
...Happy Reading...
Dari tangan Ibu, Anda akan banyak belajar tentang Kasih Sayang. Dari tangan Ayah, Anda akan banyak belajar tentang cara menjaga Kasih Sayang itu. Kedua tangan-tangan Itu adalah Wakil Tuhan untuk melangsungkan kehidupan.
Saat hidupmu bahagia, ibumu tidak pernah memintamu untuk membagi kebahagiaan mu kepadanya, tapi saat kamu terluka ibumu selalu datang untuk menerima bagian dari lukamu dan Orangtuamu tidak pernah ingin kamu menjadi seperti mereka tapi mereka ingin kamu menjadi lebih baik dari mereka.
Tak perlu pergi ke Ujung Dunia untuk belajar tentang Cinta dan Keikhlasan, karena pelajaran Itu dapat kau lihat dari sosok seseorang, yaitu 'IBU'.
" RINJANI MAHESWARIIIIIIIIII...!"
" Masuk kedalam rumah, sekarang juga!" Teriak ibu Jani yang sudah mulai habis stock kesabarannya.
" Hehe.."
" Iya buk!" Jani langsung terkekeh saat ibunya melihat aksi gilanya.
" Ayok pak kita masuk!"
" Tebalkan telinga, kita berjuang bersama!" Jani bahkan seolah membakar semangat Samuel, seolah-olah mereka akan berperang.
" Kamu ini.." Samuel tersenyum sambil mengusap kepala Jani dan merangkul pinggangnya untuk masuk kedalam bersama.
" DUDUK KALIAN BERDUA!" Ibu Jani berdiri didepan mereka dengan emosi yang sudah melambung tinggi.
" Iya buk."
" Jangan teriak-teriak."
" Kalem aja marahnya, sambil duduk gitu."
" Apa mau sambil ngeteh juga?"
" Biar aku buatin teh panas?" Jani seolah berbicara santai saja, walau dia tahu setelah ini entah dia akan baik-baik saja atau tidak.
" Nggak usah banyak drama." Ibu Jani sudah tidak mau berbasa-basi lagi, apapun keadaan Samuel dia akan menerimanya, karena Jani terlihat memberi perhatian lebih kepada pria itu.
" Kapan kalian akan MENIKAH!" Teriak Ibu Jani yang langsung disambut senyuman oleh Samuel.
" SECEPATNYA BUK!" Samuel berkata dengan mantap dan juga semangat yang membara.
" Fuuuuuhhh..."
" Bener kan dugaan gw." Jani hanya bisa menghela nafas dan memejamkan matanya saja.
" Woaaaaahhh..."
" Sudah yakin sekali kamu?" Ibu Jani menelisik setiap detail dari tubuh Samuel.
" Atau mau besok malam saja buk?" Karena sehari saja cukup buat seorang Samuel untuk mempersiapkan gedung dan segalanya, kekuatan uang memang sering diluar dugaan kita sebagai orang biasa, yang harus berbulan-bulan menyiapkan pesta pernikahan.
" Lebih cepat lebih baik bukan?"
Selama ini dia susah mau membicarakan tentang pernikahan dengan sosok Rinjani, karena selalu saja akan ada cek cok dan adu mulut bahkan sebelum memulainya.
" Waduuuuhhh..."
" Memang kamu berani ngasih seserahan berapa, mau nikahin putriku besok malam!" Sebenarnya ibu Rinjani tidak mempermasalahkan berapa seserahan atau mahar untuk putrinya, namun ucapan Samuel diluar dugaannya, seolah semua bisa dia buat seperti Sulap, padahal ibu Jani tadi berfikir untuk acara lamaran saja dulu, yang penting mereka sudah ada ikatan.
" Haduwh ibuk!"
" Kenapa ngomongin soal harta sama dia!" Ucap Jani sambil menyandarkan kepalanya yang terasa semakin berat saja.
" Ini buk." Samuel langsung mengeluarkan dompet dan mengambil sebuah kartu.
" Ibu bisa tentukan, berapapun nominal seserahannya."
