
...Happy Reading...
Menjadi seorang pria sejati adalah tentang mengambil tanggung jawab dan menciptakan perubahan positif. Bagi setiap laki-laki yang sudah beranjak dewasa, menjadi pria sejati merupakan impian.
Menjadi seorang pria memang urusan takdir, namun menjadi seorang pria sejati atau gentleman adalah pilihan. Dan salah satu pembuktian dari seorang gentleman adalah melamar sang kekasih hati, begitupun yang dilakukan Samuel hari ini.
Saat ini, mereka semua sudah berkumpul ditempat semula, segala kasak kusuk dan gosip hangat yang sedang keluarga Jani bicarakan terjeda sebentar karena kedatangan Samuel dan Jani, walau tubuh Samuel masih lemas, namun dia berusaha mengembalikan kharisma di dirinya seperti saat dia menjadi pemimpin di perusahaan raksasanya.
" Baiklah.. bapak dan ibu sekalian."
" Perkenalkan, nama saya Marvin."
" Saya disini selaku wali dari saudara saya Samuel, karena wali sahnya sedang dalam perjalanan bisnis keluar negri."
" Jadi izinkan saya untuk mewakilinya."
" Maksud dan tujuan saya datang kesini ingin meminta izin kepada ibu untuk melamar putri ibu dan menjadikan dia sebagai istri saudara saya."
" Dan----" Belum sempat Marvin menyelesaikan perkataanya, namun saudara Jani langsung menyelanya.
" Biarkan dia yang berbicara?"
" Dia adalah seorang pria, tanpa wali pun dia bisa menikah sendiri bukan?"
" Jadi kenapa kamu yang harus berbicara?"
" Apa dia tidak bisa berbicara dengan baik dan benar?" Salah seorang keluarga Jani yang terlihat sensitif langsung angkat bicara.
Astaga paman? kenapa mulut anda pedas sekali, calon imamku masih lemah tak bertenaga ini..
Jani hanya bisa memejamkan matanya, bahkan Samuel saja masih menggengam jemarinya sedari tadi, tangannya masih dingin dan berkeringat.
" Emm... paman."
" Sepertinya siapapun yang berbicara, saya rasa tidak masalah."
" Yang penting kan niatnya?"
" Kita buat suasana lamaran kali ini lebih santai saja, tidak perlu terlalu formal."
" Biar nggak tegang gitu." Jani mencoba menyelamatkan harga diri Samuel didepan seluruh keluarganya.
" Sayang.."
" Its okey... aku bisa kok." Samuel menoleh kearah Jani dan mencoba tersenyum walau seolah terasa berat.
" Eherrrmm.." Dia mencoba menetralkan suaranya kembali, karena tenaganya belum pulih dengan benar.
" Selamat malam semuanya, maaf tadi saya tinggal sebentar, karena badan saya sedikit kurang fit." Ucap Samuel mencoba selalu tenang.
" Heleh.. kurang fit apaan, kayak dia pekerja keras saja."
" Palingan juga anak mama, yang selalu manja dan tidak bisa apa-apa."
__ADS_1
" Itu mengapa dia bercerai dengan istri pertamanya."
" Ya kan.. ya kan.." Berbagai asumsi bermunculan ketika paman Jani berbicara tanpa di filter dahulu dan sesuka hatinya saja.
" Tidak perlu saya jelaskan secara mendetail siapa saya."
" Takutnya nanti kalian pingsan saat tahu siapa saya sesungguhnya!" Samuel tersenyum dengan kecut menanggapi sindirian tanpa alasan dari saudara Jani.
" Cukup kalian tahu saja, bahwa saya adalah pria yang sangat menyayangi dan mencintai Rinjani Maheswari."
" Itu saja sudah lebih dari cukup." Samuel akhirnya bisa mengembalikan sosoknya sebagai pemimpin perusahaan yang tidak terkalahkan, karena hanya akan sia-sia saja menjelaskan sesuatu dengan orang yang tidak menyukai kita, semua hal yang kita lakukan, akan terlihat buruk dimata netizen.
" Berlagak sekali kamu!"
" Sudah hebat kamu hah?" Umpatnya merasa tidak terima.
" Maaf... tapi tolong." Marvin langsung menegakkan tubuhnya.
" Bisakah paman berbicara sedikit lebih sopan?"
" Kita datang kemari punya niat baik lho?" Marvin yang notabenya mempunyai sifat keras langsung tidak terima, Samuel disepelekan seperti itu.
" Ciiihhh... memang siapa dia, berani berbicara seperti itu didepan kita?" Ucap Paman Jani seolah mengadu domba dengan keluarga lainnya.
" SIAPA PAMAN BILANG?" Marvin langsung beranjak berdiri.
