CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
67. Bolehkah aku meminta hakku?


__ADS_3

...Happy Reading...


Benar kata orang, bahwa Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu menjadi emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.


" RINJANI MAHESWARI!"


" Apa yang kamu lakukan disana?"


" Berani-beraninya kamu menemui pria itu lagi!" Teriak ibu Rinjani dari luar gerbang.


" Nyonya.. tolong jangan teriak-teriak?"


" Mari saya antarkan anda untuk masuk ke dalam." Ucap penjaga keamanan dirumah Samuel.


" Aku tidak sudi melangkahkan kakiku masuk ke rumah ini!" Ucap Ibu Rinjani penuh dengan emosi.


" RINJANI KELUAR KAMU!" Teriak ibu Jani kembali.


" Kalau begitu saya panggilkan nyonya Rinjani saja ke dalam." Ucap Pria berseragam hitam itu langsung masuk kedalam rumah.


" Tuan, nyonya, ada ibu anda diluar."


" Beliau tidak mau masuk ke dalam rumah nyonya?" Ucapnya sambil menunduk, tidak berani melihat lebih lama lagi karena sepasang suami istri itu masih berpelukan seolah tidak terpisahkan.


" Baiklah.. bilang tunggu sebentar." Ucap Jani langsung menggangukkan kepalanya.


" Yank.. jangan pergi?"


" Jangan tinggalkan aku?" Samuel langsung memeluk pinggang Jani saat dia mulai berdiri.


" Kak.. dengerin aku dulu?" Ucap Jani mencoba menenangkan.


" Nggak mau!"


" Pokoknya kamu nggak boleh pergi!" Ucap Samuel dengan tegas.


" Heiii... kak, lihat mata aku?"


" Dengerin dulu, aku mau ngomong ini?" Jani akhirnya menangkupkan kedua tangannya ke wajah suaminya.


" Tolong jangan pergi." Ucap Samuel lirih.


" Tapi aku harus pergi kak?"


" Kakak tahu kan keadaan ibu sekarang masih syock banget, beliau juga kemarin sakit beberapa hari."


" Darah tingginya kumat, aku nggak mau terjadi apa-apa dengan ibuk kak."


" Tinggal beliau lah orang tuaku satu-satunya."


" Kita harus sabar menghadapi ibuk okey?"


" Pelan-pelan kita bicarakan dengan beliau." Jani berbicara selembut mungkin, agar Samuel tidak tersinggung dan kambuh lagi penyakitnya.


" Kenapa ibuk mertua jahat banget."


" Sudah tau anak menantunya tidak bisa hidup tanpa puterinya."


" Kenapa sampai segitunya benci denganku, aku juga bukannya sengaja menabrak mobil ayahmu sayang."


" Siapa orang yang ingin kecelakaan itu terjadi?"


" Bahkan aku juga kehilangan kedua kakakku yank?"


" Aku pun menyesal, aku pun merasa bersalah."


" Tapi aku janji, akan menebus segalanya yank."


" Tolong jangan tinggalin aku ya?" Umpat Samuel dengan wajah lemahnya.


" Hmmm.." Jani kembali memeluk kepala suaminya.


" Kita bahas nanti ya?"


" Sekarang aku pulang dulu."


" Nanti malam aku balik ke sini lagi okey?" Jani berusaha tersenyum walau perih, dia hanya ingin semua baik-baik saja, tanpa ada yang harus terluka dan sakit kembali, karena kedua orang itu sama-sama dia sayangi.


" Jangan bohong?"


" Kamu cuma mau beralasan saja kan, agar aku melepasmu?" Ucap Samuel masih tidak percaya.


" Beneran kak?"


" Selama kakak koma juga tiap malam aku datang kesini nemenin kakak." Ucap Jani sambil bersiap-siap pulang.


" Benarkah?" Tanya Samuel seolah tidak percaya.


" Hmm.."


" Kalau nggak percaya tanya saja sama si bibi tuh?" Bibi menggangukkan kepala didepan pintu, saat mendengar orang berteriak tadi bibi langsung keluar melihatnya.


" Tapi aku datangnya malam, Marvin yang jemput dan harus pulang sebelum fajar tiba."