" Dan ibuk bisa belanja semua keperluan yang ibuk butuhkan untuk acara pernikahan kami." Samuel bahkan duduk dengan tegap seolah memamerkan dirinya sebagai calon menantu idaman mertua.
" Ciiiiiiihhh.."
" Kamu pikir berapa biaya sewa gedung, baju pengantin, dekor, foto pengantin yang siap dipakai dalam satu hari?"
" Dan apa kamu tahu berapa biaya catering dadakan jaman sekarang?"
" Bahkan mungkin bisa dua atau tiga kali lipat dari harga biasanya."
" Dan kamu...?" Ibu Jani mendorong kembali kartu itu kehadapan Samuel.
" Cuma ngasih kartu ini saja?"
" Harga bumbu perlengkapan bahan makanan dapur dan beras saja sudah melambung sekarang!"
" Gimana mau buat nasi kenduri satu komplek!" Ibu Jani malah terlihat menyepelekan Samuel.
" Ya ampun ibuk!"
" Ibuk itu mau nikahin anaknya apa mau jual anaknya sih?" Jani hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar kata-kata ibunya tentang biaya persiapan pernikahan.
" Habis dia ngomong se enak wudelnya sendiri."
" Mau menikah besok malam."
" Ibuk nggak mau ya, kamu menikah terkesan dadakan?"
" Dan cuma Ijab Qabul di kantor KUA saja."
" Walaupun seperti itu memang sudah Sah."
" Tapi ibuk nggak mau nanti kamu dikira hamil duluan."
" Kamu putri ibu satu-satunya, kalau cowok sih nggak masalah nggak buat pesta."
" Tapi kalau cewek menurut ibuk itu harus."
" Mau kamu, nanti jadi hujatan orang-orang satu komplek!" Ibu Jani langsung memelototi putrinya.
" Astaga ibuk." Jani hanya bisa menurunkan bahunya bingung harus ngomong apalagi.
" Nggak papa sayang."
" Jangan marah sama ibuk."
" Dia sudah membesarkan kamu sampai secantik ini."
" Dan sekarang kamu sudah menjadi milik aku."
" Apapun akan aku lakukan untuk kamu sayang." Samuel mengenggam jemari Jani dan membawanya kepangkuan.
" Teruss... teruss...!"
" Terusin saja kayak gitu!" Ibuk Jani sudah tidak bisa berkomentar lagi tentang kemesraan yang mereka lakukan dihadapannya.
" Bromo.." Samuel memanggil Bromo yang menjadi penonton setia dari ujung ruangan sedari tadi.
" Ini kartu unlimited."
" Kamu bisa temenin ibuk, beli apa saja yang kalian mau."
" Bahkan Mall nya juga bisa kalian beli pakai ini."
" Kamu juga bisa menggunakannya untuk keperluan kuliahmu." Ucap Samuel dengan senyum kesombongan.
" Kalau buat beli ponsel baru boleh nggak?"
" Ponselku buat ngegame udah lemot ini bang!" Bromo langsung berjalan semangat mendekat kearahnya.
" BROMOOOO..!" Teriak Jani dan ibuknya kompak bersamaan.
__ADS_1
" Astaga.."
" Bercanda aja ini!"
" Tegang amat sih kalian."
" Sudah mirip kayak sidang pencurian ayam satu kampung saja!" Bromo langsung duduk disebelah Samuel.
" Beli saja kalau kamu mau!"
" Beli yang RAM ponselnya paling besar sekalian, biar nggak lemot lagi!" Samuel menepuk bahu Bromo disampingnya.
" Sudah sampai Rank berapa kamu?" Tanya Samuel yang terkadang sering main juga kalau lagi senggang.
" Rank Mythic dong bang!" Ucap Bromo dengan bangganya.
" Ciiihhh..."
" Abang mu ini walau jarang main, tapi sudah sampai Rank Glorious Mythic." Samuel bahkan menepuk da danya, untuk memamerkan kehebatannya.
" Woooooaaaahhh!"
" Abang luar biasa, lain kali kita duet ya bang!" Dengan sekejap saja Bromo dan Samuel langsung terlihat akrab.
