CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
39. Nakal


__ADS_3

...Happy Reading...


Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Cinta melahirkan pengorbanan, entah itu perasaan ataupun fisik dan akan selalu minta pengorbanan, karena cinta penuh dengan rintangan.


Namun Cinta Samuel seakan dipermulus jalannya, saat Rinjani terus saja menyangkalnya dan terus saja menolaknya, kejadian demi kejadian selalu berpihak dan menguntungkan bagi Samuel.


" RINJANIIIIII...!"


" APA YANG KAMU LAKUKAN!" Antara terkejut, marah, penasaran dan juga kecewa campur aduk menjadi satu, dia tidak pernah menyangka anak gadisnya yang dia jaga betul-betul, luar dan dalam bisa berbuat seperti itu dirumahnya sendiri.


" Ibuuuk..."


Jani hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya, saat wajah ibuknya sudah kemerahan, mungkin karena terlalu kaget atau menahan amarah, orang tua mana yang tidak terkejut melihat anak wanitanya tidur berpelukan dengan seorang pria, apalagi Samuel terus memeluk tubuh Jani tanpa cela, begitu juga dengan Jani, dia memeluk tubuh Samuel dengan erat dan penuh kasih sayang.


" BANGUN KAMU!" Teriak ibu Jani, bahkan Bromo yang berdiri dibelakangnya sampai tersentak, semarah-marahnya ibuk saat mereka melakukan kesalahan, tidak sekeras dan semarah ini biasanya.


" Ibuuk... ini tidak seperti yang ibuk duga." Jani mencoba bangun namun, tangan Samuel masih saja mencengkeram tubuhnya.


" Sejak kapan ibuk mendidik kamu menjadi anak yang tidak tahu Norma seperti itu!"


" Kamu tahu adat kita seperti apa bukan?"


" Kamu sudah dewasa Rinjani!"


" Kamu harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk!"


" Mana yang boleh kamu lakukan, dan mana yang tidak!"


" Bangun kamu! kenapa masih disitu?"


" Apa kamu sudah tidak punya rasa malu lagi, HAH?" Ibuk Jani menarik lengan kanan Jani namun Samuel menarik lengan kiri Jani, yang ditarik hanya bisa menitikkan air mata saja, karena dia tidak pernah dibentak seperti ini oleh ibuknya.


" Buk.. biar mbak Jani jelaskan dulu!" Bromo pria satu-satunya di kartu keluarga itu pun langsung mencoba menengahi mereka.


" DIAM KAMU!" Ibuk Jani menepis tangan Bromo yang mencoba menariknya.


" Apa kamu mau membela mbakyumu yang sudah kelewat batas seperti ini?" Bahkan beliau menyingsingkan lengan panjangnya sampai kesiku.


" Kalau ayahmu masih hidup, entah apa yang akan dia lakukan kepadanya." Ibuk Jani jadi mengingat kembali mendiang suaminya.


" Dia pasti kecewa melihat putri kesayangan yang selalu dia bangga-banggakan itu berbuat Zina seperti ini!" Ibu Jani bahkan berkacak pinggang.


" Ibuuukk.. maafkan Jani." Air mata Jani sudah meleleh kemana-mana, dia tidak menyangka jika ibunya akan semarah ini.


" Tapi Jani bukan seperti yang ibuk duga." Jani mencoba melepas cengkraman tangan Samuel dengan paksa.


" Jani... Jani... jangan tinggalkan aku.." Ucap Samuel kembali, masih dengan suaranya yang lirih tak berdaya.


" Pak.. lepasin dulu."


" Ibuk marah itu!" Jani mencoba berbicara perlahan dengan Samuel.


" Jani... Jani... jangan pergi." Hanya itu-itu saja kosa kata yang keluar dari mulut Samuel kalau sedang kambuh.


" Paaaak, tolonglah!"


" Ngertiin aku dikit napa!"


" Ibuk salah paham itu!"


" Awas pak, lepas nggak?" Jani sebenarnya tidak tega, namun ibunya masih menatap dengan amarah yang memuncak.


" LEPAAASSS..!" Akhirnya Jani berteriak dan menghempaskan tangan Samuel dengan paksa.


" AARGHH... AARGHH... AARGHH...!" Samuel menjambak rambutnya sendiri dengan kuat, matanya memerah, bahkan teriakannya sangat histeris, membuat semua orang disana langsung mundur ketakutan.


" SAM... SAM...!"


" Kamu dimana?" Teriak dokter Marvin yang datang tepat pada waktunya.


" Alhamdulilah dokter."


" Buruan tolong pak Sam."


" Kenapa dia jadi seperti itu?" Jani langsung menarik Marvin untuk segera maauk ke kamarnya.


" Astaga Sam!" Marvin ikut panik melihat Sam kambuh seperti saat pertama kali dia sakit.


