CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
42. Duda rasa PERJAKA


__ADS_3

...Happy Reading...


Ketika berbicara tentang pernikahan, Allah mengatakan bahwa pasanganmu ibarat pakaian untukmu. Sebuah pakaian bisa jadi pas atau kurang pas. Tapi bagaimanapun juga, pakaian akan menutupi, melindungi dan mempercantik ketidaksempurnaan.


Karena Jodoh merupakan rezeki, kewajiban kita hanyalah berikhtiar, bukan menentukan siapa jodoh yang terbaik untuk kita.


Sore ini rumah Rinjani sudah dipenuhi sanak saudara terdekatnya, karena malam ini keluarga Samuel akan datang untuk melamar putri dari ibu Renita Maheswari, suasana dapur pun riuh renyah oleh segala canda dan tawa mereka, karena selalu saja ada bahan ghibah saat para ibu-ibu sudah berkumpul memasak didapur.


Berbagai macam hidangan sudah mereka siapkan, bahkan rumah Rinjani yang minimalis itu sudah disulap menjadi tempat yang indah hanya dengan sedikit dekorasi bunga-bunga segar disudut halaman rumahnya, untuk sekedar berfoto saat penyematan cincin pertunangan nanti. Rumput-rumput asli, lampu kerlap kerlip yang ditata begitu apiknya, membuat suasana tempat itu terlihat menjadi syahdu, walau hanya Bromo dan teman-teman dari team sepak bolanya yang mendekor.


" Assalamualaikuummm.." Teriak Niar yang tiba-tiba muncul dari ujung pintu.


" Dimana ini mempelai wanita dadakannya?"


" Diem-diem bae!"


" Tiba-tiba sudah mau lamaran saja!"


" Heloooowwww!" Niar yang baru saja datang sudah berkoar-koar dengan nyaring.


" Naaaah!" Jani langsung nongol membawa piring beserta isinya dari dapur.


" Cobain rendangnya sudah mantep belum?" Jani langsung menjejalkan potongan daging rendang kedalam mulut Niar.


" Hmmm... maknyosss ini sih." Si Ratu Heboh langsung teralihkan hanya karna daging rendang buatan saudara Rinjani.


" Ada nasi nggak?" Niar langsung nyomot lagi daging rendang dari piring Jani.


" Doyan apa Lapeer luu!" Jani langsung menggerutkan keningnya.


" Sengaja gw nggak makan tadi."


" Biar disini bisa makan banyak, hahaha..." Niar terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya itu.


" Mbak Niarrrrr!"


" Calon bidadari surgaku!" Bromo langsung mendekat saat melihat Niar ada disana.


" Bidadari surga dalam mimpi luu!"


" Pacarnya baru aja dateng kemarin!"


" Nggak usah halu deh!" Jani langsung menoyor kening adeknya.


" Sudah selesai belum dekornya!" Jani melihat kearah luar, melihat persiapan diluar, dari tadi dia asyik jadi juri didapur, tukang icip-icip makanan.


" Mbak Niar tega dah!"


" Berani-beraninya selingkuh dari aku!"


" Ntar mbak diselingkuhin baru tahu rasa!" Umpat Bromo yang langsung melengos pergi tanpa memperdulikan pertanyaan Jani.


" Gendeng tu bocah!"


" Nggak mungkin kan cuy, adek gw itu suka beneran sama eluu!"


" Mustahil ya kan!" Jani terheran sendiri melihat adeknya yang langsung berlalu dari sana.


" Sudahlah..."


" Dia masih muda!"


" Pemikirannya masih labil, plin plan gitu!" Niar hanya tersenyum saja melihat tingkah Bromo.


" Wajar sih kalau dia ngefans sama aku, wajah aku kan bersinar bak bintang iklan di TV, hahaha..." Niar tertawa renyah setelah mengucapkannya.


" Hoeeeerrkkk!"


" Pengen muntah, tapi sayang mau ngeluarin rendang tadi."


" Mana daging lagi mahal lagi!" Jani langsung meletakkan piring di meja dan duduk bersila diatas kursi.


" Heh.."


" Luu belum cerita deh sama gw, kenapa eluu jadi mutusin untuk bertunangan dengan pak Sam?"


