
...Happy Reading...
Rasa memang tidak bisa dibohongi, tapi jangan dibodohi. Cinta bukan hanya sekedar menciptakan bahagia, namun juga harus menjaga.
Bahagia bukan karena engkau dimiliki, namun bahagia karena engkau dihargai. Menjaga bukan hanya sekedar hatimu, tapi juga perasaanmu.
Sampai malam tiba, Jani tak kunjung terlelap juga, dia bahkan sudah seperti kelelawar yang terjaga saat malam hari dan terlelap di siang hari, jadwal kuliahnya pun berantakan, padahal sebentar lagi dia akan skripsi, namun perasaanya sangat kacau, jangankan untuk berfikir tentang materi pelajaran dikampus, otaknya bahkan dipenuhi dengan wajah Samuel, Samuel dan Samuel saja.
Tulilut.. tulilut..
Wajah Niar menghiasi layar ponselnya.
" Ckkk... ngapain dia melakukan panggilan video malam-malam." Jani langsung menggeser tombol hijau diponselnya.
" Janiiiiii..." Teriak Niar dengan wajahnya yang terlihat panik.
" Sssstttt..."
" Jangan keras-keras, nanti ibuk bangun." Jani langsung mendekatkan wajahnya ke layar ponselnya.
" Jan..."
" Gawat.. ini gawat!" Ucap Niar memelankan suaranya.
" Apanya yang gawat?" Ucap Jani sambil menoleh ke kanan dan kiri, padahal pintu kamarnya sudah dia kunci.
" Pak Sam kritis."
" Bahkan dia tidak sadarkan diri." Wajah Niar terlihat serius.
" Kamu dimana?" Jani melihat suasana kamar ditempat Niar berada.
" Liat suami luu!" Niar memindahkan kamera depan diponselnya ke kamera belakang, terlihatlah tubuh Samuel yang tergeletak dengan alat bantu pernafasan dihidungnya, bahkan tangan dan kakinya masih terikat.
" Astaga.. apa yang terjadi Niar?" Jani langsung menjambak rambutnya kebelakang.
" Luu masih mau lihat suamimu saat hidup nggak?" Bahkan kata-kata Niar seolah nyawa Samuel sudah berada di ujung tanduk.
" Luu ngomong apaan sih!"
" Jangan aneh-aneh ya!"
" Jangan menakut-nakutiku Niar!" Jani langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil sweater yang tadi dia lemparkan begitu saja, sambil tetap video call an dengan Niar.
" Sebentar lagi dokter Marvin akan segera sampai dirumah nenek." Niar sudah yakin, pasti Jani akan segera datang kalau melihat Samuel seperti ini, makanya dia segera menyuruh Marvin untuk menjemputnya, karena dia tidak bisa naik mobil, kalau naik taksi kelamaan pikirnya.
" Tapi ibuk bagaimana?" Ucap Jani perlahan, sambil mencari dompetnya kembali.
" Jangan beritahu ibuk, kamu keluar lewat jendela saja."
" Dokter Marvin akan menunggumu dibawah pohon samping rumah."
" Dan besok sebelum Subuh kamu pulang lagi kesana." Niar sudah mengatur strategi sejak Samuel tiba-tiba tidak sadarkan diri setelah kembali berteriak histeris.
" Okey." Jani sudah siap dengan segala konsekuensinya.
" Sekarang luu pelan-pelan keluar kamar dan tunggu saja dibawah pohon."
" Okey cuy.. gw matiin ya telponnya."
" Hati-hati, pelan-pelan saja turun dari jendelanya."
" Bye." Niar langsung mematikan ponselnya dan bernafas lega, setidaknya kalau terjadi apa-apa dengan Samuel, Jani bisa melihatnya saat-saat terakhir, karena kondisi Samuel sudah seperti orang koma, sedangkan mamahnya terus saja menangis sedari tadi.
Bugh!
Bahkan lutut Jani terbentur dengan batu dibawah jendela saat dia lompat.
" Aduuh..." Jani mengaduh perlahan dan mengusap lututnya yang sedikit berdarah, saat menoleh kanan kiri terlihat aman, Jani langsung berjalan mengendap-endap keluar gerbang.
" Janiii..." Teriak Marvin yang kebetulan juga sudah sampai.
" Cepat masuk, buruan!" Marvin hanya membuka jendelanya saja dan tidak mematikan mesin mobilnya, karena dia mengejar waktu.
" Dokter, gimana keadaan pak Sam?" Tanya Jani saat mobil sudah melaju denan kencangnya.
" Mengenaskan!" Hanya itu yang terucap dari mulutnya, namun matanya hanya tertuju pada gelapnya jalanan.
" Kenapa bisa jadi seperti itu dokter?" Tanya Jani langsung terlihat panik.
" Tentu saja karenamu!" Marvin memang tidak bisa berbicara dengan kata-kata yang lembut dengan Jani, bahkan mereka selalu saja tidak bisa akur kalau bertemu.
" Tapi dokter---"
" Kamu diam saja!"
