CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
12. Ingin pergi Tamasya


__ADS_3

...Happy Reading...


Hari ini entah mengapa Yoyo merengek ingin pergi bertamasya ke taman bermain, dia menarik-narik baju Rinjani sedari tadi, kemanapun Rinjani bergerak Yoyo pasti mengikutinya.


" Yoyo sayang.." Rinjani mencoba mengalihkan perhatian Yoyo sedari tadi tapi tidak pernah berhasil.


" Jangan narik-narik baju kayak gini dong!"


" Nanti kakak jatuh Yo!" Rinjani sudah pusing sedari tadi mendengar rengekan Yoyo.


" Kakak, ayok kita pergi bermain!" Yoyo masih saja membuntuti langkah Jani.


" Kita bisa bermain disini saja Yo!" berbagai cara dia lakukan sedari tadi untuk mengalihkan perhatian Yoyo.


" Mainan kamu juga banyak banget itu lho!" Bahkan kepala Rinjani sudah terasa berat.


" Mau dimainin seharian juga nggak akan habis kan Yo!" Rinjani bukannya tidak mau menemaninya, tapi Yoyo belom lama keluar dari rumah sakit, dan Samuel juga pasti tidak akan memberikan izin nantinya.


" Aku sudah bosan kak!"


" Katanya kemarin janji mau ngajak Yoyo ke taman bermain!" Yoyo bahkan menendang-nendang semua mainan yang ada disana, sampai berserakan kemana-mana.


" Yoyo jangan seperti ini dong nak!" Rinjani kembali kuwalahan menghadapi Yoyo yang kembali nakal.


" Haiii epribadeehh..!" Niar berjalan masuk membawa dua kantong kresek ditangannya.


" Hah... Niar!"


" Akhirnya kamu datang juga!" Kedatangan Niar seperti secercah cahaya dalam kegelapan.


" Bantuin gw mengatasi tu bocah ajaib!" Rinjani langsung terduduk lesu dikursi sofa.


" Emang kenapa dia?" Niar kasihan melihat wajah temennya yang terlihat kelelahan itu.


" Dia merengek menagih janji!" Rinjani benar-benar menyesal pernah menjanjikan seperti itu.


" Emang kamu janjiin apa dia?" Tanya Niar kembali.


" Pergi ke taman bermain." Jawab Rinjani sekilas.


" Yaudah sih.."


" Tinggal bawa saja, apa susahnya sih?"


" Cuma ke taman bermain ini?" Niar tersenyum miring mendengar puncak permasalahan temannya saat menghadapi bocah ajaib ini.


" Ya kan Yoyo..!" Niar tersenyum menatap Yoyo.


" Kita kawan nggak sekarang Yo?" Niar berjalan mendekati Yoyo yang masih mrengut.


" Masalahnya pak Sam nggak akan ngebolehin Niar!" Rinjani memijit pelipisnya sendiri.


" Aku lagi males berdebat dengannya!" Walau sebenarnya, sejak kejadian mereka tidur berpelukan dia menjadi malu sendiri ingin berbicara dan bertatap muka secara langsung dengan Samuel.


" Ckk..!"


" Kamu sih, sukanya obral janji!"


" Nggak orang dewasa, nggak anak-anak kamu kasih janji palsu semua!" Umpat Niar kemudian mengambil es krim yang dia beli sebelum kemari tadi.


" Anak kecil itu punya daya ingat yang tinggi!"


" Jangan pernah menjanjikan jika tidak bisa menepatinya!"


" Apalagi bocah kayak Yoyo, yang pemikirannya diatas anak kecil rata-rata pada umumnya!" Niar malah menceramahi Rinjani yang semakin kalut itu.


" Yoyo sayang.. lihat apa yang kakak bawa?"


" Es krim rasa coklat mix rasa strawbery, spesial buat Yoyo lho?" Niar berjongkok didepan Yoyo sambil membawa eskrim itu, biasanya anak-anak langsung luluh kalau sudah diberi eskrim, tapi lain dengan Yoyo.


" Huh.."


" Kalau kakak bisa membujuk daddy agar mengijinkan aku pergi, baru kita berkawan!" Umpat Yoyo bersidekap ketika Niar memberinya satu cup eskrim kepadanya.


" Woaaah.."


