CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
73. Pisang Goreng


__ADS_3

...Happy Reading...


Akhirnya kamu akan memahami bahwa cinta menyembuhkan segalanya, dan cinta adalah segalanya saat kamu merasa menemukan orang yang terpilih dihatimu.


Seperti sore ini, Samuel sudah memikirkannya dengan matang, dengan segala konsekuensi yang mungkin akan datang nantinya, karena mungkin hanya inilah cara satu-satunya agar dia terikat penuh dengan Rinjani sang istri, selama ini hanya kebutuhan batin saja yang belum dia penuhi sebagai suami sah Rinjani.


" Kak?"


Saat Samuel keluar dari kamar mandi, Rinjani sudah kembali memakai bajunya dan duduk menunggu suaminya yang entah ngapain saja didalam kamar mandi hampir setengah jam lamanya.


Sedangkan Samuel hanya meliriknya sekilas dan memilih berjalan keluar ke balkon kamar Villa itu untuk menikmati indahnya sunset sore ini dari ketinggian.


" Kak?" Jani kembali mengikuti langkah suaminya yang seolah tidak melihat keberadaan dirinya, karena Samuel lebih memilih mengedarkan pandangan matanya untuk melihat pemandangan sang surya yang mulai tenggelam.


" Kakak masih marah sama aku?" Jani berjongkok didepan Samuel yang duduk menyilangkan kakinya.


" Aku... aku nggak tahu harus bilang apa tadi kak?" Jani menggengam jemari Samuel.


" Kamu nggak tahu, apa memang nggak mahu?" Samuel kembali melirik wajah istrinya sekilas.


" Mahu kok, eeh... maksudnya beneran nggak tahu lho?" Jani membungkam mulutnya sendiri saat dia keceplosan.


Haha.. akhirnya, dia bisa menerima diriku sepenuhnya, terima kasih Tuhan...


" Kamu bohong!" Samuel pura-pura melirik dengan tatapan tajam, padahal hatinya sudah berseri-seri.


" Kok bohong sih kak, aku memang tidak tahu lho?"


Aku baru pertama kali tidak memakai apa-apa di depan pria, harus apa dulu atau bagaimana dulu aku sungguh tidak tahu, ya ampun... mesti gimana ini ngomongnya? nanti dia salah paham lagi, apa gw terjang aja sekarang, tapi apanya duluan dong?


" Okey.. sekarang kamu tunjukkan, kalau kamu memang tidak bohong!" Samuel kembali membuang pandangan, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan istrinya saat ini.


Apa? apa yang harus aku tunjukkan? bukannya kakak sudah melihat semuanya tadi?


" Emm... aku harus ngapain dong?" Lebih baik bertanya pikirnya, dari pada salah lagi.


" Tuh kan, kamu itu memang pembohong."


" Kamu itu memang sudah nggak sayang aku lagi."


" Jangan-jangan sudah ada pria lain di pikiranmu itu!" Samuel semakin memperkeruh suasana, membuat Jani semakin merasa bersalah.


Arghh... kenapa begini begitu semua salah, memang hidup ini selalu saja wanita yang disalahkan!


" Sa.. sayang.." Walau dia dulu bukan seorang player setidaknya dulu dia juga pernah merasakan bucinnya jatuh cinta dengan seorang pria, jadi setidaknya dia masih bisa mengingat bagaimana cara merayu seorang cowok.


" Siapa sayangmu itu!" Kalau saja Rinjani bisa mendengar detak jantung Samuel, dia pasti akan tertawa.


" Ya kakaklah, emang siapa lagi?"


" Sekarang aku cuma punya kakak seorang." Jani langsung berinisiatif untuk duduk dipangkuan Samuel.


Mantep ahh!

__ADS_1


" Jadi kapan kamu mulai menyukaiku?" Samuel masih saja penasaran tentang hal ini.


" Jauh.. sebelum negara api menyerang." Ucap Jani yang memilih membanyol, karena dia tidak mau terlihat gemetaran saat ini.


" Tuh kan... bercanda terus, bisa nggak kamu serius sedikit?" Samuel mencubit pinggang istrinya.


Bisa-bisanya dia ngelawak disaat seperti ini, susah banget bikin dia takhluk dipangkuanku!


" Hehe.. nggak usah serius banget kak jadi orang."


" Walau aku ingin menua bersamamu, tapi aku juga belum mau rambut kakak memutih sekarang."


" Kasihan nanti, saat anak-anak kita masih kecil, ayahnya sudah beruban, hehe..." Jani mengusap rambut suaminya yang modelnya sudah seperti artis top-topan.


Beeeeeerrrrrr!


Saat mendengar kata 'menua bersamamu' hati samuel seolah berbunga-bunga dan pikirannya sudah melayang kehari tua nanti yang dipenuhi dengan canda tawa bersama istri juga anak-anak tercintanya, senyum yang jarang sekali muncul akhirnya terbit juga saat istrinya berkata-kata manis.


Anak-anak? owh iya... aku kan mau buat anak!


" Jadi kamu mau anak dariku?" Samuel menatap tajam mata Jani yang terlihat malu-malu, tangannya pun tidak diam begitu saja saat melihat sudah ada sinyal-sinyal 'wellcome' di setiap perkataan istrinya.


" Heh.. emm.. emang boleh dari yang lain?" Jani memiringkan wajahnya dihadapan Samuel yang langsung merubah raut wajahnya.


Kreeeeekk!


Tanpa sadar Samuel menarik paksa kemeja istrinya, hingga kancing bajunya terlepas semua dalam waktu bersamaan dan menampakkan pesona alam milik seorang Rinjani Maheswari.


