CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
38. Ketahuan


__ADS_3

...Happy Reading...


Cinta merupakan sebuah perpaduan antara emosi dan kasih sayang yang kuat, serta ketertarikan pribadi.


Takdir adalah sesuatu yang mempertemukan kita dengan jodoh kita, walau terkadang kita tidak akan percaya begitu saja pada fakta, bahwa semua hal yang terjadi pada kehidupan kita sering sekali secara kebetulan dan tanpa kita duga, apalagi kita rencanakan.


Saat Rinjani mengoceh kesana-kemari bahkan terlihat kagum dengan sosok Alief yang begitu dia puji, Samuel merasa tidak terima, emosinya tiba-tiba meledak, dalam sejarah hidupnya dia tidak pernah merasa tersaingi seperti ini.


" Paaaaaaakkkkk!"


" Bapak itu gi--------"


Jani menghentikan ocehannya saat melihat Samuel hanya terdiam terpaku melihat kedepan dengan tatapan kosong, bibir gemetar, wajah pucat dan keringat dingin bercucuran dengan derasnya.


" Pak Sam?"


" Astaga?"


" Bapak kenapa?" Jani menepuk-nepuk pipi Samuel, namun dia malah terlihat mengeratkan giginya dengan keras.


" Haduwwwh.. gimana ini?"


" Owh iya, dokter Marvin!" Jani langsung mendail nomor Marvin berulang kali, namun sama sekali tidak ada yang diangkat.


" Kemana sih ini dokter?"


" Aarghh.. gimana dong?"


" Mikir Jan... mikir dong!" Jani terlihat semakin panik.


" Pak.. sadar dong pak!" Jani ingin menarik Samuel keluar dari mobil pun susah, tangannya mencengkeram kuat stir mobilnya, badan dia yang kekar, padat dan berisi membuatnya kuwalahan untuk mengangkatnya, sedangkan bapak yang hampir dia tabrak tadi sudah pergi keliling jauh.


" Gw telpon Bromo saja lah!"


" Rumah gw kan dari sini nggak jauh-jauh banget!" Jani akhirnya memutuskan untuk menghubungi adeknya.


" Hallo mbak?"


" Ada apa?" Jawab Bromo dari balik ponselnya.


" Bromo.. jemput mbak sekarang!"


" Aku share lokasi nanti." Ucap Jani dengan suara panik.


" Ngapain minta jemput sih mbak?"


" Orang mobilnya mbak bawa yang kok !" Bromo langsung kesal karena kakaknya menggangu istirahat sorenya, dia baru saja pulang tanding sepak bola tadi.


" Panjang ceritanya."


" Ini gawat Mo."


" Buruan datang, aku udah Share lokasi nih."


" Naik taksi aja, kalau nggak punya uang nanti mbak yang bayar disini."


" Cepetan ini menyangkut nyawa seseorang!" Bentak Jani dan langsung menutup ponselnya.


" Ngomong apaan sih?"


" Pake bawa-bawa nyawa segala, kan jadi merinding nih!" Bromo mengusap lengannya sambil meraih jacket, dompet dan ponselnya, dia langsung mencari taksi dipinggir jalan.


Saat sudah sampai di lokasi yang Jani share, Bromo clingak-clinguk ke kanan dan ke kiri, namun dia tidak menemukan kakak dan mobilnya.


" Mana sih mbak Jani."


" Apa GPSnya salah ini!"


" Telpon sajalah, ribet banget dah punya mbak satu aja!" Bromo langsung menelpon kakaknya.


" Hallo?"


" Mana kamu, kenapa lama sekali?" Suara Jani semakin terlihat panik.


" Aku sudah sampai mbak?"


" Tapi mbak nggak ada?" Bromo kembali mengedarkan pandangan.


" Moooo..!"


" Mbak disini, buruan sini bantuin mbak!" Jani keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada adeknya.


" Wuuiidiiihh.."


" Mobil kita mbak modif jadi ini ya?"


" Beuuuhhh.. mantep mbak, keren banget nih!"


" Jadi terlihat mewah banget!"


