CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
55. Kucing dan Tikus


__ADS_3

...Happy Reading...


Cinta… Kata yang sangat indah ketika didengar. Kata yang sangat romantis ketika diucapkan. Kata yang memiliki sejuta makna. Dan kata yang setiap orang ingin dengarkan terucap dari bibir orang yang dicintainya.


Namun ketika kamu mengharapkan cinta datang, itu tak semudah yang kamu bayangkan. Dan tidak sesulit yang kamu pikirkan, karena terkadang cinta bisa datang tanpa diduga atau direncana, dia mengalir begitu saja tanpa permisi.


" Hallo Niar.." Pagi-pagi sekali Jani sudah menelpon sahabatnya.


" Hmm.. ada apa Jan?" Niar menjawab dengan suara khas orang bangun tidur.


" Bisa minta tolong nggak?" Tanya Jani sambil tersenyum cengengesan dibalik ponselnya.


" Yaelah... belum juga genap nyawaku ini."


" Sudah ngasih kerjaan aja luu." Umpat Niar bahkan masih memeluk boneka teddy bear kesayangannya.


" Pagi-pagi gini tuh ngasih bubur ayam kek, buat sarapan."


" Perut senang hatipun ikut riang." Ucap Niar yang tiba-tiba teringin makan bubur ayam.


" Ckk.."


" Cuma bubur ayam ini."


" Ama gerobaknya juga gw kasih deh ntar, skalian ama mang Ujangnya noh."


" Biarpun masih duda, namun pesonanya sudah menyebar ke ibu-ibu komplek." Ucap Jani mengingat Mang Ujang penjual bubur ayam yang fenomenal dikalangan emak-emak komplek itu.


" Haiyah.."


" Tega luu, ngasih yang duda."


" Biar pun jarang kencan, gw juga punya simpanan perjaka kales, walau nun jauh disana!" Ucap Niar langsung tidak terima.


" Emang luu yakin kalau dia masih perjaka?" Jani langsung menjauhkan ponselnya dari telinga, setelah selesai ngomong.


" KYAAAAAAAAAAAAAAA...!"


" Hati-hati kalau ngomong ya, belum pernah nyoba tampolan tangan mulus gw apa luu?" Benar saja, Niar langsung menjerit sekuatnya.


" Hehe.. Ampun DJ."


" Aku menyerah, haha."


" Luu sekarang buruan mandi deh, trus pergi kerumah pak Sam." Ucap Jani tidak ingin memperkeruh suasana pagi yang tentram itu.


" Diiihh... ngapain gw pergi kesono!"


" Yang jadi calon bininya elu apa gw sih sebenarnya?" Niar kembali menarik selimut tebalnya, cuaca pagi ini masih terlihat gelap, karena mendung tebal dan mungkin akan turun hujan deras.


" Kalau boleh juga pasti gw sudah kesana sendiri."


" Dengan senang hati malah, tapi ibuk nggak ngebolehin."


" Katanya gw harus dipingit."


" Besok pagi baru boleh ketemu, itupun setelah selesai Ijab Qobul." Ucap Jani menjelaskan, karena besok pagi adalah hari bersejarah didalam hidupnya.


" Aissh.."


" Harus banget sekarang?"


" Mendung ini Jan?" Niar menoleh kearah kaca jendela kamarnya.


" Justru karena sekarang sudah mendung."


" Kalau entar siang kesononya takutnya malah hujan." Ucap Jani yang sebenarnya juga nggak mau merepotkan orang lain, tapi menurutnya Niar bukan orang lain, dia sahabat rasa saudara, jadi dia tidak akan segan-segan menyuruhnya.


" Emang apaan sih yang harus diambil?"


" Kenapa nggak nyuruh mereka saja yang nganter." Umpat Niar yang sebenarnya sedang mager karena cuaca mendukung untuk kembali tarik selimut.


" Gw nggak enak nyuruhnya sob, hehe.."


" Lagian itu kesalahan gw sendiri, lupa bawa baju-baju seragam buat saudara-saudara gw."


" Kemarin gw keasyikan main sama Yoyo, jadi lupa segalanya, padahal itu tujuan utama gw." Jani hanya bisa cengengesan saja.


" Trus kenapa luu enak-enak saja nyuruh gw hah?"


" Pake Yoyo dijadikan alasan segala, main sama Yoyo apa bapaknya luu!" Niar sudah bisa menduga apa yang terjadi jika dua manusia itu bertemu.


" Yaelah, luu lupa siapa gw bagi elu?"


" Luu lupa kenapa gw bisa jadi menikah sama mantan presdir kita, hah?"


" Dimintain tolong kayak begitu saja itungan mulu luu!" Bukan Jani namanya kalau tidak bisa membalikkan kata-katanya.


" Huft."


" Mulai dah mulai, satu kesalahan diungkit-ungkit mulu sampai tua." Ucap Niar jengah.


" Wokey, terima kasih banyak sob!"


" Lup you pren, Bye-bye... haha!" Jani langsung menutup ponselnya, malas mendengar umpatan Niar yang semakin menjadi.

