
...Happy Reading...
Sejatinya setiap manusia memiliki cinta dan tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Akan tetapi cinta memiliki sifat yang mudah berubah. Hanya ketulusan, rasa menghargai dan kejujuran diyakini kunci dari cinta yang awet.
Karena Cinta yang sesungguhnya adalah ketika kamu menitikkan airmata dan kamu masih peduli padanya.
Benar saja, hari ini Jani tidak jadi berangkat kuliah, jangankan pergi ke kampus, pergi ke toilet saja, diawasi oleh Samuel walau dengan tubuh yang masih terlihat lemas. Akhirnya Niar tadi pun berangkat ke kampus hanya diantarkan oleh Marvin.
" Pak.. mau kemana?" Jani langsung berjalan cepat ke arah suaminya, takut terjadi apa-apa dengannya.
" Bapak baru bangun lho dari koma?"
" Jangan banyak bergerak dulu?"
" Istirahat saja, rebahan gitu, mau ngapain sih?" Jani terkejut saat melihat Samuel mencoba duduk sendiri di ranjang saat dia baru saja keluar dari kamar mandi tadi.
" Aku mau mencarimu yank?" Ucap Samuel lirih, dia sempat curiga saat Jani lama berada di dalam kamar mandi.
" Astaga... aku cuma ke kamar mandi saja pak?"
" Ngapain dicari sih, apa bapak membutuhkan sesuatu?" Tanya Jani langsung membantu Samuel untuk rebahan kembali.
" Hmm.. aku kira kamu mau ninggalin aku pergi?" Hati Samuel selalu saja was-was saat ini.
" Jangan panggil aku bapak kenapa yank?" Dia menatap kesal wajah istrinya, kenapa dia tidak ada romantis-romantisnya seperti para wanita yang dulu mendekatinya.
" Nanti orang kira aku ini bapakmu?"
" Kamu kan bukan karyawan ku lagi." Samuel langsung menarik istrinya ke dalam pelukan.
" Kita ini sudah menikah lho, apa kamu lupa?" Dia kembali melonggarkan pelukannya, seolah ada perasaan takut kehilangan saat wanita yang dicintainya tidak bersikap manis dengannya, walau sebenarnya itu bukan sebuah jaminan awetnya suatu hubungan.
" Panggil yang mesra kenapa?" Samuel memeluk tubuh Jani kembali dengan erat, seolah menemukan kedamaian dan ketentraman disana.
" Jadi mau dipanggil apa pak?" Tanya Jani sambil menghela nafas, dia sudah terbiasa sabar bahkan sabarnya seolah seluas samudera untuk menghadapi suaminya, bahkan sebelum dia menjadi suaminya dulu pun begitu, kesabaran seorang Rinjani sudah teruji.
" Tuh kan, pak lagi?"
" Yang mesra lah, yang manis gitu bisa nggak?"
" Kamu kayak yang terpaksa banget menikah sama aku?" Protes Samuel, walaupun dia duluan yang merasakan getaran-getaran cinta, namun Samuel tidak pernah memaksa Jani untuk menikah dengannya, dia hanya memanfaatkan kesempatan emas yang ada saja saat itu.
" Emm... apa ya enaknya?" Jani mengusap lembut kepala Samuel yang menempel ditubuhnya sambil berfikir, panggilan apa yang tepat untuk suaminya.
Kalau aku panggil sayang, yaa kalau tetap bisa bersama dengannya selamanya, kalau ibu tetap menginginkan aku berpisah dengannya bagaimana? kalau mas.. sama juga, nanti kalau berpisah canggung juga jadinya, arghhh... Ya Tuhan.. tolong jangan pisahkan kami.
" Lama banget mikirnya?"
" Kamu sudah nggak sayang lagi sama aku ya?" Saat Samuel tahu dirinya lah yang menabrak ayah kandung dari istrinya bahkan sampai meninggal, dia jadi lebih sensitif dan merasa rendah diri didepan wanita yang sangat dia cintai ini.
" Emm.. kalau kak saja gimana?" Tanya Jani menemukan panggilan yang menurutnya paling pas.
" Kok kakak sih?"
" Mana ada orang manggil suaminya kakak, emang aku ini kakakmu apa!" Samuel langsung memundurkan tubuhnya sambil membuang pandangan ke sembarang tempat.
