
...Happy Reading...
Tantangan itulah yang membuat hidup menarik, mengatasinya itulah yang membuat hidup bermakna.
Disaat mereka sedang ingin memulai ronde kedua, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di villa itu.
" Kak, siapa yang mengetuk pintu itu?" Jani menjeda civman dari suaminya yang sudah semakin mengganas.
" Mungkin pengurus villa ini." Ucapnya berfikir positif, karena memang tidak ada villa lain disekeliling tempat itu.
" Jangan-jangan yang lewat tadi orang kak?"
" Aduh gusti, malu banget aku, mana teriakanku keras banget lagi."
" Kakak sih, maksain tuh pisang goreng masuk." Umpat Jani yang sebenarnya cuma menahan rasa malu saja.
" Ya sudah nggak papa, halal ini yank."
" Kita kan nggak buat dosa, malah berpahala lho ini." Samuel kembali melanjutkan aksinya, setelah dia tahu rasanya, seolah ingin selalu mengulang setiap saat.
" Diiih... buka dulu itu pintunya kak?" Ternyata Jani masih bisa berfikir jernih walau sebenarnya dia sudah dibawa terbang oleh kelakuan Samuel yang menggila.
" Malaslah, lagian paling juga cuma nganterin bahan makanan saja, nanti pasti ngiranya kita lagi tidur, so.. kita main satu ronde lagi okey?"
" Nanggung banget ini yank."
" Kasihan tuh si dedek sudah on fire, siap digoreng gitu." Ucap Samuel yang mulai ketagihan, tubuh istrinya serasa candu baginya.
" Ya sudahlah, tapi pelan-pelan ya kak."
" Masih sakit tahu, nggak lihat apa sampai berdarah tadi." Umpat Jani seperti orang yang teraniaya, padahal dia juga suka.
" Hehe.. nanti sudah nggak lagi yank."
" Itu karena masih perdana, ngasih jalan buat si dedek buat goreng pisang."
" Kalau sekarang jalannya sudah terang kok, jadi semua aman terkendali." Samuel langsung membanting tubuh istrinya kembali di atas ranjang yang empuk itu.
Saat si dedek Samuel masih asyik-asyiknya berjoged ditempatnya, tiba-tiba terdengar suara kembali, bahkan bukan ketukan pintu lagi, tapi suara orang yang sangat familiar dengannya.
" Saaaaam, luu dimana?" Suaranya bahkan menggelegar seperti toac Masjid.
" HAH? suara Marvin itu?" Samuel dan Jani saling berpandangan, masih dengan pedang pusaka Samuel yang tertancap ditempatnya.
" Sam aku masuk ya, ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu!" Teriak Marvin sekuatnya.
" Ganggu gw aja luu!" Jawab Samuel sambil terengah-engah.
" Emang nggak bisa lewat ponsel apa?" Dengan santainya Samuel masih memacu kudanya.
" Kak, udah... sana temuin dulu!" Sebenarnya Jani juga tidak rela, karena sebentar lagi dia sudah mencapai puncaknya, dan Samuel tahu betul itu dari gelagat Jani, jadi dia sengaja ingin menuntaskannya terlebih dulu.
" Ya udah, kamu diatas saja biar cepet nyampenya!" Samuel langsung mengubah posisinya, dan entah mengapa Jani ngikut saja bahkan dia lihai saat menggo yangkannya.
" Nggak bisa Sam, ini-----"
__ADS_1
Ceklek!
Kedua mata Marvin langsung terpaku saat matanya tanpa sengaja langsung terarah diranjang tempat mereka beradu.
" Woaaah...?"
" Gilak kalian ya!" Marvin langsung memutar tubuhnya kebelakang, sambil mengusap da danya, dia seperti sedang ketahuan nonton film dewasa oleh ibunya saat ini, antara terkejut dan malah takut sendiri.
" Shiiit!" Samuel langsung memeluk erat tubuh Jani.
" Bisa nggak ketok pintu dulu sebelum masuk!" Samuel langsung membanting tubuh istrinya kesamping dan menindihnya, untung saja selimut mereka menutupi pada bagian-bagian terlarang.
" Tapi kan tadi sudah aku ketuk pintu bawah?"
" Ini emergency dan lokasinya tidak jauh dari sini."
" Lagian juga ini masih sore sob!"
" Kan bisa kalian tempurnya nanti malam."
" Nggak malu apa sama ayam, jam segini saja mereka masih cari makan!" Celoteh Marvin sambil menggelengkan kepalanya mengingat adegan tadi.
" Kak.. udah iih!" Jani memukul punggung suaminya, karena dia kembali berjoged ria walau dengan tempo perlahan didalam selimut tebal itu.
" Nanggung yank, udah dalam banget ini." Samuel seolah melupakan Marvin yang masih berdiri didepan pintu.
" SAM!" Teriak Marvin semakin emosi, dia berfikir saat dia berbalik badan, Samuel dan Rinjani segera berkemas untuk memakai baju mereka masing-masing, ternyata malah melanjutkan aksi menggelegarnya.
" Kalian sudah nggak waras apa gimana?"
" Aku mau bicara hal penting ini!" Marvin mengacak rambutnya sendiri, tidak habis pikir dengan kelakuan sahabat rasa saudaranya itu.