" Luu udah beneran cinta nih sekarang?"


" Secepat ini?"


" Baru kemarin luu minta dikenalin sama kak Alief?"


" Katanya idola eluu?"


" Sudah nggak minat lagi sekarang?" Niar langsung duduk disebelah Jani dan mulai menginterogasinya.


" Heemmm.."


" Mau gimana lagi?"


" Udah ketahuan sama ibuk!"


" Mau nolak udah nggak bisa lagi gw!"


" Nggak punya alasan selain menerimanya." Jani terlihat menghela nafasnya.


" Emang luu ketahuan ngapain?"


" Kok langsung disuruh lamaran?" Tanya Niar memundurkan kepalanya, dia kenal baik sama ibu Jani, dia tipe orang tua yang nggak grusah-grusuh, dia adalah seorang ibu yang bijak terhadap kehidupan anak-anaknya.


" Biasa!"


" Ngekepin pak Sam dikamar!" Ucap Jani dengan santainya.


" Haaaah.. eluu mah emang doyan ngekepin tuh Singa!"


" Pantes saja, ibuk langsung pengen nikahin kalian!"


" Mana mau ibuk melihat putrinya berbuat Zina!" Niar langsung menyentil kening Jani yang malah terkekeh.


" Habis mau gimana lagi?"


" Penyakit pak Sam kumat!"


" Bahkan lebih parah dari biasanya!"


" Yang bisa gw lakuin buat nolong dia ya cuma itu?"


" Dokter Marvin juga, bisanya nyalahin gw mulu!"


" Suruh ngekepin dia mulu!"


" Gw rasa mungkin mereka memang satu aliran kali ya!"


" Nggak ngerti deh, jalan pikiran mereka seperti apa!" Ucap Jani sambil menyandarkan kepalanya dibahu kursi.


" Tapi kan cuy.."


" Menikah itu bukan perkara main-main lho?"


" Pernikahan itu hal yang sakral?"


" Apa kamu tidak menyesal nantinya?" Niar sebagai seorang sahabat juga ingin melihat Jani hidup bahagia dengan pasangannya.


" Bismilah aja deh cuy."


" Kalau memang dia sudah ditakdirkan menjadi jodohku, gw bisa apa sih?"


" Sudah berulang kali aku mencoba menolak, menghindar bahkan pergi sembunyi-sembunyi."


" Nyatanya apa?"


" Pak Sam selalu menemukanku, dimanapun aku berada."


" Dan dari yang aku lihat, perasaan Pak Sam benar-benar tulus menyukaiku."


" Semua perlakuannya mengalir begitu saja, tanpa dibuat-buat."


" Bukankah lebih baik dicintai dari pada mencintai ya kan?" Ucap Jani sambil tersenyum hambar.


" Tapi eluu juga berhak bahagia Jan."


" Sory ya.. gara-gara gw, eluu jadi terjebak dalam masalah ini."


" Gw nggak nyangka jika akhirnya seperti ini cuy!" Jani menundukkan pandangannya ke lantai.

__ADS_1


" Makannya baik-baik luu sama gw!"


" Jangan resek lu!" Jani merangkul tubuh Niar yang terlihat lesu itu.


" Maafkan aku Jan."


" Aku benar-benar merasa bersalah deh!" Mata Niar terlihat memerah, dia benar-benar tidak bermaksud membuat hidup Jani menjadi kacau seperti ini.


" Sudahlah!"


" Hidup, mati dan jodoh seseorang kan ditangan Tuhan."


" Mungkin ini memang sudah ketentuan darinya."


" Tidak ada yang perlu disesali."


" Semua sudah terjadi."


" Kebahagiaan itu kita yang menentukan, aku yakin pak Sam tidak akan menyakitiku."


" Aku pasti bisa bahagia suatu saat nanti."


" Asalkan kita berfikir yang baik-baik."


" Insya Alloh semua pasti akan baik-baik saja dan dimudahkan semua jalannya." Tidak terbesit dipikirannya sekalipun untuk menyalahkan Niar atas kejadian ini, walau pada mulanya memang semua gara-gara Niar, namun segala rentetan kejadiannya yang tidak disengajalah yang membuat Samuel semakin dekat dengannya, jadi Jani selalu saja berpikir positif, kalau ini memang sudah takdir hidupnya.