" Eeh... bagus malah, lebih kelihatan mesra gitu?"
" Banyak kok temenku yang manggil suaminya kak."
" Jadi kelihatan sweet gitu?" Ucap Jani beralasan, padahal entah temennya yang mana, dia pun tak tahu, dia cuma asal saja biar Samuel menyetujuinya.
" Masak?" Samuel melirik kearah Jani yang tersenyum, dia begitu bahagia akhirnya bisa melihat senyuman itu lagi, bahkan saat sebelum dia drop, pikirannya sudah melayang entah kemana karena takut kehilangan sosok perempuan yang sekarang ada dihadapannya.
__ADS_1
Aku janji sayang, aku akan menebus segala kesalahanku dimasa lalu dengan membuatmu selalu tersenyum denganku, apapun akan aku lakukan agar keluargamu dapat menerima kehadiranku kembali..
" Kalau begitu kita makan yuk kak?"
" Aku udah laper, bibi sudah masak banyak tadi dibawah."
" Enak-enak lagi." Ucap Jani yang memang sudah kelaparan sedari tadi.
" Hmm.." Samuel tersenyum sambil mengganguk.
" Tapi aku pengen makan ditaman yank, pengen menghirup udara luar." Ucap Samuel yang rindu akan hangatnya sinar mentari di siang hari.
" Okey kak, aku ambilin kursi roda dulu ya?" Jani langsung mengambil kursi roda yang sudah Marvin siapkan, karena kondisi Samuel yang masih lemah karena koma dalam beberapa hari ini.
" Di teras aja ya kak, terik banget diluar."
" Makan dulu ya?" Jani langsung memutar kursi Samuel untuk menghadap kearahnya.
" Kok bubur lagi sih?"
" Katanya masak banyak, enak-enak?"
" Aku mau kayak punyamu itu yank?" Samuel menunjuk ayam bakar dipiring Jani.
" Nggak boleh kak, usus kakak itu masih lemah."
" Lama nggak dipakai buat mencerna makanan."
" Besok kalau sudah beberapa hari baru boleh, okey?" Jani tetap menyuapkan bubur ke dalam mulut suaminya.
" Ckkk." Walau dengan wajah ditekuk akhirnya dia melahap juga bubur itu dengan pasrah.
Tulilut.. tulilut... Ponsel Jani berbunyi.
Ibuk is calling...
" Bentar ya kak, aku angkat telpon sebentar." Jani langsung berlari menjauh darinya.
" Janiiii..." Teriak Samuel namun tidak digubris oleh Jani.
" Kenapa mesti menjauh dariku?" Dia langsung memasang tampang siaga tiga.
" Siapa yang menelponnya?" Samuel dengan tergesa-gesa menjalankan kursi rodanya sendiri, alhasil karena didepan terasnya ada tanjakan yang cukup tinggi, kursi roda Samuel meluncur bebas kebawah.
" Arrgghh.." Teriak Samuel saat kakinya terkena timpahan kursi roda.
" Astaga kaaaakkk!" Teriak Jani langsung berlari saat melihat Samuel jatuh ke lantai bahkan tertimpa kursi rodanya.
" Sayaaaaangggg." Rintih Samuel yang sengaja mengeraskan suaranya.
" Astaga!" Jani langsung menutup sambungan telponnya.
Haduuuuh... ibuk dengar nggak ya tadi kak Sam panggil gw sayang? argggh... kacau ini kacauuu..!
" Aw... aw..." Samuel pura-pura kesakitan saat melihat lengannya sedikit lecet karena terkena benturan lantai, padahal sakitnya tidak seberapa, hanya saja dia ingin mencari perhatian istrinya saja.
" Mana yang sakit?" Jani langsung meniup luka Samuel yang sedikit berdarah itu.
" Kita masuk yuk, aku obatin nanti." Jani langsung membantu Samuel kembali duduk di kursinya.
" Nggak mau!" Tolak Samuel tetap berpura-pura merajuk.
" Ini berdarah kak, nanti bisa infeksi kalau nggak dibersihin."
__ADS_1
" Bukannya dulu kakak itu Mr. higienis?" Jani mengingat awal mula perjumpaan mereka.
" Siapa yang telpon tadi?"
" Kenapa harus menjauh dariku?"
" Kenapa aku tidak boleh mendengarnya?"
" Kamu merahasiakan sesuatu dariku?"
