CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
84. Tragedi Pertunangan


__ADS_3

...Happy Reading...


Tunangan adalah proses menjalin hubungan ke tahapan lebih serius. Bertunangan adalah komitmen antara dua orang untuk untuk menyatukan hidup bersama dengan tujuan pernikahan, atau juga biasa diartikan sebagai proses perubahan status dari pacaran menjadi tahapan lebih serius


Pertunangan juga adalah janji bersama dari dua orang untuk menikah dan melakukan persiapan untuk menikah. Bisa dikatakan ini adalah acara informal dari rangkaian menuju pernikahan yang sebenarnya.


" Sayang kamu cantik banget?" Bisik Dito saat Niar mulai duduk disebelahnya, namun Niar hanya memamerkan senyuman diwajahnya, sifat cerewetnya entah sudah hilang kemana.


" Karena semua pihak yang bersangkutan sudah hadir semua, bagaimana kalau kita langsung mulai saja acara pertunangan mereka?" Ucap salah seorang pria dari keluarga Dito.


" Tentu, mari kita mulai sekarang." Jawab ibu Niar yang sudah tidak sabar, dia takut kalau pria yang belum dia kenal tadi malam muncul tiba-tiba dan merusak suasana, jadi lebih cepat lebih bagus pikirnya.


" Sayang.." Dito perlahan menarik perlahan jemari Niar yang entah mengapa terasa sangat dingin kala itu.


" Rileks sayang... tangan kamu kok jadi dingin, kayak dulu waktu pertama kali kita jadian aja?" Dito berbisik disamping telinga Niar sambil tersenyum.


" Hemm.. aku cuma sedikit grogi aja dilihatin keluarga besarmu itu?" Niar melihat disekeliling semua mata tertuju padanya.


" Ya karena kamu bintang utamanya hari ini, wajar dong kalau mereka ngelihatin kamu, lagian kamu cantiknya kebangetan sih hari ini?" Goda Dito untuk sekedar mencairkan suasana, sedangkan mereka semua ikut tersenyum melihat keduanya.


" Jangan ngomong gitu dong yank, malu tahu." Niar langsung mencubit pinggang Dito dengan tangan kirinya.


" Jadi mau masangin cincin apa langsung nikahin aja Dit? kayaknya kamu sudah nggak sabaran mau ehem-ehem?" Ledek salah satu keponakannya.


" Bahahahaha.. sebentar lagi musim hujan lho Dit, dingin-dingin enak lho kalau ada yang nemenin bobok?" Ledek kerabat Dito yang lainnya.


" Ha ah, langsung tancap gas aja kenapa, nggak usah dikopling dulu biar langsung joss, betul nggak?" Kehangatan keluarga Dito memang sangat meramaikan suasana siang itu.


" Tuulllllll..." Jawab mereka dengan kompak sambil terus bersenda gurau.


" Buruan mas, ditungguin itu?" Niar langsung menyenggol lengan kekasihnya yang malah tersenyum dengan santainya saat mendengar ledekan mereka.


" Maunya sih gitu, tapi kali ini cutiku cuma sebentar, kasian nanti Niar kalau bulan madunya cuma sebentar." Dito menatap wajah Niar yang semakin memerah menahan malu karena ucapan Dito.


" Woaaah... ternyata dia sudah mengatur strategi jitu rupanya, bahahaha.." Mereka seolah ikut berbahagia melihat Dito sekarang.


" Okey kita mulai ya sayang." Dito mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah merona.


" Hmm." Akhirnya mereka berdua berdiri ditengah-tengah keluarga mereka.


" Berjuta rasa-rasa yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata, dengan beribu cara-cara kamu selalu membuat ku bahagia sayang." Dito kemudian mengeluarkan cincin berlian yang begitu indah dipandang mata.

__ADS_1


" Kamu adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kamu, untuk selalu di sini ada untukku Niar."