" Bisa buat off Road terus nih!" Bromo malah asyik menikmati mobil mewah Samuel.


" Keren.. keren gundulmu itu!"


" Jangan mimpi kamu, mana mungkin mobil jadul bisa di modif jadi mobil off Road keluaran terbaru!"


" Ini mobil pak Samuel."


" Ayo cepat, bantuin dia pindah duduk dikursi belakang!" Jani langsung menarik lengan adeknya.


" Dia kenapa mbak?"


" Kenapa seperti orang ketakutan gitu!" Bromo terkejut melihat sosok lain dari Samuel yang berbeda sekali dengan saat pertama kali dia melihatnya.


" Kambuh penyakitnya!"


" Nanti mbak ceritain sambil jalan saja."


" Pindahin dia ke kursi belakang."


" Aku nggak kuat ngangkatnya sendirian!" Jani langsung membantu Bromo memindahkan badan Samuel yang terlihat kaku dan menegang.


" Ja.. Ja.. Jani.." Suara Samuel terdengar lirih ditelinga Jani.


" Iya pak.. ayok kita pulang." Jani langsung menarik tubuh Samuel ke dalam pelukannya dan mengusap pipi Samuel untuk mencoba menenangkannya.


" Waaah.. waaah.. mbak modus ya!"


" Main peluk-peluk aja suami orang!"


" Nggak baik lho mbak jadi pelakor!"


" Nyesek tahu dihujat netizen!"


" Apalagi dilaknat sama yang diAtas!" Bromo melongokkan wajahnya kebelakang melihat Jani dengan santainya memeluk Samuel.


" Diem kamu, cepet jalan!"


" Keburu pingsan ini anak orang!" Jani melotot kearah Bromo yang malah terkekeh mendengarnya.


" Beneran keren nih mobil."


" Kapan bisa kebeli mobil kek gini ya mbak?" Bromo masih sempat-sempatnya memuji mobil mewah itu disaat si empunya sedang sekarat.


" Jangan banyak mengkhayal!"


" Buruan bawa mobilnya, tambah kecepatannya, jangan kayak banci kamu!" Teriak Jani yang gemas melihat Adeknya itu.


" Ciiihh.."


" Siapa takut!" Bromo langsung menambah kecepatannya diatas rata-rata, mobil mahal memang masih enteng tarikannya.


" Mau ke rumah sakit mana ini mbak?" Tanya Bromo sambil melihat jalanan.


" Emm... ibuk ada dirumah nggak?" Jani malah kembali bertanya.


" Enggak, dia lagi keluar."


" Dijemput tante tadi, entah kemana?"


" Soalnya tadi keburu aku dijemput temen buat main bola dilapangan." Ucap Bromo menjelaskan.


" Kalau gitu kita kerumah saja."


" Kasian pak Sam kalau terlalu lama didalam mobil."


" Dia punya trauma yang mendalam didalam mobil." Ucap Jani sambil terus mengusap bahu Samuel yang masih bergetar.


" Woaaah..."


" Mbak beneran modus nih."


" Orang sakit itu dibawa kerumah sakit."


" Biar cepet di obati."


" Bukan kerumah kita, hahaha.."

__ADS_1


" Pinter banget sekarang mbak ya?"


" Aku bilangin ibuk lho!"


" Biar kena sembur langsung!" Bromo masih saja meledek mbaknya.


" Modus apaan!"


" Dia punya dokter pribadi sendiri."


" Pak Sam itu nggak boleh dibawa ke rumah sakit umum, dia itu orang penting."


" Takutnya nanti banyak netizen yang bikin berita ngawur!"


" Kayak kamu tuh, netizen tidak berkelas, bisanya cuma menghujat saja, tanpa memikirkan jerih payah kita!" Umpat Rinjani kesal.


" Yeee.. dia malah curhat!" Bromo langsung mempercepat lagi laju kendaraannya hingga tidak membutuhkan waktu yang lama sampai tiba dirumahnya.


" Fuuuhh... berat juga tubuhnya ya mbak!"


" Padat berisi!"


" Taruh mana nih?" Bromo memapah tubuh Samuel yang masih kaku dan gemetar itu.