" Atau kamu sedang mendekati seseorang saat aku sedang koma dalam beberapa hari ini?" Beberapa pertanyaan langsung Samuel lontarkan dengan sadis.
" Bukan begitu kak?"
" Nggak ada pria lain, itu tadi emm..." Jani masih ragu ingin mengatakannya, dia takut penyakit Samuel kambuh lagi.
" Apa, siapa?" Samuel seolah tidak sabar ingin mendengarnya.
" Kak." Jani berjongkok didepan Samuel yang sudah duduk di kursi rodanya.
" Tolong jangan marah ya?" Jani mengenggam kedua tangan suaminya.
" Emang siapa yang menelpon tadi?" Samuel semakin penasaran dibuatnya.
" Jelas aku marah lah kalau kamu diam-diam telponan sama orang lain dibelakang aku!" Ucap Samuel tetap tidak terima.
" Itu tadi emm.." Jani menatap mata suaminya, dia mencoba melihat akankah ada tanda-tanda dia akan kumat pikirnya.
" Jangan coba-coba membohongiku!" Celah Samuel dengan tatapan curiga.
" Kak... tadi yang nelpon itu ibuk." Ucap Jani sambil menghela nafas perlahan, jangankan menghubungi pria idaman lain, memikirkan satu pria saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling, saat koma bikin dia khawatir, saat terbangun suaranya bahkan sudah seperti kehabisan token listrik saja.
Degh!
Jantung Samuel seolah berhenti berdetak saat mendengarnya, dia pun masih belum punya rencana apa-apa untuk melunakkan hati mertuanya itu. Dia paham dengan benar bagaimana rasanya kehilangan seseorang, karena dia juga pernah merasakan kehilangan seorang kakak yang selalu ada untuknya, bahkan menggantikan sosok ibunya sendiri.
" Sayang... kamu sudah janji ya sama aku?"
" Jangan pernah ninggalin aku apapun yang terjadi." Samuel menatap sendu wajah istrinya, dia seolah tahu apa yang akan terjadi nantinya.
Kapan aku berjanji kak? aku tidak berani menjanjikan apapun sekarang, aku cuma berusaha untuk mempertahankan hubungan kita sebisa mungkin dan yang paling penting, aku hanya ingin melihat kamu sehat dan bisa beraktifitas seperti biasanya saja kak.. walau tidak bisa dipungkiri, hati ini sudah menjadi milikmu seorang..
" Sayang." Samuel menarik jemarinya dari genggaman Jani dan mulai mengusap rambut hitam Jani yang terurai panjang.
" Hmm.." Jani sekarang bahkan tidak berani menatap wajah suaminya kembali.
" Apa aku salah, jika aku menyayangimu?"
" Apa aku berdosa, jika aku mencintaimu?"
" Apa aku patut dihukum, jika ingin selalu bersamamu?" Air mata yang jarang dia keluarkan untuk seorang wanita akhirnya meleleh juga, entah sejak kapan rasa cintanya begitu mendalam seperti ini dengan Rinjani.
" Kak.. aku-----" Suara Jani terputus begitu saja.
" RINJANI MAHESWARI."
" Apa yang kamu lakukan disana!"
" Berani-beraninya kamu menemui pria itu lagi!"
Terdengar suara lengkingan yang sangat Jani kenali, entah mengapa ibunya sudah ada didepan sana, bahkan dia tidak mau masuk kedalam, hanya berteriak dari luar gerbang saja, sepertinya beliau memang sengaja mencari dirinya, karena belum lama juga mereka berbicara lewat telepon menanyakan keberadaan dirinya, walau tadi dia berhasil berbohong, namun mungkin ibuk mendengar ada orang yang memanggilnya sayang tadi, jadi ibuk pasti sudah menduga jika putrinya berada ditempat orang yang menyebabkan kematian ayahnya, walau sesungguhnya, memang karena takdirlah semua ini terjadi.
Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak mengubahnya gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya akan mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dirinya.
__ADS_1
..."Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. Kisah silam tidak perlu diungkit lagi jika kamu mencintainya dengan sepenuh hati."...
..."Cinta diciptakan untuk mendatangkan kesempurnaan bagi manusia. Karena Cinta tidak pernah meminta, cinta senantiasa selalu memberi, dimana ada cinta disitu ada kehidupan."...