" Maaf.. maafin gw Jan!" Niar langsung memeluk tubuh Rinjani, air matanya tidak bisa dibendung lagi.


" Its okey!"


" Jangan merasa bersalah begitu!" Jani mengusap bahu sahabatnya yang sudah bergetar.


" Tidak ada yang tahu bagaimana cara Tuhan menemukan jodoh untuk kita."


" Mungkin pak Sam memang sudah digariskan menjadi jodohku!"


" Lagian dia tampan, tajir melintir juga!" Jani sengaja berkata seperti ini agar Niar tidak terlalu merasa bersalah.


" Uangnya nggak akan habis tujuh turunan dan tujuh puluh tanjakan cuy, jadi gw nggak harus capek-capek kerja kan?"


" Tinggal gesek doang keluar uang sob, hehe.." Jani mencoba untuk membuat Niar tertawa.


" Sejak kapan luu jadi matre!"


" Dulu bahkan kamu paling benci menjalin hubungan dengan orang kaya!"


" Katanya takut terjadi kesenjangan sosial antara keluarga!" Niar membalikkan kata-kata Jani saat dulu kala.


" Loh... kamu lupa, pak Sam itu anak tunggal."


" Jadi nggak akan ada masalah kan cuy, hehe.."


" Semua aman pokoknya deh!" Jani pura-pura saja lupa akan kata-katanya dulu, padahal sampai sekarangpun, andai boleh memilih juga pasti dia memilih yang sepadan saja, tapi apalah daya, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain bersyukur dan mencoba untuk menerima segalanya.


" Boleh ikutan peluk nggak!"


" Gw broken heart juga nih!" Bromo merentangkan tangannya dibelakang mereka.


" Masih dibawah umur kamu!"


" Mandi sana, sebentar lagi rombongan sudah mau datang!" Jani langsung mengibaskan tangannya kearah Bromo.


" Dasar... perempuan dimana-mana sama aja!"


" Bisanya cuma nyakitin!" Ucap Bromo langsung berlalu dari sana.


" Gaya lu dek!"


" Kayak pernah ngalamin aja!"


" Pacar juga nggak punya luu!" Umpat Jani tersenyum melihat adeknya berlalu.


" Gini aja deh, sebagai penebus rasa bersalahmu."


" Elu dandanin gw sampai semua orang jadi pangling dengan penampilan gw!" Jani melerai pelukan Niar dan mengusap air matanya.


" Aku bukan tukang salon!"


" Mana bisa merias maksimal!"


" Gaya luu, sejagad raya apaan."


" Pasti si Pria berjiwa wanita itu kan!" Ucap Jani sambil melengos masuk kedalam kamar.


" Sudah... jangan mewek aja luu!"


" Mau lihat kebaya gw nggak!"


" Baru saja dikirim ini sama pak Sam!"


" Belum gw buka lagi." Jani menunjukkan satu kotak yang dibungkus rapi dengan merk ternama tertulis dikotaknya.


" Kalian udah prepare dari lama ya?"


" Kok dia sudah menyiapkan kebaya lamaran luu?" Niar langsung membuka kotak itu dengan wajah penasaran.


" Mana ada, baru kemarin malam kejadiannya."


" Luu kayak nggak tau aja!"


" The power of duit.. duit.. duit cuy!" Ucap Jani dengan hebohnya.


" Haduuuwhh.. enaknya punya calon suami kaya raya!"


" Woaaaahhh..."


" Kalau ini sih kebaya mewah sob, bukan main-main nih bahannya."


" Harganya pasti selangit ini mah!"


" Besok kalau ada acara gw boleh pinjam kan ya? haha.." Niar langsung menempelkan ditubuhnya sambil memutar didepan kaca.


" Lebay luu!"


" Di pasar Malioboro juga banyak kayak gitu mah!"


" Menang merk doang itu!" Walau Jani sebenarnya juga kagum melihatnya.


" Ya bedalah, lihat dong kainnya halus begini."


" Entar kalau luu nikah, jangan lupa pesenin gw kebaya yang bahannya kayak gini ya!"