" Sebelum ibu terbangun."


" Jadi sekarang kakak istirahat didalam ya?"


" Nanti malam aku kesini lagi." Jani terlihat lega saat wajah Samuel tidak terlihat pucat, artinya penyakitnya mungkin tidak akan kambuh untuk saat ini.


" Janji ya?"


" Aku akan menunggumu."


" Maaf membuatmu susah beberapa hari ini sayang?" Samuel bahkan bisa tersenyum saat mendengar perhatian istrinya, ternyata dia masih memperdulikan dirinya saat sakit.


" RINJANIIII." Terdengar lagi namanya disebut oleh ibunya dari luar pagar.


" Biii... bawa kak Sam masuk ke dalam kamar." Jani menyuruh bibi mendekat.


" Istirahat ya kak?"


" Bye?" Jani ingin beranjak pergi namun kembali ditariknya.


" Civm dulu?" Samuel bahkan menengadahkan wajahnya dengan imut, tampang dingin pun bisa berubah drastis saat bersama orang tersayang.


" Ckk.." Jani langsung berdecak, kemana sifat kaku suaminya dulu, kenapa seolah dia jadi manja akut begini pikirnya.


" Sini... salim aja, civm tangannya saja dulu."


" Malu sama bibi noh." Jani langsung menarik tangan kanan Samuel dan mencivmnya bolak-balik.


" I love you sayang." Ucap Samuel merasa bahagia saat diperlakukan seperti itu, dia merasa menjadi suami seperti pada umumnya, berpamitan sambil dicivm tangannya.


" Bye..."


" Istirahat ya kak?" Jani langsung berlari tanpa menoleh lagi kebelakang.


Aku harus mencari cara dan membuktikan bahwa kecelakaan itu bukan unsur kesengajaan, ini murni kecelakaan, bukan salahku sepenuhnya, apapun akan aku lakukan agar aku tetap bisa bersama Jani kembali.


Akhirnya Samuel kembali masuk kedalam kamar sambil memikirkan caranya, dulu dia tidak begitu memperdulikannya karena dia pun tidak sadar sepenuhnya saat itu dan mamahnya lah yang mengurus segalanya saat kejadian itu terjadi.

__ADS_1


" Jani.. kenapa kamu masih datang kesini!"


" Apa kamu sudah tidak paham bahasa ibuk, hah?"


" Apa sekarang kamu sudah memutuskan untuk memilih pria pembunuh itu dari pada ibumu ini!" Teriak Ibu Jani makin histeris.


" Ibuk... kita bicara dirumah ya?"


" Malu buk dilihatin orang nanti."


" Setelah sampai dirumah ibuk boleh marahin Jani lagi okey?" Bahkan Jani menampilkan senyum terindahnya, menghadapi orang tua tidak perlu dengan kekerasan, selain durhaka juga akan membahayakan kesehatan orang tua dan kalau orang tua sakit, kita sendiri juga yang harus merawatnya.


Selama didalam perjalanan sampai kembali kerumah, mereka bahkan tidak berbicara sepatah kata pun, mereka seperti keluarga yang bermusuhan dan Jani pun tidak mau memancing amarah ibunya selama diperjalanan.


" Okey buk.."


" Sekarang sudah sampai, ibuk boleh lanjutin marah-marahnya." Ucap Jani sambil duduk dimeja makan, kebetulan ada cemilan buatan ibunya diatas meja.


" Kamu ini ya, jadi anak bandelnya minta ampun!"


" Ngapain kamu nyuri-nyuri waktu kesana!"


" Kamu masih perduli sama dia!" Teriak ibu Jani berdiri disamping Jani yang asyik mengisi tenaga untuk mendengarkan omelan ibunya dengan mendekap satu toples kue kering.


" Duduk buk.. sambil duduk kan bisa marahnya."


" Capek berdiri terus kan?" Ucap Jani dengan santainya.


" Mana kue nya enak banget lagi buk, ibuk memang jawara kalau buat cemilan deh." Jani malah sengaja memuji ibunya.


" Nggak usah ngalihin pembicaraan kamu!" Teriak ibu Jani makin kesal saja.