" Kalau mau mimpi jangan jam-jam segini." Samuel langsung mencari sumber Asi untuk anak-anaknya kelak, setidaknya dia mau mencicipi dulu seperti apa rasanya.


" Kamu mau anak berapa dariku?" Entah mengapa tangan Samuel jadi lihai sekali membuka semua pembungkus tubuh istrinya.


" Emm... mau berapa aja, asal darimu." Jani sampai memejamkan mata menahan rasa dari perbuatan suaminya kembali.


Gilak... suami gw kursus dari mana ini, kenapa rasanya seperti ini? uh... sabar, tahan dulu, jangan jadi agresif Jani, jangan malu-maluin.


Rinjani mulai berperang dengan perasaannya sendiri.


" Kamu dulu kalau pacaran ngapain saja?" Samuel sengaja mengajak istrinya berbicara agar suasana tidak terlalu canggung, namun tangannya sudah membuat bagian inti istrinya menjadi basah.


" Eng.. enggak ngapa-ngapain?" Ingin rasanya dia menghentikan perbuatan Samuel, namun tubuhnya seperti orang kena setrum, alhasil dia hanya bisa menggigit bi bir nya sendiri.


" Berarti aku yang pertama?" Senyum Samuel langsung merekah, dengan cekatan dia membuka pelindung pusakanya.


" Ten.. tentu dong kak?" Jawab Jani yang sudah seperti orang setengah sadar.


" Okey... mari kita buktikan." Samuel memangku tubuh istrinya berhadapan dengan dirinya dan menyatukan apa yang seharusnya disatukan saat malam pengantin beberapa minggu yang lalu.


" Kaaaakkk!" Setelah merasakan enaknya menari-nari di udara, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang sakit di benda berharganya.


" Tahan sayang..." Sebenarnya dia tidak tega melihat rintihan istrinya, tapi apalah daya ini jalan satu-satunya menuju ke destinasi cintanya, tidak ada jalan alternatif lainnya.


" Ja... jangan!" Jani meregangkan pelukannya.

__ADS_1


" Kok jangan sih yank, pelit banget kamu ini."


" Lagian sudah masuk seperempat ini, emang ini mau buat siapa lagi!" Disaat dia berusaha menerjang malah istrinya membuat moodnya menjadi kesal.


" Bukan itu, tapi jangan di.. disini."


" Kakak lupa, kita di balkon ini." Untung saja mereka berada di Villa diatas bukit, jadi tidak ada orang yang berlalu lalang disana.


" Hah? iya juga ya?"


" Tapi nanggung yank.. perdana ini, masak dilepas begitu saja."


" Aku nggak rela!" Samuel langsung memulai atraksinya dengan lihai, walau mereka hanya duduk dikursi santai dibalkon kamar villa itu.


" Kakaaaaaakkk!" Semakin cepat tingkah Samuel semakin berisik suara Jani.


" Sssstttt... jangan keras-keras yank, kamu nanti bangunin burung-burung yang berterbangan di hutan sana." Samuel semakin memacu di luar kendali, untung saja kursi yang mereka duduki terbuat dari besi, kalau dari kayu mungkin sudah patah dan hancur berkeping-keping sedari tadi.


" Yank..." Disaat bibit calon bayi akan segera berenang ditempatnya, Samuel masih sempat-sempatnya meledek wajah istrinya yang terlihat sudah tidak karuan.


" A.. apa sih kak." Jani sudah sampai di awang-awang sepertinya.


" Gimana rasanya? mau tambah durasi apa enggak ini?"


" Pisang super ini, bisa diseting awet dan tahan lama ini." Ucap Samuel dengan bangga karena melihat istrinya seolah sudah tidak berdaya.


" Aaaaaaaaa... aku mau pisang goreng saja!"


Akhirnya Jani ambruk didalam pelukan suaminya, dengan senyum Samuel yang tidak pernah pudar sedari tadi, dia begitu bersyukur akhirnya Rinjani bisa menjadi milik dirinya seutuhnya, tidak ada lagi keraguan dihatinya, hanya tinggal menyelesaikan masalah ibu mertua saja.


Kresek.. kresek!


Disaat mereka masih berpelukan untuk sekedar mencari oksigen yang tiba-tiba memanas dan masih dengan posisi yang sama juga, terdengar suara seperti orang berjalan diatas ranting dan daun-daun kering dari arah pepohonan.


" Kakak, apa itu!"


" Haduuh... mana bajumu tadi?" Samuel kelabakan mencari pakaian mereka yang sudah terbang entah kemana.


" Jangan-jangan ada yang melihat kita tadi."


" Kakak jahat iih.. kenapa kayak begituan diluar sih!" Jani memukuli bahu suaminya secara membabi buta.


" Hehe... "


" Yawdah kita pindah kedalam, kamu makan pisang gorengnya mauk?"


" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... kakak!"


" Iya sayang, boleh kok kalau mau nambah lagi, nggak usah teriak-teriak begitu mintanya, hehe..."


Akhirnya kewajiban Samuel terlaksana juga, walau dengan berbagai drama sebelumnya, namun dia bahagia karena Rinjani sudah bersedia menyerahkan hal terpenting didirinya hanya untuk Samuel seorang.


..."Kebahagiaan itu seperti istana dalam dongeng yang gerbangnya dijaga oleh naga, kita harus bertarung untuk menaklukkannya."...

__ADS_1


..."Hal terbaik dan terindah di dunia ini tidak dapat dilihat atau didengar, tetapi harus dirasakan dengan hati."...


__ADS_2