" Kamar mbak aja!" Ucap Jani langsung menendang pintu kamarnya, karena kamarnya yang paling dekat dengan pintu masuk.


" Waaah..."


" Jangan bilang mbak mencuri kesempatan dalam kesempitan ya?"


" Kalau nggak modus apaan coba kek gini?" Bromo membantu membaringkan tubuh Samuel.


" Terserah kamu deh Mo!"


" Capek mbak ngomong sama kamu!" Jani ingin beranjak dari sana namun Samuel menarik lengannya.


" Jani.. Jani.. jangan pergi!" Walaupun suaranya lemah tapi masih bisa mereka dengar.


" Iya pak.. aku nggak kemana-mana kok.." Jani langsung duduk disamping Samuel dan kembali memeluk tubuh Samuel.


" Ceileeeeehhhh..."


" Bilang aja mau mesra-mesraan kalian!"


" Jangan bilang ini drama!"


" Woaaah... dosa nggak nih gw, bantuin kalian berbuat makkk.. siat!" Bromo tersenyum sambil menyandar dipintu kamar Jani.


" Mulut Netizen yang satu ini memang perlu di masukkan ke bengkel untuk diservice ya!"


" Dia trauma Bromo Sontoloyo!"


" Dia benar-benar ketakutan gini kamu bilang drama!"


" Aku ulek kamu nanti pake cobek ibuk!"


" Cepetan ambilin obat penurun panas sana!"


" Badan pak Samuel panas nih!" Jani langsung memelototi adeknya yang tak henti-henti meledeknya.


" Nah.. nah.." Biar pun meledek, namun Bromo langsung mengambilkan apa yang diminta kakaknya.


" Sewot amat!"


" Emang dia beneran sukak sama mbak?"


" Pacar mbak gituh?"


" Kok mau ya orang tajir mlintir gitu, sama orang kayak mbak."


" Wajah B aja, galaknya diiihh... minta ampun!" Bromo meletakkan obat dan air putih dimeja samping kakaknya.


" Diiih... pesona mbakmu ini tidak terkalahkan tau!"


" Dan satu yang perlu kamu tahu!"


" Mbak bahkan menolaknya berkali-kali." Padahal ditembak secara resmi juga belum, dia cuma nggak terima saja dengan umpatan adeknya.


" CATET itu pake otak kamu yang tidak seberapa cerdas itu!" Jani menoyor kening adeknya yang suka nerocos tanpa rem itu.


" SOMBONG AMAT!" Bromo duduk diujung tempat tidur Jani.


" Eh tapi kalau aku kasih obat nanti beda dosis gimana!"


" Ambilin kompresan aja Mo dibelakang!" Jani takut sendiri nanti dimarahin sama Dokter gila itu pikirnya.


" Jangan keasyikan meluk yang bukan mahrom tau!"


" Ingat dosa mbak!" Bromo menggoyangkan jari telunjuknya didepan wajah kakaknya.


" Jani... Jani..." Panggil Samuel kembali.


" Iya sayang.." Jawab Jani tanpa sadar.


" Hedeeeeehhh.."


" Gaya lu mbak, pake acara sayang-sayangan segala!"


" Gitu bilang nolak!"


" Sok-sok an!" Bromo memutarkan kedua bola matanya.


" Hehe.."


" Mbak lupa, kirain dia Yoyo, hihi.." Jani nyengir sendiri.


" Emang istrinya nggak marah tuh, mbak kekepin kayak gitu!"


" Nggak baik tau mbak, merebut hak milik orang lain." Ucap Bromo sok bijak.


" Dia tu udah nggak punya istri Mo!"


" Kenapa sih dia nggak sadar-sadar ya?" Jani kembali mengusap pipi Samuel, antara kasian dan gemes juga kalau ingat kata-kata pedasnya.


" Jadi dia duda mbak?"


" Waah... doyan Duren mbak sekarang?" Bromo semakin terkejut mendengarnya.


" Entahlah.."


" Tapi dirumahnya memang cuma ada dia, Yoyo dan ibunya."


