
...Happy Reading...
Akhirnya setelah drama berkepanjangan didalam mobil, Jani bisa pulang dengan lega, walaupun akhirnya sampai tengah malam dia baru bisa rebahan dikasur empuknya.
Tadi dia sudah mengirim pesan kepada Bromo agar tidak mengunci pintu rumahnya, karena dia akan pulang membantu acara Niar besok, walau dia tidak mengatakan secara langsung kalau Niar akan bertunangan, bisa-bisa Bromo ngamuk nantinya, karena sedari masih SMA dia sangat mengidolakan Niar, entah apa yang dia sukai dari sosok Niar itu sedari dulu, Jani pun selalu heran sendiri, karena Niar selalu menggangap Bromo layaknya adek sendiri, jadi tidak selalu menggangap serius semua kata-kata Bromo.
" Astaga... badanku kenapa jadi sakit semua." Jani merebahkan tubuhnya sambil guling-guling.
" Mana masih perih ini yang dibawah lagi." Saat terkena air, entah mengapa dia masih merasakan perih di bagian sana.
" Ckk... kakak ini bener-bener nyakitin deh!" Dia hanya bisa meringis merasakan efeknya.
" Eeh... tapi nyakitin apa ngenakin ya, hihihi.." Rinjani malah terkekeh sendiri saat membayangkan semua rangkaian peristiwa hari ini, yang mungkin akan dia kenang sepanjang hidupnya.
Saat matanya hampir saja terpejam, dan lampu kamar sudah dia matikan, tiba-tiba berhembus angin malam yang cukup kencang dari arah jendela, bahkan kain yang menutupi jendela kamarnya berkibar kesana kemari.
" Astagfirulloh... apa itu?" Jani tidak berani menoleh kearah jendelanya.
" Kenapa aku bisa lupa menguncinya tadi sebelum tidur?" Karena kebiasaan dia sering kabur lewat jendela, jadi memang dia jarang mengunci jendela kamarnya dari dalam sekarang.
Mulut Jani tidak berhenti komat-kamit membaca doa yang dia bisa, walau dengan tubuhnya yang sudah bergetar karena ketakutan, dia fikir ada sosok tak kasat mata yang sedang lewat karena waktu sudah menunjukkan pukul dua malam.
Greep!
" A... emmphh" Saat ada yang memeluknya dari belakang hampir saja Jani ingin berteriak, namun Samuel sudah membungkam mulut istrinya dengan bi birnya.
" Sayang... ini aku suamimu." Ucap Samuel samar-samar, karena dia masih menerkam istrinya dengan ganas.
Ceklik!
Tangan Jani merambat kearah meja dan menghidupkan kembali lampu kamar disampingnya.
" Astaga kakak, hampir saja jantungku mau copot?" Dia akhirnya bisa bernafas lega, bahkan tadi dia sudah berfikir akan masuk dunia lain seperti di film-film.
" Kenapa belum pulang sih?" Bisik Jani sambil mengamati wajah pria disampingnya kini, takut kalau nanti tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan.
" Pulang juga percuma yank?"
" Aku nggak bakalan bisa tidur nanti?" Samuel memeluk erat tubuh istrinya, sambil merasakan sensasi wangi shampo dari rambut Jani yang masih sedikit basah.
" Lho, kenapa nggak bisa tidur?" Jani mengusap punggung suami kekarnya itu.
" Aku kan sudah berjanji tadi kak, nggak akan ada pria lain dihatiku kecuali kakak." Dia berfikir kalau Samuel masih mempermasalahkan ucapannya saat di mobil tadi.
" Seluruh hati aku ini, sudah dipenuhi nama kakak." Jani meletakkan telapak tangan suaminya dibagian jantungnya.
__ADS_1
" Sudah nggak muat lagi untuk orang lain, percaya dong kak?"
" Karena dalam sebuah hubungan itu, kepercayaan adalah pondasi utamanya, kalau sudah tidak ada rasa percaya, lambat laun pasti akan cepet runtuh." Sebenarnya Rinjani sangat bahagia saat ini, dirinya menjadi sosok penting dan istimewa untuk suaminya.
" Jangan... aku percaya kok sama kamu."
" Terima kasih sayang, i love you." Samuel meninggalkan kecvpan manis dikening istrinya.
" Ya sudah, kalau begitu kakak pulang sekarang ya?" Jani menautkan hidung mancung mereka dengan gemas, pria yang dulunya terlihat kaku dan galak itu sekarang berubah menjadi sangat menggemaskan.
" Kalau sampai ketahuan ibuk, ribut nanti satu komplek denger teriakan heboh ibuk?"
" Habis juga nanti panci berterbangan kemana-mana." Jani mengusap lembut rambut suaminya, sebenarnya dia pun tidak mau jauh dari suaminya, wangi tubuh suaminya seolah candu baginya untuk terus bisa menempel disampingnya, namun dia harus lebih bersabar lagi sekarang, karena disatu sisi imamnya, disisi lain ibu kandungnya, dia tidak akan bisa memilih jika dipinta.
" Aku beneran nggak akan bisa tidur kalau sendirian nanti yank?" Samuel langsung memasang tampang memelasnya.
" Nggak usah banyak alesan deh kak?"
" Kemarin-kemarin sudah bisa kok tidur sendirian, bahkan tanpa dipeluk."
