CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
70. Sah rasa Backstreet


__ADS_3

...Happy Reading...


Akhir pekan yang ditunggu-tunggu oleh Samuel akhirnya datang juga, sesuai perjanjian yang telah mereka sepakati jika Samuel bisa membantu merevisi skripsi Jani sampai selesai, mereka akan liburan bersama.


Namun Samuel tidak bisa membawa Rinjani berlibur ke luar negri, karena dia tidak mungkin meninggalkan Yoyo sendirian dirumah hanya dengan babysitter saja, kalau mau diajak nanti misinya bisa gagal total, jadi akhirnya Samuel hanya akan pergi satu hari satu malam saja.


" Hallo sayang.. udah siap belom?" Tanya Samuel saat menghubungi istrinya.


" Udah.. sebentar lagi berangkat kok." Ucap Jani sambil kelabakan mencari baju, padahal dia belum siap sama sekali, tadi pagi dia bangun terlambat karena bergadang mempersiapkan semua bahan untuk sidang skripsi senin depan, dia takut besok pulang dari liburan kecapekkan.


" Aku jemput ya?" Ucap Samuel dengan santainya.


" Jangan... jangan kak!" Jani langsung menolak.


Apa-apaan pake jemput segala, ketahuan ibuk bisa habis wajah kakak kena pukulan panci, mana kemarin ibuk baru beli satu set panci model terbaru lagi..


" Kenapa?"


" Dijemput suami sendiri kok nggak boleh, daripada bolak balik yank."


" Tempat liburan kita satu arah dengan rumahmu?" Ucap Samuel yang tetep kekeh ingin menjemput, karena dia berencana menyopir sendiri tanpa sopir, agar setiap detik perjalanannya kali ini hanya dia habiskan berdua dengan sang istri saja.


" Ibu masih dirumah kak?"


" Aku lagi males berdebat pagi-pagi."


" Apalagi harus berantem sama ibuk, malu didengerin sama tetangga nanti." Ucap Jani yang sudah membayangkan ibunya ngomel tiada henti.


" Tenang saja, sebelum aku sampai kerumahmu pasti ibu sudah pergi ke toko kuenya." Samuel tersenyum penuh percaya diri, pasalnya dia sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk memberikan bonus tambahan untuk para karyawan di perusahaannya dengan syarat hari ini harus membeli kue ditempat ibu mertuanya, dengan begitu sudah pasti toko akan ramai pengunjung dan perjalanan bersama Jani tidak akan ada gangguan.


" Ckk.. yakin banget, tau dari mana bapak?" Tanya Jani heran.


" Jani... Jani... ibu mau berangkat ke toko sekarang ya?" Baru saja diomongin, suara ibu Jani langsung terdengar sampai ke dalam kamar.


" Hah?"


" Iya buk.. tumben pagi-pagi kesana?" Tanya Jani yang langsung menutup ponselnya.


" Karyawan toko kuwalahan, katanya ramai sekali pengunjung hari ini!"


" Kalau mau sarapan beli saja di warung depan ya?"


" Bromo juga sudah pergi, ntah kemana!"


" Ibu pergi yaa..!" Teriak ibu Jani terdengar buru-buru.


" Iya buk, hati-hati ya?"


" Jani nggak pulang malam ini, mau lembur ngerjain tugas buk!" Ucap Jani sambil memejamkan matanya, karena harus kembali berbohong dengan ibunya.


" Iya... jaga kesehatan, jangan lupa makan." Jawab Ibu yang langsung tidak terdengar lagi suaranya.


" Hmm... maaf ya buk, aku harus bohong lagi?"


" Ciiihh... ini pasti kerjaan suami tampan gw itu."


" Walau akhir pekan, biasanya juga sore hari ramainya, ini masih pagi masak toko sudah ramai."


" Haiss... uang terkadang memang bisa menyelesaikan segalanya." Jani kembali melanjutkan untuk bersiap-siap dengan mulut masih ngedumel, namun hatinya sedikit lega sebenarnya, setidaknya dia bisa menghabiskan waktu bersama suaminya disiang hari tanpa perasaan was-was lagi.


Selang beberapa waktu, terdengar suara ketukan dari pintu rumahnya.


" Iya... sebentar." Jani berlari membukakan pintu sambil menggigit sebuah roti di mulutnya, karena tangannya masih asyik mengancingkan kemeja yang dia pakai.


" Kakak?" Jani melotot dengan suara samar karena terhalang kue dimulutnya.


Tanpa menoleh kanan kiri dan melihat situasi Samuel langsung menyambar saja kue di bi bir istrinya.