" Maukah kamu untuk menjadi pilihan hatiku? dan menjadi yang terakhir dalam hidupku sayang?"


Rentetan kata-kata indah dan sedap didengar, keluar satu persatu dari mulut Dito yang manis itu, seakan masa-masa indah dan kenangan manis mereka saat bertemu terbayang dipikiran keduanya.


Ya Tuhan, semoga aku tidak salah memilih, jika memang aku salah, ini semua pasti kehendakmu, aku percaya Engkau pasti akan memberikan yang terbaik untukku.


Niar menarik nafasnya dalam-dalam perlahan sambil berdoa didalam hati, mencoba memantapkan hatinya yang sebenarnya masih bimbang dan ragu.


" Ya.. aku mau." Jawab Niar yang terlihat mencoba untuk tersenyum walau dengan hati yang masih tak menentu.


" Terima kasih sayang, I Love You Niarku." Jawab Dito sambil menyematkan cincin berlian itu dijari lentik Niar.


Prok... prok... prok...


Tepukan gemuruh dari seluruh sanak saudara Dito dan Niar menggema diruangan tersebut, dan terlihat Rinjani yang tersenyum lega karena Niar akhirnya bisa ikhlas menerima semuanya tanpa harus mengacaukan keadaan saat ini.


" Selamat beb, akhirnya kamu jadi di iket juga ya? semoga semua lancar sampai hari pernikahan tiba ya?" Jani tiba-tiba berdiri ditengah-tengah Dito dan Niar yang masih berdiri ditengah-tengah.


" AWAS SAYANG!" Tiba-tiba terdengar suara Samuel menjerit dan melompat kearah Rinjani, dia pun sontak langsung menoleh kearah sumber suara.


" KAKAK?" Rinjani pun ikut terkejut karena dia sama sekali tidak tahu kalau Samuel sudah berada disana, karena mungkin dia tadi duduk dengan ibu nya, jadi Samuel tidak berani mendekatinya.


Terdengar suara tembakan dari seseorang yang duduk didekat pintu yang memang terbuka sangat lebar.


" Arrgghhhh!" Samuel menjerit saat merasakan sesuatu menancap diperutnya dan berhasil mengeluarkan darah segar yang langsung menembus dan membasahi kemeja putihnya.


" KAKAK, aaargghhh... sayang bangun sayang, please!" Teriak Rinjani kembali saat Samuel ambruk kedalam pangkuannya!"


" Heiii... siapa itu!" Teriak Dito dengan kerasnya, semua keluarga pun menoleh kearah pria berbaju batik yang menggunakan masker dan kaca mata sedari tadi.


Saat semua menoleh kearah luar, pria itu sudah menaiki sebuah motor king dengan seseorang yang ternyata sudah menunggunya diluar sedari tadi.


" Kakak, aaarrggghhh... tolong... tolong suami saya?" Jani berteriak histeris saat melihat Samuel sudah tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah segar yang terus saja mengalir diperutnya.


" Jani kamu---?" Teriak ibu Rinjani yang langsung mendekat kearahnya.


" Bu.. jangan larang Jani, dia bahkan tidak memperdulikan nyawanya saat ada orang yang ingin membunuhku!" Teriak Jani yang sudah tidak perduli lagi ibunya mau berkata apa.


" Kita langsung bawa kerumah sakit terdekat!" Dito langsung menggendong Samuel dan membawanya kedalam mobilnya.

__ADS_1


" Ayo Jan, kita ikut masuk ke mobil!" Niar langsung menarik lengan Rinjani yang masih menahan sesak didadanya, dia begitu ketakutan melihat darah yang tak henti-hentinya mengalir itu, bahkan bau amis dari darah itu membuat kepalanya terasa sangat pusing.


Suasana rumah Niar begitu kalang kabut, bahkan tidak sedikit orang berlari kepojokan saat mendengar bunyi suara tembakan itu tadi, bahkan makanan dan minuman yang tertata rapi didepan mereka berhamburan dan berserakan tak berbentuk lagi.