" Begini buk... aku tuh kesana ada alasannya, karena harus minta tanda tangan bahan untuk pembuatan skripsi." Ucap Jani berbohong.


" Bohong kamu!"


" Apa hubungannya, cari alasan saja kamu!" Ibu Jani langsung menyangkalnya.


Iya buk... betul sekali, Jani memang berbohong, maafkan Jani yaa buk?


" Loh.. apa ibuk lupa, apa Jani yang belum cerita ya buk?"


" Pak Samuel kan Presiden direktur di tempat Jani magang dulu?"


" Karena pak Sam masih sakit, jadi terpaksa Jani harus datang kesana meminta tanda tangan."


" Niar juga ada kok tadi buk, tapi berangkat ke kampus duluan, karena ada tugas yang harus diambil."


" Tadi Jani juga sudah mau pulang buk, cuma numpang ke toilet dulu." Ucap Jani terlihat meyakinkan.


" Nggak usah cari-cari alasan kamu ya?" Ibu Jani tetap belum percaya sepenuhnya.


" Kalau ibuk nggak percaya tanya saja sama si Niar buk, pak Sam itu beneran presdir tempat Jani magang apa enggak?"


" Atau kalau nggak percaya, ayok Jani antar ke kantor, biar ibu bisa tanya langsung sama karyawan disana."


" Jani bohong apa enggak?" Ucap Jani yang sebenarnya merasa bersalah, harus sampai kapan dia membohongi ibunya seperti ini pikirnya.


" Dia memang pemilik perusahaan tempat mbak magang buk." Tiba-tiba Bromo muncul dari dalam kamar.


" Benarkah?"


" Kamu nggak belain mbakmu kan Mo?" Tanya Ibu Jani langsung mendekati putranya.


" Ya enggak lah!"


" Males banget belain mbak, nggak ada untungnya!" Tapi sorot mata Bromo seolah menusuk ke arah mata Jani.


Glek!


" Kali ini ibuk ampuni kamu karena urusan kuliah, tapi tidak lain kali!"


" Kalau sampai kamu menemuinya lagi, ibu akan marah besar denganmu!" Ibu Jani langsung meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamarnya.


" Bromo?" Jani mencoba mendekati adeknya.


" Sampai kapan mbak harus membohongi ibuk seperti ini?" Ucap Bromo perlahan.


" Maksud kamu apa dek?" Ucap Jani pura-pura tidak paham.


" Kamu bisa membohongi ibuk, tapi bukan aku mbak!"


" Kalau sampai terjadi apa-apa dengan ibuk karena mbak yang selalu nekad."


" Bromo tidak akan memaafkan kamu mbak, terlebih pria itu!" Bromo langsung ikut pergi meninggalkan Jani sendirian di ruang makan.


" Huuuhft."


" Maafkan aku dek."


" Mbak juga bingung harus bagaimana." Jani meletakkan kepalanya diatas meja, sambil meratapi nasip malangnya, karena terlalu lelah dia bahkan tertidur dimeja makan sampai malam.


" Jani... tidur didalam kamar sana."


" Kamu belum mandi juga kan tadi?" Ibu Jani melihat putrinya yang masih tertidur dengan nyenyaknya.


" Astaga... jam berapa ini?" Jani melihat jam dipergelangan tangannya.


" Anak gadis kok jorok!" Teriak ibu Jani dari arah dapur.


" Orang sudah menikah, mana bisa disebut anak gadis lagi." Umpat Jani sambil berlalu masuk kedalam kamar.


" Tapi kamu kan belum di apa-apain, masih gadis itu namanya!"


" Heh... mau kemana kamu?"


" Nggak mau makan malam dulu apa?" Teriak Ibu Jani.


" Nggak buk, masih kenyang." Ucap Jani melenggang masuk ke dalam kamarnya.


Kenyang omelan ibuk!


Saat malam tiba, Jani melihat keluar kamar namun ibunya masih terlihat sibuk didapur, padahal kamarnya yang paling dekat dengan dapur, kalau dia loncat lewat jendela pasti ketahuan, sedangkan Marvin sudah menunggu ditempat biasa sedari tadi.


