
...Happy Reading...
Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam kehidupannya yang berbuntut pada penyesalan. Penyesalan memang selalu datang di akhir, oleh karena itu sebaiknya kita berpikir panjang dulu sebelum melakukan sesuatu.
Rinjanipun akhirnya menyesal, karena secara tidak langsung dia yang membuat Samuel jadi seperti ini, dia sudah menolak saat Yoyo mengajaknya, namun karena ejekannya Samuel jadi nekad naik dan akibatnya fatal seperti ini.
" Yoyo.."
" Apa daddy kamu dulu pernah trauma naik permainan seperti itu?" Jani lemas melihat Samuel yang sudah terbaring diranjang mewahnya, tadi dia dibantu beberapa penjaga permainan disana untuk membawa Samuel kembali kerumah.
" I dont know!" Yoyo menaikkan kedua bahunya.
" Haduuhh.."
" Kakak takut Yo!"
" Grandma kemana Yo?" saat tadi mereka masuk sama sekali tidak melihat jejak Weni sedikitpun.
" Mungkin pergi!" Ucap Yoyo sambil memijit kaki daddynya.
" Gimana ini?"
" Badannya panas, sudah dikompres tapi masih panas."
" Mana belom sadar lagi?"
" Astaga pak sam! bangun dong.."
" Maafin gw pak?" Rinjani pusing sendiri, antara takut dan cemas, orang kaya kan penyakitnya selalu aneh-aneh pikirnya, dia takut terjadi hal-hal lain.
" Masak mabok permainan saja sampai pingsan lama begini?"
" Pak Sam.. bangun dong, pleasee...!" Jani menepuk-nepuk pipi Samuel.
Tiba-tiba tangan Samuel bergerak dan menegang membuat Rinjani terkejut namun lega, akhirnya Samuel sadar juga.
" Ti.. ti.. tidak...!"
" Ja.. ja.. jangan...!"
" Ka.. ka.. kakak...!"
" To.. to.. tolong...!"
" Tolong aku kakak!" Samuel memejamkan mata namun tubuhnya tidak bisa diam, membuat Jani semakin panik dan ketakutan.
" Pak.. pak Sam?"
" Aduuh Yoyo.. daddymu kenapa?" Jani binggung sendiri harus apa dan bagaimana.
" Kakaaakkkk... jangan pergi!"
" Jangan tinggalkan aku!" Samuel langsung terduduk dan membuka matanya.
" Pak Sam? sadar dong pak?" Jani merinding sendiri melihatnya.
" Kakaaakkk..!" Samuel langsung memeluk Rinjani dengan erat dan menangis dipelukannya.
" Hah?"
" Kakak?"
" Yoyo.. bagaimana ini?" Rinjani menaikkan kedua tangannya, antara takut dan kasihan melihat Samuel menangis dipelukannya.
" Kakak telpon dokter Marvin saja!" Yoyo mengingat dokter yang dulu sering berkunjung kerumahnya.
" Siapa dokter Marvin?"
" Mana nomernya Yo?"
" Mana..?" Rinjani panik dan gelagapan sendiri.
" Cari saja di kontak ponsel daddy!" Ucap Yoyo yang selalu tetap tenang dalam menghadapi masalah.
" Owh iya!"
" Kenapa kakak bisa lupa ya?" Jani benar-benar malu sendiri sama Yoyo, dia masih kecil tapi bisa berfikir dengan jernih tidak gelisah dan grasah-grusuh seperti dirinya yang sudah dewasa ini.
" Dikunci Yo!"
" Kamu tau nggak apa sandinya?" Rinjani kembali panik, mana mungkin Samuel bisa mengingat sandi disaat dia menggigil seperti ini pikirnya.
" Kakak coba lihat dulu dengan benar!"
" Pakai sandi atau pakai finger print?" Ucap Yoyo yang membuat Jani ingin sekali menenggelamkan tubuhnya didasar laut karena terlalu malu dengan anak kecil yang satu ini.
" Hehe.. finger print Yo!" Jani tersenyum kecut menatap bocah ajaib itu.
