CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
71. Ibadah


__ADS_3

...Happy Reading...


Alam tak hanya sekadar obat yang mampu menghilangkan setiap kesedihan atas luka hati, namun ia juga mampu memberikan kesejukan sepanjang masa.


Siang ini mobil Samuel menyusuri jalan yang rindang, daun-daun yang berguguran, juga pohon-pohon yang tertata rapi sepanjang jalan menuju sebuah Villa di atas bukit yang sudah Samuel booking kemarin.


" Woaaah... kita ke puncak kak?" Sorot kebahagiaan sangat terlihat dari pancaran wajah Jani, setelah berbagai masalah yang datang setelah hari pernikahannya, suasana puncak yang tenang seperti ini sangat menghiburnya.


" Sudah lama sekali aku nggak pernah pergi ke puncak lagi?" Jani sedari tadi menghadap jendela, menikmati udara segar dengan membuka kaca mobilnya.


" Memang kamu pernah ke puncak?"


" Dengan siapa?"


" Laki-laki atau perempuan?" Rentetan pertanyaan langsung keluar begitu saja saat mendengar kata puncak, karena fikirannya sudah melayang ke hal-hal yang negatif, karena puncak identik dengan tempat bermesraan dengan pasangan.


" Cowok dong?"


Cekiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttt!


Samuel langsung mengerem mobilnya secara mendadak, untung jalanan sepi kalau tidak pasti sudah terjadi kecelakaan beruntun karena ulahnya.


" Astaga kakak!"


" Jantungku hampir saja copot!


" Ada apa sih?" Jani langsung mengusap da danya, tubuhnya terlihat gemetaran karena terkejut.


" Cowok yang mana? cowok siapa?" Dia langsung melepas seat bealtnya dan memandang tajam ke arah istrinya.


" Ya ampun kakak?"


" Kirain ada apa? ya cowok temen sekolahlah, ceweknya juga ada."


" Makanya jangan menyimpulkan sesuatu sebelum orang selesai bicara."


" Orang ke puncak karena ada kegiatan camping kok."


" Masak iya camping sendirian?" Jani langsung melongo, saat melihat tatapan Samuel.


" O.."


Hanya satu huruf yang keluar dari mulut Samuel, dia langsung kembali memakai seat bealtnya dan melajukan kembali mobilnya.


" Astaga kak, entah apa yang kamu pikirkan?" Jani hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd suaminya.


Akhirnya mereka berdua sampai di sebuah Villa cantik yang terdiri dari dua lantai, yang dikelilingi pepohonan rindang yang menyejukkan pandangan.


" Emm... kita mau makan siang apa yank?" Samuel langsung memeluk tubuh Jani dari belakang, saat mereka sedang menikmati pemandangan alam dari balkon Villa.


" Apa saja, yang penting sama kakak, hehe.." Entah mengapa Jani ingin sekali menggoda suaminya, semenjak dekat dengan Samuel dia sudah jarang gila-gilaan lagi, padahal dulu saat dia jalan dengan Niar selalu saja bocor kalau sudah bercanda, bahkan juragan bakso saja sampai tergila-gila dengannya.


" Aaaaaaa... sayang." Jarang-jarang Jani mau berbicara mesra seperti ini dengan dirinya.

__ADS_1


" Kalau begitu kita ngemil dulu yuk?" Samuel langsung memiringkan wajahnya ingin langsung mencicipi bi bir mungil istrinya.


" Aku mau mandi dulu, gerah ini kak." Jani langsung mendorong tubuh Samuel."


" Yank?"


" Iya... aku mandi sebentar saja." Jani langsung berlalu masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Samuel yang langsung merenung ditempat.


Hurm... bagaimana caranya aku meminta tanpa harus memaksa ya? aku sudah berjanji ingin menunggunya, namun si dedek sudah nggak bisa menunggu terlalu lama lagi, dia sudah ngebet pengen mandi-mandi ditempatnya.


" Kak, mandilah dulu biar aku siapin makan siangnya."


Jani sempat melihat isi dalam kulkas tadi, ternyata banyak makanan didalamnya, karena Samuel memang sudah menyiapkan segalanya dari kemarin.


" Janiiii..." Panggil Samuel dengan suara perlahan.


" Kak?"


" Kakak kenapa?" Jani langsung melempar handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


" Jani peluk aku... peluk aku?" Samuel terbaring diranjang dengan lunglai.


Astaga... apa kak Sam kambuh lagi ya? tapi kenapa? sepertinya tadi tidak terjadi apa-apa? masak cuma ditinggal mandi penyakitnya langsung kambuh?


" Kakak bawa obat nggak?" Bukannya memeluk, Jani malah terlihat bingung sendiri dan mencari-cari obat disaku jacket yang suaminya pakai tadi.


" Sayang... peluk aku!" Samuel gemas sendiri, padahal dia cuma drama saja agar dipeluk oleh istrinya, agendanya hari ini dia hanya ingin bermanja-manja ria dengan istrinya tanpa ada gangguan dari siapapun.