" Tapi saat itu ada mantan dia, suruh Yoyo manggil dia Paman."


" Tapi aku belum sempat menanyakan kembali, aku takut menyinggung perasaan, takut juga menguak luka lama kisah keluarga mereka." Jani bahkan memainkan hidung mancung Samuel sambil bercerita.


" Trus mau sampai kapan mbak kekepin kayak gitu?"


" Ketahuan ibuk bisa dinikahin besok pagi kamu mbak!" Ucap Bromo yang melihat kakaknya malah asyik memeluk dan memainkan wajah Samuel.


" Owh iya.. aku coba telpon lagi dokter pribadinya lagi."


" Tadi tuh nggak diangkat-angkat, mungkin lagi sibuk kali ya?"


" Atau mungkin gajinya sebagai dokter pribadi nunggak kali, atau kurang mungkin mbak."


" Jadi dia males ngurusin pak Sam!" Ucap Bromo ngasal bicara.


" Sembarangan kalau ngomong!"


" Bahkan dia dikasih hadiah rumah paling mewah dikompleknya!" Jani mengingat dia pernah menginap dirumah Marvin.


" Wuidiiiihhh.."


" Beneran tuh?"


" Kalau gitu nikahin aja dia mbak!"


" Biar kita ikut tajir mlintir juga, biar nggak usah capek-capek kerja nanti, haha!" Bromo langsung beringsut mundur saat bantal disamping Jani melayang kewajahnya.


" Tambal mulut bocormu itu."


" Nggak berfaedah sama sekali kamu!" Teriak Jani.


" Hahahaha.."


" Bercanda kali mbak!"


" Kalau gitu coba telpon pakai ponselnya aja!"


" Siapa tahu diangkat?" Bromo memberikan sarannya.


" Iya juga yah, kenapa nggak kepikiran sedari tadi." Jani langsung mencari ponsel Samuel.


" Astaga mbak."


" Tuh mulai lagi... udah pinter juga ya mbak gerayangin tubuh pria?"

__ADS_1


" Enak saja?"


" Nyariin ponsel dia nih."


" Entah ditaruh dimana?"


" Coba disaku dalam jas!"


" Nyari yang bener, jangan kebanyakan modus luu mbak!"


" Maunya nyari yang anget-anget aja! haha.."


" Ini dia!"


" Kenapa nggak kepikiran dari tadi." Jani langsung membuka kunci ponsel Samuel dengan ujung telunjuk dia, karena dia ingat dulu finger print ponsel Sam saat kambuh juga dulu.


" Hallo.." Benar saja, baru satu kali panggilan saja langsung Marvin angkat.


" Hallo siapa ini?"


" Kemana Samuel?" Suara datar itu kembali menggema ditelinga Jani.


" Saya Jani Dokter."


" Siapa kamu?"


" Nggak kenal." jawabnya dengan nada bicara ketus."


" Hadewh..."


" Terserah saja lah, yang penting buruan datang kerumahku!"


" Sekarang juga!"


" Kurang kerjaan banget aku mesti capek-capek datang kerumahmu!"


" Buang waktu saja!" Jawab Marvin dengan ogah-ogahan.


" Astaga dokter?"


" Penyakit trauma pak Sam kambuh lagi Dok!"


" APAH!"


" Kenapa bisa!"


" Aku kan sudah bilang, jagain dia!" Ucap Marvin langsung bergegas keluar dari ruang tindakan, karena dia memang masih dirumah sakit.


" Jadi dokter sudah ingat siapa saya?"


" Kenapa dari tadi aku telpon pakai nomorku nggak diangkat-angkat?"


" Giliran pakai nomor pak Sam, sekali saja langsung diangkat!" Jani tersenyum jengah mendengarnya.


" Nggak penting banget!"


" Cepat kirim lokasi rumahmu."


" Jagain Samuel, jangan pergi kemana-mana sebelum aku datang."


" Tapi----" Belum sempat Jani bertanya lagi, ponselnya sudah dimatikan.


" Diiihh... nie dokter galak banget."


" Nada dering pak Sam khusus kali ya?"