" Hoaahemm..." Jani mulai akting dengan pura-pura mengambil air minum didapur.


" Ibuk kok belum tidur sih buk, ini sudah malam lho?"


" Istirahat buk, besok kan bisa dilanjutin lagi?" Ucap Jani mendekat.


" Nanggung, soalnya rotinya harus dianter pagi-pagi." Ucap ibu Jani masih menyelesaikan pekerjaannya.


" Yawdah sini Jani bantuin." Jani ingin membantu namun ditolaknya.


" Nggak usah, kamu tidur saja sana."


" Besok kan kamu harus kuliah."


" Nggak usah ikut bergadang, besok kamu nggak bisa konsentrasi ngerjain skripsi kalau ngantuk!"


" Sana istirahat, ibuk bisa sendiri." Ibu Jani mendorong Jani untuk masuk kembali ke dalam kamarnya.

__ADS_1


" Maaf buk.. maafin Jani." Ucap Jani lirih saat dia sudah berada didalam kamar, ibunya yang rela kerja sampai larut hanya untuk membiayai kuliahnya dan adeknya, bahkan dia tidak ingin anaknya kecapekkan karena takut anaknya tidak bisa fokus belajar, sedangkan Jani malah membohongi ibunya dalam beberapa hari ini.


5 message from Dokter Marvin..


Jani... buruan, sudah jam berapa ini?


Woiii... kenapa belum keluar?


Cepat Jani... suamimu sudah nelponin aku puluhan kali tahu!


Ngapain sih luu, lama amat? aku juga ngantuk kali!


RINJANI.. punggungku hampir patah nungguin kamu berjam-jam! BURUAAAANN..!


" Huuft.. ibuk sudah selesai belum ya?"


" Sudah berbusa ini sepertinya mulut tuh dokter karena mengumpatku sedari tadi!" Saat dia mengintip ternyata dapur sudah sepi, akhirnya Jani mulai melakukan aksinya, melompat jendela kamarnya.


" Ckkk.. ini dia manusianya!"


" Ngapain aja kamu, lama sekali!" Teriak Marvin langsung menekan pedal gasnya dengan kesal, bahkan kepala Jani hampir terbentur kursi didepannya.


" Maaf, ibuk belum tidur tadi."


" Lembur bikin kue beliau." Ucap Jani juga merasa bersalah sebenarnya.


" Utangmu banyak sama aku!"


" Lain kali ingat membayarnya!" Umpat Marvin mempercepat laju mobilnya.


" Utang apaan?"


" Kamu ini dokter apa rentenir sih sebenarnya!" Jani langsung melirik tajam ke arahnya.


" DIEM, BERISIK!" Seperti biasa, kalau sudah berdua saja, mereka tidak pernah bisa akur.


Saat dia turun dari mobil, Jani terkejut karena melihat Samuel menunggunya diluar gerbang sambil duduk di kursi rodanya ditemani bibi dan penjaga keamanan dirumahnya.


" Kaaak?"


" Ngapain diluar sih?" Teriak Jani yang langsung mendekat kearahnya.


" Sayaaaaang.."


" Aku nungguin kamu, kenapa lama sekali?"


" Sudah jam berapa ini?" Samuel langsung mengulurkan kedua tangannya minta dipeluk oleh istrinya.


" Ciiih... Kak?" Marvin tersenyum miring saat mendengarnya.


" Sejak kapan kalian berdua jadi kakak adek?" Umpat Marvin sambil menyandarkan tubuhnya disamping mobil sambil melihat drama telenovella amatiran.


" Kan bisa nunggu didalam saja?"


" Diluar kan dingin?" Ucap Jani sambil mendorong kursi roda Samuel untuk masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan hujatan Marvin sama sekali, dia bahkan seolah dianggap tidak ada dan tidak bersuara.


" Aku takut kamu nggak jadi datang." Ucap Samuel yang sedari tadi merasa gelisah bahkan sampai meminta bibi dan satpam untuk menemaninya menunggu dijalan sampai tengah malam.