" Jangan pelit luu ntar kalau sudah jadi nyonya bangsawan!"


" Atau gw santet luu, hahaha..!" Ucap Niar yang sudah melupakan penyesalan terdalamnya.


" Beres cuy!"


" Ntar gw beliin seragam paling mewah buat kalian."


" Bukan duit gw ini!"


" Hahahahaha.."


Akhirnya mereka berdua tertawa bersama, itulah gunanya sahabat, saling melengkapi, saling menghibur, tanpa harus menyudutkan satu sama lain walau salah satu diantara mereka pernah melakukan kesalahan, karena sejatinya setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan.


Akhirnya rombongan yang ditunggu-tunggu telah datang, dua mobil mewah sudah parkir diluar pagar rumah Jani yang sudah disulap seperti garden party. Semua keluarga Jani sudah berjajar rapi untuk menyambut keluarga calon besan. Namun saat mereka keluar dari mobil, Jani dan keluarganya dibuat terkejut bukan kepalang.


" Jan.."


" Mereka beneran mau nglamar kamu nggak sih?" Tanya Renita sang ibunda tersayang.


" Entahlah buk!"


" Atau mungkin dia lupa kali ya buk?" Jani juga melongo melihatnya.


" Padahal masakannya sudah seperti menjamu orang satu kampung!"


" Eeh... yang datang cuma empat biji doang!" Niar menggelengkan kepalanya, bahkan seluruh keluarga Rinjani ikut melongo melihatnya, padahal yang dateng dua mobil besar nan panjang, yang keluar cuma Samuel, Yoyo, Marvin dan sopir mereka.


" Dan itu? emm... siapa pria itu?"


" Sepertinya aku pernah melihatnya?"


" Tapi dimana ya?" Niar memejamkan matanya seolah mengingat sosok pria yang berdiri disamping Samuel, namun seolah memorinya rusak, dia tidak bisa mengingatnya sekarang.

__ADS_1


" Assalamualaikum!" Samuel mengucap salam sambil tersenyum dengan menggendong Yoyo dilengannya.


" Hermm..." Mata Samuel langsung tertuju pada calonnya.


" Sayangku cantik banget malam ini." Samuel mencolek dagu Rinjani didepan seluruh keluarganya tanpa rasa malu sama sekali.


" Hisssshhh... bapak ini." Jani yang jadi malu sendiri saat keluarga mereka tersenyum-senyum melihat kearah mereka.


" Ssstttt... Jadi lamaran nggak sih ini pak?" Jani kembali menoleh-noleh kearah belakang, siapa tahu ada yang menyusul lagi.


" Jadi dong!"


" Ini aku sudah datang!"


" Kamu sudah nggak sabar ya?"


" Apa mau nikah saja sekalian ini?" Ucap Samuel menatap Jani dengan senyuman sedari tadi.


" Pak... turunin semua seserahannya." Samuel menyuruh sopir itu menurunkan barang bawaannya, ternyata satu mobil dibelakangnya khusus membawa barang seserahan.


" Astaga pak!"


" Memangnya seserahannya itu dikasihkan sekang ya?"


" Itu barang satu Mall bapak pindahkan kemari?" Rinjani melongo sendiri melihat barang bawaan Samuel.


" Nggak tahu, kalau enggak sekarang juga nggak papa."


" Besok pas nikah aku bawa lagi, anggap saja ini sebagai hadiah lamaran!" Ucap Samuel dengan entengnya.


" Habis aku bingung suruh milih!"


" Aku bilang saja sama Nisa, asal bagus dan harganya paling mahal, bungkus saja semua."


" Ya sudah.. aku tinggal bawa saja!" Ucapnya dengan santai.


" Astaga bapaaaaaak!"


" Ya jangan segitu juga kali."


" Mau ditaruh mana barang segitu banyaknya!"


" Taruh mana saja, sesuka hatimu!"


" Kalau rumahmu penuh, besok kita renovasi saja!"


" Gampang kan?"


" Nggak disuruh duduk nih?"


" Berdiri doang?" Samuel mengedarkan pandangan kesekeliling sambil tersenyum senang.


" Owh tentu.."


