
...Happy Reading...
Rahasia kebahagiaan adalah membuat orang lain percaya bahwa mereka adalah penyebabnya, karena menjadi bahagia bukan berarti semuanya sempurna. Itu berarti kamu telah memutuskan untuk melampaui ketidaksempurnaan.
Begitu juga dengan Rinjani, dia perlahan-lahan bisa menerima kehadiran Samuel dihidupnya, bahkan sehari saja tidak bertemu dengan Samuel hidupnya terasa ada yang kurang.
Dari kemarin Samuel sama sekali tidak menghubunginya, bahkan sampai sesiang ini, kabarnya pun belum terdengar, ponselnya terasa sepi, tidak ada notifikasi pesan masuk apalagi panggilan masuk darinya.
" Sob.. kekantin yuk!"
" Gw laper nih." Niar datang dengan kakinya yang sudah membaik, hanya tinggal nyeri-nyeri sedikit saja. Hari ini mereka berdua memang sudah kembali fokus ke kampus, karena jadwal magang mereka sudah selesai.
" Kaki luu udah baikan?" Tanya Jani melirik kaki Niar yang sudah bisa berdiri dengan santai.
" Udah.."
" Ternyata dokter pak Sam itu pandai juga mijitnya."
" Kakiku bisa bener lagi lho, nggak perlu ke tukang urut jadinya."
" Multifungsi juga dia, selain bisa ngobatin depresi bisa juga ngobatin kaki kesleo." Niar mengingat kejadian saat malam pertunangan sahabatnya itu.
" Cuma mulutnya saja yang pedesnya bukan main, ngalah-ngalahin cabe setan tau nggak!"
" Diiihh... amit-amit deh, pengen banget ngucek itu bi birnya."
" Biar terasa manis dan kenyal juga ogah kalau kata-katanya kasar!" Ucap Niar tanpa sadar.
" Manis dan kenyal?" Jani langsung mengerutkan keningnya.
" Maksud kamu apa?"
" Kamu ngomongin apa atau siapa sih?" Jani langsung memperhatikan ekspresi sahabatnya itu.
" Opsh.. hehe.."
" Maksud gw, walau bi bir pak dokter itu terlihat seksi banget, tapi kalau ngomongnya pedes kan nggak enak banget dilihatnya gitu, hehe.." Niar langsung pura-pura merapikan rambutnya, bisa habis dibuly Jani kalau sampai ketahuan mereka ciuman malam itu.
" Owh.. kirain kamu udah nyobain malam itu." Ucap Jani berbicara asal.
" Hah?"
" Yaa nggak mungkinlah, dia bukan tipeku!" Niar langsung mengibaskan tangannya.
" Bi bir cowok gw lebih seksi sob, ngangenin lagi!"
" Pokoknya bikin nagih dan tidak tertandingi, hehe.." Niar langsung mengingat sosok kekasihnya yang nun jauh disana.
" Otak luu itu perlu di kasih deterjen deh kayaknya!" Jani menoyor kening Niar yang malah cengengesan.
" Ngeres saja ngomongnya." Umpat Jani kembali mengotak-atik ponselnya yang sepi itu.
" Emang eluu nggak pernah nyicipin bi bir pak Sam?" Niar langsung mencoba memancing sahabatnya itu.
" Apaan sih luu!"
" Gw nggak kayak eluu yaa, tukang nyosor sana-sini." Jani mencoba berdalih dan sok polos.
" Waaah... sayang sekali."
" Padahal bi birnya kelihatan merah gitu lho."
" Nggak ngrokok kan dia?"
" Hmm.. pasti rasanya manis kan Jan?"
" Eh.. btw manisan mana bi bir pak Sam apa punya mantan eluu yang dulu itu?" Bisik Niar ditelinga Jani.
" Diiiiiihh... ya pak Sam lah!" Jani langsung menjawab dengan mantap.
" Mantan gw mah-----"
" Eeh-----" Jani langsung menutup mulutnya sendiri, dia selalu kalah telak kalau sudah ngobrol kayak gini dengan Niar.
" Bahahahahahaha..."
" Sok suci luu!"
" Nggak usah bohongin gw deh luu!"
__ADS_1
" Brati eluu udah pernah nyosor juga kan!"
" Sudah gw duga, nggak mungkin eluu dikekepin berkali-kali nggak pernah adu mulut!"
" Mustahil, hahahaha.." Niar langsung tertawa lepas saat melihat Jani memejamkan matanya sambil memukul-mukul pelan kepalanya.
" Dikit doang lah!"
" Lebay luu!" Jani langsung memukul lengan Niar yang masih cengengesan sedari tadi.
" Eh... kita ambil laporan ke perusahaannya kapan sih?"
" Sekarang aja yuk?"
" Aku udah nggak ada mata kuliah lagi habis ini." Ucap Jani yang sebenarnya ingin melihat Sam dan memastikannya, sesibuk apa dia dari kemarin kok nggak pernah menghubungi dia sama sekali.
" Belum siap Jan."
" Kemarin gw sudah hubungin senior kita."
" Berkat eluu jadi calon Nyonya Bramantyo, kita nggak usah ribet bolak-balik kesana."
" Mereka yang akan menyelesaikan laporan kita."
" Kalau sudah siap mereka akan memghubungi kita."
" Mantep nggak tuh?"
" Nggak sia-sia kan eluu tunangan dengan orang nomor satu di perusahaan raksasa itu?" Niar begitu bahagia saat Nisa memberikan kabar itu kemarin.
