CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
43. One Step Again


__ADS_3

...Happy Reading...


Hidup itu seperti resep dengan semua bahan yang sempurna. Kamu tidak bisa mekar begitu cepat, kamu harus tumbuh dulu. Jika kamu menunggu sesuatu terjadi, kamu sudah terlambat.


Suasana lamaran Samuel dan Jani malam ini masih terasa tegang, sanak saudara Jani yang datang masih berbisik ke kanan dan ke kiri.


" Nak Samuel?"


" Sebenarnya bagaimana status kamu itu?"


" Apa itu duda rasa perjaka?"


" Jangan main-main deh!" Ibu Jani malah jadi gemes banget melihat calon menantunya yang seolah malah membuat teka-teki diacara penting seperti ini.


" Ibu mertua?" Samuel melembutkan suaranya.


" Calon... masih calon!" Umpat Ibu Jani sambil menggeratkan giginya.


" Boleh saya berbicara dengan Ibu dan Jani bertiga dulu?" Samuel sebenarnya ingin sekali membuka semua rahasia didalam hidupnya sekarang, tapi dia tidak ingin kelak Yoyo menerima dampaknya, apapun yang terjadi Yoyo selalu menjadi prioritas utama bagi diri Samuel.


" Kenapa?"


" Kenapa nggak bicara disini saja?" Ibu Jani terlihat memaksa.


" Jani.." Samuel langsung menatap mata Jani seolah meminta bantuan.


" Emmm..."


" Nggak papa buk."


" Kita ngobrol sebentar didalam yuk."


" Dari pada semakin ribut nanti saudara-saudara ibuk itu."


" Lihat mereka pada rempong semua!" Jani berbisik ditelinga ibunya.


" Haaah!"


" Ya sudah.." Umpatnya perlahan.


" Okey semuanya, silahkan menikmati hidangan kami dulu." Padahal seharusnya acara makan-makan setelah acara penyematan cincin berakhir, namun ternyata rencana tinggal rencana, daripada mereka banyak yang ngedumel, mending dikasih makan enak saja, setidaknya mulut mereka terisi dengan makanan, bukan hanya sekedar bahan gosip an.


" Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan calon menantu saya."


" Tidak akan lama kok."


" Mohon bersabar ya?" Ibu Jani tetap menampilkan senyum terindahnya, walau sebenarnya dongkolnya sudah satu kebon sekarang.


" Cepat.. kita masuk kedalam sekarang!" Ibu Jani langsung memelototkan matanya kearah Samuel.


" Terima kasih buk, atas pengertiannya." Samuel menunduk dengan sopan dan mengikuti langkah Jani dan ibunya masuk kedalam kamar Jani.


" Sekarang katakan!"


" Katakan sejelas-jelasnya dan sedetail-detailnya." Ibu Jani langsung berdiri dan bersidekap didepan mereka.


" Buk.."


" Duduk dulu sini." Jani menepuk kursi disebelahnya.


" Nggak usah bertele-tele."


" Langsung saja ke intinya!"


" Sudah tidak ada lagi waktu untuk mengobrol banyak disini."


" Saudara kita sudah menunggu diluar!" Ibu Jani seolah sudah tidak sabar ingin mendengarkan penjelasan Samuel.


" Astaga ibuk." Jani hanya bisa menggelengkan kepalanya kalau ibunya sudah begini.


" Its okey sayang." Samuel masih saja sempat mengusap pipi Jani bahkan didepan ibunya.


" Jangan sentuh-sentuh anakku!" Ibu Jani langsung menyentil telinga Samuel.


" Sebelum kamu menjelaskan statusmu yang nggak jelas itu!" Ibu Jani makin dibuat 'darting' dengan kelakuan Samuel.


" Eherrm..."


" Maaf buk, kebiasaan!" Samuel memilih untuk mengalah saja.


" Status saya sebenarnya memang masih perjaka buk." Ucap Samuel perlahan.


" BUKTINYA?" Teriak Ibu Jani.


" Astaga ibuk."


" Jangan teriak-teriak dong."


" Malu kalau sampai kedengaran saudara kita diluar."