" BROMOOOO!" Giliran sang ibuk yang teriak sendiri, entah kenapa kedua anaknya hari ini benar-benar membuatnya naik darah semua.
" Jangan main game saja kamu!"
" Awas saja kalau sampai nilaimu disemester depan anjlok!"
" Ibuk tukar ponselmu dengan ponsel ibuk itu!" Ibu Jani menunjuk ponsel bututnya yang masih berbunyi polyponic.
" Diiiih ibuk.."
" Nggak sayang deh sama putranya." Bromo langsung mengkerut tidak berani membicarakan soal game lagi.
" Nih.. nih..!"
" Ambil lagi kartumu, ibuk tidak membutuhkannya!"
" Ibu masih bisa biayain pernikahan putri ibu sendiri!" Dia menyodorkan kembali kartu itu didepan Samuel.
" Dari mereka beranjak dewasa, aku sudah menabung untuk biaya pernikahan kedua anakku."
" Kalau masalah seserahan, itu terpulang padamu."
" Berapapun Mahar pemberianmu kami terima."
" Saya tidak pernah mengajarkan putri saya untuk jadi orang matre!"
" Karena Mahar adalah pemberian mempelai pria ke wanita sebagai bentuk ketulusan untuk terikat dalam hubungan pernikahan dengan tulus."
" Itu syarat wajib untuk sempurnanya sebuah pernikahan, dan tidak ditentukan dalam bentuk apapun ataupun berapapun."
" Sebaik-baiknya wanita adalah yang tidak membebankan jumlah mahar dari calon suaminya."
" Mahar itu bukanlah sesuatu yang sifatnya membebani atau menyusahkan." Ibu Jani memang punya prinsip sendiri dari dulu, dan semua pembicaraan tadi hanya karena dia kesal saja dengan dua manusia didepannya itu.
" Tapi ibu mertua, saya sama sekali tidak keberatan." Samuel menyodorkan kembali kartunya.
" TIDAK!"
" Sekali tidak ya tidak!"
" Tapi pernikahan kalian tetap nggak bisa kalau besok malam."
" Kamu pikir semua persiapan bisa dilakukan hanya dalam sehari apa!"
" Setidaknya beri ibu waktu satu bulan!"
" Kita buat acara lamaran saja besok!"
" Kita bicarakan selebihnya besok dengan keluargamu!" Ucap Ibu Jani mengambil keputusan.
" Cocoook buk!"
" Ibuk memang jempolan!"
" Tapi kalau Jani boleh usul, jangan satu bulan dong."
" Setelah aku wisuda saja bagaimana?"
" Tinggal beberapa bulan lagi kok buk?" Jani memasang wajah memelasnya.
" NOOOOOO...!" Samuel langsung protes duluan.
" Enak saja beberapa bulan lagi!"
" Kelamaan!" Samuel tidak mau berlama-lama lagi, semakin kesini dia semakin tidak bisa jauh dari Rinjani, membuatnya halal akan memudahkannya untuk bisa selalu berada didekat Jani.
" Paaakk..!"
" Aku kan pengen buat skripsi dengan tenang."
" Masak cuma beberapa bulan saja nggak sabar sih?"
" Yang penting kan nanti sudah lamaran."
" Aku nggak akan kemana-mana juga!" Jani langsung mengoyangkan lengan Samuel disampingnya.
" Ckkk..."
" Kalau nunggu kamu wisuda kelamaan Jan!"
" Kalian saja sudah sosor sana sini, tidur kekepan!"
" Mau nimbun dosa berapa banyak lagi kamu!" Ucap Ibu Jani yang memang tidak suka melihat kelakuan putrinya.
" Itu kan karena pak Sam sakit!"
" Kalau enggak ya enggak kok buk!"
" Kami jaga jarak aman deh!" Ucap Jani tak mau kalah membela diri.
" Emang ibuk bisa tahu aktifitas kamu seharian?"
" Kalau kalian begitu dibelakang ibu gimana!"
" Siapa yang dosa!"