" Luu kayak yang seneng banget gitu sih?" Tanya Jani menoleh kearah Niar yang terlihat membayangkan sesuatu yang indah-indah sekarang.
" Gimana nggak seneng."
" Kata mbak Nisa, setelah kita sarjana nanti, kalau kita mau kerja diperusahaan itu tinggal ngomong saja sama mbak Nisa."
" Nggak perlu ke pihak HRD."
" Kita langsung diterima cuy, mantep nggak tuh!"
" Padahal biasanya yang berpengalaman banyak yang diterima kerja disana."
" Kita cuma modal magang doang bisa langsung jadi pegawai tetap cuy!"
" Kita nggak perlu pusing-pusing lagi cari kerjaan cuy!"
" Kita nggak perlu menyandang gelar pengganguran!"
" Huhuuuyy... mantul banget dah!" Niar bahkan menari-nari didepan Jani yang menatapnya dengan jengah.
" Jangan seneng dulu!"
" Hutang banyak eluu sama gue!"
" Inget nggak!" Teriak Jani sambil melotot melihat Niar.
" Lunas sudah utang gw!"
" Orang pak Sam bener-bener cinta sama eluu!"
" Mau cari dimana orang tampan dan kaya seperti pak Sam coba?"
" Jarang-jarang ada milyader yang kepincut sama orang biasa kayak kita."
" Walaupun sakit sih, tapi kan obatnya juga nggak ribet."
" Malah yahuut.. tinggal dikekepin doang sembuh!"
" Lama-lama eluu juga nagih kan, hayoow.. ngaku luu!" Niar kembali mendesak Jani.
" I.. iya sih.."
" Tapi-----"
" Bahahahahaha..." Niar kembali dibuat tertawa oleh perkataan polos Jani.
" Kelihatan banget eluu menikmatinya."
" Haha... Jani.. Jani.."
__ADS_1
" Sok jual mahal banget kamu!"
" Lama-lama ketagihan juga." Umpat Niar tak habis-habis meledek sahabatnya itu.
" Ckkk... sial luu!"
" Dari tadi ngerjain gw mulu!"
" Tapi dia lagi ngapain ya?"
" Dari kemarin nggak ada hubungin gw?"
" Masak sehabis tunangan malah dicuekin sih?"
" Padahal sebelum tunangan pergi sebentar aja udah dicariin."
" Datang terlambat dikit aja kerumahnya juga langsung ditelponin."
" Nah ini... mentang-menang gw setuju mau nikah sama dia, langsung dianggurin deh."
" Gimana kalau sudah nikah nanti?"
" Bisa-bisa gw malah dilupain lagi!" Jani meletakkan kepala diatas meja, seolah merenungi nasibnya yang begitu apes, padahal baru putus komunikasi selama satu hari saja.
" Ciiieeeee..."
" Kangen berat nih ceritanya?"
" Hahaha.. memang begitu alur percintaan sob!"
" Awalnya benci, lama-lama berputar roda percintaan kita, sekarang jadi kebalik, kamu yang suka dan butuh dia."
" Pantesan semangat banget mau ambil laporan?"
" Ternyata ada udang dibalik wajan!" Ucap Niar tersenyum meledek Jani.
" Brisik luu!"
" Gw cuma pengen mastiin saja dia baik-baik saja."
" Takutnya kambuh trus nggak ada orang kan?"
" Ngeri tahu kalau dia lagi kambuh, kasian banget lihatnya, jadi lemah tidak berdaya gitu." Ucap Jani sambil membayangkan wajah tampan Samuel itu.
" Bilang aja luu rindu ngekepin dia!"
" Banyak congek luu, haha.." Niar langsung menyentil kening Jani yang masih tergeletak lemas dimeja.
" Apaan sih luu!"
" Sakit tauk!" Umpat Jani sambil mengusap keningnya.
" Hehe.. yawda sih."
" Samperin aja kesono."
" Mumpung pas lagi jam makan siang nih."
" Kamu bawain makanan saja dari restoran depan tuh."
" Anterin.. kalau perlu suapin, biasanya juga gitu kan!"
" Nggak usah jaim-jaiman sekarang, bentar lagi kalian kan menikah?" Niar paham betul kalau sahabatnya itu sudah mulai ada rasa cinta dengan big bossnya, memang benar kata pepatah kalau cinta itu bisa muncul karena kebiasaan sering bersama berdua.
" Apa nggak papa?"
" Nanti ganggu nggak ya?" Jani langsung terbangun, seolah mendapat suntikan energi seketika.
" Ya enggaklah!"
" Masak calon istri datang bawain makan siang ganggu sih?"
" Harusnya senang dong!"
" Sana buruan, nggak usah ragu-ragu!"
" Tunjukan pesonamu Rinjani Maheswari!"
" Hwaiting!" Teriak Niar memberikan semangat.
__ADS_1
" BERANGKAAAATTT...!" Jani langsung memukul meja dan bergegas berlari pergi ke Restoran didepan kampus yang terkenal dengan ikan tiga rasa nya yang endul surendul takendul-kendul ngeunah!
..."Mengejar kebahagiaan adalah ungkapan yang paling konyol, jika kamu mengejar kebahagiaan, kamu tidak akan pernah menemukannya. Yang kamu perlukan adalah menciptakan kebahagiaan itu sendiri."...