__ADS_1


" Woiii.. woiii.."


" Emang siapa yang sudah bilang iya?"


" Dasar teman sinting, belom selesai ngomong sudah dimatiin aja."


Walau sambil ngedumel namun Niar bangkit juga untuk segera mandi dan pergi kerumah Samuel.


Akhirnya Niar mengeluarkan motor matic kesayangannya, dia memutuskan menggunakan motor saja, karena mau pakai mobil dia juga nggak punya, dia ingin lewat jalur alternatif saja, karena walau lewat gang-gang yang sempit jalannya, namun lebih cepat sampai rumah pak Samuel.


Benar saja, hanya butuh waktu setengah jam Niar sudah memasuki rumah mewah Samuel, padahal kalau menggunakan mobil hampir satu jam baru sampai.


" Permisi."


" Assalamualaikum." Teriak Niar didepan pintu, namun sudah beberapa saat, dia berdiri didepan pintu namun tak kunjung dibuka, dulu dia berikan kunci rumah, namun setelah tugas dadakan mereka selesai kunci itu sudah dia kembalikan.


" Bi... bibi." Teriak Niar.


" Yoyo...sayang."


" Bukain pintu dong." Sudah nggak mood mau datang, tambah di skak didepan pintu, rasa kesalnya makin memuncak saja.


" Ckkk... kemana sih manusianya, keburu hujan gede nih!" Niar kembali mengetok pintu berulang kali.


" Excuse me!"


" Rumah ini tidak menerima sumbangan!" Bukan suara dari dalam rumah, tapi dari arah belakang tubuhnya.


" Haissh.." Saat Niar menoleh, seorang pria yang selalu menjadi teman debatnya itu terlihat berjalan melenggang dengan cool nya.


" Apa nggak ada dokter lain yang lebih tampan, yang bisa jadi dokter pribadi pak Sam!" Umpat Niar setelah melihat suara yang terdengar menyakitkan gendang telinganya itu.


" Ciiihh.."


" Stock dokter tampan itu terbatas asal kamu tahu."


" Cuma aku stock terakhir, bahkan satu-satunya!"


" The one and only." Marvin langsung mengeser tubuh Niar, dengan satu kali senggolan saja sudah membuatnya terhuyung kesamping dengan wajah tercengang.


" Astaga, kok ada orang modelan kayak begini yak?" Niar bahkan mengusap da danya sendiri.


" Kepedean amat jadi orang."


" Turun pak, jatuh ke bawah itu lebih sakit dari pada jatuh hati." Umpat Niar namun dia juga ikut mengekori langkah Marvin untuk masuk kedalam istana Samuel.


" Mau ngapain kamu kesini." Tanya Marvin sambil terus berjalan kearah kamar Samuel.


" Lha bapak sendiri mau ngapain kesini?" Tanya Niar balik.


" Orang nanya malah balik nanya."


" Nilai pelajaran bahasa kamu berapa, hah?" Marvin langsung menatap Niar dengan tatapan jengah.


" Ya udah sama." Niar menaikkan kedua bahunya.


" Gitu aja nge gass!"


" Santai aja kali boss!" Ucap Niar tetap berjalan dibelakang Marvin dengan santainya.


" Kalian datang barengan?"


" Tumben?" Samuel yang baru saja keluar dari kamarnya menatap heran melihat dua manusia yang selalu seperti kucing dan tikus itu kalau sudah bertemu.


" Nggaklah, kurang kerjaan banget!" Marvin langsung melengos saat mendengarnya.


" Kita mulai check up saja sekarang Sam." Ucap Marvin yang sengaja disuruh Samuel datang untuk mengecek kesehatan tubuhnya secara keseluruhan, karena dia tidak ingin hari bersejarahnya besok pagi terhambat oleh kesehatannya, dia ingin memastikan semuanya berjalan lancar sesuai rencananya.


" Sebentar, aku ambilkan barang Rinjani yang tertinggal dulu." Jani sudah menghubungi Samuel tadi kalau Niar yang akan mengambilkan bajunya yang tertinggal.


" Niar ikuti aku." Ucap Samuel pergi kekamar sebelahnya dan mengambilkan beberapa paperbag yang berisikan baju.


" Yoyo belum bangun pak?"


" Kok belum kelihatan sedari tadi?" Tanya Niar sok basa-basi.


" Belum." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Samuel dan Niar pun tidak berani bertanya lebih lagi.


" Kalau begitu permisi pak, saya pamit." Niar langsung pamit pulang.


" Hmm.." Jawab Samuel, hanya dengan Jani dia mau berbicara panjang lebar dengan seorang wanita.


Saat sampai di pertengahan jalan, tiba-tiba angin berhembus kencang, dan hujan pun mulai turun membasahi bumi. Sedangkan Niar berada diarea persawahan.


" Arghh.."


" Kenapa udah hujan sih!"


" Mana nggak bawa jas hujan lagi."