" Ngapain juga kamu masih berdiri disitu!"
" Mau nonton live streaming apa kamu!" Ucap Samuel dengan santainya.
" Sam... kamu----" Marvin nekad untuk menoleh kebelakang, memastikan apa yang terjadi dibelakang tubuhnya, hanya bermaksud mengerjai dirinya atau tidak.
" Astagfirulloh... itu manusia atau apa!" Dia kembali memalingkan wajahnya dengan kedua tangannya mengepal karena terlalu kesal.
Braaaakk!
Marvin langsung menendang pintu kamar mereka dengan keras, baru setelahnya dia berlari turun meninggalkan tempat itu.
" Woaaahh... benar-benar sudah 'edan' mereka berdua." Marvin mengusap wajahnya dengan kasar, seolah menghilangkan bayangan yang berada dipikirannya.
" Bisa-bisanya dia tetap live streaming didepan mata gw!"
" Sudah ketahuan masih saja nekad melanjutkannya!"
" Siiaaalll... dia kira gw nggak punya torpedo apa gimana!" Dia melihat senjatanya yang mulai bergerak-gerak mencari jalan keluar.
" Haiiisssshhh!" Marvin langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan mencuci segalanya, walau tadi Samuel berpacu didalam selimut, namun gerakannya memang tidak bisa menipu, kalau mereka tetap melakukan pengencatan senjata, walau memang tidak ada salahnya, karena mereka berdua sudah sah dimata hukum dan agama.
" Kakak... aku malu tahu!" Ucap Jani sambil mengusap kepala suaminya yang terkapar diatas tubuhnya karena sudah menuntaskan ronde kedua.
__ADS_1
" Ngapain mesti malu, bukan kita yang salah."
" Kita melakukannya ditempat yang memang seharusnya." Samuel berbicara sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.
" Marvin saja yang gila, masuk ke kamar orang lagi honeeymoon seenak jidatnya sendiri."
" Biar tahu rasa dia, pusing-pusing dah tuh torpedonya!" Samuel malah tersenyum licik tanpa merasa berdosa sama sekali.
" Tapi tadi dia lihat aku pas lagi diatas kak." Ingin sekali Jani menangis meraung-raung saat ini, karena punggungnya terlihat oleh pria lain walau hanya sedikit saja.
" Nggak papa, cuma sedikit kok."
" Tadi kan aku langsung memeluk kamu, lagian juga selimutnya tebel sampai atas." Ucap Samuel menenangkan kegelisahan istrinya.
Bukan masalah itu, takutnya nanti dia beranggapan aku perempuan agresif, sukanya nongkrong diatas, kalau sampai dia ngadu sama Niar, bisa habis gw diledekin mati-matian nanti.
" Kakak sih, ngapain lagi nyuruh aku yang diatas!" Jani sungguh merasa tidak terima.
" Kan biar kamu bisa cepet yank." Samuel turun dari atas tubuh istrinya dan memeluk istrinya yang ternyata sudah meneteskan air mata penyesalan.
" Heii... sudahlah, cuma Marvin ini."
" Dia nggak bakalan berani macem-macem."
" Lagian dia bisa apa, kita pasangan halal lho yank?"
" Yang dosa kan dia, bukan kita okey?" Ingin sekali rasanya Samuel tertawa melihat istrinya sekarang, namun dia juga tidak tega, karena memang Jani belum lama mengenal siapa itu Marvin, apalagi mereka berdua biasanya kalau bertemu memang tidak pernah akur, selalu saja beradu mulut.
" Suruh dia pulang!" Jani mendorong tubuh suaminya perlahan.
" Jangan sampai aku melihatnya lagi disini!" Ucap Jani menutup wajahnya dengan bantal sambil terisak.
" Baiklah."
" Kalau begitu kamu mandi duluan sana."
" Aku temuin Marvin dulu okey?" Samuel meninggalkan kecvpan manis dikening istrinya, sebelum dia beranjak bangun.
" Lagian kakak mau jalan-jalan ngapain juga ngasih tau tempatnya dengan Marvin sih!" Jani tidak habis pikir, walau mereka sedekat itu, tapi juga harus ada privasi pikirnya.
" Maaf sayang."
" Soalnya Marvin yang menyarankan tempat ini."
" Dia yang menguruskan segalanya." Jawab Samuel sambil nyengir kuda.
" Arrrggghhh... kakak nyebelin!"
" Awas saja itu pisang, aku geprek nanti malam!"
Jani langsung melempar bantal disampingnya, ke tubuh suaminya dengan kesal, masak hal sepele begitu juga harus Marvin yang mengurus semua pikirnya.
" Haaah... sabar ya Kang Pisang!"
" Kasihan sekali nasibmu, sepertinya nanti malam kamu bakalan nggak dapat jatah."
__ADS_1
Samuel langsung memungut celananya yang tergeletak dilantai dan memakainya kembali untuk segera memberi pelajaran kepada Marvin yang sudah menggangu keromantisan surga dunianya.
... "Yang terpenting dalam hidup adalah apa yang kamu pedulikan dan apa yang akan terus kamu upayakan untuk memedulikannya."...