" Sabar dong buk, dengerin dulu pak Sam bicara." Jani tidak habis pikir kenapa ibunya jadi tidak sabaran banget seperti ini.


" Didalam kartu keluarga, Yoyo memang anak kandung saya." Samuel membuang pandangannya lurus kedepan, seolah mengingat kejadian perih dimasa lalu.


" APAAAH!" Belum selesai Samuel berbicara sudah disela duluan.


" Tapi sebenarnya dia bukan anak kandung saya." Jani bahkan melihat mata Samuel, dia ingin melihat kejujuran dari sorot matanya.


" Dia anak dari kakak kandung saya."


" Tapi saya mohon buk, demi kebahagiaan Yoyo."


" Tolong jangan bilang siapa-siapa tentang identitas Yoyo sebenarnya."


" Semua salah saya."


" Saya tidak mau Yoyo merasa tepuruk dan merasa kesepian kedepannya." Samuel menundukkan pandangannya, bayangan almarhum kakaknya seolah melintas dipandangannya.


" Hah?"


" Memang kakakmu kemana?" Ibu Jani menelisik wajah Samuel yang langsung menjadi sendu.


" Dia... dia sudah meninggal buk." Suara Samuel sudah terdengar gemetaran, dengan sigap Jani langsung menggengam tangan Samuel yang sudah terasa dingin dan basah itu.


" Innalihahi.."


" Trus bapaknya?" Suara ibu Jani tiba-tiba langsung melunak saat mendengarnya.


" Fuuuuhh..." Dia membuang nafasnya sedikit kasar.


" Kakak ipar saya, juga meninggal disaat yang bersamaan." Samuel langsung mengontrol deru nafasnya yang sudah tidak beraturan, kenangan itulah yang membuat Samuel menjadi trauma sampai sekarang.


" APA?"


" Jani mereka berdua meninggal bersamaan?"


" Memang sakit apa?"


" Atau kenapa?" Ibu Jani makin dibuat penasaran oleh cerita Samuel.


" Pak.."


" Bapak bawa obat enggak?" Jani langsung terlihat khawatir saat tanda-tanda penyakit Samuel sudah muncul, keringat dingin mulai mengucur dikening Samuel, berulang kali Samuel memejamkan matanya seolah mengusir bayangan hitam yang terus saja berlarian didepannya.


" Bukk.. sudahlah."


" Jangan tanyakan lagi."


" Yang penting ibuk kan sudah tau, bahwa dia bukan duda seperti yang ibu perkirakan!"


" Lagian kalau duda juga kenapa?"


" Apa salahnya kalau duda!"


" Yang pentingkan hatinya, bukan statusnya."


" Jaman sekarang malah banyak, perjaka yang rasa duda!" Umpat Jani langsung mengusap bahu Samuel yang sudah ikut bergetar.


" Janiii..." Suara Samuel bahkan sudah berubah parau.


" Tuuhkann!"


" Gara-gara ibuk sih!" Jani langsung menarik Samuel kedalam pelukannya.


" Kamu ini!" Ibu Jani langsung menarik telinga putrinya.


" Memang dasarnya kamu saja yang seneng ngekepin dia!"

__ADS_1


" Iya kan!"


" Ngaku sama ibuk, ngakuuu kamuuu!" Telinga Jani sampai memerah karena tarikan ibunya yang tidak main-main.


" Ibuuuukkkk!"


" Sakit buk!" Namun dia tetap tidak melepaskan pelukannya ditubuh Samuel yang sudah memucat dan melemas itu.


" Lepass nggak!"


" Lepasin dia, masih sempat-sempatnya kamu main peluk-pelukan sekarang ya?"


" Diluar sudah pada nungguin itu!" Ibu Jani memelototkan matanya kearah Jani yang masih ngotot ngekepin Samuel.


" Ibuk nggak lihat tubuh pak Sam gemetaran gini?"


" Dia kambuh gara-gara ibuk nih!"


" Apa ibu mau gantiin ngekepin dia?"


" Hayooo... tanggung jawab ibuk!" Umpat Jani.


