CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
8. Tuan Higienis


__ADS_3

...Happy Reading...


Terkadang perasaan memang sulit untuk diungkapkan. Biasanya mereka pun hanya bisa memendam rasa, menunggu, serta mengagumi seseorang dalam diam.


Mengagumi itu kegiatan menyenangkan. Maka wajar kalau sebagian orang tak ingin menghentikan, karena mengagumi tidak harus memiliki.


Begitu juga Samuel, dia hanya merasa kagum melihat sosok Rinjani, selama ini memang dia jarang memperhatikan seorang gadis, semenjak seorang wanita masa lalunya yang menorehkan luka tajam dihatinya.


" Aku membutuhkanmu..." Entah terkena sambet setan dari mana, namun tiba-tiba Samuel mengatakan itu.


" Uhuuuk... uhuuukk... " Rinjani tersedak saat mendengarnya, makanan yang baru sampai ditenggorokan sudah menyembur kembali.


" Haissh...!"


" Kamu ini jorok sekali!" Samuel langsung memalingkan wajahnya takut kena semburan dari mulut Rinjani.


" Uhuuukk... ma.. maaf pak!"


" Saya tidak sengaja!" Rinjani langsung menyambar air mineral didepannya.


" Apa kamu terlalu lapar?"


" Sampai kamu tidak bisa makan pelan-pelan?" Samuel menatap risih melihat sisa makanan yang tersebar.


Pelan-pelan gundulmu! aku tersedak karena terkejut dengan ucapanmu wahai Bos maha benar !


Rinjani hanya bisa mengumpat Samuel dalam hati saja.


" Eherrmm..." Jani menghentikan makannya, dan menarik nafas dalam-dalam.


" Ma.. maksud bapak membutuhkan saya bagaimana ya?" Rinjani hanya bisa memasang senyum termanis walau hanya pura-pura.


" Owh.."


" Aku membutuhkanmu untuk menjaga Yoyo!" Ucapnya dengan tenang dan ekspresi yang datar.


Rinjaniii... apa yang kau pikirkan? benar kata Niar, gw kelamaan jomblo, jadi sering halu nggak jelas! haah... akan aku pertimbangkan pernyataan cintanya juragan bakso kemarin..


Rinjani tersenyum kecut mendengarnya.


" Hmm.. bukannya saya memang sudah menjaga Yoyo pak?" Rinjani kembali melanjutkan makannya, mending makan enak daripada menghalu nggak jelas pikirnya.


" Maksud saya, kamu menjaganya dua puluh empat jam penuh." Samuel berbicara dengan entengnya.


" HAAAAH?" Rinjani kembali terkejut dengan mulut penuh dengan makanan.


" Haish... kamu ini!"


" Jadi wanita nggak ada elegan-elegannya!"


" Mulut penuh masih saja menganga!" Samuel menatap jijik melihatnya, baru kali ini dia berhadapan dengan wanita yang sama sekali tidak menjaga tingkah dan perilakunya dihadapan seorang Samuel, biasanya wanita yang dia kenal selalu berhati-hati dalam bertutur kata, apalagi saat makan didepannya, mana mau mereka makan iga bakar dengan sambal dan lalapan seperti ini, mereka pasti memilih steak atau makanan yang berkelas lainnya, tanpa harus mengotori tangan cantik mereka.


" Hehe.."


" Maksud bapak bagaimana?" Rinjani dengan santainya melanjutkan makannya, tanpa memperdulikan tatapan sinis dari presdirnya.


" Kamu tinggal dirumah saya!" Samuel berkata sambil menyilangkan kakinya.


" HAAAAAH..?" Rinjani kembali menyemburkan sedikit nasi dihadapan Samuel.


" Heiiiiii..."


" Kamu ini benar-benar ya!" Samuel langsung bangkit dari tempat duduknya, sambil mengibaskan jas nya yang entah terkena semburan Jani atau tidak, namun si Tuan Higienis itu langsung berpindah tempat duduk.


" Hehe..."


" Nggak kena lah pak, takut banget kotor!"


" Kata orang berani kotor itu baik lho, hehe.." Entah dapat keberanian dari mana Jani berani mengatakan seperti itu.


" Jauh-jauh sana!" Samuel mengibaskan tangannya saat Rinjani ingin memberikan tissu kepadanya.


" Ya sudah kalau tidak mau!" Jani kembali menyelesaikan makannya.


" Tapi maaf pak.."

__ADS_1


" Saya tidak bisa, lagian ini kan tidak ada dalam surat perjanjiannya kan pak?"


" Kalau malem aku harus ngerjain tugas dari kampus juga pak!"


