CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
35. Coba-Coba Saja.


__ADS_3

...Happy Reading...


Bersikap sabar dalam menghadapi setiap permasalahan dalam hidup memang bukan suatu hal yang mudah. Mencoba untuk menerima apa adanya dan dengan berlapang dada kadang membuat kita lelah menghadapinya. Memang, nggak semua masalah bisa dilewati dengan mudah begitu saja.


Pagi ini Jani sudah bangun dengan semangat empat lima bersiap ingin hang out bersama Niar yang sudah menjanjikan mengenalkan teman cowoknya untuk sekedar menguji rasa dan meyakinkan diri apakah dia punya perasaan atau tidak dengan Samuel.


" Okey.."


" Rambut sudah keren nih." Jani sengaja mengeriting rambutnya diujung bawah biar terlihat trandy dan memberikan vitamin rambut agar tetap wangi dan sehat.


" Baju gw sudah edisi terbaru nih." Dia melihat baju yang baru dia beli online semalam, dia benar-benar sudah prepare dengan matang planning hari ini.


" Wajah.. herm jangan ditanya lagi." Jani melihat wajahnya dari kaca spion mobil.


" Fresh and natural!"


" Berangkaaaaatttttt...!" Jani memukul stang bundarnya dan menekan pedal gas untuk otw kerumah Niar, dia sengaja membawa mobil sendiri agar hasil karya pada rambutnya tetap terjaga, kalau naik motor sudah pasti berantakan sampai mana-mana, gimana mau tampil 'wow' di depan cowok itu pikirnya.


Belum juga menempuh jarak satu kilometer, ponselnya sudah berbunyi, dia segera menekan tombol pada earphone bluetoth yang sudah stand by ditelinganya tanpa melihat siapa yang memanggil, karena terlau semangat untuk kencan buta hari ini.


" Hallo Niar, gw lagi otw nih."


" Sabar dong, apa cowok itu sudah datang?" Ucap Jani sambil nyerocos saja sambil asyik melihat jalanan.


" COWOK SIAPA YANG KAMU MAKSUD..!"


Cekiiiiiiiiiiiiiiiiitttt!


Suara bariton itu sungguh menggagetkannya, bahkan dia langsung mengerem mobil mendadak dan menepikan mobilnya ke pinggir jalan, masih baik jalanan pagi ini masih sepi, kalau tidak mungkin sudah terjadi kecelakaan beruntun tadi.


Mati gw.. mati gw, kelar rencana gw ini pasti, ayoo Jani, cari alasan yang tepat! haaahh... kenapa aku bodoh sekali, nggak lihat-lihat dulu siapa yang telpon tadi sih !


" Heh?"


" Pak Sam?"


" Ada apa pak, aku baru mau otw buat tugas kelompok bareng sama temen-temen nih, hehe.." Jani langsung menemukan alasan yang paling relevan untuk saat ini.


" DATANG KE RUMAH SEKARANG JUGA!"


Tut.. tut.. tut..


Sambungan telepon langsung terputus begitu saja tanpa aba-aba dan tanpa mendengarkan jawaban dari Jani dulu.


" Aaaaaiissshhh si allllll..."


" Bodoh.. bodoh.."


" Beneran kan kejadian, dia kan paling anti denger kata cowok dari mulut gw!"


" Masak belum apa-apa sudah gagal duluan gw!"


" Argghh... gimana ini?"


" Owh telpon Niar.. suruh dia jadi saksi kali ini." Jani langsung menghubungi Niar.


" Hallo Jan?"


" Udah sampai mana luu?" Tanya Niar dibalik ponselnya.


" Aduuuh Niar, sebenarnya gw udah dijalan sih."


" Tapi gw ketahuan nih!"


" Gimana dong?" Ucap Jani yang langsung panik.


" Ketahuan sama siapa?"


" Nyokap luu?"


" Nggak masalah dong, tinggal bilang aja belajar bareng gw, pasti ibuk langsung ngijinin deh."