" Bocah ini memang selalu luar biasa!" Niar menggelengkan kepalanya sendiri, selalu takjub dengan segala ocehannya.


" Yaudah sih, kalian pergi saja!"

__ADS_1


" Nggak usah bilang pak Sam!"


" Nanti sebelum Presdir pulang kerja, kalian harus sudah sampai dirumah!"


" Gimana? kalian setuju?" Niar akhirnya mendapatkan ide yang cemerlang.


" Tapi kan gw nggak tahu jadwal pak Sam pulang kerja!"


" Kadang dia sering pulang terlambat, kadang dia pulang siang, kadang juga sore?"


" Nggak pasti gitu, jadi gimana mau mengantisipasinya coba?" Belakangan ini Samuel jarang lembur memang, mungkin karena mendengar keluh kesah Yoyo saat dirumah sakit, dia mungkin ingin memberikan banyak waktu luang dan semua yang terbaik juga buat Yoyo.


" Emm.. kalau begitu, kalian pergi berdua saja!"


" Biar aku kekantor ngawasin pak Samuel!"


" Nanti kalau dia pergi-pergi aku akan tanyakan kepada sekertarisnya itu. Niar selalu punya ide jika menyangkut hal-hal seperti ini.


" Gimana Yo?"


" Tetep nekad mau pergi?" Rinjani bertanya kepada Yoyo yang terlihat memperhatikan perbincangan mereka.


" Jadi kita berbohong dong?" Ucap Yoyo dengan polosnya.


" Mau gimana lagi?"


" Karena daddymu nggak pernah akan ngijinin!"


" Kamu kan belom lama keluar dari rumah sakit Yo!" Rinjani mencoba memberikan pengertian.


" Atau nggak usah pergi saja Yo, kita main disini saja?"


" Udah tambah kak Niar nih, kamu boleh deh ngerjain dia sesuka hatimu?"


" Asal kita nggak usah jadi pergi ke taman bermain okey?" Rinjani mencoba melakukan penawaran walau sedikit mengorbankan sahabatnya itu sebagai tumbal kenakalan Yoyo.


" Enak saja kamu ini"


" Tega-teganya gitu loh jadiin gw umpan!"


" Gw itu temen luu atau bukan sih!" Niar langsung protes, Yoyo benar-benar tidak seperti bocah seumurannya, dia paham dengan kata-kata orang dewasa.


" Okey apa sayang?"


" Owh okey nggak usah pergi kemana-mana ya kan?"


" Waah.. Yoyo memang anak pintar ya?" Rinjani sudah tersenyum bahagia ingin memeluk Yoyo.


" Huh!" Yoyo mundur selangkah, tidak ingin dipeluk oleh Rinjani.


" Aku tetap ingin bermain ke taman bermain!"


" Tapi.. dosa berbohong Yoyo, kalian yang menanggung ya!"


" Yoyo tidak ingin masuk Neraka karena ulah kalian!" Ucapan Yoyo benar-benar membuat Rinjani dan Niar tercengang melihatnya.


" Woaaahh... woaaahh...!"


" Benar-benar anak yang hebat dunia akhirat dia ini!" Rinjani langsung bertepuk tangan karenanya.


" Ya sudah!"


" Nggak usah ngladenin omongan anak kecil lah!"


" Pusing sendiri jadinya."


" Kalian berdua bersiaplah!"


" Aku pergi kekantor sekarang juga!"


" Ingat jangan pergi lama-lama!"


" Dua jam saja cukup okey!" Niar langsung bersiap menjadi penguntit presdirnya dikantor.


" Ya sudah... kamu awasin benar-benar ya!"


" Jangan lupa, kalau dia pergi kemanapun luu langsung chat gw, biar gw bisa siap-siap okey!"


" Pokoknya jangan sampai ketahuan!" Ucap Rinjani langsung mulai bersiap.

__ADS_1


" Kenapa lu? takut dipecat sama presdir tampan itu?" Niar langsung tersenyum jahil melihat sewotnya Rinjani saat ini.


" Takut kangen kalau nggak lihat dia lagi ya?"


" Owh ya.. ada kejadian romantis nggak saat kamu nginep disini?"


" Jangan-jangan kalian sudah pernah----?"


" Ehem.. ehemm!" Ledek Niar dengan sengaja.