__ADS_1
" Kakak coba tempelkan ibu jari daddy!" Yoyo berbicara dengan tenang sambil terus memijit kaki Samuel.
" Pak.. coba pinjam jarinya dulu sini?" Jani menarik tangan Samuel perlahan.
" Jangan... jangan tinggalkan aku kakak!" Samuel masih berbicara ngelantur.
" Tidak.. tidak!"
" Aku tidak akan meninggalkanmu pak!" Jani mengiyakan saja, yang penting dia bisa membuka kunci ponsel Samuel pikirnya.
" Kakak..!" Teriak Samuel kembali.
" Uluh.. uluh.."
" Iya sayang.. kakak tidak akan pergi okey?" Jani bahkan mengusap kepala Samuel yang sembunyi diceruk lehernya dan perlahan menarik jari Samuel.
" Yeeess.."
" Bisa Yo!"
" Siapa tadi namanya?" Jani segera menscroll layar ponsel Samuel dan tangan kirinya tetap mengusap lembut kepala Samuel agar dia tenang, dia bahkan menggangap Samuel seperti Yoyo.
" Dokter Marvin!" Ucap Yoyo cepat.
" Okey... tersambung!" Jani melihat tanda dilayar ponselnya berdering.
" Hallo Sam!"
" Tumben telpon?"
" Kangen ya?" Terdengar suara seorang pria dari balik ponsel Samuel.
" Hah kangen?"
" Hiiihh... ngeri!" Umpat Jani tanpa suara.
" Hallo apa ini benar dokter Marvin?" Jani langsung menepis banyangan yang tidak-tidak tentang hubungan Samuel dan Marvin.
" Heh?"
" Iya.. kamu siapa?"
" Samuel dimana?" Marvin terkejut sendiri saat mendengar ada suara perempuan selain tante Weni didekat Samuel.
" Dia tadi pingsan dokter!"
" Gimana ini dokter?"
" Apa saya harus membawa pak Samuel kerumah sakit?" Rinjani takut terjadi apa-apa nantinya.
" JANGAN..!"
" Jangan pernah bawa dia kerumah sakit!"
" Tunggu disana, aku akan segera datang!" Marvin langsung mematikan sambungan telponnya dan segera beranjak pergi kerumah Samuel.
Pengusaha kaya seperti Samuel kerahasiaannya sangat terjaga, tidak sembarang orang boleh mengetahui tentang penyakit yang dia derita, karena bisa membuat lawan bisnisnya mencari celah untuk menjatuhkannya, beda dengan Marvin dia sahabat sekaligus dokter pribadi yang merawatnya saat dulu dia trauma karena kepergian kakaknya.
Tak selang beberapa lama Marvin sudah sampai dikediaman Samuel, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
" Yoyo sayang?" Marvin melihat Yoyo ingin masuk kedalam kamar membawa satu botol air.
" Mana... dimana daddy sekarang?" Marvin berlari sambil terengah-engah membawa perlengkapan medis dan obat-obatannya.
" Ituh.." Yoyo membuka pintu kamar Samuel dan menunjuk Samuel yang masih nyaman dipelukan Jani.
" HEH..?"
" Dia sakit beneran apa modus Yo?" Marvin memiringkan kepalanya memastikan apa yang terjadi dengan temannya itu.
" Modus apaan Om?" Ternyata pelajaran Yoyo belum sampai ke tahap bahasa modus.
" Dokter .."
" Buruan sini?"
" Kenapa malah bengong didepan pintu?" Rinjani langsung melambaikan tangannya, menyuruh Marvin untuk berjalan mendekat.
" Hah?"
" Okey.. okey!" Akhirnya Marvin tersadar dari lamunannya dan mendekat ke arah Samuel.
" Tolongin pak Sam dokter!" Jani mencoba merenggangkan pelukan Samuel namun dia tidak mau.
" Sam.."
" Sini.. aku periksa dulu!" Marvin mencoba menarik lengan Samuel namun langsung ditepisnya.
__ADS_1
" Jangan... jangan tinggalkan aku kakak!" Teriak Samuel dengan suara paraunya.
" Dokter pak Sam ini kenapa?"