" Lagian ada Yoyo juga kan? dia pasti seneng kalau kakak temenin tidur." Dia mengingat bocah ajaib itu.
" Besok kan kita ketemu lagi diacara pertunangan Niar?" Jani tidak mau, disaat hubungan dirinya dengan suaminya tengah terasa manis-manisnya, jadi rusak karena teriakan ibuknya.
" Jangan lebay deh kak?" Umpat Jani sambil menghela nafasnya.
" Kok jadi marah sih?"
" Sebenarnya bukan karena itu juga sih yank, makanya dengerin dulu kalau suaminya belum selesai ngomong itu?"
" Mau aku gigit apa gimana?" Samuel langsung pura-pura merajuk.
" Hehe... maaf, lanjut deh?" Jani langsung mencivm tangan suaminya biar dia tidak jadi marah.
" Sepertinya aku nggak bisa datang diacara pertunangan sahabatmu besok yank?"
" Lho kenapa? kakak nggak mau nemenin aku? dia sahabat karibku lho kak?"
" Atau kakak takut kalau ketahuan ibuk ya, kan ramai orang lho kak, bisa ngumpet nanti, aku atur deh, beres pokoknya?" Jani malah berpikiran lain, karena sudah pasti ibunya akan hadir besok disana.
" Bukan itu alasan utamanya yank."
" Tapi tadi setelah kamu masuk kedalam rumah, aku menemui Marvin dulu, karena dia tiba-tiba menelponku."
" Dan ternyata saat itu, Marvin benar-benar terlihat kacau yank, kasihan banget dia."
__ADS_1
" Marvin benar-benar terpuruk, bahkan seperti orang ling lung jadinya."
" Aku sungguh tidak menyangka, ternyata dia benar-benar jatuh cinta dengan gadis itu."
" Padahal aku kira hanya sebatas gurauan semata." Samuel sebenarnya sampai tidak tega membiarkan Marvin mengendarai mobil sendiri, namun saat dia ingin mengantarnya pulang, dia menolak karena butuh wantuk sendiri untuk menenangkan diri.
" Jadi karena itu kakak balik lagi kesini?
" Apa dia benar-benar menemui Niar tadi?" Tanya Jani yang langsung serius menanggapi cerita suaminya.
" Iya sayang, selain itu juga ada alasan lain sih!" Samuel benar-benar sudah tidak bisa memejamkan mata sebelum olahraga versi barunya sekarang.
" Owh iya, dan kamu tahu nggak, lebih tragisnya lagi calon tunangan temenmu itu yang nemuin Marvin sendiri tadi." Samuel menatap mata istrinya dengan serius, namun tangannya sudah bergerilya melepas baju istrinya satu persatu tanpa Jani sadari, karena dia terlalu terbawa perasaan membayangkan kesakitan yang Marvin rasakan.
" Astaga?"
" Trus gimana reaksi Dito?" Jani semakin tidak sabar mendengar kembali cerita dari suaminya.
" Mereka berantemlah, dan lebih parahnya lagi didepan keluarga besar temenmu itu tau yank." Samuel bahkan sudah berada di posisi PW sekarang.
" Berani banget kan Marvin, gentleman, wah... dia memang benar-benar sahabatku!" Tangannya pun mulai menjalar ketempat yang sudah menjadi favoritnya mulai hari ini.
" Emmh... trus Niar milih siapa?" Jani terus saja serius membahas tentang Niar, namun tubuhnya seolah menerima perlakuan asyik dari suaminya, walau tanpa dia sadari, karena fikirannya masih melayang membayangkan perdebatan kisah cinta segitiga sahabatnya itu.
" Coba kamu tebak, dia... dia milih siapa hayow?" Ucap Samuel sambil menghentakkan pedang pusakanya dengan mata terpejam.
" KANG PISANG... eh, iihh kakak?" Rintih Rinjani perlahan, karena terlalu serius dia baru menyadari kelakuan suaminya saat dua tubuh itu sudah saling menyatu.
" Hehehe... kenapa? Kang Pisang nakal ya?" Samuel malah terkekeh saat mendengarnya.
" Kak, nanti ibu sama Bromo bisa denger lho?"
" Kalau kamu nggak teriak, mereka nggak bakalan denger sayang."
" Kang Pisang cuma jalan santai saja ini." Samuel melakukannya dengan perlahan tapi pas sasaran, membuat Jani hanya bisa pasrah menerima semua rasa endolitah yang suaminya berikan.
" Kakak.. udah dong, besok aku nggak bisa jalan gimana?" Padahal tidak bisa Jani pungkiri lagi, dia sudah merem melek sekarang.
" Aku gendong, kalau enggak aku belikan kursi roda nanti, hehe.." Samuel tidak perduli, semakin sering dia melakukannya, semakin dia berharap agar benih cintanya cepat tumbuh menjadi calon bayi, agar dia tetap punya ikatan kuat dengan Rinjani, walau apapun yang akan terjadi nantinya.
..."Di batas kemampuan seseorang, ada level pasrah yang melebihi ikhtiarnya."...
..."Biarlah semua berjalan apa adanya. Berlalu dengan semestinya. Dan berakhir dengan seharusnya."...
..."Berusaha dan gagal, akan jauh lebih melegakan daripada pasrah melihat keadaan diri yang hanya berpangku tangan tanpa kemajuan apapun."...
__ADS_1