" Aku sudah semester akhir, jadi selain magang banyak tugas juga yang harus aku kerjakan." Rinjani mencoba memberikan pengertian tanpa mengucapkan kesalahan dengan Mr Perfect ini.


" Kamu bisa mengerjakannya dirumahku!" Samuel masih bersikeras, dia hanya ingin Yoyo ada yang menemaninya, karena akhir-akhir ini dia banyak meeting kerja diluar, yang tidak bisa dipastikan jam berapa pulangnya dan mamanya sendiri juga sibuk menangani anak cabang perusahaan dan bisnis lainnya.


" Setidaknya sampai Yoyo dapat babysister yang baru!" Ucapnya kembali.


" Tapi pak---"


" Akan saya berikan kamu gaji tambahan, plus bonus!" Samuel memberikan tawaran yang menggiurkan.


" Bukan begitu maksudku pak, tapi----"


" Akan saya berikan nilai tinggi untuk magangmu dan akan saya terima bekerja diperusahaanku, setelah kamu menyelesaikan kuliahmu nanti." Hanya orang bodoh yang akan menolaknya pikirnya.


" DEAAAALLL...!" Rinjani langsung mengulurkan tangannya yang masih menyisakan sambel disana.


" Ciiihhh...!"


" Singkirkan tanganmu itu!" Samuel tersenyum miring sambil mengibaskan tangannya.


" Hehe.."


" Maaf lupa.." Rinjani menarik kembali tangannya.


" Mulai besok kamu pindah kerumah!" Tatapan tajam itu langsung membuat Rinjani tersenyum kecut.


" Besok Yoyo sudah boleh pulang!"


" Aku mau istirahat dulu!" Samuel mendekat kearah tempat tidur Yoyo dan melepas jasnya.


" Siap pak!" Rinjani langsung mencuci tangan dan bersih-bersih dikamar mandi.


Saat dia menselonjorkan kakinya disofa, dia mencari ponselnya untuk mengecek pesannya tadi.


" Mana ponsel gw nih?" Rinjani muter-muter mencari ponselnya, saat dia menoleh kearah ranjang pasien ternyata ponselnya terjepit antara Samuel dan Yoyo.


" Tuh ponsel tau aja yang anget-anget!" Rinjani menggaruk tengkuknya, dia ragu untuk mengambilnya, namun dia harus melihat pesan dari adeknya, takutnya mereka ribut mencarinya.


" Ponselku itu memang TOP dah, pinter nyari yang seger-seger!"


" Nyelip aja milih tempat dia!" Rinjani menjulurkan tangannya perlahan-lahan untuk mengambil ponselnya, namun karena tubuh Samuel kekar dan memenuhi sisi kiri ranjang, tangan Jani tidak sampai dan akhirnya dia terjatuh diatas tubuh Samuel.


Bruuk..


Wajah Rinjani nyungsep diarea leher Samuel, harum wangi parfum maskulin membuatnya terdiam sejenak, merasakan halusinasi sesaat untuk terbang ke awang-awang.


" Haduuuwh..." Jani memejamkan matanya dan mengecilkan volume suaranya.


" Apa kamu sudah selesai menikmatinya!" Suara datar Samuel langsung mengagetkan Rinjani.


" Hah!"


" Ma.. maaf pak, maafkan saya."


" Saya cuma mau ngambil ponsel saya yang terselip disini."


" Tapi kaki saya terpeleset sepertinya tadi, hehe.." Rinjani tersenyum sambil menahan Malu yang tidak terkira.


" Kaki diam saja kamu salahkan!"


" Nggak usah mencari alibi!"


" Bilang saja kalau kamu keenakan!" Samuel kembali memejamkan matanya dan menaruh tangannya dikeningnya sendiri tanpa ekspresi.


Dasar Manusia batu tanpa ekspresi, sudah arogan, dingin, galak lagi, entah apa keistimewaannya selain tampan? karena tampan saja tidak akan menjamin kebahagian...


Ingin sekali rasanya Rinjani meluapkan unek-uneknya, namun nyalinya menciut saat mengingat masa depan skripsinya ada ditangan pria itu.


" Hah?"


" Bagaimana nanti kalau tinggal serumah!"

__ADS_1


" Bisa makan hati terus gw kayaknya!" Umpat Jani perlahan sambil ngeloyor kembali ke sofa.


" Saya masih dengar kamu mengumpat apa!" Walau matanya terpejam namun telinganya masih mendengar dan mulutnya masih saja berbicara pedas seperti biasanya.


" Ahehe..."


" Saya bukan mengumpat bapak kok!"


" Saya.. saya mengumpat nyamuk dirumah bapak, yang suka menggigit tanpa permisi, hehe...!" Rinjani mencari-cari alasan walau tidak masuk diakal.


" Apa?"