Untung saja jarak rumah sakit dari rumah Niar tidak begitu jauh, walau bukan rumah sakit besar namun disana sudah ada dokter ahli bedah, jadi mereka memilih untuk membawa Samuel kesana, karena takut terjadi apa-apa kalau Samuel tidak langsung segera ditangani.


" Siapa sebenarnya orang itu? kenapa dia mengincarmu Jan? apa kamu punya musuh? atau kamu pernah bertengkar gitu dengan seseorang?" Niar masih saja tidak percaya semua itu terjadi dihari pertunangannya.


Namun Jani hanya bisa menggelengkan kepalanya didalam pelukan Niar, seingatmya dia tidak punya musuh, namun dia juga tidak tahu apa sebenarnya misi orang itu ingin membunuhnya.


" Sayang, apa kamu yakin kalau dia mengincar sahabatmu itu?" Dito menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit dengan segala hal yang mengacaukan pikirannya.


" Maksud kamu apa?" Tanya Niar yang langsung menoleh kearah tunangannya itu.


" Apa mungkin sebenarnya orang itu mengincarku bukan Jani?" Ucap Dito yang semakin membuat Niar bingung, Jani pun tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya.


" Kenapa harus mengincarmu mas?" Niar mencoba menelisik wajah Dito yang sudah kalut itu.


" Yaa.. karena aku akhirnya bisa bertunangan denganmu, mungkin?" Tatapan Dito seolah tertuju dan menyalahkan Niar.


" Do.. dokter Marvin maksudmu?" Tanya Niar yang seolah ragu.


" Aku tidak menuduhnya, tapi yang paling membenci hubungan kita saat ini ya cuma dia kan?" Ucap Dito sambil menghela nafasnya berulang kali.


" Tapi Dokter Marvin itu sahabat kak Sam, mana mungkin dia mencelakakan orang yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri." Ucap Jani saat mengingat pria itu sekilas.


" Ya dia kan cuma suruhannya, mana tahu dia sahabatnya atau bukan!" Jawab Dito masih kekeh dengan segala prasangkanya.


" Nggak mungkin, itu nggak mungkin mas! dokter Marvin bukan orang yang seperti itu!" Niar sama sekali tidak percaya dengan pendapat dari Dito.


" Kenapa pula tidak mungkin, tadi Jani tiba-tiba saja berdiri ditengah-tengah kita dan menggeser posisiku, jadi saat pelaku itu melepas pelatuk pistol yang seharusnya terarah kepadaku jadi pindah ke temanmu, dan mungkin suami Jani sudah curiga dan melihat pergerakannya jadi dia melompat untuk menghalanginya." Jelas Dito mencoba menebak alur penembakan siang itu.


" No.. dokter Marvin bukan orang yang seperti itu!" Niar tetap saja menyangkalnya.


" KAMU---!" Dito langsung terlihat kesal sendiri saat melihat Niar seolah membela pria lain didepan kedua matanya sendiri.


" STOP! sudah jangan berantem disini, aku takut Niar, aku takut terjadi apa-apa dengan kak Sam, tolong jangan ribut disini, please!" Ucap Jani yang kembali meneteskan air matanya.


" Okey, maaf Jan, maafkan kami." Akhirnya Niar mengeratkan kembali pelukannya kepada sahabat karibnya, dia sungguh merasa sangat bersalah jika sebenarnya yang diincar pelaku itu adalah dia ataupun tunangannya.


..." Mungkin hati seperti langit yang tak bisa diduga. Tak tahu kapan mendung dan hujan akan datang, tak tahu apa pelangi tengah menanti di balik gelap."...

__ADS_1


..." Cinta pun demikian. Tak tahu kapan hati akan dihuni seseorang. Tak tahu apakah bahagia ataukah sedih nantinya."...


__ADS_2