" Hmmph.."


" Enak yank, kue buatan ibuk ya?" Tanya Samuel dengan santainya sambil mengunyah roti tadi.


" Kakak iih, kebiasaan deh."


" Kalau dilihat orang kan malu." Jani memukul lengan suaminya, namun Samuel seolah cuek-cuek saja.


" Ya sudah, ayok berangkat."


" Aku sudah siap kok." Ucap Jani yang sudah membawa tas miliknya.


" Nggak disuruh masuk dulu yank?"


" Biasanya kalau suami datang kerumah mertua kan disuruh masuk dulu."


" Dibuatin kopi, cemilan atau apa gitu?"


" Pengen juga kayak yang lainnya, kalau kayak gini bukannya terlihat menyedihkan yank?" Samuel menatap wajah Jani dengan tampang seolah-olah dia sedang tersakiti.


" Hmm... bukannya jalan-jalan berdua lebih menyenangkan?"


" Ngapain harus mikirin yang menyedihkan?" Jani seolah tidak ingin membuat hati Samuel semakin terbebani dengan keadaan.


" Iya juga sih?"


" Aku juga sudah nggak sabar mau emm----" Samuel menghentikan ucapannya, dia segera merangkul tubuh istrinya menuju mobilnya.


" Mau apa?"


" Mau jalan-jalanlah, ngapain lagi." Ucap Samuel yang sudah menyewa sebuah Villa disebuah bukit yang hening dan menyejukkan.


" Ayo masuk, kita berangkat sekarang." Samuel mengajak istrinya masuk kedalam mobil.


" Yoyo nggak ikut kak?"


" Kangen banget sama tu bocah?" Jani tersenyum saat mengingat tingkah gemas bocah berambut bergelombamg itu.


" Khusus hari ini, kamu hanya boleh kangen sama daddynya saja."


" Yoyo sudah aku pastikan aman dirumah." Ucap Samuel yang seolah iri dengan putranya kesayangannya.

__ADS_1


" Ciiih... apa sih kak, kirain dia ikut tadi?"


" Eeh... ponselku mana kak?" Jani memeriksa tas dan saku celananya namun tidak ada.


" Emang kamu taruh dimana tadi?" Samuel menyangga kepalanya dengan tangan digagang setir sambil memandang wajah cantik istrinya.


" Astaga.."


" Masih dimeja kamar, aku ambil sebentar ya kak?" Jani langsung membuka pintu mobil dan berlari kedalam rumah.


Saat ingin menutup pintu pagar rumahnya, sebuah taksi terhenti tepat didepannya dan saat dia melihat sosok wanita yang keluar dari taksi itu seolah jantung Jani berhenti berdetak, dunia seolah berhenti berputar dari porosnya.


" Mau kemana kamu?" Teriak Ibu Jani setelah membayar ongkos dan keluar dari taksi.


" Eh.. hehe ibuk?"


" Aku mau berangkat ngerjain tugas ini." Jani melirik mobil Samuel yang masih terhenti disana.


" Mana Niar?"


" Dia nggak ikut denganmu?" Ibu Jani mengedarkan pandangan kearah jalan.


" Mobil siapa itu?" Mata ibu Jani terhenti pada sebuah mobil mewah dibelakang sebuah taksi yang parkir ditepi jalan.


" Hah?"


" Emm... nggak tahu buk, nggak kenal juga kok."


" Aku pesen taksi online yang itu." Jani asal saja menunjuk taksi didepan mobil suaminya, untung saja ada sebuah taksi yang parkir disana, padahal sebelumnya tidak pernah ada taksi yang menunggu penumpang disana.


" Tunggu... tunggu, aku kayak pernah lihat itu mobil?" Ucap Ibu Jani sambil berjalan mendekat kearah mobil Samuel.


" Owh... nggak mungkinlah."


" Itu mobil tetangga kita kali buk."


" Sepertinya numpang parkir saja didepan sana." Jantung Jani sudah berdebar dengan hebatnya, dia sendiri malah yang ketakutan.


" Bukanlah, itu kayak mobilnya, eem..." Otak Ibu Jani seolah berpikir keras untuk mengingatnya.


" Platnya mobilnya itu lho, ibu kayak sering lihat lho?" Karena memang plat mobil Samuel dipesan kusus dengan nomor yang cantik, jadi mudah dihafal.


" Argh... ibu salah lihat kali." Jani mencoba mengalihkan perhatian ibunya.


" Jangan-jangan punya----"


" Arghh... mobil si pria itu!" Ibu Jani langsung menyingsingkan lengan bajunya kanan kiri dan melangkahkan kakinya seolah ingin maju perang.