" Yaaaa.. yaudah sini." Ibu Jani seolah ragu mengatakannya.


" Sini apa?" Jani bahkan menajamkan pandanganya kearah ibu Jani yang terlihat malu-malu.


" Sini.. biar ibu yang meluk dia!" Ucap Ibu Jani mengulurkan kedua tangannya.


" Wooooaaaaahhh.."


" Ibu beneran mau meluk Pak Sam?"


" Nggak nyangka, ibu ternyata demen juga sama yang daun muda ya!" Jani langsung ingin bangkit dan melepas tubuh Samuel.


" Janiiii... jangan pergi!" Samuel mengeratkan pelukannya dan mengungselkan wajahnya diceruk leher Jani.


" Haaah!" Ibu Jani langsung melengos, seakan kesal karena Samuel menolaknya secara tidak langsung.


" Kalian berdua memang sama saja!"


" Demen kekep-kekepan!"


" Kalau begitu nggak usah lama-lama pertunangannya!"


" Menikah lebih cepat lebih baik!" Ucap Ibu Jani langsung kesal dan ingin pergi dari sana.


" Buk.. buk.. tunggu!" Jani berteriak saat ibunya ingin keluar dari kamarnya.


" APA LAGI!"


" Ibuk tidak sudi melihat kemesraan kalian berdua!" Beliau menoleh serta menajamkan pandangannya.


" Hehe..."


" Bilang aja ibuk pengen kan?" Jani masih sempat-sempatnya meledek ibunya yang terlihat semakin kesal.


" Kamu ya!" Ibu Jani langsung melepas sendalnya dan ingin melempar putrinya yang berbicara ngawur itu.


" Ampun buk.. ampun!" Jani langsung melambaikan satu tangannya.


" Tolong panggilkan dokter Marvin saja buk!"


" Suruh dia masuk kesini." Pinta Jani.


" Siapa dokter Marvin?" Ibu Jani bahkan sudah tidak mengingatnya lagi.


" Pria yang datang dengannya tadi lho buk."


" Yang gendong Yoyo keluar tadi."


" Dia dokter pribadi pak Sam!" Jani merasa sedikit lega karena Marvin ikut datang bersama kerumahnya.


" Owh... ternyata dia dokter ya?"


" Dia juga tampan Jan."


" Dokter lagi."


" Kenapa kamu nggak milih dia saja, jadi calon suamimu?"


" Kenapa harus dia?" Ibunya bahkan tidak segan-segan mengatakannya didepan Samuel.


" Tuh kan!"


" Ibu ini.. jangan cari masalah deh!" Jani kembali mengeratkan pelukannya.


" Buruan buk, tolong panggilin dokter Marvin."


" Atau ibuk mau, acara lamarannya gagal kalau pak Sam nggak sembuh-sembuh." Jani bahkan menepuk lembut pipi Samuel.


" Iyaaa.. iyaaa.."


" Sakit kok aneh gitu!"


" Mau nya yang empuk-empuk dan anget-anget!"


" Giliran dikasih yang sudah sedikit kempot dan keriput nggak mau dia!"


" Dasar bocah gendeng!"


" Tau saja barang bagus!" Ibu Jani mengumpat sambil melangkahkan kakinya keluar dari sana.


" Pak... sadar dong?" Jani menempelkan pipinya dikepala Samuel dengan mesra.


" Katanya mau lamaran?"


" Jadi nggak nih?" Jani mengusap kepala Samuel perlahan.


" Jani.. jani.."


" Kakak datang Jan.."


" Dia pasti marah denganku."


" Karena gara-gara aku, kecelakaan itu terjadi."


" Mereka pasti menyalahkan aku." Samuel berbicara dengan lirih.


" Mana... nggak ada!"


" Mereka pasti sudah tenang di alam mereka pak."


" Yang penting kita selalu mendoakan mereka, agar semua amal kebaikan mereka diterima disisiNya.


" Sudah dong pak."


" Itu sudah garis takdir mereka."


" Tidak ada manusia manapun yang menginginkan musibah terjadi pada diri seseorang."


" Yang kuat dong pak."


