
...Happy Reading...
Saat Rinjani keluar dari kamar Niar, dia langsung menghubungi suaminya dan mencari tempat yang sekiranya sepi, tidak ada orang yang bisa mendengar percakapannya nanti.
" Hallo sayang, kangen." Sapa Samuel dari balik telpon.
" Lagi nggak sempet buat kangen-kangenan kak, sekarang dokter Marvin ada disitu nggak?" Tanya Rinjani sambil terus mengawasi sekelilingnya.
" Kenapa sih yank, kamu ketemu pria yang lebih tampan dan kaya selain aku disana?"
" Baru dibiarin keluar sendiri sebentar saja sudah ngelunjak kamu ya yank?"
" Mana sudah punya suami malah nanyain pria lain lagi? kamu tega yank sama suami sendiri!" Bukannya menjawab pertanyaan, Samuel seolah murka dengan ucapan istrinya saat ini.
" Astaga kakak?" Rinjani hanya bisa memejamkan matanya, dia sedang nggak punya waktu untuk sekedar meladeni tingkah manja suaminya kalau sudah seperti ini.
" Aku bukan kakakmu! mentang-mentang aku izinin kamu panggil aku kakak, terus kamu se enaknya saja cari pria lain?" Ucapan Samuel malah semakin menjadi-jadi.
" Aduh Gusti... emang siapa yang nyari pria lain kak, satu aja udah bikin puyeng, mau nambah lagi? aku nggak akan kuat deh." Rinjani hanya bisa terduduk lemas sekarang.
" Apa kamu bilang? aku bikin puyeng?" Nada suara Samuel naik satu oktaf saat mendengarnya.
" Apa aku salah?" Jawab Rinjani ikut menaikkan suaranya, seolah tidak ada takut-takutnya sama sekali.
" Hehe... kamu udah sarapan belum tadi yank, nanti pulangnya jam berapa? aku jemput saja ya? Yoyo kangen katanya, apalagi daddynya, kangen banget." Ucap Samuel yang langsung melunak, karena setelah dia pikir-pikir memang dialah yang selalu membuat pusing istrinya, karena sampai sekarang dia belum bisa meluluhkan hati ibu mertuanya.
" Pfttth..." Rinjani akhirnya bisa tersenyum pagi ini, ingin rasanya dia mengganti panggilan video sekarang, untuk bisa melihat wajah imut suaminya, namun masalah Niar lebih penting saat ini, pikirnya.
" Sekarang dimana dokter Marvin, Niar sudah seperti orang gila sekarang kak, kasihan dia." Rinjani langsung berbicara cepat agar suaminya tidak salah paham lagi.
" Kenapa jadi seperti orang gila? apa calon tunangannya nggak jadi datang?" Tanya Samuel yang langsung mengubah nada suaranya menjadi mode normal kembali.
__ADS_1
" Bukan begitu, tapi Niar itu jadi bimbang, sepertinya dia juga menyukai dokter Marvin deh kak."
" Dia jadi kayak orang prustasi gitu, nggak punya semangat hidup." Jani hanya bisa menghela nafas saat menceritakan tentang sahabatnya.
" Ckkk... dasar playgirl temenmu itu, masak dua-duanya mau, yang benar saja!" Samuel malah jadi ilfill sendiri mendengarnya.
" Bukan playgirl kak, tapi coba kakak pikirin, disaat hatinya bimbang, Marvin malah bilang sayang sama dia?"
" Ya pusing kan jadinya anak orang, kalau memang Marvin itu cinta dengan Niar, kenapa nggak bilang dari dulu coba?"
" Kalau tidak ya nggak usah bilang sayang juga sama calon tunangan orang, bikin iman anak orang goyah saja!" Apapun yang terjadi Niar adalah sahabat rasa saudaranya, jadi tetap akan dia bela juga.
" Hah... entahlah yank, urusan kita sendiri belum kelar, males mikirin masalah orang, mereka sudah dewasa, harusnya tahu mana yang terbaik untuk masa depannya sendiri." Samuel tetaplah Samuel, dia tidak mau memusingkan masalah orang, walau sebenarnya dia juga ikut prihatin melihat Marvin sekarang.
" Jadi dimana dokter Marvin sekarang?" Jani kembali ke topik utamanya.
" Emang mau ngapain kalau ada Marvin?"
" Ya kalau perlu, mumpung masih pagi kak, belum telat ini."