" Kamu samain saya dengan nyamuk!" Samuel langsung menoleh kearah Rinjani yang langsung terlonjak kaget mendengarnya.


Astaga... salah lagi, hidup gw selalu saja bermasalah kalau sudah berhadapan dengan pria tampan! beneran deh... gw terima saja juragan bakso kemarin, lebih kenyang makan bakso daripada makan hati !


Rinjani akhirnya memilih diam, dia berbaring disofa empuk, kakinya yang panjang membuatnya harus tertidur meringkuk karena ruangan itu ber AC, kelas VIP memang beda dari bangsal lainnya, lebih seperti hotel didalam rumah sakit.


Rinjani hanya memejamkan kedua matanya saja, namun otak dan pikirannya masih melanglang buana kemana-mana, dia memang sulit tertidur kalau berada ditempat asing.


Setelah beberapa waktu ruangan itu hening, Samuel membuka matanya, dia menoleh kearah Rinjani, tanpa terasa senyum simpulnya kembali terbit saat melihat Rinjani tak bersuara dan meringkuk layaknya bayi imut yang menggemaskan, wajahnya yang tirus memang seperti boneka, bahkan dia sering dipanggil Barby Jawa oleh teman-teman dikampus.


Perlahan Samuel bangun dan menyambar jas kerjanya yang dia taruh dibahu ranjang pasien.


" Kamu lebih cantik kalau diam!" Samuel menyelimutkan jas miliknya ke tubuh Rinjani dan langsung berbalik ke arah ranjang.


" Hmm.."


" Saya memang cantik dalam keadaan apapun!" Rinjani berucap dengan senyum tipis tanpa membuka matanya.


" Kamu pura-pura tidur!" Samuel langsung kelabakan sendiri.


" Saya memang belum tidur sedari tadi pak!"


" Hanya saja mata saya lelah, ketika tidak ada pemandangan yang menyejukkan dikamar ini!"


" Tapi... terima kasih untuk jas nya, saya memang tidak tahan tidur ditempat ber AC tanpa selimut!" Rinjani berbicara dengan santainya dengan senyum manis terbit di bibir seksi nya.


" Jangan Ge Er kamu!"


" Saya melakukan itu untuk Yoyo!"


" Saya tidak ingin kamu sakit, karena nanti tidak ada yang akan menjaga Yoyo!" Samuel langsung memberikan penjelasan sebelum Rinjani salah paham terhadapnya.


" Hmm...!" Jani hanya bergumam tanpa menjawabnya dengan jelas.


" Jangan sampai kamu berfikir kalau saya melakukan itu karena perhatian!"


" Karena itu mustahil bagiku!"


" Tidak akan mungkin!" Samuel tidak ingin harga dirinya jatuh didepan wanita yang satu ini.


" Iya.."


" Anggap saja tadi saya sudah tidur!"


" Dan sekarang saya sedang mengigau!" Rinjani memilih mengalah dari pada berdebat, karena dimana-mana bawahan akan selalu kalah dengan atasan.


" Good night pak!"


" Jangan coba-coba memperhatikan aku dalam diam!"


" Nanti lama kelamaan jatuh tersesat didalamnya dan sulit untuk kembali pulang!"


" Hehehe..." Rijani tidak membuka matanya, dia hanya melirik sebentar tadi, ingin melihat reaksi presdirnya saat ini.


" Kaaaauuuu yaaaa!" Samuel malah jadi sewot sendiri, akhirnya dia memilih keluar dari ruang rawat Yoyo, dari pada meladeni perkataan Rinjani yang sulit ditebak dan yang selalu membuatnya kalah telak olehnya.


Hidup selalu memberikan kita sebuah pilihan. Dan terkadang pilihan itu mengerucut pada dua pilihan yang sulit. Pada dua pilihan yang berlawanan itu, tentu saja masing-masing pilihan memiliki resikonya sendiri-sendiri. Semakin sulit kita memutuskan sesuatu, maka semakin besar pula keraguan yang ada dalam diri kita.


Keraguan muncul bukanlah tanpa alasan, mengingat apa yang akan kita pilih nanti, mungkin saja akan menentukan jalan hidup kita kedepannya. Sebuah kalimat bijak mengatakan ‘Ada keyakinan disitu pula ada keraguan.’ Kita memang tak bisa melawan kebimbangan, namun pahamilah bahwa ragu-ragu menandakan kehati-hatian. Kita lebih berhati-hati memutuskan sesuatu agar nanti tak terjebak dalam lembah penyesalan.


..." Masalah didunia ini terjadi ketika orang bodoh terlalu yakin dan orang pintar penuh dengan keraguan."...


Hayo.. hayo... jangan lupa tinggalkan jejak kalian🥰

__ADS_1


__ADS_2