
...Happy Reading...
Hal terkuat tentang cinta adalah bahwa cinta masih dapat menunjukkan kerapuhan juga. Tidak ada hubungan yang sempurna, seperti tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.
Mobil mewah Marvin membelah jalanan yang dikelilingi pepohonan di hutan, dia mempercepat laju kendaraan mobilnya untuk terus menelusuri jalanan sunyi malam ini dengan perasaan kalut yang melanda, seolah harapannya akan sirna esok pagi.
Kabar pertunangan dadakan Niar yang keluar dari mulut Jani seolah seperti hantaman keras kedalam tubuhnya, bahkan niat awalnya untuk menjemput sepasang suami istri itu untuk pergi dari sana pun sirna begitu saja.
" Apa ini hanya mimpi?" Marvin memastikan dengan menampar pipinya sendiri.
" ****, ternyata beneran sakit!" Dia mengusap pipinya yang sedikit memerah karena ulahnya sendiri dengan wajah yang sangat sulit digambarkan, rasa sedih dan kecewa menyelimuti dirinya, bahkan sampai saat ini dia masih berharap jika itu semua hanya gosip belaka, walau mungkin presentasinya hanya beberapa persen saja, karena info ini keluar dari mulut sahabat rasa saudara karibnya itu secara langsung.
Walaupun tidak ada kejelasan atau ikatan dalam sebuah hubungan dengan Niar, entah mengapa dia sangat terluka saat ini, Marvin sungguh tidak menyangka jika Niar akan bertunangan secepat ini, dia sengaja belum mengutarakan isi hatinya kemarin karena masih menunggu hubungan Niar dan kekasihnya roboh dengan sendirinya, yang menurutnya memang hubungan mereka tidak akan ada harapan lagi, karena saat Marvin dan Niar bersama, selalu saja terjadi hal-hal manis yang tidak pernah mereka sangka, semua mengalir indah begitu saja.
" Haish... bisa-bisanya dia tega ninggalin gw dan memilih bertunangan dengan orang lain."
" Apa dia tidak punya perasaan denganku sama sekali?"
" Padahal kita sudah berulang kali bercivman lho Niar!" Entah sudah berapa kali mereka melakukannya tanpa sengaja, bahkan dia sempat merasa kalau Niar selalu saja menikmatinya.
" Aaarrggghhhh... apa kamu tidak ada rasa bersalah sedikitpun denganku!" Ternyata apa yang dia harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
" Owh my... terbuat dari apa sebenarnya hatimu itu!" Marvin mengoceh sendiri didalam mobil selama perjalanan ke rumah Niar dengan segala umpatannya.
Kisah percintaan Marvin memang tidak semulus kartu ATMnya, yang selalu teraliri uang dari berbagai sumber, belum lama hatinya tersakiti oleh wanita yang hanya ingin memeras hartanya, dan saat sudah mulai kembali pulih dengan adanya Niar, tiba-tiba hatinya sudah terasa perih kembali.
Didalam hidup ini, ternyata sebuah ketampanan saja belum tentu bisa menakhlukkan hati semua wanita yang dia inginkan.
Saat sampai dirumah Niar, waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, namun suasana depan rumah Niar memang terlihat masih sangat ramai, suara tawa riang mereka yang sedang mendekor tempat pertukaran cincin disana, terasa sangat menyayat hati Marvin, dia bahkan berulang kali menghela nafasnya untuk memantapkan hatinya menemui Niar.
Andai saja aku, pria yang akan menyematkan cincin itu dijari manismu besok, pasti aku akan sangat berbahagia melihat rumahmu yang menjadi indah seperti ini.
Terlintas sebuah rasa penyesalan akan dirinya, kenapa tidak dia tikung saja Niar sedari dulu, beberapa moment kebelakangan ini, Marvin selalu saja menjadi orang ketiga yang beruntung dan berbahagia karena selalu bisa dekat dengan Niar tanpa ada gangguan dari pihak pertama, namun ternyata endingnya membuat diri Marvin bahkan lebih terluka, daripada saat dia belum mencoba memulainya.
" Permisi aku ingin bertemu dengan Niar." Marvin berbicara kepada sosok pria yang berjalan mendekat kearahnya dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
" Kamu siapa?" Tanya Pria itu yang ternyata adalah Dito calon tunangan Niar sendiri, yang baru selesai membantu menyiapkan acaranya besok pagi, karena acaranya mendadak, dia sengaja membantu agar besok semua acara bisa berjalan dengan lancar.
" Aku?" Marvin menunjuk hidungnya sendiri.
" Kamu tidak perlu tahu, aku hanya ingin bertemu dengan Niar."
" Suruh dia keluar menemuiku sekarang juga!" Ucap Marvin dengan sikap judesnya, masalah yang menerpanya secara bertubi-tubi membuat hatinya seolah mengeras seperti baja.
