
...Happy Reading...
Akhirnya Jani dan Niar sampai di sebuah perusahaan yang menjulang tinggi ke angkasa dan yang lebih kerennya lagi itu adalah perusahaan milik suaminya, sungguh dia tidak pernah membayangkan sebelumnya akan menjadi nyonya presdir di perusahaan ini.
" Kita langsung tunggu didalam saja yuk." Jani merangkul bahu sahabatnya ketika melihat ruangan suaminya sepi, bahkan sekertarisnya pun tidak ada ditempat.
" Mereka kayaknya masih meeting deh." Ucap Jani mengajak Niar langsung masuk ke ruangan Samuel.
" Hmm... gimana kalau kita main ke divisi kita yang dulu."
" Kangen juga ngobrol sama mereka dan seru-seruan gitu."
" Ngopi-ngopi bareng lagi, gimana?"
" Mereka juga pasti masih lama selesai meeting kan?"
" Daripada boring di dalam nanti nungguin mereka?"
" Mending kita main-main dulu ya kan?" Niar selalu saja mendapatkan ide untuk bisa menikmati hidupnya.
" Okeylah kalau begitu." Ucap Jani langsung menyetujuinya, dia juga merindukan mereka, yang dulu sering mengajak mereka bercanda disaat senggang.
" Hai... eperibadeeeeh?" Teriak Jani dan Niar bersamaan saat memasuki ruangan itu.
" Wuiidiiihhh Jani.. Niar?" Teriak mereka bersamaan, semua yang ada di divisi itu serentak menoleh ke arah pintu, karena mereka juga sempat mendengar gosip terpanas saat hari pernikahan presdir mereka.
" Gimana kabarnya kalian?" Terlihat para staf cowok yang sering menggoda mereka langsung mendekat.
" Eherrm.. Gimana nasip luu Jan?"
" Masih jadi istri presdir apa sudah jadi Janda sekarang?" Tanya karyawan perempuan, kumpulan dari para netizen yang selalu iri dengannya.
Njiiirr... mulut nie orang, minta disekolahin kayaknya!
" Sudahlah... kalaupun kamu jadi janda, aku selalu siap menerimamu dek Jani?"
" Kapanpun kamu mau, aku bersedia naik ke pelaminan bersamamu." Ucap staf pria jomblo disana.
" Huuuuuuuuuuuu.." Teriak mereka bersamaan.
" Sayang?" Teriak Samuel dari depan pintu, saat kembali dari ruang meeting dia sekilas melihat wajah istrinya ada didalam sana.
" Selamat siang pak." Seluruh karyawan disana langsung menunduk dan memberikan jalan untuk Samuel saat dia berjalan masuk menghampiri istrinya tanpa menoleh kanan kiri, karena matanya hanya tertuju kepada Rinjani seorang.
Cup
" Kamu sudah sampai yank?" Samuel langsung menyosor bi bir istrinya dengan mesra, bahkan didepan seluruh karyawan disana, karena dia sempat mendengar obrolan singkat mereka tadi, walau hanya sekilas saja.
" Hehe... sudah." Jani malah jadi salah tingkah sendiri saat menjadi sorotan mereka.
" Kenapa tidak menunggu diruanganku saja sayang?" Tanya Samuel langsung memeluk pinggang Jani dan mengajaknya keluar dari sana.
" Woaaah... ternyata mereka masih bersama."
" Ternyata presdir kita so sweet banget ya?
__ADS_1
" Kirain jadi janda, sudah ngarep banget gw?"
" Nggak jadi deh gw dapat janda kembang."
Mereka langsung berbisik satu sama lain saat Samuel, Jani dan Niar pergi keluar ruangan.
" Aissh... kakak ini nggak malu apa, nyosor didepan karyawan kakak."
" Aku malu tahu kak." Jani langsung mencubit pinggang Samuel yang malah terkekeh.
" Sini..." Samuel langsung menarik Jani kedalam pangkuannya tanpa memperdulikan Niar yang langsung lemas ditempat.
" Biarkan saja, suruh siapa mulut mereka sembarangan berbicara."
" Mau pecat mereka, tapi kasian keluarganya kalau mereka jadi pengganguran." Samuel kembali menghujani civman diseluruh wajah istrinya.
" Eheeermmm... woyoooooo!."
" Disini masih ada orang kales!" Teriak Niar yang tetap saja mereka acuhkan begitu saja.
" Mana bahan skripsimu?"
" Biar aku bantu revisi?" Ucap Samuel sambil meletakkan dagunya di bahu istrinya.
" Emang kakak beneran mau bantuin aku?"
" Emang masih inget, caranya bikin skripsi?" Jani langsung mengeluarkan beberapa mapnya, dia terlihat meremehkan suaminya karena umur mereka terpaut cukup jauh juga, dia berfikir Samuel pasti sudah lupa pelajaran masa kuliahnya dulu.