" Bukan ibuk, boneng!"


" Tapi pak Samuel." Jani sungguh menyesal mengangkat telpon tadi.


" Pak Sam?"


" Kenapa bisa ketahuan?"


" Katanya tadi malam eluu udah boleh pulang?"


" Memang pak Sam sepagi ini udah dateng kerumah eluu?"


" Bukan.."


" Bukan karena itu, gw emang udah tidur dirumah tadi malam."


" Dan semua baik-baik saja."


" Tapi pas tadi gw lagi nyetir mobil nih, gw main angkat telpon aja tanpa lihat orang yang nelpon, karena gw kirain elu."


" Dan gw nanyain cowok yang mau elu kenalin apa sudah datang?"


" Gw keceplosan Niar... aaaaa... bagaimana ini!" Jani langsung mengacak poni rambutnya, mood rambut Curlynya langsung hilang begitu saja.


" Aaargghhh.. elu sih!"


" Cari perkara aja!"


" Trus mau luu gimana nih?"


" Mana cowok gw dan temennya udah nunggu lagi."


" Kalaupun gw mintain izin ke pak Sam sekarang juga pasti nggak dibolehin."


" Luu ceroboh sih!" Bukan ngasih solusi, Niar malah semakin memojokkan Jani.


" Aah elu!"


" Kasih solusi lain dong?"


" Gw kan nggak sengaja!"


" Malah tambah nyudutin gw luu!" Jani langsung melakukan protes.


" Yawdah... kita ganti planning saja!"


" Luu ketemuannya siang aja."


" Entar gw kasih alasan lain deh!"


" Kebetulan sekarang adek cowok gw sedang buat acara ulang tahun."


" Gw ajak cowok itu kesana dulu!"


" Dan sekarang luu beresin dulu tuh bayi bangkotan luu!"


" Cari alasan yang masuk akal!"


" Kalau perlu luu kekepin aja dia sampai pingsan!"


" Baru luu nyusul kerumah cowok gw."


" Entar gw share alamatnya, bagaimana?"


" Waaah... eluu emang sahabat gw yang terdebes deh!"


" Cerdas banget akal licik luu!"


" Wokey.. gw otw kekepin tuh bayi tuek dulu!"


" Entar gw usahain siang udah sampai sono ya?"


" Tungguin gw jangan ditinggalin."


" Pokoknya planning hari ini harus lancar, okey?"

__ADS_1


" Hmm.."


" Semangat ngekep, jangan sampai jadi !"


" BYE..!" Niar mematikan ponselnya sambil terkekeh sendiri disana.


" Jadi.. jadi..PaleLuu Peak!"


" Emang gw buat apaan!" Jani langsung menekan pedal gasnya kembali kearah rumah Samuel.


Sesampainya disana Samuel dan Yoyo sudah duduk di meja makan, namun belom ada yang menyentuh piring dan sendok didepannya.


" Hallo Yoyo sayang?" Jani datang dengan senyum ceria.


" Kenapa belum pada sarapan?"


" Udah jam berapa ini?" Dua manusia tampan itu serentak menoleh Jani dengan tatapan kesal.


" Loh.. loh.."


" Ada apa ini?"


" Serem banget ngelihatnya?" Jani melihat Samuel dan Yoyo bergantian.


" Kenapa kakak lama sekali datangnya?"


" Yoyo sudah lapar!"


" Huh." Yoyo langsung melengos kesamping, membuang dari arah pandangan Jani.


" Kalau lapar ya makan dulu dong sayang."


" Kan sudah disediain sama simbok ini." Jani langsung membuka piring didepan Yoyo dan ingin mengambilkan nasi untuknya.


" SIAPA COWOK ITU?" Ucap Samuel dengan nada dinginnya sambil menatap wajah Jani tanpa berkedip sekalipun.


" Cowok apa sih pak?"