" Sudah makan malam belum tadi?" Tanya Jani sambil membantu Samuel rebahan di ranjang king sizenya.


" Belum." Jawab Samuel santai.


" APA!"


" Kenapa belum?"


" Kalau minum obat belum juga?" Teriak Jani bahkan membuat Marvin dan bibi terlonjak kaget dibelakang, karena baru kali ini mereka melihat Samuel di bentak orang.


" Belum yank, aku kan nungguin kamu dari tadi?" Jawab Samuel perlahan, bahkan dia tidak berani membentak kembali.


" Ya harusnya makan sama minum obat sendiri kan bisa."


" Kakak kan punya dua tangan, masak harus nungguin aku?"


" Gimana mau cepet sembuh kalau kayak gini?"


" Apa kakak mau sakit terus saja, hah!" Jani bahkan seperti memarahi anak kecil dengan Samuel.


" Maaf.." Jawab Samuel sambil menarik-narik sweater Jani.


" Pfffttthhhh." Marvin langsung menahan tawanya.


" Bi.. apa dia benar tuan muda kita yang dingin dan arrogant itu?" Tanya Marvin kepada bibi yang ikut terbengong melihat perubahan drastis dari Samuel.


" Apa aku salah ngasih obat ya?" Marvin jadi menggaruk kepalanya mencoba mengingat obat yang selalu dia berikan.


" Bisa jadi tuan." Ucap Bibi malah mengiyakan.


" Nggak mungkinlah!"


" Dosisnya sudah aku turunkan kok!" Marvin langsung menyangkalnya.


" Yaudah... sekarang makan ya?"


" Trus minum obat."


" Biar bibi yang ambilin ya?" Ucap Jani, si bibi pun langsung cekatan pergi ke dapur mengambilkan makanan untuk majikannya.


" Kalau begitu aku tidur dulu dikamar sebelah." Marvin langsung melengang untuk segera merebahkan tubuhnya yang lelah seharian.


" Sayang?" Panggil Samuel saat Jani bersiap-siap untuk menemaninya tidur untuk yang pertama kalinya saat Samuel sudah sadar.


" Hmm." Jani tidak menoleh dia masih asyik merapikan tempat tidur.


" Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Samuel perlahan sambil membaringkan tubuhnya.


" Ya bolehlah, mau tanya apa?" Jani langsung duduk disamping suaminya.


" Hmm.. apa aku----"


" Aku apa?" Jani menggerutkan keningnya saat melihat wajah keraguan dari suaminya.


" Apa aku boleh meminta hak ku?" Ucap Samuel sambil melirik wajah istrinya yang langsung terlihat terkejut.


" Hak? emm... maksudnya hak apa?" Tanya Jani ragu.


" Yaa... hak ku sebagai suami sah kamu?" Jawab Samuel dengan tenang.


Degh!


Jani bahkan belum berfikir sampai kesana sekarang, memang dia sudah sah menjadi istri Samuel secara agama dan negara, tapi haruskah dia memberikan sesuatu yang berharga dalam dirinya, yang dia jaga mati-matian itu untuk saat ini juga, sedangkan hubungan mereka masih gonjang-ganjing seperti ini.


" Emmm.."


" Hoaahemm.. aku ngantuk kak." Jani tidak menjawab pertanyaan suaminya dan langsung berbaring disebelahnya.


" Yank?" Samuel memiringkan tubuhnya kearah Jani.


" Arghh... dingin sekali, sini aku peluk!" Jani langsung memeluk tubuh Samuel dan menyembunyikan wajah suaminya dipelukannya, agar tidak banyak bertanya lagi.


" Ciiih.." Samuel hanya bisa tersenyum dalam dekapan istrinya dan mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Aku akan menunggumu sayang sampai kamu sudah siap menerimaku, aku tidak akan memaksamu, aku tau apa yang ada dipikiranmu, tapi jangan pernah punya niatan untuk bisa pergi jauh dariku, walau selangkah saja, aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dariku, sampai kapanpun itu..


..."Cinta merupakan suatu perasaan yang agung, jika cinta tidak ada lagi, berarti salah satu nikmat Tuhan telah dicabut dari hati."...


__ADS_2