" PAMAN SUNGGUH INGIN TAHU SIAPA KAMI..!" Entah mengapa Marvin langsung ikut terbawa emosi karenanya dan sudah memajukan kakinya beberapa langkah kearah paman Jani.
" Astagaaa.." Samuel menggeratkan giginya karena kesal, dia sungguh tidak menyangka acara lamarannya akan kacau seperti ini.
" Tarik dia, cepaat!" Jani langsung menoleh kearah Niar dan meminta bantuannya karena posisinya yang lebih dekat dengan Marvin.
" Pak... jaga emosi bapak!" Niar benar-benar menarik lengan Marvin kebelakang.
" LEPAS..!"
" Dia orang tua, tapi seperti tidak pernah diajarkan sopan santun saja!" Ucap Marvin dengan wajah memerah.
" Marvin.. sudahlah!"
" Duduklah, biar aku yang berbicara." Ucap Samuel setelah menghela nafas kasarnya.
" Tapi Sam dia----" Ingin sekali Marvin menyuntik obat tidur dosis tinggi atau memutuskan pita suaranya agar tidak bisa berbicara lagi.
" MARVIN..!" Teriak Samuel.
" Sudah pak.. kalau begini acara pertunangan mereka bisa kacau!" Bisik Niar ditelinga Marvin.
" DIAM!"
" Kamu siapa?"
" Nggak usah membelanya!" Marvin yang langsung berbalik tanpa melihat kanan kiri ternyata menginjak rok panjang Niar.
__ADS_1
" Awwww..." Saat Niar juga ingin berjalan, ternyata roknya nyangkut dikaki Marvin, alhasil dia terjatuh dan merasakan nyeri yang luar biasa dipergelangan kakinya.
Braaaaaakk!
" Niaaar?" Jani langsung ingin berjalan mendekat namun ditarik kembali oleh Samuel.
" Marvin bantu dia!" Ucap Samuel menatap Marvin dengan kesal, tidak biasanya dia mudah terpancing emosi dengan orang tua seperti ini.
" CEPAT VIN!" Teriak Samuel kembali saat dia hanya memandang jengah tubuh Niar yang sudah terjerembab ditanah yang dipenuhi rumput hijau itu.
" Mata kamu kemana!"
" Manja banget jadi cewek!" Marvin langsung menggendong Niar yang melotot kesal kearahnya.
" Bawa dia kedalam kamarku."
" Niar are you okey?" Jani langsung mendekati Niar.
" Its okey, maaf ya.. acaranya jadi tambah kacau begini." Niar tambah merasa sangat bersalah sekali jadinya.
" Ini bukan salahmu Niar." Jani ingin ikut masuk namun Marvin mencegahnya.
" Lanjutkan acaramu!" Ucapnya dengan datar dan dingin seperti biasa.
" Jangan sampai kamu membuat Samuel tambah kacau malam ini!"
" Kalau sampai terjadi hal yang lebih buruk lagi!"
" Aku pastikan saudaramu itu masuk ruang UGD malam ini juga!" Marvin seolah mengancam Jani, namun Jani tidak merasa heran, sejak pertama bertemu dengan Marvin dia memang selalu mendapatkan ancaman tentang semua hal yang menyangkut Samuel.
" Okey.. tapi tolong bantu Niar." Ucap Jani menggangukkan kepala tanpa rasa takut lagi, dia bahkan lebih takut kalau Samuel kumat didepan saudara-saudaranya.
" Kembalilah!"
" Aku akan mengurus wanita ceroboh ini!" Ucap Marvin dengan wajah garang.
Waaah... pria ini memang keterlaluan! aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya? Arggh... apa aku kebanyakan makan udang kemarin dan otaknya ikut kemakan kali ya? kenapa lemah sekali daya ingatku!
" APA!"
" Ceroboh kamu bilang!"
" Dasar pria berhati serigala!" Umpat Niar kesal, sedari tadi dia masih memikirkan pria ini pernah jumpa dimana, namun sama sekali tidak bisa.
" Heiiii... bapak yang menginjak rok ku ya?"
" Apa seorang dokter juga bisa hilang ingatan!" Ucap Niar langsung tidak terima.
" DIAAAM..!" Teriak Marvin dengan suara yang melengking.
" Atau mau aku patahkan kakimu sekalian." Ancam Marvin langsung membawa Niar masuk kedalam kamar dengan tatapan tajam menusuk dan mampu membungkam mulut Niar yang biasanya nerocos tidak beraturan itu.
Jangan pernah membenci seseorang secara berlebihan, karena bisa saja menjadi cinta. Apapun yang ada di kehidupan ini bisa dihapus, kecuali cinta. Bahkan mungkin yang namanya 'mantan' pun tidak akan bisa dihapus, hanya dikubur dalam-dalam dan dilupakan.
__ADS_1
Next Part 2