" SIAPA!" Teriak ibu Jani menatap putrinya yang langsung melemah.
" Hemm... kalau begitu begini saja ibu mertua."
" Kita ambil jalan tengah saja."
" Satu minggu saja, gimana?" Samuel menaikkan kedua alisnya memandang Jani yang langsung memejamkan matanya.
" Memangnya cukup waktunya buat sewa tenda, catering, viting baju kalian, dan masih banyak lagi lho!"
" Kamu pikir membuat acara pesta meriah itu gampang apa!" Ibu Jani benar-benar tidak habis pikir bagaimana alur pemikiran calon mantunya itu.
" Ibuk nggak usah mikirin itu semua."
" Ibuk tinggal hubungin saja keluarga ibu yang mau datang."
" Masalah gedung, catering, baju pengantin dan lain sebagainya biar saya yang menyiapkan semua."
__ADS_1
" Kalian tinggal datang saja."
" Dan kamu sayang..." Samuel mengusap pipi Jani yang sudah cemberut disampingnya itu.
" Kamu nggak usah capek-capek mikirin apapun."
" Kamu hanya perlu emm------" Samuel mencondongkan wajahnya dibelakang kepala Jani dan Jani pun mengerutkan keningnya penasaran.
" Menyiapkan tubuhmu untuk malam pertama." Bisik Samuel dengan suarah lirih dan penuh gairah.
" Bapaaaaaaaaakkkk!" Teriak Jani langsung memukul lengan Samuel.
" Hehehe.." Samuel langsung terkekeh geli mendengarnya.
" Ngambek terus." Ingin sekali Samuel menyambar bi bir Jani saat dia cemberut seperti ini, tapi dia tidak enak hati melakukan didepan ibu mertua, karena mereka baru saja ketahuan tadi.
" Sama calon suami itu yang manis-manis."
" Biar dapat pahala yang gede!"
" Bukan begitu ibu mertua?" Samuel bahkan melirik ibu Jani yang langsung melengos.
" TERSERAH KALIAN SAJA!" Beliau langsung bangkit, merasa malu sendiri sebagai orang tua melihat keromantisan anaknya.
" Bromo kita masuk kedalam."
" Disini ada pemandangan yang tidak sehat untuk seorang jomblo seperti kamu!" Ibu Jani langsung merangkul putranya untuk masuk kedalam.
" Ibuk kan juga jomblo!"
" Sesama jomblo kan tidak boleh menghujat buk!"
Ucap Bromo protes namun ikut melangkah masuk kedalam.
" Owh iya juga yah?"
" Nggak papa.. hidup didunia ini cuma sementara saja."
" Ibu kan sekarang sudah tua."
" Yang penting di akhirat nanti ibu sudah ada pasangan yang menunggu."
" Karena ayahmu akan selalu setia kepada ibuk!" Ibu Jani tersenyum mengingat betapa baiknya perlakuan suaminya kepadanya saat masih hidup, bahkan setelah suaminya meninggal, dia tidak berminat sama sekali untuk menikah lagi, walau dulu banyak orang yang ingin meminangnya kembali.
" Arghh..ibu so sweet banget!"
" HIDUP JOMBLO!" Ucap Bromo sambil mengepalkan tangannya ke udara.
" HIDUP..!" Teriak ibunya tak kalah heboh.
" Dan buat kalian berdua!"
" Jangan lama-lama berduaan!"
" Belum sah, masih banyak setan disekeliling kalian!" Entah mengapa bulu kuduk Samuel langsung meremang mendengar kata 'setan'.
" Jam Apel disini cuma sampai jam sembilan malam!" Teriak ibu Jani dari dalam, bahkan Samuel langaung melihat jam tangan mahalnya.
" Atau mau diarak sama pak RT keliling komplek kalian?"
" Arah pintu rumah kami tau kan, wahai CALON MENANTU!" Teriak ibu Jani kembali, sebelum suaranya menghilang ditelan malam.
" Haduh."
" Kenapa aku jadi merinding ya Jan?"