" Aku lagi konsentrasi menyetir ini."
" Dari pada kita berdua celaka di mobil!"
" Nanti kamu juga bisa lihat sendiri kondisinya kalau sudah sampai disana." Ucap Marvin dengan wajah datarnya dan akhirnya Jani hanya bisa memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya dikaca jendela dengan lemas.
__ADS_1
Saat mobil baru saja berhenti, Jani langsung turun dan berlari menaiki tangga kearah kamar Samuel.
" Jani?" Niar dan mamah Samuel langsung menyambut kedatangan Jani.
" Pak..." Jani bahkan tidak menoleh kearah siapapun kecuali Samuel yang tergeletak di kasur king sizenya.
" Apa yang terjadi?"
" Bangun pak... pak Sam?" Ucap Jani lirih sambil menggengam jemarinya.
" Jani.."
" Terima kasih kamu sudah sudi melihat kondisi suami kamu nak." Jani hanya diam saja, bahkan tidak menoleh kearah mamah mertuanya.
" Beberapa hari ini, mamah bolak balik kerumahmu, tapi kalian tidak ada."
" Mamah mau minta maaf nak.. tolong maafkan mamah." Mamah Samuel kembali terisak disamping Jani.
" Aku ingin berdua saja dengan pak Sam disini."
" Kalian bisa istirahat saja."
" Malam ini biar aku yang menjaganya."
" Kalau ada apa-apa nanti aku panggil kalian." Ucap Jani namun matanya tidak beralih dari wajah Samuel yang masih belum membuka matanya.
" Baiklah.. kita keluar saja." Ucap Marvin.
" Semua pasti baik-baik saja jika dia sudah ada didekatnya." Marvin yang baru saja muncul didepan pintu langsung mengajak Niar dan mamah Samuel keluar, juga dokter-dokter yang berjaga disana untuk keluar meninggalkan mereka berdua.
" Pak."
" Aku sudah datang." Jani menatap wajah Samuel dengan iba, dia sungguh tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini.
" Tolong jangan buat aku ketakutan seperti ini pak." Jani melihat tangan Samuel yang memang dipenuhi bekas suntikan.
" Apa ini sakit pak?" Jani mengusap lengan Samuel dengan deraian air mata, dia disuntik vaksin dua kali saja gemeterannya berjam-jam, dan bekas nyerinya dua hari baru hilang, ini bahkan puluhan bekas suntikan karena mungkin dia tidak mau minum obat, jadi hanya dengan menyuntik saja obat itu bisa masuk kedalam tubuhnya.
" Pak... andai kita tidak bisa lagi bersama---" Kedua mata Jani bahkan memanas, air matanya kembali membendung.
" Aku.. aku hanya bisa berharap, bapak akan baik-baik saja." Rasa sayang yang sudah muncul dihatinya untuk pria ini, harus dia kubur dalam-dalam.
" Bapak bisa hidup normal seperti biasanya." Walau pedih, dia ingin mencoba terus tersenyum walau hati terluka.
" Aku juga berharap, ibuk dan Bromo mau memaafkan bapak." Jani berbicara sambil menempelkan pipinya ditangan Samuel yang dia gengam erat.
" Tapi sepertinya sangat sulit pak."
" Saat itu... saat ayah berangkat kerja, dia bahkan tersenyum, bercanda dengan kami dan menggoda ibuk di dapur, sampai membuat kami tertawa."
" Namun saat beliau pulang, ayah kami hanya tinggal nama dan jasadnya saja."
" Bapak tahu nggak, apa yang kami rasakan saat itu?"
" Sakit banget pak, kami berharap itu bukan ayah, bahkan bromo sampai memukul wajahnya sendiri berulang kali, karena dia berharap ini cuma mimpi belaka."
" Jadi maaf... kalau mereka sulit untuk bisa melupakan atau memaafkan bapak."
" Jika aku tidak lagi bisa menjaga bapak, menemani hari-hari bapak, aku berharap Tuhan selalu melindungi bapak."
" Bukankah kata orang, Cinta itu tidak harus memiliki?"
" Aku hanya ingin melihat bapak bisa hidup bahagia walau tanpa adanya diriku."
" Aku juga berharap, bila suatu hari nanti, saat kita hidup dengan keluarga kita masing-masing, kita bisa tetap menjalin silaturahmi."
" Kelak... kalau kita tanpa sengaja bertemu, kita bisa tersenyum sambil menyapa."
" Jangan pernah ada dendam diantara kita ya pak."
" Karena kita pernah punya rasa yang sama saat ini."
" Huuuuh..." Jani membuang nafasnya perlahan, dia berusaha untuk tidak menangis didepan Samuel.
" Kita pasti bisa hidup bahagia kan pak?"
" Walau harus hidup masing-masing?" Air mata yang dia bendung pun menetes juga.
Cup
Jani meninggalkan kecupan di kening Samuel, bahkan air matanya pun tertinggal disana.
