutnya.


" Mana.. mana yang patah?" Suara bariton itu langsung menggema diruangan.


" Kita bisa pergi ke dokter spesialis gigi sekarang juga!"


" Mumpung kita masih disini!" Samuel berlari mendekat kearah Rinjani dan Yoyo, ternyata sedari tadi Samuel mendengarkan obrolan mereka.


" Owh.. nggak usah pak!"


" Nggak papa, cuma terkejut saja tadi, hehe..." Entah kenapa Rinjani merasa senang dikhawatirkan seperti itu.


" Daddy...!"


" Kak Jani mau tinggal dirumah kita?"

__ADS_1


" Yeeeaaaaayyyyyy!" Yoyo bersorak dan memeluk Samuel dengan senyum yang terus mengembang, membuat lesung pipi Yoyo terlihat dengan jelas.


" Apa kamu senang?" Samuel langsung mengangkat dan menggendong tubuh Yoyo.


" Of Coures Dad!"


" Yeaayy... Yoyo ada temennya!"


" Horeeeeee...!" Yoyo melayangkan tangannya keudara karna terlalu gembira.


" Dulu kan juga ada mbak yang sering nemenin kamu?"


" Tapi kamu tidak sesenang ini sayang?" Samuel terheran melihatnya, padahal baby sister Yoyo juga menginap disana, tapi dia terlihat biasa saja pikirnya.


" Huuhh..." Mulut si pipi gembul itu sudah maju beberapa centi.


" Kalau si Mbak mah, gampang marah-marah!"


" Kadang Yoyo sering dicubit "


" Kalau enggak, sering dipelototin juga!"


" Nggak aciiiikkk!" Yoyo langsung merubah raut wajahnya menjadi kesal dan BT, karena keusilan Yoyo banyak menguji kesabaran semua baby sister yang pernah mengasuhnya.


" Emang kak Jani nggak marah kalau kamu kerjain?" Samuel tau betul kelakuan Yoyo yang sering ngerjain orang.


" Enggak!"


" Paling cuma teriak aja!"


" Yoyooooooooooooooo.... gituh, hehehe..." Yoyo mempraktekkannya dengan semangat sambil tertawa cengengesan.


" Hmmm..."


" Kakak memang terbaik kan Yo!" Jani langsung high five kearahnya, dan langsung disambut oleh tangan mungil Yoyo.


" Lumayanlah!" Ucap Yoyo dengan imutnya.


" Cantik juga nggak?" Ledek Rinjani sambil mengedipkan satu matanya.


" Hmm... biasa aja!" Sifat Yoyo tak jauh berbeda dengan Samuel ternyata.


" Hahahaha..." Samuel tertawa mendengarnya dan itu sontak membuat Rinjani terlonjak sampai memundurkan wajahnya kebelakang, tumben-tumbenan pikirnya, selama ini Jani hanya pernah melihat dia tersenyum saja, itu pun bisa dihitung dengan jari, tidak sampai tertawa lepas seperti ini.


" Ooo.."


" Kalau begitu kakak ngambek aja deh!"


" Kakak nggak jadi tinggal dirumah Yoyo lah!" Rinjani pura-pura kesal dan mengambil tas untuk memasukkan barang-barangnya.


" Halaaaaahh.."


" Apa kamu bilang?"


" Kakak sudah tua?" Dia terkejut sendiri mendengarnya.


" Woaaaahh... kakak bener-bener marah lho Yo!" Rinjani langsung menoleh kearahnya karena dibilang tua.


" Pffftttthhhh...!" Samuel kembali ingin tertawa tapi ditahannya.


" Tuh kan...!"


" Daddy kamu jadi nertawain kakak!"


" Arghh... kita nggak temenan kalau gitu Yo!" Rinjani paling pandai kalau akting merajuk dengan anak kecil.


" Daddy..!"


" Shut up!"


" Jangan tertawa!" Teriak Yoyo memarahi daddynya sambil berkacak pinggang.


" Haaah?"


" Kenapa kamu jadi marahin daddy Yo?"


" Yang ngambek itu dia, bukan daddy?" Samuel menunjuk Jani yang malah tersenyum, sedangkan dia merasa tidak terima.


" Huh!"


" Daripada kak Jani nggak jadi nginep di rumah kita!"


" Nggak ada nanti yang nemenin Yoyo bermain!" Yoyo berjalan mendekati Jani.


" Jadi Yoyo milih kakak apa Daddy nie?" Rinjani akhirnya tersenyum melihat Yoyo mendekat kearahnya.


" Milih dua-duanya lah!" Yoyo berbicara layaknya anak yang sudah beranjak dewasa.


" Kalau harus milih salah satu diantara kami, siapa yang Yoyo pilih?" Rinjani tak patah arang dalam merayu.


" Da----"


" Emmm...Kak Jani deh!"


" Kakak kan tukang ngambekan!" Yoyo berbicara dengan santainya seakan tanpa beban.