" Yoyo mau lauk apa?" Walau tadi sempat terhenti karena terkejut, Jani kembali mengambilkan nasi untuk Yoyo tanpa berani menoleh ke arah Samuel.


" JAWAB DULU..!" Teriak Samuel, dia paling tidak suka kalau omongannya diabaikan.


" Sssttt..."


" Kak Jani selingkuh ya dibelakang daddy?"


" Pantesan aku nggak dibolehin makan sebelum kakak datang kemari." Yoyo berbisik ditelinga Jani.


" Astaga, enggak Yo!" Jani masih belum berani memandang Samuel yang sudah tersulut emosi.


" RINJANI MAHESWARI." Kalau nama panjangnya sudah disebut berarti pria itu sudah benar-benar marah pikirnya.


" Hehe.. iya pak?"


" Bapak kok tahu nama panjangku?" Jani hanya bisa tersenyum dan pura-pura bodoh kalau sudah mentok begini.


" JAWAB PERTANYAANKU!" Mata Samuel bahkan sudah melotot seperti akan keluar dari cangkangnya.


Bunuh saja aku pak, bunuh... arghh... aku harus bagaimana ini, owh.. aku akan merayunya, harus berhasil pokoknya!"


" Eemm... Yoyo makan sama babysitter Yoyo yang baru ya?"


" Dimana dia?"


" Mbak... mbak..?" Jani langsung memanggil babysitter Yoyo agar si bocah ajaib ini segera diamankan pikirnya.


" Iya Nyonya?" Si babysitter Yoyo langsung sedikit berlari kearah mereka.


" Panggil aku Jani saja mbak."


" Jangan pakai Nyonya segala.. hehe.."


" Saya cuma----" Belom juga selesai bicara ucapan Samuel kembali mengagetkannya.


" Jangan dengarkan dia, tetap panggil dia NYONYA!" Samuel menegaskan perkataannya.


" Baik Tuan, Nyonya."


" Saya permisi dulu, mau suapin Yoyo ditaman samping saja." Babysitter Yoyo langsung membawa Yoyo pergi dari sana.


" Fuuuhh..." Jani kembali mengatur nafasnya, menyiapkan kata-kata manis yang dia rancang saat dalam perjalanan kemari tadi.


" Bapak mau makan pake lauk apa?" Jani berusaha tersenyum sambil meraih piring didepan Samuel.


" Jawab dulu pertanyaanku!"


" Siapa cowok itu!" Samuel berbicara sambil memalingkan wajahnya, dia paling tidak tahan kalau sudah melihat Jani tersenyum semanis itu kepadanya.


" Bukan siapa-siapa pak?"


" Kami kan kerja berkelompok nih."


" Jadi ada beberapa cewek dan beberapa cowok dalam grup kami."


" Rame-rame kok, bukan dua-duaan."


" Lagian dialam terbuka juga." Jani berusaha berbicara selembut mungkin, tidak lupa senyuman itu terus terbit diwajahnya.


" BOHONG KAMU!" Samuel tidak akan percaya begitu saja.


" Mana berani aku berbohong sama bapak, hehe?" Jani memasang wajah imutnya.


Bodo amat, yang penting gw selamat!


" Awas saja kamu berani membohongiku!"


" Tidak akan ada maaf bagimu!" Ucap Samuel sambil melotot.


" Siap bosku!"


Terserah luu deh pak!


" Mau lauk ayam bakar ini?" Jani mengambilkan ayam bakar ketika Samuel menggangukkan kepalanya.


" Baiklah.."


Ternyata semudah ini menipu kamu pak, kirain tadi mau ngamuk lama, eeh... nasib baik memang bersama orang-oramg yang sabar.


" Mau disuapin nggak?" Jani ingat dengan janjinya.


" Hmm.."


" Tapi mau makan dikamar saja!" Samuel langsung bangkit berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


" Diiihh.." Jani langsung mengepalkan tangannya.


" Dikit-dikit langsung saja ngajak dikamar."