" Apa dia pernah trauma?" Rinjani mencoba mengkorek info apa yang sebenarnya terjadi dengan presdirnya itu.
" Kamu siapa?" Tanya Marvin yang memang asing dengan Jani, dia tidak akan memberikan informasi ke sembarang orang tentang Samuel yang notabenya pasien sekaligus sahabatnya.
" Haah?"
" Aku?"
" Siapa aku tidak penting disini!" Ucap Jani yang tidak tahu apa-apa.
" Kalau begitu kamu diam saja!"
" Apa yang terjadi tadi sebelum dia pingsan?" Tanya Marvin tidak memperdulikan tatapan kesal dari Jani.
" Hufft..." Rinjani sedang malas berdebat, semua orang yang berhubungan dengan Samuel memang menyebalkan semua pikirnya.
" Dia tadi ikut bermain roal coaster dengan kami, saat turun ternyata dia langsung muntah-muntah, dan akhirnya pingsan dan saat sadar dia langsung seperti ini." Rinjani menjelaskan sekilas tentang kejadian tadi.
" Pantesan!"
" Lain kali jangan biarkan dia naik segala jenis permainan apapun itu!"
" Pegang erat tangannya, saya akan memberikan suntikan obat penenang." Marvin langsung mengeluarkan jarum suntiknya.
Setelah Marvin memberikan suntikan, tubuh Samuel perlahan melemas, dan tidak menggigil kembali.
" Hmm.."
" Dia akan segera sadar kembali setelah bangun nantinya."
" Ini obatnya, suruh dia minum saat terbangun nanti." Marvin meracik obat yang dia bawa tadi.
" Jangan lupa, suruh dia makan dulu sebelum minum obat!"
" Kalau ada keluhan lainnya, atau terjadi apa-apa segera hubungi saya kembali."
" Saya harus segera kembali bertugas."
" Dan ingat, jangan pernah membawanya kerumah sakit kalau dia seperti ini lagi!"
" Saya permisi!" Marvin langsung beranjak berdiri tanpa memberikan kesempatan untuk Jani bertanya.
" Tapi Dok---" Rinjani masih penasaran dengan penyakit yang diderita presdir sombongnya itu, namun tatapan Marvin seakan melarang dan menolak dengan keras.
" Kalau kamu bukan siapa-siapa!"
" Tolong jangan banyak bertanya!"
" Cukup diam saja dan lakukan anjuran saya tadi."
" Paham nona?" Marvin tidak mau mendengarkan kata bantahan, karena profesinya yang akan menjadi taruhannya jika penyakit Samuel tersebar luas apalagi karenanya.
" PERMISI..!" Marvin langsung bergegas pergi dari sana.
" Astaga.."
" Datang satu lagi makhluk mengerikan!"
" Kenapa pria tampan selalu saja seperti itu?"
" Pada sembunyi kemanalah pria tampan yang berhati menawan di dunia ini?"
" Haissh.." Jani mengumpat kesal sendiri sambil ingin beranjak pergi dari sana.
" Jangan pergi..!" Tangan Jani kembali ditarik Samuel.
" Tapi pak---" Rinjani bingung sendiri melihatnya.
" Jangan tinggalkan aku!" Walau mata terpejam Samuel masih bisa menarik lengan Rinjani.
" Woaah.."
" Ada apa dengan pak Samuel ya?" Akhirnya Rinjani mengalah dan kembali duduk didekat Samuel, lengannya dipeluk erat oleh Samuel.
" Hmm... kalau bukan karena kesalahanku mungkin bapak tidak akan seperti ini."
" Maafkan saya ya pak?" Jani membaringkan tubuhnya disamping Samuel.
" Kasihan dia."
" Tapi dia lebih terlihat tampan jika lemah tak berdaya seperti ini?" Tanpa sengaja Rinjani mengusap lembut pipi Samuel dan lama kelamaan karena badannya lelah, dia pun ikut memejamkan matanya disamping tubuh Samuel.
..." Kata-kata lembut melunakkan hati yang lebih keras dari batu, kata-kata kasar mengeraskan hati yang lembut dari sutra."...
__ADS_1
Kopi.. kopi mana kopi? 😊