" Ini bukan sepenuhnya salah bapak, okey?" Naluri keibuan Jani langsung keluar seketika.


" Sekarang bapak tiduran ya, biar badannya nggak sakit?" Jani membaringkan tubuh Samuel yang melemah itu.


" Jangan tinggalkan aku Jani." Samuel menarik lengan Jani.


" Enggak.. enggak.."


" Aku akan selalu berada disamping bapak."


" Sekarang bapak tenang ya, tarik nafas.. buang..." Jani mencoba membantu merilekskan tubuh Samuel.


" Jani.. peluk aku?" Pinta Samuel dengan lemah.


" Iya ini mau meluk."


" Tapi susah pak, kebayanya ngepas gini lho?"


" Takut sobek sayang kan?" Jani malah membetulkan kebayanya dengan hati-hati, dia masih mengingat kata-kata Niar kalau ini kebaya mahal, kan sayang kalau rusak pikirnya.


" Jani.." Samuel tiba-tiba menarik lengan Jani dengan kuat.


" Empphh--"


Jani yang masih sibuk membetulkan kebayanya langsung tertarik dan jatuh diatas tubuh Samuel dan yang lebih enak nya lagi, bi bir mereka ternyata bertemu disaat-saat moment yang pas, dikala angin malam berhembus lewat pintu yang terbuka, membawa hawa dingin yang menyeruak kedalam ruangan Jani, menimbulkan gejolak kaula muda masa kini.

__ADS_1


" ASTAGAAAAAA..!" Tetiak Marvin yang kaget melihat posisi mereka.


" Sedang apa kalian!" Marvin yang terburu-buru masuk sambil menggendong Yoyo, langsung menutupi mata suci anak itu.


" Ahehe.."


" Maaf.. maaf.. nggak sengaja tadi lho dokter." Jani langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Samuel dan ingin beranjak berdiri karena melihat Marvin yang sudah melotot.


" Jani... lagi." Ucap Samuel dengan wajah absurdnya.


" Hiiisss... bapak ini!"


" Ada dokter Marvin itu!" Jani berbisik ditelinga Samuel.


" Mau lagi..." Rengek Samuel sambil menarik-narik lengan Jani.


" Jadi mau lamaran nggak nih?"


" Atau mau tiduran saja disini sampai pagi!" Jani memelototkan matanya.


" Orang-orang didepan lagi pada nungguin kalian berdua."


" Eeeh... kalian malah asyik-asyikan ngecas disini!"


" Jadi mau disuntik nggak nih!"


" Kalau enggak aku keluar saja!"


" Dasar pasangan mesum!" Marvin kesal sendiri jadinya.


" Mesum itu apaan Om?" Yoyo si bocil ber IQ tinggi itu langsung bertanya.


" Aduuh... salah gomong gw!" Marvin langsung menepuk keningnya sendiri.


" Emmm... itu sejenis apa ya Yo."


" Bisa dibilang makanan, hehe.."


" Sudah.. jangan bertanya lagi, itu nggak penting-penting banget." Marvin pusing sendiri mau menjelaskan bagaimana.


" Arggghhh!" Samuel mencoba bangkit untuk duduk dan memegang kepalanya.


" Aku minum obat saja Vin."


" Sudah dapat suntikan obat alami kok tadi." Samuel melirik Jani sekilas yang masih memelototi dengan mata cantiknya.


" Kalau disuntik nanti aku malah tertidur."


" Aku harus melamarnya, kalau sampai batal nanti, dia pasti akan mencoba kabur lagi dariku!" Ucap Samuel masih dengan intonasi suara terendahnya.


" Ya sudah.."


" Aku ambil dulu obatnya di mobil." Samuel langsung menurunkan Yoyo dari gendongannya.


" Yoyo sini sayang.."


" Duduk sama kakak." Jani mengangkat Yoyo kedalam pangkuannya.


" Mommy!"


" Mulai sekarang kamu panggil dia mommy okey?" Samuel langsung protes.


" Kan belum sah pak."


" Panggil kakak dulu ya sayang?" Jani mengusap rambut keriting Yoyo.