" Saat bapak terbangun nanti, mungkin kita tidak bisa sedekat ini?"
" Namun setidaknya, aku bisa melihat mata indah bapak, yang selalu membuatku kesal namun juga Rindu.."
" Bukan aku tidak mau mempertahankan bapak, tapi aku tidak bisa, aku tidak kuasa pak, hiks.. hiks.."
" Tidurlah pak... tapi berjanjilah..."
" Besok bapak harus bangun okey?"
__ADS_1
Jani meletakkan kepalanya disamping Samuel dan memeluk lengan kokohnya, hingga tanpa terasa dia terlelap sampai fajar menjelang.
" Jan.. Jani.." Niar membangunkan Jani saat waktu menunjukkan hampir Subuh.
" Pak Sam?" Jani bangun dengan tergagap, dia fikir Sam yang membangunkan dirinya ternyata Niar.
" Jan.. eluu harus pulang sekarang juga."
" Sebelum ibuk dan Bromo terbangun." Niar mengusap bahu sahabatnya yang terlihat lemas itu.
" Tapi pak Sam belum bangun Niar?"
" Kenapa dia lama sekali sadarnya?"
" Biasanya aku peluk juga sudah sembuh dia."
" Gimana kalau dia nggak bangun-bangun Niar?"
" Atau saat aku pulang nanti, dia malah ninggalin aku, hiks.. hiks.." Jani kembali memeluk Samuel seakan tidak rela meninggalkan dia pergi.
" Begini saja, kamu pulang dulu saja sekarang."
" Nanti kalau sudah agak siangan, aku jemput kamu kerumah nenek."
" Kita bilang ke ibuk kalau ada tugas kampus yang harus diselesaikan."
" Tapi sekarang kamu harus tetap pulang, kalau tidak ibuk dan Bromo bisa curiga."
" Kalau sampai kamu ketahuan, akan sangat sulit untuk kamu menemui pak Sam lagi, okey?"
" Sekarang kamu pulang ya, dokter Marvin sudah menunggumu di mobil."
" Cepat, keburu ibu bangun." Niar menarik lengan Jani yang seolah tidak ingin beranjak pergi.
" Kamu jangan pulang dulu ya?"
" Terus kabarin aku kondisi terkini, okey?"
" Tolong jagain dia." Jani memeluk sahabatnya sebentar.
" Hmm.."
" Jangan risau, rumah suamimu ini sudah seperti rumah sakit."
" Bahkan dia seperti pasien eksklusif, pasiennya cuma satu, dokternya sepuluh."
" Dia pasti akan baik-baik saja."
" Tenanglah." Niar menemani Jani sampai dia masuk kedalam mobil.
" Jangan coba pegang-pegang Samuel kalau aku nggak ada!" Ucap Marvin melotot kearah Niar.
" Apaan sih pak?" Niar juga ikut memelototi Marvin yang bicara sembarangan.
" Tadi saat Samuel pingsan, kamu pegang-pegang tangan dan da danya kan?" Marvin mengingat saat Samuel histeris dan tiba-tiba tidak sadarkan diri tadi, Niar memegang kedua tangan Samuel bahkan memegang da da Samuel juga.
" Itu tadi aku ngecek denyut nadi sama jantung pak Sam!"
" Masih berdetak atau tidak."
" Jangan salah sangka, aku nggak ada maksud apa-apa lho Jan?"
" Dokter Marvin itu yang lebay!" Niar bahkan ingin sekali memcabik-cabik mulut Marvin yang ngomong sembarangan.
" Hmm.." Jani melempar pandangannya kesembarang arah.
" Bahkan aku berharap, kamu bisa ada hubungan apa-apa dengan dia."
" Jadi, suatu saat nanti aku bisa tenang melepasnya."
" Karena dia berada didekat orang baik seperti kalian berdua." Ucap Jani dengan senyum kepedihan.
" Kamu ini ngomong apa sih Jan!"
" Jangan ngelantur deh!" Niar memukul lengan Jani yang asal bicara.
" Maksud kamu Niar punya hubungan sama Samuel?"
" Nggak... nggak akan pernah!" Ucap Marvin langsung terlihat kesal.
" Kenapa?" Jani melirik kearah Marvin sekilas.
" Ya karena... emm..."
" Karena aku bisa menjaganya sendiri walau tanpa dia!" Marvin melotot kearah Niar dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
" Dasar dokter gendheng!" Teriak Niar, entah mengapa akhir-akhir ini, Marvin selalu saja bertingkah aneh, kadang manis, kadang ngegemesin namun lebih seringnya menjengkelkan, dan selalu saja membuat Niar kesal.
..."Bukan masalah memaafkan, tapi menghilangkan bekas luka tidak cukup dengan kata maaf."...
... "Namun jangan biarkan kejadian dalam hidup menjatuhkanmu. Dan, jangan mengeluh. Kamu bisa saja kecewa, tak apa, tapi jangan kehilangan semangat karena kejadian dalam hidup. Katakan saja "Itulah hidup."...
__ADS_1