CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
64. Nyaman


__ADS_3

...Happy Reading...


Melakukan segalanya yang terbaik adalah tugas kita. Dan memberikan keputusan terbaik adalah kuasa Tuhan.


Sudah satu minggu lebih Samuel tidak sadarkan diri dan setiap malam Jani sudah seperti penyelundup dirumahnya sendiri, yang dijemput Marvin hampir tengah malam dan pulang sebelum fajar tiba.


Mereka sudah kembali kerumah mereka, karena Jani meyakinkan ibuk dan adeknya bahwa keluarga Samuel tidak akan datang mencarinya dan benar saja, sudah beberapa hari ini tidak ada seorang pun yang datang kerumah mereka, karena sebenarnya Jani yang meminta sendiri kepada mamah mertuanya untuk memberi waktu, karena tidak mungkin selamanya keluarga Jani akan menumpang tinggal di tempat nenek Niar.


Dan hari ini Jani harus pergi ke kampus untuk mulai membuat skripsi, kalau untuk kuliah ibu Jani memang tidak pernah bertanya lebih, karena dari dulu keinginannya adalah melihat putra dan putrinya lulus menjadi sarjana walau Beliau harus menafkahi mereka dengan hasil keringat sendiri.


" Kamu mau kemana Jan, pagi-pagi sudah rapi begini?" Tanya ibu Jani menoleh putrinya dengan sinis.


" Ngampus buk!"


" Nggak mungkin kan Jani terus-terusan dirumah, Jani harus mengumpulkan banyak data buat skripsi."


" Jadi tetep harus ke kampus." Ucap Jani dengan lemas, tubuhnya pun terlihat lebih kurus karena dia selalu kurang tidur saat malam hari.


" Tanteee?" Teriak Niar dari arah pintu.


" Eh.. Niar, mau ke kampus bareng ya?" Tanya ibu Jani.


" Iya dong tan, kayaknya jadwal kita bakalan padat kedepannya tan."


" Banyak materi yang harus kami kumpulkan."


" Bahkan mungkin harus tidur menginap diluar."


" Karena kami ada berbagai kunjungan keluar kota." Ucap Niar dengan semangat, karena dia sering kasihan melihat sahabatnya itu yang harus curi-curi waktu untuk menemani suaminya yang masih tidak sadarkan diri, jadi dia membuat alasan untuk keluar kota.


" Owh... tentu."


" Jaga diri kalian baik-baik."


" Jangan cuma mikirin laki-laki saja!" Ibu Jani langsung melirik tajam ke arah putrinya sendiri.


" Jadi wanita itu harus bisa mandiri."


" Jangan semuanya tergantung pada pria."


" Karena belum tentu semua pria itu baik." Ibu Jani setiap hari selalu saja menyindir tentang Samuel, tak henti-hentinya dia menyalahkan Jani karena tidak berhati-hati memilih pasangan.


" Buk.. sudahlah."


" Mau sarapan nasi apa sarapan omelan ini?" Ucap Jani yang sudah mulai bosan dengan ceramah ibunya setiap pagi, yang temanya cuma itu-itu saja.


" Niar kamu sudah punya pacar kan?" Tanya Ibu Jani yang belum mau menyudahi topik terhangatnya.


" Alhamdulilah sudah buk, hehe.." Jawab Niar sambil tersenyum.


" Jangan buru-buru memutuskan menikah."


" Selidiki dulu masa lalu dan latar belakangnya, jangan sampai salah pilih!"


" Nanti kamu akan menyesal sendiri."


" Jadi janda hanya dalam beberapa jam saja!" Umpat Ibu Jani masih saja menghujat putrinya sendiri.


" Ckk."


" Kita berangkat aja yuk Niar."


" Nanti kesiangan, mana kita harus ke luar kota lagi hari ini." Ucap Jani yang malas berdebat dengan ibunya.


" Sarapan dulu, masih jam berapa ini." Tanya Ibu Jani.