" PELUK DIA..!"


" Kenapa kamu diam saja!" Marvin langsung membentak Jani yang masih berdiri disampingnya.


" Heh.. heh.. dokter!"


" Mereka belum Mahrom, kenapa nyuruh anak saya meluk-meluk dia!" Ibu Jani berbicara antara takut, kasihan dan juga tidak terima anaknya suruh meluk-meluk pria yang belum punya status dengan putrinya, bahkan ibu Jani memeluk lengan Bromo karena takut melihat Samuel yang seolah seperti kesetanan itu.


" RINJANI PELUK DIA CEPAT!"


" TUNGGU APA LAGI!" Marvin tidak menjawab pertanyaan ibu Jani, dia kembali membentak Jani.


" Iya.. iya dokter!"


" Nggak papa nih?"


" Aku.. aku takut dokter?" Jani ragu-ragu ingin duduk disamping Samuel.


" Semakin lama kamu menundanya."


" Semakin kamu membahayakan jiwanya!" Ucap Marvin langsung mengeluarkan suntikan dan obat dosis tinggi.


" Okey.. okey.."


" Pak Sam?"


" Mau aku peluk lagi nggak?" Jani dengan polosnya, masih sempat-sempatnya bertanya dahulu.


" AAARGGGHHHH...!" Teriak Samuel kembali.


" Ya Salaaam."


" Gimana ini dokter?" Tangan Jani malah ikut gemetaran jadinya.


" Dia tidak akan melukaimu bodoh!" Marvin semakin kesal dibuatnya.


" Heh dokter!"


" Ti-ati kalau ngomong, anak saya itu siswa berprestasi sejak dari bangku sekolah, bahkan kuliah juga dia dapat bea siswa prestasi!" Ucap ibuk Jani langsung membanggakan putrinya, walaupun tadi dia marah-marah, namun seorang ibu tidak akan terima jika anaknya dijelek-jelekan orang lain, apalagi didepan matanya.


" Ssssstt buk.." Bromo langsung menarik lengan ibuknya untuk mundur.


" Sudah... jangan komentar dulu, kasian itu pak Sam, dia punya trauma berat!"


" Nanti kalau bikin geger dirumah kita, malu sama tetangga buk!"


" Apalagi kalau sampai dia mati disini."


" Diiihhh... nggak ngebayangin angkernya rumah kita nanti buk!" Bromo bahkan sudah berpikiran yang horor-horor.

__ADS_1


" Kayak yang di TV itu lho buk?" Bromo berbisik ditelinga ibuknya dan membuat ibu Jani langsung memeluk tubuh putranya itu.


" Pak.."


" Tenang pak, tenang dong.." Jani mencoba memegang tangan Samuel.


" AAARRRGGGHHH.." Samuel kembali berteriak.


" Aaaaaaaaaaaa bapak..!" Jani langsung memeluk tubuh Samuel dan memejamkan matanya, dia pasrah saja jika mungkin nanti dia dibanting atau dihempaskan, lagian mereka juga diatas kasur pikirnya.


" Jani... Jani jangan tinggalkan aku."


" Jangan pernah mencoba untuk pergi dariku." Tubuh Samuel langsung melemas.


" Pak Sam?" Samuel ambruk didalam dekapan Jani.


" Pegang yang erat, aku akan menyuntikkannya." Marvin langsung menyuntikkan obat dosis tinggi ditubuh Samuel.


" Kenapa nggak dari tadi pak!"


" Aku udah gemetaran tadi." Jani akhirnya bisa bernafas lega.


" Aku nggak bisa menyuntiknya dalam posisi dia tegang."


" Kalau dia berontak jarum ini bisa melukainya." Ucap Marvin yang akhirnya bisa bernafas lega.


" Kenapa bisa sampai begini?"


" Apa yang terjadi?" Marvin langsung menginterogasi Jani, karena sudah lama Samuel tidak kumat separah ini.


" Aku juga bingung pak, biasanya kalau kumat gini aku peluk sudah sembuh pak." Jani pun tidak menyangka jika Samuel akan separah ini.


" APA?"


" BIASANYA!" Ibuk Jani kembali berani berteriak ketika Samuel sudah melemah.


" Astaga ibuk!" Jani langsung memejamkan matanya, ibuknya pasti salah paham lagi, belum sempat dia menjelaskan apa yang terjadi dengan Samuel, ibunya sudah kembali heboh duluan.


" Berarti kamu sudah sering meluk-meluk dia seperti itu?"


" Kamu sering tidur dengannya seperti itu?"


" Katakan Jani.. jujur dengan ibuk!" Ibuk Jani menarik telinga Jani dari samping.


" Buk.. nanti Jani jelaskan."


" Biarkan pak Sam sadar dulu ya?"


