CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
52. Pasukan Ambyar


__ADS_3

...Happy Reading...


Perasaan cinta manusia memiliki fase yang begitu unik. Dimana cinta bisa menjadi sumber kekuatan dan sekaligus kelemahan bagi mereka. Ketika jatuh cinta, hidup seolah berwarna dan serasa menjadi orang paling beruntung di dunia.


Sayangnya, cinta juga bisa membuat luka. Di saat hal itu terjadi mungkin seseorang akan merasa menjadi orang yang paling tersakiti di dunia. Hidup bahkan terasa tak ada artinya lagi. Itulah mengapa manusia diminta untuk mencintai sesuatu sewajarnya, bahkan hubungan yang harmonis dan menyenangkan bisa berantakan dan menjurus permusuhan ketika rasa cinta telah hilang. Karena pada dasarnya semua hanyalah titipan Yang Maha Kuasa.


Hari pernikahan Rinjani dan Samuel pun sudah semakin dekat, Jani disibukkan dengan berbagai persiapan dengan dibantu oleh sahabat dekatnya Niar, walaupun Samuel sudah melarangnya dan sudah memilih WO terbaik, namun Jani ingin tetap ikut andil dalam pernikahannya, agar moment terindah dalam hidupnya itu tetap berkesan sampai umur mereka senja nanti.


" Cuy... yang jadi pengiring pengantin kamu besok siapa?" Tanya Niar sambil memilih-milih baju pengiring di salah satu butik tempat pemesanan baju pengantinnya.


" Ya elu lah siapa lagi?" Jawab Jani sambil terus memperhatikan baju-baju yang terpajang disana, sambil menunggu baju hasil rancangan yang sudah Samuel pesan.


" Tapi cowok gw nggak bisa pulang, gimana dong?" Niar terlihat sedih saat mengingat kemarin dia telponan dengan kekasihnya untuk meminta pulang disaat acara pernikahan sahabatnya itu, namun dengan berat hati dia menolaknya karena memang belom jatahnya mendapatkan cuti.


" Hmm.."


" Memang harus dengan pasangan ya?" Jani menatap Niar sekilas.


" Nggak juga kan?" Tanya Jani yang memang kurang begitu tahu detailnya seperti apa.


" Ya enggak sih?"


" Tapi kan lebih seru kalau sama pasangan gitu." Angan-angan Niar sudah melayang, membayangkan hal yang indah-indah saja.


" Entar nangkap bunganya bisa bareng-bareng."


" Trus siapa tahu dapetkan, trus jodoh deh, hehe..." celoteh Niar sambil terkekeh saat membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia.


" Itu mah cuma mitos sob, ya enggak sih?"


" Jaman sekarang masih saja percaya yang begituan." Jani bahkan menoyor kening sahabatnya yang masih tersenyum-senyum nggak jelas.


" Nih ya, dulu pas temen gw nikahan, kata orang kalau nyuri bunga kantil yang buat hiasan kepala penganten itu secara diem-diem."


" Trus cowok kita juga nyuri bunganya dipihak penganten pria, katanya bakalan nikah sama dia."


" Nah waktu itu, sudah gw curi tuh bunga, sampai pengantinnya marah-marah karena rambutnya ketarik saat itu."


" Trus ya, udah gw masukin kedalam bak mandi, biar wanginya bisa satu ember besar."


" Katanya kan suruh buat mandi, biar top cer gituh."


" Kenyataannya apa coba?" Jani langsung memegang bahu Niar dengan tatapan serius.


" Apaan?" Niar ikut menyimak juga dengan tatapan serius.


" Kandas ditengah jalan cuy!" Jani menceritakan dengan menggebu-gebu kisahnya terdahulu.


" Bahahaha.." Niar langsung tertawa terbahak-bahak, melihat raut wajah Jani yang terlihat kesal.


" Boro-boro tahan lama, seminggu setelahnya langsung bubar jalan cuy!"


" Lha ini malah gw juga mau nikahnya sama orang lain kan?"


" Masih mau percaya sama yang begituan?"


" Musrik luu... percaya mah sama Sang Pencipta Alam, baru bener." Ucap Jani sok bijak, padahal dulu dia juga percaya banget omongan orang.


" Yaa siapa tau aja Bejo cuy!"


" Kalau udah si Bejo datang mah, ngalah-ngalahin segalanya!" Niar masih saja kekeh dengan pendapatnya.


" Serah lu dah!"


" Padahal dulu gw lagi bucin-bucinnya, sama cowok gw yang satu itu!"


" Pengen banget nikah sama dia dulu?"


" Atau setidaknya tunangan dulu kek gitu."


" Hmm... ternyata jodoh memang rahasia Tuhan, tidak pernah ada yang tahu." Ucap Jani langsung terduduk lemas saat mengingat kekasihnya saat masa awal kuliah dulu.


" SIAPA COWOK ITU!" Tiba-tiba terdengar suara pria yang sudah mengobrak-abrik jiwanya akhir-akhir ini, muncul dengan ditemani Marvin yang sudah stay berdiri disampingnya.