" Waah.. kalau kehujanan bisa basah nanti bajunya." Niar akhirnya memilih berteduh, disalah salah satu pondok kecil diujung jalan.


" Mana dipake buat besok pagi lagi."


" Bisa kena semprot gw nanti, apes.. apes!" Niar langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jani kembali.

__ADS_1


" Hallo Niar?"


" Sudah sampai kah?" Tanya Rinjani dari balik telpon.


" Boro-boro sampai."


" Aku masih di area persawahan nih, tapi hujannya gede banget."


" Aku malah lupa nggak bawa jas hujan."


" Gimana dong kalau bajunya kehujanan?" Niar bahkan tidak memakai jacket tadi, dia hanya menggunakan kemeja panjang bahkan berbahan tipis.


" Waahh... bisa pada ngamuk nanti."


" Mana keluarga gw pada nyinyir semua lagi." Jani mengingat sanak saudaranya yang menghina Samuel saat malam pertunangan itu, jadi sebisa mungkin saat hari pernikahan tiba dia ingin keluarganya tidak menghujat mereka dibelakang lagi.


" Lagian ngapain sih elu lewat sawah."


" Kenapa nggak lewat jalan tol, naik taksi saja."


" Sudah jadi missqueen banget apa gimana, apa sudah nggak punya ongkos buat naik taksi lagi gitu?" Umpat Jani kesal, temannya ini selalu saja kacau kalau membuat rencana.


" Tadi maksudnya biar cepet, naik motor lewat jalan pintas gitu."


" Eh.. ternyata kejebak hujan juga!" Umpat Niar yang sebenarnya juga menyesal.


" Ya udah, berteduh saja dulu."


" Aku cari orang dulu buat nganterin jas hujan kesana."


" Mana Bromo belum pulang-pulang lagi." Umpat Jani yang langsung mematikan ponselnya.


" Haish."


" Mana dingin lagi, bajuku udah basah ini."


" Haduuh...nggak lucu kalau nanti masuk angin."


" Masak iya pendamping penganten bersin-bersin." Niar duduk memeluk kakinya untuk menghilangkan rasa dingin disana.


Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Jani memilih menghubungi kekasihnya saja, semua orang dirumahnya sibuk mempersiapkan acara kenduri, karena walau besok acaranya digedung mewah, tapi ibu Jani bersikukuh untuk tetap membuat acara kenduri dirumahnya. Akhirnya Jani menyuruh siapa saja yang ada dirumah Samuel untuk mengantarkan jas hujan untuk sahabatnya Niar.


" Vin, kamu antarkan jas hujan diarea persawahan sana." Ucap Samuel setelah acara pemeriksaan kesehatannya selesai.


" Buat siapa?" Tanya Marvin sambil mengemasi alat-alat yang dia bawa tadi.


" Niar." Satu nama yang selalu membuat Marvin geleng-geleng kepala.


" Buruan sana, nanti barangnya kehujanan."


" Baju semua isinya, mau dipakai besok pagi." Suruh Samuel tanpa penolakan.


" Apa nggak ada orang lain yang bisa dimintain tolong selain aku Sam?" Tanya Marvin kesal.


" Nggak!"


" Sopir juga sudah pergi semua ngambil barang-barang buat besok."


" Cepat, nggak usah banyak alasan kamu!" Teriak Samuel.


" Haish." Marvin langsung meraih kunci mobilnya.


" Pake ini." Samuel melempar kunci motor sportnya."


" Kunci apa ini?"


" Aku bawa mobil sendiri kok." Marvin memperlihatkan kunci mobil mewahnya.


" Dia berada diarea persawahan, mobil nggak bisa masuk."


" Jalan sempit, hanya bisa naek motor saja." Samuel menjelaskan sambil duduk santai di sofa.


" Astaga, tuh bocah memang selalu saja merepotkanku!" Jawab Marvin yang terlihat kesal, dia juga malas naik motor hujan-hujan begini pikirnya.


" Nggak papa, siapa tahu itu jodohmu kelak!" Ucap Samuel sambil tersenyum miring menatap kekesalan dari wajah Marvin.


" Ciiihh."


" Kayak nggak ada stock wanita lain saja!" Umpatnya langsung melengos saat mendengar ucapan Samuel.


" Hmm."


" Karena jodoh biasanya begitu."


" Berawal dari benci, kemudian jadi cinta." Samuel langsung mengingat kisahnya dengan Jani.


" AMIT-AMIT JABANG BAYIK."


Marvin langsung meraih kunci motor dan berlalu dari sana dengan segala umpatan yang tersusun rapi di otaknya, untuk dia semburkan dihadapan wajah Niar nantinya.


..." Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hambanya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya."...


..." Cinta juga tidak mengenal pemaksaan. Ia selalu menjadi misteri, datang dan pergi begtu saja meninggalkan kenangan yang begitu sulit dilupakan."...


Jangan lupa jempol dan vote kalian ya gaes, karena othor mau kebut ini kisah Sam dan Jani🄰

__ADS_1


__ADS_2