" Iya Jan.. tuh nasi goreng seafood tante sangat menggoda selera." Niar sedari tadi sudah menelan ludahnya sendiri.


" Dibungkus saja ya buk?"


" Jadi dua, Jani mau ambil baju ganti dulu, soalnya sekitar dua atau tiga hari Jani pergi ke luar kota."


" Sama krupuk dan sosis gulungnya juga ya buk?" Ucap Jani sambil berlalu ke arah kamarnya.


" Heh... kamu pikir ibu penjual nasi warteg apa?" Teriak Ibu Jani kesal namun membungkus juga sarapan untuk mereka.


" Hehe.. terima kasih ibukku terzeyenggg!"


" Kita berangkat dulu ya?" Teriak Jani, dia lebih memilih mengalah dulu dengan ibuknya saat ini, sambil mencari solusi kedepannya.


" Kita makan dimana?"


" Masih terlalu awal ini buat ngampus?" Ucap Niar saat sudah keluar rumah.


" Kita sarapan dirumah pak Sam aja."


" Mama kemarin bilang mau ke luar negri untuk dua atau tiga hari."


" Mungkin sekarang beliau sudah berangkat." Ucap Jani menunggu taksi online yang dia pesan tadi.


" Anaknya masih sekarat gitu juga tetep pergi ke luar negri kah?"


" Woaaah... orang kaya ternyata memang gila harta."


" Masih sempat memikirkan bisnis disaat anak satu-satunya koma." Niar menggelengkan kepalanya.


" Itu mungkin strategi mereka, mengapa mereka bisa jadi kaya raya." Ucap Jani sambil menaikkan kedua bahunya.


" Aaahh.. aku kasihan sama Yoyo jadinya."


" Pantesan dia nakal, kurang perhatian dan kasih sayang orang tua sih." Ucap Niar mengingat bocah yang selalu menjadi rivalnya itu.

__ADS_1


" Sekarang sudah nggak nakal lagi dia!"


" Enak saja kalau ngomong!" Jani mulai tidak terima, karena menurutnya Yoyo sudah jadi anak penurut sekarang.


" Cieeee... yang sudah mulai belain putranya." Ledek Niar.


" Tapi luu nggak punya niat buat menceraikan pak Sam kan Jan?" Tanya Niar yang selalu penasaran.


" Hmm.."


" Untuk saat ini tidak Niar?"


" Mau bercerai gimana, orang kondisinya seperti itu." Ucap Jani sambil menundukkan kepalanya.


" Maksud luu, kalau dia sudah sadar mau luu ceraikan gitu?"


" Nggak sayang apa bercerai sama dia?"


" Dia cinta mati lho kayaknya sama luu?"


" Bahkan saat pikirannya tidak stabil saja yang ada diotaknya cuma elu doang sob?"


" Jarang-jarang ada pria tampan kaya yang modelan kayak begitu?" Ucap niar menggebu-gebu.


" Yang ada di otak luu mah, cuma tampan dan kaya doang?"


" Mau se istimewa apa juga kalau ibuk nggak ngrestuin mau bagaimana lagi cuy?"


" Sudah berbagai cara aku membujuk ibuk, satupun tidak ada yang berhasil."


" Bromo juga selalu ada di pihak ibuk!"


" Bahkan kepalaku hampir pecah menghadapinya." Umpat Jani yang mengingat perjuangannya meminta restu.


" Aku paham sih posisi kalian?"


" Cuma sayang banget gitu, kita ninggalin orang yang benar-benar sayang dengan kita."


" Karena belum tentu kita bisa dapetin lagi orang setulus hati mencintai kita untuk yang kedua kalinya." Ucap Niar terlihat menerawang jauh kedepan.


" Aku pun punya pemikiran yang sama denganmu Niar."


" Tapi aku tidak mau terus-terusan melawan ibuk."