" Jablay banget emang si presdir yang satu ini!"


" Kalau nggak takut skripsi gw hancur, udah gw lemparin nih piring keatas kepalanya!"


" Manja banget jadi orang!" Ucap Jani perlahan sambil mengambil lauk dan nasi yang banyak, dia tergiur juga mau mencicipi rasa ayam bakar bumbu kelapa dan capcay sayur yang menggugah selera itu, lagian dia sudah terbiasa makan sepiring berdua dengannya.


" Jangan mengumpatku!" Ucap Samuel dari tangga.


" Eh... ya enggak lah pak!"


" Ngapain ngumpat orang pagi-pagi, hehe.."


Buset dah tu orang, punya indera ke enam apa bagaimana sih? sabar Jan... keluarkan jurus rayuan maut dan semar mendem yang kamu bisa, yang penting kamu bisa kencan buta siang ini.


Jani melangkah mengikuti Samuel yang ternyata duduk dibalkon kamarnya, pemandangan ramainya jalanan kota pagi ini menjadi hiburan yang asyik dipagi hari sambil sarapan pagi, namun disana cuma ada satu kursi single yang sudah dia duduki dan satu meja kecil saja.


" Sebentar ya pak, saya ambil kursi dibawah dulu." Jani meletakkan piringnya dimeja dan ingin berlari kebawah mencari kursi untuk dia duduk.


" STOP!"

__ADS_1


" Nggak perlu!"


" Duduk saja disini." Samuel menunjuk kedua kakinya dengan dagu.


" HAH?"


" Nggak usah pak, aku berat lho ini?" Jani langsung mencari alasan.


" DUDUK!" Teriak Samuel tidak terbantahkan.


" Ya susah pak?"


" Gimana mau nyuapinnya kalau begitu?" Jani pusing sendiri melihat tingkah big boss yang banyak maunya ini.


" Duduk saja menyamping."


" Apa susahnya?"


" Sini!" Samuel langsung menarik tubuh Jani dan memangkunya dengan satu kaki dan kaki satunya menjepit kedua kaki Jani agar dia tidak bisa kabur darinya.


" Astaga bapak?"


" Aku nggak bisa gerak ini?" Jani mencoba berontak tapi tangan Samuel sudah memeluk pinggangnya dengan erat.


" Orang nyuapin itu pakai tangan."


" Bukan pakai kaki."


" Cepat suapin!"


" Aku sudah lapar menunggu kamu sedari tadi."


" Besok-besok itu jam tujuh sudah harus sampai di rumah."


" Jangan telat kalau nggak mau melihat aku dan Yoyo kelaparan!"


" Jangan cuma bisanya makan gaji buta saja kamu!" Umpat Samuel kembali membahas tentang harta.


Astaga.. Yoyo kan sudah punya babysitter, kamu juga punya dua tangan, apa salahnya makan sendiri, masak hari libur juga gw harus kerja, sebenarnya gw itu kerja apa dikerjain sih?


Namun Jani hanya bisa protes didalam hati saja, pokoknya dia harus bisa bersikap manis, agar bisa lolos siang hari ini.


" Yaudah iya.."


" Besok jam tujuh aku udah sampai disini deh?"


" Aak dulu!" Jani menyuapkan satu sendok nasi ke mulut Samuel.


" Kamu sudah cuci tangan kan?" Tanya Samuel disela-sela mengunyah makanan.


" Sudah kok tadi."


" Nih bersih dan wangi." Jani bahkan menempelkan jemarinya dihidung Samuel.


" Kalau begitu suapi aku pakai tangan saja."


" Lebih enak rasanya pakai tangan." Ucap Samuel sambil tersenyum.


" Wokey.."


" Bapak ketagihan ya, makan aku suapin pakai tangan."


" Memang makan paling nikmat itu pakai tangan pak."


" Jaman para Nabi dulu, makan pakai tiga jari juga disunnahkan."


" Bahkan menurut ilmu kesehatan nih."