" Ibuk jangan salah paham dulu." Jani berusaha tetap sabar menghadapi ibunya.


" Kalau begitu saya permisi!"


" Ini obatnya."


" Minumkan saat dia terbangun nanti!"


" Jangan tinggalkan dia sampai dia terbangun nanti."


" Kamu harus stay disitu sampai dia membuka mata!" Marvin langsung merapikan tas dan isinya.


" Loh.. kok buru-buru sih dok."


" Nggak mau nunggu pak Sam sadar dulu gitu?" Jani malah jadi heran sendiri kenapa Marvin langsung ingin pulang.


" Atau mau ngopi-ngopi dulu mungkin?" Jani mencoba basa-basi.


" Dok, tunggu!"


" Ini nanti kumat kayak tadi enggak ya?"


" Aku takut dok, beneran deh?" Jani bingung harus apa nanti jika kumat lagi.


" Kalau kamu tetap disisinya, dia akan baik-baik saja!" Dokter Marvin berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi.


" Hiiiiisssh..."


" Ngeri banget dokternya pak Sam!"


" Misterius gitu kan mbak!" Bromo masih melihat punggung Marvin dari kejauhan.


" Pantesan mereka berdua berteman rasa saudara!"


" Sama-sama gilanya." Umpat Jani perlahan.


" Mau sampai kapan kamu meluk dia seperti itu?" Ibu Jani mendekat kearah Jani.


" Sampai dia sadar buk!"


" Ibuk denger kan tadi dokter Marvin bilang apa!"


" Aku nggak bohong lho buk!" Jani masih mencoba membela diri, sambil terus mengusap-usap kepala Samuel dengan lembut.


" Bilang aja kamu demen kan!"


" Nyaman gitu kamu meluknya!" Ibu Jani tersenyum miring melihat pelukan Jani yang terlihat mesra.


" Hehe.."


" Enggak lho buk, aku cuma kasian aja kali." Ucap Jani jadi malu sendiri karena ibuk ternyata mengamati gerakannya.


" Apa dia pacar kamu?" Ibu Jani duduk dikursi samping Jeni.


" Hmmm..."


" Gimana ya?"


" Secara tidak langsung memang gitu, tapi belum pasti lagi buk, aku pengen wisuda tanpa gangguan pacar-pacaran dulu buk.


" Jadi maksudmu hanya teman?"


" Tapi sudah peluk-pelukan gini?"


" Jangan jadi cewek gampangan kamu Jan!"


" Harga Diri sedikit dong jadi gadis, jangan mau kamu disentuh sebelum halal, itu yang bagus." Ucap Ibu Jani langsung memberikan petuah.


" Haaah.."


" Salah lagi, semua salah deh dimata ibuk." Jani langsung melengos dan memilih mengeratkan pelukan ketubuh Samuel, dia bahkan menyandarkan kepalanya ke kepala Samuel dengan santainya, sudah ketahuan ini pikirnya, lanjut aja, lumayan dapet yang anget-anget.


" Kenapa kamu malah terlihat menikmatinya." Ibuk Jani mencubit lengan Jani.


" Diiih... sakit buk!"


" Siapa yang menikmatinya, nanti kalau aku lepas dia ngamuk kayak tadi gimana coba?"


" Sudah ibuk kebelakang aja dulu."

__ADS_1


" Biar pak Sam istirahat."


" Biar cepet sembuh, atau ibu mau aku kekepin dia sampai besok kayak gini!"


" Kamu ngusir ibuk!" Ibuk Jani makin kalap aja melihat tingkah anak perempuannya.


" Buk.."


" Percaya sama Jani deh."


" Pak Sam ini orang yang baik, dia begini bukan karena kemauannya."


" Dia punya trauma yang mendalam."


" Jadi ibuk jangan berfikiran yang buruk tentang dia."


" Kalau disuruh milih dia pasti juga nggak mau kayak gini."


" Jadi ibuk jangan marahin dia ya?"


" Kasihan buk, dia sudah tersiksa dengan penyakitnya ini."


" Biarkan dia istirahat ya buk?"


" Nanti kalau dia sudah bangun, boleh deh ibuk interogasi, sesuka hati ibuk, okey?" Lebih baik memelas pikir Jani, karena sebenarnya ibuk adalah orang yang nggak tega an.


" Kalau dia bangun nanti, dia bisa waras lagi nggak?" Ibu Jani sebenarnya masih marah, namun saat melihat Sam ngamuk tadi, dia juga tidak sampai hati.


" Bisa.."


" Dia akan normal kembali nanti."


" Ibuk tenang saja!" Jani langsung tersenyum, benar saja, ibunya pasti nggak tega seperti yang dia duga.


" Suruh dia temui ibuk nanti!"


" Kamu udah makan belom?" Jiwa seorang ibu, walau habis marah-marah juga pasti mikirin perut anaknya juga.