" Aku juga tidak mau menjadi anak yang durhaka."


" Dia membesarkan kami penuh dengan perjuangan Niar."


" Tidak mudah juga untuk menjadi sosok seperti ibuk." Jani hanya bisa membuang nafasnya perlahan, dia sudah terlalu pusing setiap hari memikirkan masalah yang tidak ada solusinya.


" Iya juga sih?" Niar hanya bisa menatap iba wajah sahabatnya itu.


" Aku hanya ingin melihat pak Sam sembuh dulu."


" Baru aku pikirkan langkah selanjutnya." Ucap Jani.


" Jani... sebenarnya kamu cinta beneran nggak sih sama pak Sam?" Niar sedari dulu ingin menanyakan tentang hal itu.


" Aku tidak pernah memikirkan apa itu cinta setelah bertemu dengannya."


" Aku cuma berfikir jika sehari saja tidak bertemu dengannya, pikiranku terasa kacau."


" Dan sehari saja tidak merasakan sentuhan tangannya, aku rindu."


" Walau dia jarang bercanda juga, tingkahnya selalu membuatku tersenyum dan bahagia."


" Entah itu apa namanya?" Rinjani hanya bisa memejamkan matanya mengingat sosok Samuel selama ini dihidupnya.


" Woaaaahhh... jeru itu!"


" Itu bahkan seperti definisi bucin akut!"


" Habislah kau Jan!" Niar langsung menepuk jidatnya sendiri setelah mendengar perkataan Jani.


" Berisik luu!"


" Kita berangkat sekarang, taksinya udah datang." Ucap Jani yang langsung masuk ke dalam taksi sambil menarik lengan sahabatnya.


Saat sampai didepan rumah, ternyata Marvin juga baru saja memarkirkan mobilnya.


" Dokter mau pindahan?"


" Kenapa bawa barang banyak banget?" Tanya Niar mendekati pria yang akhir-akhir ini sedikit lebih akrap dengannya, walau tetap saja masih terus berdebat jika sedang berdua.


" Ngapain nanya-nanya?"


" Kayak mau nemenin aja?" Ucap Marvin tanpa menoleh kearah mereka berdua, dan masih sibuk membawa barang-barangnya masuk ke dalam rumah.


" Waaaah... dasar dokter sinting!"


" Aku sumpahin jomblo sampai tua baru tahu!" Umpat Niar kesal.


" Ciiihhh.."


" Tidak masalah, masih ada kamu!" Ucap Marvin dengan senyum liciknya.


" Diiihh.. sory ya, gw nggak jomblo."


" Gw sudah punya pasangan keles!" Niar langsung meledek Marvin.


" Apa masalahnya?"

__ADS_1


" Bukannya malah senang bisa godain pasangan orang?"


" Lebih menantang gitu kan?"


" Owh.. indahnya menggangu hubungan orang!" Ucap Marvin dengan santainya.


" Dasar wong edan!" Umpat Niar yang malah ditertawakan oleh Jani, disaat kalut seperti ini melihat dua manusia itu berdebat selalu menjadi hiburan tersendiri.


" Sudahlah.. nikahin aja dua-duanya Niar!"


" Poligami versi wanita!"


" Jauh dekat semua ada, haha." Jani jadi bisa tertawa setelah seminggu hanya cemberut saja.


" Ini lagi satu!"


" Korban cinta tak direstui jadi ikut gendeng!" Teriak Niar sambil mengepalkan tangan kearah Jani yang sudah masuk kedalam kamar Samuel duluan.


" Jan, mana nasi goreng buatan ibukmu tadi?"


" Laper nih?" Niar masuk kedalam ruangan Samuel yang sudah diubah layaknya rumah sakit VVIP class.


" Tuh ada di tas." Jani menunjuk tasnya yang tergeletak di atas sofa.


" Wuuidiihh.. warbiasa memang nasi goreng buatan tante nih."