" Di dalam tangan terdapat Enzim Rnase yang dapat menekan aktivitas bakteri pathogen dalam tubuh kita."


" Kalau nggak salah lho ya? hehe..." Jani berganti menyuapi Samuel dengan tangannya.


Apapun itu terserah kamu, aku percaya saja, yang jelas bisa makan kamu suapin seperti ini, sambil bisa meluk kamu dipagi hari gini adalah hal yang paling menyenangkan dan menjadi moodbosterku.


Samuel hanya menggangukkan kepalanya saja sambil terus menikmati suapan makanan dari Jani.


" Hmm... enak banget bumbu ayam bakarnya." Jani bahkan menji lat jemarinya yang penuh dengan bumbu ayam bakar itu, namun Samuel bahkan tidak merasakan jijik sekalipun, saat Jani kembali menyuapinya lagi. Jangankan tangannya, bi birnya juga pernah dia rasakan.


" Pak habis ini aku pergi ngerjain tugas ya?" Jani langsung mulai merayunya.


" Kemana?" Tanya Samuel sambil mengeratkan pelukannya.


" Ke... anu mana ya?"


" Tadi udah di share di group sih."


" Cuma lupa bacanya, hehe..." Sebenarnya dia cuma tidak ingin Samuel tahu saja alamatnya.


" Hmm.."


" Siapa aja cowoknya?" Tanya Samuel dengan santai menikmati suapan demi suapan sambil membuang pandangan ke arah jalan Raya.


" Emm... lupa sama siapa aja." Jani pura-pura lupa saja, karena mereka cuma berempat, kan mau double date rencananya.


" Masak satu group bisa lupa, bohong kamu!" Ucap Samuel langsung curiga.


" Kan banyak pak."


" Yang pasti ada si Paijo sama si Joko, hehe.." Jani asal saja menyebut nama pria.


" Itu nama temenmu?" Samuel memicingkan matanya.


" Iya, hehe.."


" Namanya memang unik, khas orang Jawa banget kan?"


" Memang nama temen-temenku itu lucu semua, hehe.."


" Boleh kan pak?"


" Kemarinkan sudah janji?" Jani memasang wajah imut.


Ting!


Jani bahkan memberi bonus, kedipan mata genitnya dihadapan Samuel.


" Uhuuk.. uhuuk..." Samuel langsung tersedak melihatnya.


" Minum.." Samuel menepuk da danya sendiri, entah kenapa kedipan mata Jani membuatnya da danya langsung ser-seran.


" Astaga bapak?"


" Nih minum." Jani langsung meminumkan air mineral yang dia bawa tadi.


" Pelan-pelan dong pak." Jani mengusap punggung Samuel dengan tangan kirinya, setelah meletakkan botol air ke meja.


Cup


Samuel mengecup sekilas bi bir Jani yang masih rasa ayam bakar itu, saat dia masih asyik mengusap punggungnya.


" PAAAAAKKK...!" Jani terkejut dan langsung memundurkan kepalanya.


" KANGEN."


Samuel langsung menarik tengkuk Jani dan memperdalam aksinya yang langsung tidak bisa Jani tolak.


Mampus... mampus... gimana mau lepas ini? baru semalam nggak lihat udah kangen katanya? Niar.. help me! tapi kok ya Wuenak gini sih? aaargghhhh...!


Jatuh cinta adalah hal yang tiba tiba dan tak kita sadari kehadirannya. Karena Cinta datang tak pernah direncanakan. Sehingga tak ada yang bisa bertanggung jawab atas perasaan itu sendiri.


..."Bahagia bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur."...


..."Cinta sejati itu seperti hantu, hampir semua orang membicarakannya, tapi sedikit orang menjumpainya."...


..."Terkadang kamu harus menutup hati sementara, untuk sekedar meyakinkan bahwa hanya ia yang tepat boleh membukanya."...


Jangan lupakan Jempol kalian ya?

__ADS_1


__ADS_2