" Ibuk... ibuk... jangan buk!" Teriak Jani langsung mengejar ibunya.


Argh... perang ini nanti, gatot deh acara liburan gw?


Brak.. brak.. brak..


Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, ibu Jani menggebrak mobil mewah yang berharga ratusan juta rupiah itu tanpa takut lecet apalagi rusak.


" Keluar kamu sekarang juga?"


" Masih berani kamu menunjukkan batang hidungmu itu!" Akhirnya ibu Jani meralat kembali ucapannya.


" Ibuk?"


" Jangan begini buk?"


" Malu nanti dilihat tetangga." Jani menarik-narik lengan ibunya yang seolah emosi jiwanya sudah keluar semua.


" Ibu nggak perduli!" Dia mengibaskan tangan Jani yang menariknya sedari tadi.


" Keluar nggak kamu sekarang, atau aku pecahkan kaca mobilmu ini!" Teriak ibu Jani sambil terus menggebrak pintu mobil Samuel.


" Iya buk?"


" Ada yang bisa saya bantu?"


Akhirnya penghuni mobil keluar dengan santainya, malah sambil tersenyum tanpa rasa takut sama sekali.


" HEH?" Bukan hanya ibu Jani, dia sendiripun terkejut saat seorang pria paruh baya keluar dari mobil mewah Samuel dan menyapa mereka.


" Mana.. mana bosmu!"


" Suruh keluar sekarang juga!" Ibu Jani tetap tidak percaya.


" Bos siapa maksud ibu?" Tanya pria itu kembali dengan tenang.


" Buka pintu belakang!" Teriak ibu Jani.


" Silahkan, saya sendirian kok buk."


" Tidak ada siapa-siapa dikursi belakang." Pria itu membukakan pintu belakang.


" Apa ibuk mau lihat bagasinya juga?" Dia melihat masih ada tatapan curiga di wajah ibu Jani, jadi sekalian saja dia memperlihatkan semuanya.


" Lihatlah... kosong... kosong..." Bahkan dia seperti orang yang sedang mempraktekkan atraksi sulap.


" Pfffttthh." Jani menahan senyumannya saat melihat ibunya jadi salah tingkah karena menahan rasa malu.


" Ibuk sih, dibilangin nggak percaya, malu sendiri kan jadinya?" Jani malah menggoda ibunya.


" Owh ya... maaf ya pak."


" Saya kira tadi menantu saya?" Ibu Jani menundukkan kepalanya kearah pria paruh baya tadi.


" Eherrmm... ibu sudah mengakui pak Sam sebagai menantu?"


" Aaaaaaa... terima kasih, ibukku tersayang." Jani seolah mendapat jackpot hari ini, walau dia tau ibunya berucap tanpa sengaja karena menahan rasa malu.


" Dalam mimpimu!" Ibu Jani langsung melengos dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah saat pria tadi kembali masuk mobil dan berlalu dari hadapan mereka.


" Haisssh... walau keceplosan, tapi hati ini adem saat ibuk bilang dia menantu saya, hihi.." Jani akhirnya bisa tersenyum lega.

__ADS_1


Tin.. tin..


Terdengar suara klakson dari taksi yang masih parkir didekat mobil Samuel tadi.


" Taksi neng?" Teriaknya sambil membuka kaca mobilnya sedikit.


" Owh... iya bang." Jani langsung berlari dan masuk kedalam taksi.


" Sesuai aplikasi ya neng?" Ucap sang sopir dengan senyum yang mengembang, bahkan dia mengubah suaranya.


" Iya bang." Ucap Jani dengan mantap.


" Eh... tapi?" Jani akhirnya tersadar kalau ada sesuatu yang janggal pikirnya.


" Aku kan tidak memesan taksi online tadi?" Jani kembali mengingat-ingat kembali, seketika rasa takutnya mulai bermunculan, jikalau dia akan diculik.


" STOP... STOP... BERHENTI DISINI!" Jani memukul pintu mobil taksi itu dengan tangan yang mulai bergetaran.


" Kenapa neng?" Tanya pria itu kemudian menepikan taksinya ditempat yang sepi.


" Jangan culik aku, aku orang biasa." Terlihat wajah Jani yang mulai ketakutan.


" Aku nggak punya apa-apa."


" Beneran pak, suerrr deh?"


" Nah... nah... aku kasih dompetku saja deh."


" Ambil semua isinya." Jani menyerahkan dompetnya, yang berisi beberapa lembar uang berwarna biru, kalau urusan kartu atm bisa dia urus belakangan, yang penting bisa kabur dulu pikirnya.