" Baunya hemm... mantabekk!" Niar langsung menyantap nasi goreng terenak menurutnya, apalagi gratisan membuat makanan terasa lebih lezat.


" Makan Jan, perjuangan cinta masih panjang dan butuh tenaga ekstra."


" Jadi jangan lupa makan!" Ucap Niar yang langsung diangguki oleh Jani.


" Berat banget ucapan luu!" Akhirnya dia makan disamping ranjang suaminya.


" Apaan tuh?"


" Mau!" Marvin langsung menarik nasi goreng ditangan Niar.


" Dokteeerrrrrr!" Teriak Niar langsung menjerit.


" Jangan berisik, ada orang sakit itu!" Ucap Marvin mengangkat tinggi nasi goreng setelah melahap satu sendok.


" Biar saja, biar bangun sekalian!"


" Nggak capek apa tidur mulu berhari-hari!"


" Kasihan sobat gw tersiksa karenanya."


" Sini nggak nasi gorengnya, punya ku itu!"


" Balikiiiiiinnn!" Niar malah sengaja mengeraskan suaranya.


" Pelit amat sih luu!"


" Nanti gw beliin lagi!" Ucap Marvin menyendokan lagi nasi goreng itu ke mulutnya, bahkan menggunakan sendok bekas Niar.


" Itu nggak ada yang jual!"


" Itu buatan ibuknya Jani, balikin enggak!"


" Masih lapar gw dok!" Niar masih saja mencoba menggapai nasi goreng itu, namun apa daya tubuhnya kalah tinggi dengan Marvin.


" Lapar ya?"


" Uluuuuhh... kasian, nih aku kasih dikit!" Marvin menyuapkan satu sendok kemulut Niar.


" Iiiiih...jangan dihabisin dok?"


" Beli sendiri sana!" Niar semakin kesal dibuatnya.


" Ini masih banyak, cewek kok makannya banyak!"


" Mau apa punya tubuh yang gembrot?"


" Lemak menempel dimana-mana?" Ucap Marvin dengan segala akal bulusnya. Namanya juga cewek, paling sensitif kalau sudah mendengar soal berat badan.


" Tapi aku masih lapar dok?" Ucap Niar sambil cemberut.


" Ya udah.. duduk makannya!"


" Aku suapin!" Ucap Marvin langsung duduk di sofa.


" Mau udangnya itu juga!" Ucap Niar saat melihat Marvin menyendokkan nasi gorengnya.


" Iya bawel." Ucap Marvin setelah satu suapan mendarat dimulutnya sendiri, akhirnya mereka berdua terlihat akur dengan makan satu bungkus nasi goreng seafood untuk berdua.


" HAH?" Tiba-tiba suara Jani menggagetkan dua manusia yang masih asik suap-suapan dipojokan.


" Pak Sam?" Jani bahkan melemparkan nasi goreng miliknya keatas meja dengan sembarang.


" Bapak sudah bangun?"


Mata Jani bahkan berkaca-kaca saat melihat Samuel membuka kedua matanya.


Hati Rinjani benar-benar merasa sangat lega, dia sangat merindukan tatapan mata pria itu, suaranya, bahkan pelukan hangatnya yang selalu membuatnya dirinya merasakan apa itu arti sebuah kenyamanan.


Ketika kamu merasa nyaman dengan seseorang, tanpa disadari kamu sepakat untuk menerima kelebihan dan kekurangannya. Memahami dan mempercayai sikapnya. Karena Kenyamanan menjadi nilai berharga yang sulit didapatkan.


..." Setiap datangnya cinta, pasti hati kita akan merasakan kenyamanan, karena cinta adalah rasa yang membuat hati kita nyaman."...


..." Cinta bukanlah sesuatu yang rumit, hanya sesuatu yang membuatmu tenang, membuatmu selalu merasa nyaman dan yang terpenting membuatmu tidak kehilangan sebuah harapan."...

__ADS_1


__ADS_2