" Jangan-jangan memang ada setannya lagi dirumahmu!" Samuel langsung mengusap kedua lengannya.
" Hihi.."
" Mana ada, suara merdu ibuk itu yang bikin merinding!" Jani tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar semua ucapan ibuk.
" Ya sudah, bapak pulang saja ya."
" Sudah hampir jam sembilan, kasihan juga Yoyo nanti nyariin."
" Kita bahas lagi besok acara lamarannya, okey?" Entah mengapa Jani sedikit demi sedikit mulai bisa menerima kehadiran Samuel dihidupnya, karena sejauh apapun dia berusaha menjauhi Samuel, tetap saja tidak bisa, tetap saja Samuel bisa menemukannya. Dan lama kelamaan dia pun mulai terbiasa bahkan menikmati setiap sentuhan pria itu, mungkin benar kata pepatah Jawa bilang, bahwa 'Witing Tresno Jalaran Soko Kulino' atau cinta itu bisa muncul saat sudah terbiasa.
" Jani.."
" Apa kamu sudah bisa menerimaku?" Samuel menarik tangan Jani kedalam pangkuannya.
" Hmmm.." Jani menggangukkan kepalanya.
" Karena walaupun aku bilang tidak, bapak juga memaksa kan?" Ucap Jani tersenyum melihat rona wajah Samuel yang tadi berbinar langsung berubah pucat dadakan.
" Ckkk.."
" Bukan begitu maksudnya." Samuel langsung melepas tangan Jani dan membetulkan posisi duduknya.
" Aku pernah ada dalam posisi sangat mencintai seseorang."
" Dan aku pikir, orang itu juga mencintaiku selamanya."
" Karena dulu kami memang saling mencintai." Ucap Samuel menghela nafasnya kembali.
" Maksud bapak mbak Gladis?" Jani mencoba menyimak dan mengingat wanita itu lagi.
" Hmm.." Samuel menggangukkan kepalanya.
" Dialah wanita itu."
" Tapi nyatanya, saling mencintaipun lama-lama bisa mengkhianati."
" Aku hanya ingin hidup bahagia dan membahagiakan."
" Selama ini aku memang sering memaksamu."
" Namun lama kelamaan aku malah bergantung kepadamu."
" Dan sudah tidak bisa jauh darimu lagi."
" Jani.." Samuel kembali meraih tangan Jani.
" Aku memang belum berani berharap kamu bisa mencintaiku dengan tulus seperti cintaku padamu."
" Tapi aku berharap, suatu saat nanti kamu bisa benar-benar mencintaiku."
" Maafkan aku jika selama ini aku terlalu egois."
" Tapi aku janji, akan selalu membuatmu bahagia."
" Dan akan aku buktikan, bahwa kamu akan bisa jatuh cinta berkali-kali kepadaku!" Samuel mengusap kepala Jani.
" Ciiiiih.."
" Percaya diri sekali bapak!" Ucap Jani langsung melengos, padahal hatinya juga sudah enyut-enyutan saat Samuel secara langsung mengungkapkan perasaannya.
" Kamu tunggu saja nanti!" Samuel langsung menangkupkan tangannya untuk meraih wajah Jani agar memandang kearahnya, sambil ditatapnya sorot mata Jani yang ternyata sudah berbinar.
" Jani... aku say----"
KLOOOOONNTEEEEEEEENNGGG!
Sebuah panci penggorengan terlempar dari dalam kearah ruang tamu, yang sontak membuat kedua manusia yang sedang dilanda cinta itu tersentak dan langsung berdiri mengusap da da mereka masing-masing.
Jangan buru-buru menutup hatimu untuk seseorang yang mencoba mengenalmu. Jalani perkenalan itu dengan bahagia, pelan-pelan saja dan buat perkenalan itu senyaman mungkin.
__ADS_1
Karena kamu tidak pernah tahu bagaimana Tuhan membolak-balikan isi hatimu. Kamu tidak pernah tahu jika kebiasaan dia yang selalu ada untukmu perlahan tapi pasti, bisa membuatmu perlahan jatuh cinta padanya.
Dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya bosquh🥰