" Tunggu... aku cari obat dulu."


" Aku telpon dokter Marvin ya, biar dia mengantarkan obat kakak kesini." Jani langsung mencari ponselnya, karena panik dia jadi lupa meletaknya dimana.


" JANGAN!" Teriak Samuel langsung bangun dari tidurnya.


Semangat banget? kelihatan sehat kok? tapi kenapa minta dipeluk?


Jani langsung berjalan mendekat kearah suaminya dengan tatapan menyelidik.


" Hehe... aku cuma minta dipeluk saja."


" Bukan karena sakit yank." Samuel memamerkan barisan gigi putihnya saat Jani menjelingkan kedua matanya.


" Kakak?"


" Jangan bikin aku takut dong!" Akhirnya Jani melotot kearah suaminya.


" Haha." Samuel langsung menarik tangan Jani dan membantingnya diatas kasur, dengan satu kali tarikan saja dia sudah berada dibawah kungkungan tubuh kekar Samuel.


" Kalau dibikin enak mau nggak?" Samuel langsung menghujani civman diseluruh wajah istrinya.


" Kakak!"


" Mandi dulu sana, aku juga laper!"

__ADS_1


" Tadi pagi cuma sarapan roti, itupun dimakan kakak separuh." Jani berusaha mendorong tubuh Samuel agar menyingkir dari tubuhnya.


" Bentaran doang yank." Samuel tetap tidak beranjak dari posisinya.


" Kata pak ustad nggak boleh menyiksa istri lo kak, dosa tauk." Ucap Jani sok bijak.


" Emang siapa yang menyiksa, orang aku mau ngasih kenik matan juga." Dia tidak habis pikir, kenapa istrinya bisa berkata seperti itu.


Haduh... gimana ini, sepertinya kakak mau menyerangku? aku harus bagaimana? apa aku harus menyerahkan semuanya hari ini? Aaaaaa... tapi aku belum melakukan persiapan sama sekali? harus gimana gayanya? harus seperti apa dong? sekarang baru menyesal, kenapa dulu aku nggak mau saat diajak nonton film plvs-plvs sama si Niar.


" Hmm... tapi aku lapar kak?"


" Masak nggak boleh makan?"


" Apa bukan penyiksaan ini namanya?" Jani membuang pandangan saat mata Samuel seolah menusuk tajam kearahnya.


" Ckk.."


" Ya sudah.. sana buat spagetti saja yang cepet."


" Bumbunya tinggal manasin saja, sudah disiapkan semua sama pemilik Villanya di kulkas."


" Aku mandi dulu." Samuel langsung berlalu ke kamar mandi dengan penuh kekecewaan karena gagal mencicipi hidangan pembuka.


Habis deh gw hari ini, kenapa pula aku menyetujui liburan berdua kemarin? aaaaa... apa aku harus browsing dulu kali ya? lihat di internet gitu, tapi judulnya apa dong?


Bukannya merebus mie spagetti, Jani malah terlihat mondar-mandir di dapur sambil memegang ponselnya, mau tanya sama Niar gengsi dong, bisa-bisa malah kena bully nanti dia.


" Laaah... bodo amatlah!"


" Pasrah aja dah gua, yang penting makan yang banyak biar kuat menghadapi serangan dadakan nanti."


Jani bahkan merebus empat porsi spagetti, agar perutnya tidak keroncongan nantinya, dia sudah tidak memikirkan sesuatu yang berharga lagi, karena akhir-akhir ini Samuel selalu membuatnya kagum dan semakin memperdalam rasa cintanya, sehingga dia tidak terlalu pusing memikirkan garis pertahanannya, walau ibunya belum bisa merestui hubungan mereka, asalkan dia tidak melanggar norma agama itu sudah cukup, karena memang sudah saatnya dia melaksanakan kewajiban lahir dan batin untuk suaminya.


" Sayang... banyak banget mienya?" Samuel melihat dua porsi spagetti yang harumnya sudah semerbak memenuhi dapur.


" Porsi jumbo, biar kekuatannya bisa full tank!" Ucap jani tanpa sadar.


" Eherrmm... apa kamu sudah siap?" Entah mengapa pikiran Samuel langsung terarah kesana.


" Apaan sih kak?"


" Ayok makan, aku sudah lapar." Jani langsung duduk disebelah Samuel.


" Duduk sini." Samuel memukul kedua kakinya perlahan.


" Kak, aku mau makan dulu?" Jani sudah paham isyarat dari suaminya.


" Siapa yang melarangmu makan?"


" Aku cuma menyuruhmu pindah tempat duduk saja kok?" Samuel tersenyum tipis melihat wajah istrinya yang langsung cemberut.


Kayak nggak tahu aja, kakak pasti punya niat terselubung ini, aarghh... ibadah Jan... ibadah... biar kelak kamu masuk Surga.

__ADS_1


Jangan pernah biarkan rasa cinta dan mahligai rumah tangga yang telah dibina, dihancurkan oleh permasalahan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin serta berdiskusi bersama.


... "Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah istri yang salihah."...


__ADS_2