" Silahkan duduk nak." Saudara Jani yang lain langsung mempersilahkan duduk, karena sedari tadi mereka malah asyik menyimak perbincangan Jani dengan Samuel.


" Heh... calon mantu."


" Orang tua kamu mana?"


" Dia?" Ibu Jani menunjuk Marvin yang langsung tersentak.


" Owh.. begini ibu mertua."


" Ibu saya masih ada diluar negri dengan urusannya."


" Karena acara kita mendadak, jadi beliau tidak bisa pulang secepat ini."


" Tapi mamah sudah memberikan restu untuk hubungan saya dengan Jani."


" Mamah sangat menyetujui lamaran ini."


" Dan beliau juga minta maaf karena tidak bisa hadir."


" Kalau ayah saya sudah meninggal buk!"


" Dan kalau ini saudara saya satu-satunya." Samuel memang menganggap Marvin sudah seperti saudara.


" Yang lainnya semua diluar negri." Ucap Samuel tanpa mengurangi rasa hormatnya.


" MOMMY..!" Tiba-tiba Yoyo berteriak kearah Rinjani.


" Hah? mommy?"


" Dia siapa?"


" Masak anaknya sih?"


" Tapi manggil Jani dengan sebutan mommy lho?"


" Jani kok nggak cerita apa-apa sih?"


Sanak saudara Rinjani langsung berbisik kekanan dan kekiri.


" Janiiiiii..." Bisik ibu Jani sambil menggeratkan giginya.


" Apa maksudnya ini?"


" Apa dia DUDA!" Ibu Jani menarik lengan Jani dan mencengkeram lengan Jani dengan kuat, bahkan Jani sampai meringis dibuatnya.


" Aw.. aw.. ibuk!"


" Sakit buk!" Jani mengaduh kesakitan.


" Ibuk... jangan sakiti Jani." Samuel yang mendengar bisik-bisik saudara Rinjani langsung mendekat kearah Jani.


" Dia memang anakku." Samuel mencium kening Yoyo dan menoleh kearah Marvin, dengan sigap Marvin langsung membawa Yoyo menjauh dari sana.


" Putra kebanggaanku!" Ibu Jani langsung melemas bahkan mengusap da danya, entah dia harus menyesal atau tidak menyuruh Jani menikah dengannya.


" Jadi kamu duda?"


" Istri kamu dulu kemana?"


" Kamu ceraikan atau minta cerai dia?" Ucap Salah seorang saudara Rinjani yang langsung tanpa basa basi."


" Tenang buk.."


" Saya bisa dibilang, Duda rasa PERJAKA!"


" Karena saya belum pernah menikah!" Ucap Samuel sambil tersenyum miring tanpa beban apalagi takut cercaan dan hinaan.


" Hah.. maksudnya gimana?"


" Jadi itu tadi anak siapa?"


" Jangan-jangan dulu dia menghamili gadis diluar nikah?"


" Waah... ganteng sih, tapi ngeri juga ya kelakuannya?


" Rinjani kok mau sih nikah sama dia?"


" Nggak nyangka lho ya?"


" Biar kaya juga kalau nyakitin buat apa ya kan?"


Keluarga besar Jani kembali berbisik-bisik, menghujat Samuel dengan segala opini dan asumsi mereka yang tidak tahu apa-apa tapi sudah berani menyimpulkannya.


" Sabar ya sayang." Samuel mengusap tangan Jani disampingnya.


" Aku tidak seperti yang mereka fikirkan."


" Memang begitulah para netizen!"


" HIDUP KITA YANG JALANIN, ORANG LAIN YANG NGOMENTARIN!"


" Tapi satu yang pasti, yaitu..."


" Aku sayang kamuh!" Bisik Samuel ditelinga Rinjani.


Jodoh itu rahasia Allah. Allah mempertemukan kita dengan orang yang salah pada awalnya dan mempertemukan kita dengan jodoh yang sesuai pada akhirnya. Itulah tanda sayang Allah kepada hamba-Nya.


..." Masih tak pahamkah kalian cara Alam semesta bekerja, Emas dipasangkan dengan Permata sedangkan Abu dengan Debu, maka perbaikilah dirimu."...


Hadiahnya dipersilahkan bosquh🤗

__ADS_1


__ADS_2