" Tapi aku ambil lima puluh rebu ya pak, buat ongkos balik." Ucap Jani sambil melempar dompet ke kursi depan.


" Aku nggak mau uangmu neng."


" Aku hanya ingin hati dan cinta yang tulus untukku." Akhirnya Samuel membuka topi dan kaca mata hitamnya dan menoleh kearah Jani yang wajahnya sudah terlihat pucat, bahkan sudah bercucuran keringat dingin.


" KAKAK?" Jani terkejut bukan kepalang.


" Hmm." Samuel menaikkan kedua alisnya, bahkan dia mengedipkan satu matanya dengan ditambah bonus senyuman manis yang jarang dia pamerkan didepan umum.


" Astaga... jantungku hampir saja copot kak!" Jani mengusap da danya, sambil berulang kali menghela nafas.


" Pindah ke depan sayang." Samuel mengulurkan tangannya kebelakang sambil terus tersenyum, karena memang postur tubuh Jani langsing, dia bisa berpindah kedepan lewat dalam saja.


" Bagaimana, sopir taksinya keren nggak?" Samuel kembali menjalankan mobil itu.


" Terkejut aku kak?"


" Kirain kita bakal ketahuan tadi."


" Gimana caranya kakak bisa tukaran jadi sopir taksi?"


" Kok aku nggak ngelihat tadi?" Jani seolah masih tidak percaya dengan kejadian ini.


" Sebenarnya tadi, aku pengen banget nemuin ibuk."


" Tapi... setelah aku pikir-pikir kembali, waktunya nggak tepat."


Bisa gagal nanti planning bulan madu romantis yang sudah aku siapkan..


" Jadi mungkin lain kali, dan saat aku lihat ibumu keluar dari taksi, kebetulan ada taksi lain yang lewat juga."


" Jadi aku stop saja." Ucap Samuel mengingat kejadiannya tadi.


" Hihi... kita kayak anak ABG yang lagi backstreet kan kak?"


" Hah... seru juga ternyata, SAH rasa backstreet, bisa sedikit memacu adrenalin." Jani dan Samuel akhirnya terkekeh sendiri saat mengingat kelakuan mereka berdua.


" Trus mana sopir taksi yang membawa mobil kakak tadi?" Tanya Jani sambil menatap wajah suaminya yang terlihat bahagia.


" Aku tadi menyuruhnya menunggu di bus stop depan sana." Ucap Samuel dengan santainya.


" Kakak nggak minta kartu identitasnya?"


" Ngapain minta kartu identitasnya, kurang kerjaan banget!" Ucap Samuel sambil tersenyum miring.


" Memangnya kakak nggak takut mobilnya dibawa kabur sama sopir taksi itu?" Tanya Jani terheran.


" Ngapain takut, orang aku bawa taksinya kok." Ucap samuel yang memang tidak kepikiran sama sekali, sedari tadi yang ada di otaknya cuma bagaimana dia bisa lepas dari amukan sang ibu mertua.


" Astaga kakak?"


" Mobil kakak itu kalau dijual bisa buat beli empat mobil taksi seperti ini, bahkan bisa lebih." Jani mengingat harga mobil Samuel yang memang mahal itu.


" Iya juga ya... kenapa aku nggak kepikiran sampai sana?" Namun Samuel masih terlihat tenang, tidak panik sama sekali.


" Arghh... kakak sih!"


" Hmm... biarkan saja kalau dia mau."


" Aku bisa membelinya lagi."


" Yang penting dia sudah membantuku hari ini?" Samuel bahkan tersenyum saat berkata-kata.


" HAH? emang bapak nggak sayang sama mobilnya?"


" Ciiiihh... ngapain sayang sama mobil."


" Aku lebih sayang sama kamu."


" Karena kamu lebih berharga, dan tidak sebanding jika ditukar dengan apapun."


" Karena kamu segalanya untukku." Ucap Samuel dengan penuh keyakinan.


Aaaaaaaa... kakak? aku padamu... jadi pengen minta cium, malu nggak ya?


Jani hanya bisa berkata-kata didalam hati saja, dia sungguh tidak menyangka jika ternyata dia teramat istimewa didepan suaminya.


..."When love feels like magic, you call it destiny, when destiny has a sense of humor, you call it serendipity"....

__ADS_1


...(Ketika cinta terasa seperti sihir, kamu menyebutnya takdir, saat takdir berubah menjadi sebuah humor, kamu menyebutnya kejutan yang menyenangkan)...


__ADS_2