" Hah?" Jani dan Niar langsung tersentak dan menoleh kearah mereka.


" Siapa cowok yang bikin kamu bucin tadi!" Tanya Samuel langsung menarik Jani kedalam pelukannya.

__ADS_1


" Ahehe.."


" Bapak kapan datangnya?" Jani langsung menyesal bercerita panjang lebar tadi, karena terlalu serius bercerita dia tidak menoleh kanan kiri.


" SIAPA!" Samuel memelototkan kedua matanya saat Jani tak kunjung menjawab pertanyaannya.


" Enggak.. itu dulu kok."


" Duluuuuuuuuu banget, sekarang udah nggak tau kemana perginya tuh cowok."


" Nggak pernah ketemu juga, beneran deh, hehe.." Jani langsung memeluk tubuh calon suaminya, agar semua masalah jadi lebih mudah, seperti semboyan Pegadaian 'Mengatasi masalah, tanpa Masalah'.


Tau gitu gw pancing lebih mendetail tadi tentang sosok kekasih Jani saat ABG, biar makin seru tadi reaksinya si Kulkas itu.


" Pfffttttthhhh.." Niar langsung menahan tawanya dan mengumpat didalam hati.


" Ahaaa... Niar, sekarang gw tahu siapa pasangan pendamping yang paling cocok buat elu!" Jani langsung melepas pelukannya, mencoba mengalihkan perhatian tunangannya itu.


" Tunggu yank.."


" Jangan dilepas dulu, masih kangen ini." Samuel kembali menarik Jani kedalam pelukannya, baru sehari nggak bertemu saja sudah kayak sebulan nggak ketemu.


" SAKIT... sakiiiiiiit mata gw ngelihatnya!" Marvin langsung melengos melihatnya, berbeda dengan Niar, yang malah tersenyum dan mengamati wajah presdir yang galaknya minta ampun itu, sekarang bisa jadi sweet begitu pikirnya.


" Udah iih... malu tau pak." Jani mendorong tubuh Samuel saat wajah tampannya itu dia letakkan diceruk leher Jani.


" Apa kamu mau seluruh pengunjung di butik ini aku suruh keluar saja?" Samuel menatap wajah Jani yang terlihat malu-malu itu.


" Biar nanti aku yang akan ganti rugi." Sifat sombongnya langsung keluar.


" Atau aku beli saja sekalian butiknya, untukmu?" Samuel merapikan rambut Jani yang kusut karena ulahnya tadi.


" Bagaimana?" Tanya Samuel dengan entengnya kalau sudah menyangkut tentang harta.


" Yaa enggak gitu juga kali pak." Jani langsung kesal kalau Samuel sudah kembali kehabitat awalnya yaitu membanggakan harta kekayaannya yang memang melimpah ruah itu.


" Sini mana tangannya."


" Kita gandengan saja ya, hehe.."


" Begini kan asyik tuh!" Jani malah terkekeh sendiri saat melakukannya, dia seolah flash back pacaran disaat masa sekolahnya dulu, yang gandengan tangan saja sudah cukup membuat jantungnya ser-seran.


" Teruuuusss... terus saja kayak gitu Sam!"


" Anggap saja kami ini relief di candi Borobudur itu, yang hanya bisa melihat tanpa bisa berkomentar." Marvin langsung protes kembali, dia sengaja ikut kemana perginya Samuel karena malas menghadapi Lily yang terus membuntutinya, karena kebetulan hari ini jadwal kerja dirumah sakit libur, tapi malah dapat pemandangan yang merusak mata pikirnya.


" Ckkk... hah.."


" Kalau ngadepin jomblo mah serba salah memang." Umpat Jani langsung tersenyum licik.


" Owh iya... Niar besok pasangan pendampingmu Marvin saja." Jani langsung terlintas ide jahil saat melihat keduanya.


" Diiiihh.. ogaaah!" Dengan cepat kilat Niar langsung menampiknya.


" Mending gw pasangan saja sama Yoyo."


" Yoyo itu lebih terlihat dewasa dari pada dia." Umpat Niar langsung melengos saat mendengar saran dari sang calon pengantin.


" Emang siapa yang mau pasangan sama elu!"


" Jangan Ge eR dah!" Marvin langsung melotot kearah Niar, merasa tidak terima dirinya ditampik begitu saja.


" Ssstttt cuy!" Jani langsung berbisik kearah Niar.


" Dia lagi jadi pasukan ambyar!"


" Ditinggal selingkuh cuy!" Ucap Jani tanpa suara.


" Bahahahahahaha.."


" Kasian banget dah!" Niar langsung tertawa terbahak-bahak sambil melirik kearah Marvin yang langsung melotot kesal.


" Ibarat esuk mendung... awan aku kudanan, sore mbok larani, mbengi tak tangisi."


" E... ambyaaarrr, haha..." Niar langsung bersenandung ria saat tahu Marvin sedang patah hati.


" Ngomong apa luu tadi!" Teriak Marvin sambil mendelik kearah Jani yang ikut menahan tawa saat mendengar nyanyian Niar.