" Bahahahahaha..." Samuel tidak tahan lagi untuk tidak tertawa, apalagi melihat wajah Rinjani yang terlihat lemas saat mendengar penuturan Yoyo.

__ADS_1


" Astaga, Yoyoooo..." Rinjani menggeratkan giginya.


" Nggak ayah nggak anak nyebelin semua!" Umpat Rinjani dengan perlahan sambil kembali melanjutkan mengemasi barang-barang Yoyo.


" Haha...!"


" Okey... anak Daddy yang pintar!"


" Lets go home!" Samuel mengangkat dan membawa Yoyo kedalam gendongannya dan mereka langsung pulang menuju istana rumahnya.


" Akhirnya kita pulang kerumah juga Yo!" Rinjani langsung membereskan tempat tidur Yoyo.


" Dad.." Panggil Yoyo ketika Samuel ingin meninggalkan kamarnya.


" Ya nak?"


" Ada apa?"


" Apa ada keperluan lain?" Samuel kembali berjalan mendekat kearah Yoyo.


" Hmm.."


" Yoyo boleh minta satu permintaan?" Ucapnya penuh harap.


" Of coures..."


" Katakan saja nak?"


" Everything you feel?" Samuel duduk disebelah Yoyo dan mengusap kepala putranya itu.


" Malam ini Yoyo pengen tidur ditemenin daddy?"


" May I ask that?" Wajah Yoyo benar-benar terlihat penuh harap, anak kecil seumuran Yoyo memang masih ingin selalu ditemenin, setidaknya sampai dia terlelap dalam tidurnya.


" Emm..." Samuel terlihat berpikir.


" Please Dad..!" Yoyo memeluk lengan ayahnya.


" Pak.."


" Yoyo masih dalam tahap pemulihan."


" Sebaiknya bapak temenin dulu."


" Agar Yoyo cepat pulih seperti sedia kala." Rinjani mencoba berbicara perlahan sambil membereskan kamar Yoyo.


" Okey.."


" Daddy akan menemanimu tidur malam ini!" Akhirnya dengan segala pertimbangan, Samuel menyetujuinya.


" Yeaaay...!" Yoyo bersorak kegirangan.


" Wokey.."


" Kalau begitu kalian berdua istirahat ya?"


" Kakak tidur dikamar sebelah."


" Kalau ada apa-apa panggil kakak saja okey?" Rinjani ingin segera keluar dan mengistirahatkan tubuhnya.


" NOOO...!"


" Kakak juga tidur disini!"


" Aku mau dibacain dongeng sama kakak?" Yoyo langsung mencegah Rinjani keluar dari sana.


" Tapi Yo, kakak emm.. anu---" Rinjani masih mencari alasan untuk menolaknya, yang benar saja dia tidur seranjang bersama Samuel, bisa melek semalaman dia nanti.


" Please kak..."


" Malam ini saja deh!" Yoyo kembali membuat Rinjani susah untuk menolaknya.


" Emm..." Rinjani menoleh kearah Samuel ingin meminta persetujuannya, namun Samuel seakan cuek-cuek saja dan masih tanpa ekspresi, dia tetap saja menselonjorkan kakinya yang panjang itu disamping Yoyo.


" Ba... baiklah kalau begitu." Karena tidak ada lirikan atau tanda-tanda larangan dadi Samuel, dia akhirnya menyetujuinya, nanti saat Yoyo sudah terlelap dia bisa pindah keluar pikirnya.


" Dad..."


" Yoyo senang sekali."


" Akhirnya Yoyo punya Daddy dan Mommy malam ini!" Yoyo berbicara dengan raut wajah yang berbinar.


" HAAH..?"


" MOMMY..?" Samuel dan Rinjani serentak berteriak dan terkejut bersamaan.


Kebahagiaan memang relatif dan setiap orang memiliki definisi masing-masing tentang kebahagian. Tetapi, terkadang kita tidak menyadari karena hal-hal dan kebiasaan sehari-hari yang tidak kita perhatikan atau bahkan jarang dilakukan, seperti menemani anak saat akan tertidur, karena mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Padahal ini bisa menyebabkan anak kita memiliki


Perasaan sensitif, karena anak akan cenderung mudah marah, sedih, maupun tersinggung ketika menghadapi permasalahan.


Hal ini bisa saja terjadi karena keadaan mental anak yang sedang tidak stabil. Beberapa anak juga akan menjadi lebih peka terhadap keadaan di sekitarnya.


..."Anak-anak itu amanah, hanya boleh dididik sesuai keinginan yang menitipkan, bukan sesuai hawa ***** kita."...


..."Anak-anak jauh lebih membutuhkan kehadiranmu daripada sekadar hadiah darimu."...

__ADS_1


..."Anak-anak menginginkan waktumu lebih dari segalanya. Bermainlah bersama mereka, ajari mereka, dan sayangi mereka. Karena mereka adalah amanah dari Tuhanmu."...


__ADS_2