" Tapi aku mahu tahu juga, bagaimana dong?" Ucap Dito itu tanpa ragu, dia bahkan berjalan mendekat kearahnya dengan menegakkan kepalanya, tanpa ada rasa takut sedikitpun.
" Apa urusanmu!"
" Aku tidak ingin berbicara panjang lebar kalau bukan dengan Niar."
" Kamu masuk suruh dia keluar, atau aku yang akan masuk kedalam rumah, untuk menemuinya?" Kata-kata Marvin sungguh membuat Dito semakin naik darahnya sampai ke ubun-ubun, dia sungguh tidak menyangka, ternyata ada seorang pria seperti ini dikehidupan kekasihnya.
Saat keadaan sudah semakin memanas disaat hawa dingin malam hari berhembus, seorang pria berlari masuk kedalam rumah mencari Niar karena menyaksikan perdebatan mereka yang sudah mulai memanas.
" Niar... Niar!" Teriak seorang pria yang sudah kelihatan berumur itu.
" Kenapa lari-lari?"
" Apa yang terjadi?" Niar dan ibunya yang sedang berbincang tentang makanan apa saja yang disediakan untuk menu besok pagi langsung berjalan menghampiri pamannya yang seperti melihat kejadian menyeramkan.
" Ada yang mencarimu?" Ucapnya sambil mengatur deru nafasnya, usia yang sudah tidak muda berlari sekejap saja sudah ngos-ngosan.
" Siapa?" Tanya ibu dan anak ini serempak, bahkan mereka melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
" Tidak tahu, tapi dia seorang pria." Ucap Paman itu dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
" Siapa pria yang mencarimu malam-malam begini?" Ibu Niar langsung berjalan menuju halaman rumahnya, dia sungguh penasaran karenanya.
" Mana aku tahu buk?" Jawab Niar ikut penasaran juga.
" Selama ini tidak ada pria yang dekat denganku kecuali mas Dito kok."
__ADS_1
" Atau mungkin dia----?" Satu nama langsung terlintas dipikiran Niar.
Mampus... apa jangan-jangan dokter sableng itu ya?
Niar bahkan langsung berlari keluar mendahului ibunya yang langsung terlonjak kaget.
" Astaga... bocah satu ini." Ibu Niar mengusap da danya perlahan dan kembali meneruskan perjalanannya keluar rumah.
" STOP!" Teriak Niar semakin menambah kecepatan langkah kakinya saat dia melihat apa yang terjadi di halaman depan rumahnya.
Benar seperti yang Niar duga, bahkan Marvin sudah menarik kerah baju Dito kekasihnya saat ini.
" Haish!"
Dito mengibaskan tangan Marvin dengan kasar, hampir saja mereka melakukan adu tonjok kalau saja Niar tidak segera memergokinya, emosi kedua pria ini sudah meradang semua.
" Siapa dia yank, kenapa bahkan kamu sampai berlari-lari begini menyambutnya?" Dito tersenyum miring menatap Niar yang masih mengatur nafasnya.
" Fuuhhh..."
Dia sungguh tidak menyangka Marvin akan datang malam-malam begini, sudah beberapa hari ini mereka bahkan jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, entah kenapa dia tiba-tiba nongol disaat yang tidak tepat pikirnya.
" Bukan siapa-siapa kok yank." Niar bahkan memejamkan matanya terlebih dahulu untuk mencari alasan yang tepat, dia sebenarnya belum paham maksud kedatangan Marvin sekarang.
Kenapa hatiku perih sekali saat dia bilang aku bukan siapa-siapa? Niar... ini sungguh sangat menyakitkan!
" Apa kamu bilang? bukan siapa-siapa?" Marvin mengulang kata-kata Niar yang seolah menusuk hatinya.
Civman yang mereka lakukan beberapa kali dan pelvkan hangat yang mungkin sudah tidak terhitung lagi, bisa-bisanya dianggap kalau dia bukan siapa-siapa, seolah hal-hal indah dan manis itu tidak berbekas dihati Niar sama sekali.
" Wah... wah... kamu benar-benar ya!" Marvin langsung tertawa kesal sambil berkacak pinggang.
Sebagai seorang pria, yang bahkan banyak orang bilang ber hati keras dan dingin saja merasakan kesakitan, kenapa gadis didepannya itu bahkan menggangap semua yang terjadi diantara mereka hanya seperti angin lalu yang berhembus begitu saja, pikirnya.
... "Kamu boleh jatuh cinta kepada siapa saja, tapi kamu tidak punya hak memaksakan orang lain untuk mencintaimu."...
__ADS_1
... "Tetaplah menjadi kuat karena hidup gak berakhir hanya karena kegagalan, kekecewaan, dan bahkan tidak dianggap oleh seseorang."...