" Diiihh..."


" Sory ya...!" Rinjani langsung menyangkalnya, dia memang sengaja tidak menceritakan kejadian itu, dari pada dibully habis-habisan oleh sahabatnya ini.


" Jangan sembarangan ngomong ya, ada anak kecil!" Rinjani langsung melotot kearah Niar yang


tidak punya Rem Mulut itu.


" Kalau nggak demi skripsi dan pekerjaan udah gw libas dia!" Ucap Rinjani menarik Niar agar menjauh dari Yoyo.


" Dia mah nggak ada seujung kuku gw!"


" Gw nggak bakalan tertarik sama orang dingin, kaku, galak kayak dia!"


" Di luaran sana noh, masih banyak orang yang lebih tampan dan kaya!"


" Tapi nggak sombong-sombong amat kayak dia tuh!"


" Pokoknya dia nggak akan masuk list dalam daftar cowok idaman gw!" Ucap Rinjani berapi-api.


" Yakin luu...?"


" Gw sumpahin cinta beneran luu sama dia, hahaha.."


" Karena dari benci akan tumbuh rasa cinta lho? hahaha..." Niar tak henti-hentinya meledek sahabatnya itu.


" Diiihh...!"


" Nggak akan gw jatuh cinta sama orang seperti dia!"


" Pegang omongan gw!"


" Amit-amit jabang bayik deh!" Rinjani langsung memukul keningnya bergantian dengan memukul lututnya sendiri seperti orang jaman baholak.


Sementara dikantor, Samuel langsung tersenyum miring saat melihat ponselnya, karena tidak banyak pekerjaan, Samuel iseng-iseng membuka cctv dirumahnya yang dia hubungkan secara langsung ke ponselnya, entah mengapa sejak malam itu Samuel jadi sering memperhatikan Rinjani secara diam-diam dirumah, walau tak bertegur sapa sama sekali.


" Woaaahh!"


" Berani sekali mulutmu berbicara seperti itu ya!" Jiwa sombong Samuel langsung tidak terima saat mendengarnya.


" Punya nyali kalian bermain-main denganku!" Bahkan sebenarnya dia tidak mempermasalahkan jika memang Yoyo bersikeras pergi ke taman bermain, dia hanya kesal saat mendengar ucapan Rinjani yang membandingkan dirinya dengan orang diluaran sana.


" Kalian tidak tahu siapa aku!"


" Kita lihat saja nanti!"


" Seberapa kuat kamu untuk tidak menggagumi diriku!"


" Habisss kamu kalau sampai jatuh cinta denganku!" Samuel mengeratkan giginya menahan kesal saat melihat percakapan dua wanita magang yang bernyali besar itu diponselnya.


" Permisi pak.."


" Sebentar lagi meeting akan dimulai!" Sekertaris Samuel masuk dengan membawa beberapa berkas kedalam ruangannya.


" Cancel semua meetingku hari ini!" Samuel langsung membentaknya tanpa alasan.


" Aku ada keperluan mendadak!"


" Dan siapkan mobilku sekarang juga!" Samuel langsung bersiap untuk segera pergi dari sana, baru kali ini dia diremehkan oleh seorang wanita seperti Rinjani pikirnya.


" Tapi pak mereka sudah----" Ucapan sekertarisnya terhenti saat melihat wajah Samuel yang terlihat kesal sekali, nyalinya menciut untuk sekedar melanjutkan ucapannya.


" Nggak pakai LAMA...!" Teriak Samuel langsung berdiri dari kursi kebesarannya.


" Ba.. ba.. baik pak!" Nisa langsung menundukkan kepala dan segera keluar dari ruangan menjalankan perintah presdirnya, dia hanya bisa mengumpat sana-sini, karena dia yang harus menghandel klien pentingnya itu, padahal biasanya Samuel tidak pernah mengabaikan pekerjaan penting seperti ini, dia selalu profesional selama ini.


..." Pelajari hal-hal dari orang-orang di sekitarmu, nikmati hidup dengan orang-orang di sampingmu dan jangan meremehkan orang-orang di sekelilingmu."...


..." Karena satu kerikil dapat menyebabkan longsoran salju, jika menghantam tempat yang tepat."...

__ADS_1


__ADS_2