" Memangnya kenapa?"


" Kamu nggak suka?"


" Tinggal nunggu one step again, right!"


" Pelit banget!"


" Apa kita langsung Akad Nikah saja malam ini?" Samuel memijit-mijit kepalanya yang masih terasa pusing.


" Ya udah boleh deh."


" Mau panggil apa saja terserah Yoyo deh?" Lagi-lagi Jani hanya bisa mengalah.


" Gitu dong!"


" Memangnya kamu masih mau mengharap sama siapa lagi?"


" Nggak akan pernah aku biarkan, kamu pergi dariku!"


" Ke Ujung dunia sekalipun!" Samuel kembali membaringkan kepalanya yang terasa berdenyut kembali.


" Terserah bapak saja!"


" Mau ke WC ikut skalian juga terserah!"


" Looosss pokok.e!" Jani langsung melengos, nggak akan ada habisnya berdebat dengan pria arogant sepertinya.


" Kamu dan Yoyo, adalah dua orang terpenting dihidup aku, selain mama juga tentunya." Samuel kembali duduk lagi.


" Kalian adalah kekuatanku."


" Jangan pernah bermimpi, untuk menjauh dari sisiku."


" Sampai kapanpun itu." Ucap Samuel langsung memeluk dua mahkluk ciptaan Tuhan didepannya, yang sangat berharga untuknya.


" Sam..."


" Sudah cukup jadi pria melankolisnya!"


" Cepat minum obatnya." Marvin menyodorkan dua butir obat kehadapan Samuel.


" Aku kasih dosis rendah saja."


" Ibu mertuamu itu, sudah nggak sabaran, dia menyuruhku untuk memaksamu keluar sekarang juga."


" Kamu bertahan ya?"


" Setelah acara pemasangan cincin selesai kalian langsung masuk istirahat saja."


" Nanti aku kasih suntikan obat penenang lagi."


" Biar nanti saya yang menutup acara kalian." Marvin memang sengaja Samuel ajak, karena dia tahu, orang tua Jani pasti akan menanyakan siapa itu Yoyo, hanya saja dia tidak menyangka kalau begitu datang langsung diserbu pertanyaan seperti ini.


" Hmmm..."


" Its okey... aku sudah mendingan kok."


" Kita keluar saja sekarang."


" Jani... kasih Yoyo sama Marvin."


" Kamu bantuin aku berjalan keluar." Samuel mengulurkan tangannya.


" Huuft.."


" Owh bayi tuek." Umpat Jani perlahan.


" Kamu bilang apa?" Tanya Samuel sambil berusaha berjalan senormal mungkin.


" Enggak..."


" Bapak berat!" Jani memeluk pinggang Samuel.


" Ya sudah, nanti kamu yang diatas saja."


" Pasti tidak akan keberatan." Ucap Samuel dengan santainya.


" Apaan sih pak?"


" Nggak jelas banget!" Jani melirik Samuel dengan tajam, namun dia lega, kalau pria itu sudah berpikir diluar nalarnya berarti dia sudah membaik.


" Bingung mau jelasin bagaimana."


" Nanti kita langsung praktekkin saja!"


" Biar enak." Senyum Samuel terbit walau samar, karena masih merasakan kepalanya yang sedikit kliyengan.


Dan akhirnya mereka akan segera memulai sesi lamaran itu, dengan Marvin yang akan menjadi wali bicaranya, ternyata selain sebagai dokter yang handal dia juga sudah pantas meminangkan gadis untuk sahabatnya walau dia sendiri masih perjaka.


...“ Kadang-kadang, kesulitan yang ingin kau hilangkan adalah sesuatu yang justru menyembuhkan, melindungi, dan menyelamatkanmu.”...

__ADS_1


...“ Apa yang akan menjadi suratan takdir akan menjadi milikmu meskipun berada di bawah gunung. Apa yang bukan digariskan takdir tidak akan mencapaimu meskipun berada diantara dua bibirmu”. ...


Yoookk... kopi mana kopi? biar bisa melek buat update keuwuwan mereka lagi🥰


__ADS_2