" Sebegitu cintanya dia dengan Pak Sam gituh!"


" Hiiii... ngeri banget gw!" Jani menggedikkan bahunya sendiri.


" Jani... Jani..." Samuel tak henti-hentinya memanggil namanya.


" Iya pak, aku disini."


" Aku nggak kemana-mana."


" Sadar dong pak, kenapa kali ini lama sekali?" Jani malah menempelkan pipinya ke kepala Samuel dan mempererat pelukannya.


" Yaaaa... yaaaa..."


" Peluuk saja terus, peluk yang kenceng!"


" Keenakan kayaknya mbak nih!" Bromo kembali menghujat Jani.


" Kalau gitu kamu aja noh, yang peluk!"


" Sini gantiin mbak!" Teriak Jani langsung kembali sewot.


" Ogaaaahh.."


" Ngeri gw.. masak pisang makan pisang!"


" Hiiiii..." Bulu kuduk Bromo langsung meremang, tak selang berapa lama ada suara mobil berhenti didepan rumahnya.


" Itu kali dek dokternya!"


" Suruh masuk cepetan!"


Bromo langsung berlari ke arah pintu depan untuk membukakan pintu rumahnya.


" HAH... IBUK!" Bromo langsung terlihat panik.


" Eeh... ibuk kok sudah pulang?" Bromo mencium tangan ibuknya.


" Kamu nggak suka, kalau lihat ibu pulang?" Jawab ibuk Bromo dengan suara lirih, sepertinya dia kecapekkan dengan aktifitasnya hari ini.


" E... e... eh.."


" Jangan masuk buk!"


" KENAPA?" Ibu Bromo mengerutkan keningnya.


" Emm... maksud Bromo, itu anu.. pasta giginya habis."


" Bromo mau sikat gigi jadi nggak bisa."


" Ibuk tolong beliin diwarung depan dong, hehe?"


" Kaki kamu masih sehat kan?"


" Biasanya juga paling seneng kalau kewarung depan!"


" Kamu kan suka modus ngapelin si Siti."


" Mau kewarung sepuluh kali dalam sehari juga kamu bahagia."


" Ada apa sih?" Ibu Bromo malah semakin curiga jadinya.


" Mooooooo..."


" Buruaaaann suruh masuk!"


" Siapa sih yang datang?" Jani berteriak dari dalam.


" Itu bukannya suara Jani?" Ibu Bromo langsung mendorong tubuh putranya yang menghalangi jalannya.


" Eh.. buk!"


" Haaaah... habislah kamu mbak!"


" Mau ditolongin kok malah teriak!"


" Ngalamat nih bentar lagi makan nasi kenduri."


" Aaah... besok nanggap Dangdutan aah, biar bisa goyang asololey!"


" KAWIN.. KAWIN.. MINGGU DEPAN MBAK KAWIN..!"


" Status di KTP embak jadi.. KAWIN.. KAWIN..!" Bromo menggoyangkan tangannya ke kanan dan ke kiri sambil bersenandung ria.


" Dok-----" Jani tidak jadi melanjutkkan panggilannya.


" RINJANIIIIII...!"


" APA YANG KAMU LAKUKAN!"


" Ibuuuk..."


Jani hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya, saat wajah ibuknya sudah kemerahan, mungkin karena terlalu kaget atau menahan amarah, orang tua mana yang tidak terkejut melihat anak wanitanya tidur berpelukan dengan seorang pria, apalagi Samuel terus memeluk tubuh Jani tanpa cela, begitu juga dengan Jani, dia memeluk tubuh Samuel dengan erat dan penuh kasih sayang.


Kamu hanya perlu mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk menjadi baik, setelah itu biarkan kebaikan yang membawamu pada apa yang kau pinta selama ini. 


Karena Allah tak pernah kehabisan cara untuk menyatukan yang berjodoh dan memisahkan yang tak berjodoh. Lantas, apa yang harus dirisaukan?


..."Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kalau kamu mencari yang sempurna, sampai rambutmu memutih jodoh itu tidak ada."...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya boskuh😊

__ADS_1


__ADS_2