" Kalau nanti bisa selesai, besok weekend mau nggak jalan-jalan sama aku?" Samuel langsung menemukan ide untuk bisa berbulan madu dengan istrinya.
Dia memang menunggu saat yang tepat, untuk bisa mengajak istrinya pergi liburan ke tempat-tempat yang indah, walau pernikahannya kemarin tidak berjalan seperti yang mereka inginkan, namun setidaknya dia bisa memberikan kebahagiaan lain nantinya.
" Siapa yang mau nolak kalau diajak pergi jalan-jalan, hehe.." Ucap Jani yang tidak tahu rencana terselubung suaminya.
" Okey... Deal." Samuel langsung membuka map milik istrinya untuk melihat hasil persiapan skripsinya.
" Kita nggak makan dulu aja kak?" Jani melirik bungkusan makanan yang dia bawa tadi.
" Keburu dingin nanti makanannya."
" Kakak juga pasti belum makan kan?" Jani langsung mengingat makanan yang tadi dia bawa.
" Suapin yaa?" Ucap Samuel dengan manjanya.
" Baiklah paduka raja, hehe..." Jani langsung membuka paperbag berisi makanan yang dia bawa tadi.
" Kita makan diluar saja."
" Dari pada sakit mata kita melihatnya."
" Bikin nambah dosa saja." Tiba-tiba Marvin datang dari sebuah kamar kecil diruangan Samuel yang sering digunakan untuk melepas lelah saat lembur.
" Nggak, aku disini saja."
" Malah lebih banyak dosa jika berduaan saja dengan dokter." Ucap Niar langsung menggeser posisi duduknya menjauh.
__ADS_1
" Ckk...kamu mau makan sambil ngelihatin drama romantis gitu?" Marvin melirik Jani sedang berada dalam pangkuan suaminya sambil terus menyuapi makan siang.
" Bisa-bisa ayam goreng yang kamu beli itu, berubah jadi biji kedondong!"
" Ayo kita makan diluar saja." Marvin mengulurkan tangannya untuk menggandeng Niar.
" Nggak.. nggak.. nggak mau!" Namun Niar langsung menolaknya.
" Biarin saja, aku makan disini saja."
" Kalau perlu aku makan sambil pakai kaca mata hitam saja." Niar tetap enggan diajak pergi dari sana.
Mending sepet nih mata, dari pada banyak nambah dosa setiap kali aku berdekatan denganmu dok, aku setia dok... aku cewek setia... owh sayangku... I miss you...
Niar hanya bisa berbicara dalam hati saja.
" Aissshh.."
" Hup... jadi cewek bandel banget!"
" Nggak bisa dibilangin baik-baik." Ucap Marvin langsung mengangkat tubuh Niar dengan paksa ke dalam gendongannya.
" Aaaaaaaaaaaaa... turunkan aku dokter!" Teriak Niar.
" Diem... berisik!" Ucap Marvin sambil terus menggendong Niar keluar ruangan dengan erat.
" Aaaaaaaaaaaa... Janiii, tolong aku!"
" Kalau sampai aku kebanyakan dosa, kamu yang menanggungnya yaa!" Teriak Niar sambil mencoba berontak untuk turun namun tidak bisa, kekuatannya tidak sebanding dengan Marvin.
" Diiihh... apa-apaan?"
" Orang dia yang enak, kok aku yang disuruh nanggung dosa!"
" Ya kan kak?" Jani hanya melengos saat mendengar ucapan Niar.
" Biarkan saja, nggak usah perdulikan mereka!" Ucap Samuel yang masih asyik menikmati makan siangnya.
" Tapi... kalau mereka kayak gitu, termasuk selingkuh juga nggak sih kak?"
" Kasihan juga pacarnya Niar yang jauh disana."
" Pasti rasanya sakiiiiiiit bangetkan." Jani melahap sosis bakar yang penuh dengan lelehan keju mozarela itu.
" Masak, sini aku coba?" Samuel menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum licik.
Cup
Samuel langsung menyambar bi bir istrinya dan sengaja mengambil sosis di mulut Jani dengan ganas.
" Iiiiiiiiiiihhhh... jorok kakak!" Teriak Rinjani yang terkejut dengan kelakuan suaminya.
" Mana yang sakit, orang enak gini kok rasanya, hahaha?" Samuel akhirnya bisa tertawa setelah sekian lama menderita, terkadang hal sekecil apapun jika kita lakukan bersama orang yang kita sayangi, semua akan terasa indah dan menyenangkan.
Kamu pun bisa menjalin cinta indah tanpa membuat hati orang lain patah, ada banyak kesempatan manis menantimu jika kamu mau.
__ADS_1
Namun, kalau memang sudah jodoh orang ketiga, kamu bisa apa ?
Jangan lupa subscribe dan bunyikan loncengnya ya, tapi karena itu semua nggak ada, cukup like dan hadiahnya saja, hehe..😅