" Dia harus mempertanggung jawabkan kata-kata 'sayang' itu kak, dia sudah mengobrak-abrik iman Niar sampai terpuruk kayak gitu lho?" Entah apa yang ada dipikiran Jani saat ini, namun firasatnya mengaakan bahwa memang Marvinlah yang cocok untuk Niar.
" Sayang.. bukan seperti itu cara menengahi masalah mereka." Samuel langsung mengutarakan pendapatnya.
" Tapi rasa sayangnya Niar itu sepertinya sudah pindah ke Marvin kak, aku hanya tidak ingin melihat Niar menyesal nanti akhirnya, mumpung pihak keluarga belum datang, lainnya kita urus belakangan deh." Rinjani tetep kekeh dengan pendapatnya.
" Ckk... sayang, dengerin dulu kalau suaminya belum selesai ngomong?"
" Hehe... iya maaf kak." Jani langsung nyengir sendiri, kebiasaannya nrocos sana sini masih sulit untuk dihilangkan.
" Kalau memang Niar menyayangi Marvin, harusnya tadi malam dia membuat keputusan itu, kalau sekarang dia baru membuat keputusan itu salah."
__ADS_1
" Dua-duanya akan terluka mendalam dan takutnya nanti, salah satu yang dia pilihpun merasa terbebani, bisa juga rasa sayangnya berganti menjadi rasa yang bisa menyakiti karena merasa dibohongi."
" Biarlah waktu yang akan menjawabnya, lagian juga semua persiapan pasti sudah siap kan, kita juga harus memikirkan pihak kedua keluarga, jangan hanya memikirkan perasaan diri sendiri, semua hal pasti ada sebab dan akibatnya." Jawab Samuel dengan santai, karena saat kita memulai sesuatu kita memang harus siap menerima segala resiko dari itu semua.
" Tapi aku nggak mau Niar menyesal nantinya kak?" Jani pun sebenarnya juga sependapat dengan pemikiran suaminya, namun dia hanya mencoba untuk membantu sahabatnya semampu yang dia bisa.
" Semua yang kita ucapkan dan yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya, Niar berani memutuskan itu tadi malam, berarti dia sudah paham seperti apa akibatnya nanti."
" Walaupun dia sahabatmu, tapi ada batas-batas tersendiri yang harus kamu mengerti sayang, jangan terlalu ikut campur dengan urusan yang sangat pribadi seperti ini."
" Sebagai teman kita hanya bisa mengingatkan dan memberi saran yang baik saja, jangan berlebihan juga jangan menyesatkan." Samuel tidak ingin istrinya mengabaikan batasan-batasan sebagai seorang sahabat.
" Iya juga sih kak, jadi aku harus bagaimana sekarang?" Jani tertunduk lemas sambil menendang-nendang sesuatu yang ada didepannya, merasa ikut prustasi karena tidak menemukan solusinya.
" Temani dia, beri pengertian kepadanya, terimalah pria itu, jika memang dia jodohnya kita bisa apa."
" Kalau memang Tuhan tidak menggariskan pria itu sebagai jodohnya, suatu saat nanti pasti ada jalannya sendiri."
" Terima kenyataan, jangan berpikir untuk melakukan hal-hal yang akan mempermalukan diri sendiri dan oang lain."
" Ingat, hidup ini bukan sinetron, maka jalani saja apa yang sudah ada didepan mata."
" Lagian juga pria itu kekasihnya kan? dia pasti tau baik buruknya, kalau memang dia tidak baik untuknya untuk apa dulu dia pacari? buang-buang waktu saja." Ucap Samuel dengan tegas.
" Baiklah, nanti kalau kakak ada waktu datanglah walau hanya sebentar saja, aku butuh bahu kakak untuk bersandar, aku nggak tega lihat Niar terpuruk nantinya." Sebenarnya Jani sudah mulai ketergantungan juga dengan sang suami, dia merasa bahu Samuel selalu hangat dan menentramkan hatinya.
" Okey, nanti aku usahain ya sayang, ingat jaga mata jaga hati, right?" Entah mengapa hati Samuel langsung berbunga-bunga saat mendengar rengekan istrinya, dia merasa bahagia saat istrinya ingin bertemu dengannya tanpa ada suruhan atau paksaan dari dirinya lagi.
" Always suamiku, aku tutup ya, bye.." Senyum diwajah Rinjani pun akhirnya terbit juga, sejenak dia bisa bernafas leluasa sebelum banyangan tangisan Niar kembali berkeliling di otak sucinya.
..." Jodoh bukanlah sendal jepit yang sering tertukar, jadi teruslah berada dalam perjuangan yang semestinya."...
__ADS_1