__ADS_1


" Jangan teriak-teriak didepan calon istri gw!" Samuel langsung menendang kaki Marvin yang ingin berjalan mendekatinya.


" Mau gw kirim ke Antariksa luu!" Ucap Samuel dan Jani yang berada disampingnya langsung menjulurkan lidahnya kearah Marvin yang langsung tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


" Niar.. kamu kasih baju pendamping cowok buat dia!" Jani langsung mengedipkan satu matanya kearah Niar yang masih tertawa.


" Asiaap calon ibu presdir!" Dia menaikkan satu tangannya dikening, seolah memberikan hormat kepada komandan upacara.


" Yuuuukkk... kita coba bajunya Mblooo!" Ledek Niar yang langsung berubah pikiran seketika.


" Gw suka kalau dipasangkan sama yang jomblo-jomblo ngenes gini." Dia sudah membuat planing untuk menjahili dokter yang gengsinya selangit itu.


" Terkesan lebih menantang gitu loh, haha!" Niar langsung memilihkan satu stel jas berwarna senada dengan gaun miliknya nanti dan mengajak Marvin untuk mencoba pakaiannya.


" Emang siapa yang ngenes!"


" Nggak ada kamusnya!"


" Jangan sembarangan kamu kalau ngomong!" Marvin langsung tidak terima, namun kakinya mengikuti juga kemana langkah kaki Niar melangkah pergi.


" Kau putuskan... tuk mendua... dengan dia... dibelakangku.."


" Padahal ku pilih kamu... jadi cinta terakhir.." Dia masih saja terus bersenandung ria dengan lagu yang bertemakan patah hati.


" Hahaha..." Niar tidak memperdulikan omelan Marvin, dia merasa lebih tinggi posisinya karena dia setidaknya masih punya kekasih walau jauh di tanah rantau sana.


" Awaaaassss kamu ya!"


" Jangan coba-coba meledekku!" Marvin langsung berjalan cepat dan memiting leher Niar yang masih menertawainya.


" Ahahahaha... ampuuunn!"


" Sakit tau Mblooooo!" Teriak Niar mengaduh namun masih tetap diselingi tawa ledekan.


" Hmmm..."


" Kenapa aku mikirnya mereka nanti akan berjodoh ya pak." Ucap Jani saat melihat kedua orang itu berlalu dari hadapannya.


" Ngapain kamu mikirin orang lain!"


" Kamu cuma boleh mikirin aku.. aku dan aku seorang!"


" Tiada yang lain, okey?"


" Mengerti kamu?" Ucap Samuel langsung memutarkan kepala Jani kehadapannya, dia hanya diizinkan untuk melihat dirinya seorang saja.


" Baik.. Paduka Raja!" Jani hanya bisa tersenyum saat Samuel sudah memasang tampang yang sudah mirip dengan angry bird itu.


" Peluk aku!" Kata-kata andalan dari Samuel langsung keluar dengan lancarnya, seolah kata-kata itu menjadi hal yang wajib kalau sudah bertemu, berawal dengan ketidak sengajaan dan akhirnya menjadi kebiasaan, untung saja tinggal beberapa hari lagi pernikahan mereka akan diselenggarakan, kalau tidak dosa mereka pasti sudah melimpah ruah kalau dihitung.


" Ututututu... sini-sini." Jani merentangkan kedua tangannya dengan gemas.


" Ketahuan ibuk, minta peluk nggak tahu tempat kayak gini, bukan panci lagi yang melayang pak!" Jani langsung memeluk pinggang Samuel dengan erat.


" Terus apa yang melayang?" Tanya Samuel sambil tersenyum mengingat galaknya calon ibu mertuanya.


" Panci dengan toko-tokonya sekalian terbang!" Ucap Jani yang langsung membuat Samuel terkekeh saat mendengarnya, namun tetap tidak melepaskan pelukannya.


" Jadi kangen sama Yoyo deh pak."


" Biasanya bocah itu yang selalu minta dipeluk duluan!"


" Kita pulang kerumah bapak yuk?"


" Bajunya nanti suruh Niar bawain kerumah saja." Jani langsung mengingat bocah yang sangat menggemaskan itu, karena sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengannya.


" Boleh."


" Tapi Yoyo ngak boleh diganggu!" Samuel memiringkan wajahnya dengan tatapan menggoda.


" Dia sedang sibuk belajar seharian ini."


" Kalau mau ganggu, kamu hanya boleh gangguin Daddy nya saja!" Ucap Samuel sambil mengeratkan pelukan Jani.


Enak di elu, nggak enak di gue boskuh..!


..."Kadang kamu harus dengarkan kata hati. Jangan tanyakan siapa yang kamu cintai, tapi tanyakan siapa yang buatmu bahagia."...

__ADS_1


..."Celahmu akan dianggap sempurna oleh hati yang memang ditakdirkan untukmu."...


..."Karena Cinta tidak akan menuntut kesempurnaan, cinta akan memahami, menerima dan rela untuk berkorban, sebab cinta seharusnya membuatmu bahagia bukan terluka."...


__ADS_2