" Belum buk, hehe.." Jani langsung terlihat sumringah, dia sangat merindukan masakan ibunya.


" Kamu mau dimasakin apa?" Ibu Jani bangkit dari tempat duduknya.


" Gulai ikan buk, hehe.."


" Punya ikan nggak buk?" Sudah sejak lama dia ingin memakannya, walau diluaran banyak yang jual, tapi rasa masakan ibuknya tidak tertandingi menurutnya.


" Ya sudah, ibuk masak dulu!" Ibu Jani langsung berlalu dari sana.


" Heh.. Mbak eling!" Bromo mendekat kearah kakaknya.


" Jangan di apa-apain dia lho!"


" Jangan ganas-ganas jadi cewek!" Bromo seakan ikut meledek kakaknya.


" Apaan sih?"


" Maksud kamu kayak gini nih?"


Cup


Jani malah sengaja mengecup kening Samuel dengan mesranya.


" Woaaaaaahhhhh!"


" Mbak keterlaluan ya, suka nyuri kesempatan sama orang yang lagi nggak sadar ya!" Bromo langsung melotot tidak menyangka saat melihatnya.


" Aku kan cuma nanya doang?"


" Maksudnya jangan ganas-ganas itu bagaimana?"


" Aku nggak ngerti!"


" Aku kan ngasih contoh saja gitu lho!" Jani berbicara enteng saja.


" Atau malah begini ya Mo?" Dia kembali melakukan gerakan nyata.


Cup


Dengan santainya Jani meninggalkan satu kecupan lagi, bahkan tidak tanggung-tanggung tempatnya, langsung di bi bir Samuel yang masih memejamkan mata efek obat yang disuntikkan tadi.


" Kyaaaaaaaaaaaaaa...!" Mata Bromo bahkan seperti akan keluar dari cangkangnya.


" Mbak bener-bener sengaja kan!"


" Ibuuuuuuuuuuukkkk... kak Jani NAKAL buk!" Bromo langsung berteriak memanggil ibu nya didepan pintu.


" Jangan teriak-teriak Mo!"


" Nanti dia ngamuk lagi!" Teriak ibu dari dapur.


" Weeeeeerrrrrkkkk!" Jani menjulurkan lidahnya, melihat tampang kesal adek laki-lakinya.


" Sana pergi!" Dia mengibaskan tangan kirinya untuk mengusir adeknya.


" Atau mau aku tunjukin yang lain lagi nih?" Kalau di depan Bromo dia santai aja, nggak perduli juga kalau cuma dia yang marah, asalkan jangan ibuk pikirnya.


" Dasar mbak me sum!" Bromo menaikkan satu sudut bi birnya dan segera keluar dari sana, dari pada pengen juga nanti, bisa bahaya, masak harus cium bantal guling, pacar juga belum punya.


Jangankan cuma kayak gitu dek, mbakmu ini bahkan sudah disosor berkali-kali olehnya dan ternyata rasanya beuh.. Mantap dek..!


" Biariin!" Jani semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Samuel, seolah dia memamerkan kemesraannya, tidak perduli lagi.


" Hoahemm.."


" Jadi ikutan ngantuk nih, kayaknya mulai turun hujan deh diluar!" Rasa kantuk mulai menerpa dirinya.


" Hermm... enak juga punya bantal guling hidup gini, anget euy!" Jani pun tersenyum saat mendengar suara gemercik air dari arah jendela.


" Bobok ya pak?" Jani memandang wajah Samuel yang lemah itu dengan perasaan iba.


" Jangan-jangan tadi dia marah gara-gara aku cerita soal kak Alief ya?"


" Apa bapak benar-benar menyukaiku sekarang?" Jani menyibak rambut poni Samuel yang menutupi keningnya.


" Masak sih bapak beneran udah cinta sama aku?" Jani seolah masih belum percaya jika Samuel memang sudah jatuh hati kepadanya, dia hanya berfikiran Samuel membutuhkannya, bukan mencintainya dengan hati.


" Haduuuhh... jadi merasa berdosa gw."


" Sampai buat dia jadi begini?" Jani menatap dalam-dalam wajah pria dipelukannya ini.


" Maaf ya pak?" Dia merasa menyesal sekarang.


" Maafkan aku." Tanpa sadar Jani menghujani ciu man diwajah Samuel yang pucat, tidak berdaya itu.


Seringnya kita terlalu mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, hingga tanpa sadar kita menipu diri kita sendiri.


..."Boleh bermimpi tapi harus sadar diri, karena menjaga apa yang sudah dimiliki jauh lebih penting dibanding mengejar yang tak pasti."...

__ADS_1


... "Jangan pernah menilai rencana-Nya, namun lebih bijak jika kita menilai diri sendiri dalam introspeksi diri yang mendalam"....


__ADS_2