
...Happy Reading...
Kecewa merupakan hal yang wajar terjadi ketika kehidupan tidak sesuai harapan. Dalam kehidupan, seseorang pasti pernah merasakan sedih terluka yang membuat hati menjadi kecewa. Saat perasaan kecewa itu menyelimuti hati, membuat seseorang menjadi merasa buruk menjalani setiap hari-harinya.
" Sayang turun dulu ya?" Samuel akhirnya meregangkan pelukannya.
" Marvin itu sedang emm----"
" Hatinya patah jadi dua." Samuel membisikkan sesuatu ke telinga Jani yang langsung membuatnya tertawa sambil menatap Marvin dengan tatapan meremehkan.
" Aisshh..."
" Wajar sih, kalau aku jadi pacarnya juga pasti aku putusin juga!" Ucap Jani langsung dipelototi oleh Samuel.
" Enak saja!"
" Siapa yang ngizinin kamu ngomong gitu!"
" Kamu cuma boleh jadi pacarku, hanya milikku!" Samuel langsung mencengkeram kedua lengan Jani, dia seolah tidak rela.
" KALAU pak." Jani mengeraskan suaranya."
" Hanya kalau, nggak beneran lho." Umpat Jani tidak habis pikir, hal yang menurutnya sepele saja bisa memancing emosinya ternyata.
" Bahkan kata kalau pun, aku tidak mengizinkannya!" Samuel tidak mau perduli, miliknya hanya untuk dirinya saja pikirnya.
" Baiklah calon misuaku." Jani akhirnya memutuskan untuk mengalah saja.
" Aku hanya untukmu, tiada yang lain okey?" Jani mencubit hidung mancung Samuel, bahkan dia langsung tersenyum merekah saat mendengar gombalannya yang tidak seberapa itu.
" Sudah belum mesra-mesraanya!" Marvin seolah tidak sudi melihat orang bermesraan diatas rasa pilu nya.
" Aku mau ngomong serius ini."
" Bisa kamu keluar dulu nona RINJANI." Marvin ingin mengatakan sesuatu yang penting perihal kekasihnya yang sudah tega mengkhianatinya dengan begitu kejam.
" Pak.."
" Masak dia ngusir aku sih?"
" Masak calon istrimu diusir juga!" Umpat Jani yang sebenarnya hanya kepo dengan cerita dari kisah Marvin, dia yakin kalau hal yang akan dibicarakan itu tema nya tentang kekasih Marvin.
" Vin."
" Biarkan dia tetap disini."
" Dia calon istriku, aku jamin dia nggak akan menggangu obrolan kita." Ucap Samuel yang selalu kalah saat mendengar rengekan Jani.
" Tapi Sam, ini masalah Lily."
" Dan ini---" Marvin masih ragu untuk mengatakannya dengan orang lain selain dengan Samuel, karena hanya pria itu yang dia percayai bahkan melebihi ayah kandungnya sendiri.
" Lanjutkan."
" Dia tidak akan membocorkan rahasia kamu."
" Aku jaminannya."
" Ya kan sayang?" Samuel mengusap kepala Jani yang terlihat menatapnya serius, walau dalam hati sebenarnya dia ingin tertawa meledek Marvin.
" Sam.." Marvin menatap jengah wajah Rinjani yang makin ngelunjak itu pikirnya.
" Kamu memanggil namaku, tapi kenapa matamu melihat kearahnya!" Samuel tidak terima calon istrinya dipandang orang seintens itu, walaupun itu Marvin sekalipun.
" Astaga!" Marvin langsung menjambak rambutnya sendiri dengan kesal.
" Sayang sini naik."
__ADS_1
" Kamu duduk kembali dipangkuanku!" Samuel langsung menarik kembali tubuh Jani.
" Duduk menghadap kearahku!"
" Jangan kearah Marvin!" Teriak Samuel kembali.
" Tapi masak gini sih pak?" Jani sebenarnya tidak enak duduk kayak anak bayi dipangkuan Samuel, namun rasa penasarannya terhadap kekasih Marvin membuatnya patuh saja.
" Sudah buruan."
" Peluk saja aku!" Ucap Samuel tidak terbantahkan.
" Harus ya pake peluk?" Tanya Jani semakin segan saja jadinya.
" Kenapa?"
" Cuma Marvin saja yang melihatnya kok!"
" Tadi saja saat rapat hampir sepuluh orang yang lihat."
" Bahkan kamu---"
" Ssssttt."
" Okey.. okey.." Jani langsung mengubah posisinya daripada membuat Marvin tau hal gila apa yang dia lakukan kepada Samuel.
" Okey.."
" Kita lanjut lagi Vin."
" Duduk kau didepan sana!" Ucap Samuel sambil terus menci umi rambut Jani didalam dekapannya, Jani dia buat layaknya Yoyo yang meminta ditidurkan didalam gendongannya.
" Ckkk.." Marvin ingin protes, namun dia menolak pun tidak bisa jikalau Samuel sudah seperti ini, dia hanya bisa berdecak kesal saja saat melihatnya.
" Apa?"
" Kenapa dengan Lily?" Tanya Samuel seolah tidak mau membuang-buang waktu terlalu lama, dia ingin segera berduaan kembali dengan calon istri dipangkuannya ini.
" Selain mendua, Lily juga korupsi banyak diperusahaanku." Ucap Marvin sambil mengusap kasar Wajahnya.
Lily adalah kekasihnya yang sudah hampir sepuluh tahun bersamanya, dari saat masih kuliah sampai dia menjadi dokter sekarang, namun karena berbeda jurusan mereka setiap hari tidak pasti bertemu, namun keduanya sudah sangat dekat, bahkan keluarga keduanya pun sudah saling mengenal, bahkan Lily sudah dipercaya untuk memegang salah satu perusahaan dari keluarga Marvin yang diwariskan untuknya.
Marvin adalah seorang anak tunggal dari keluarga yang cukup kaya juga ternyata, namun dia sama sekali tidak berminat dalam urusan bisnis, dia sedari dulu ingin menjadi dokter, jadi dulu dia tetap kuliah di jurusan kedokteran walau selalu ditentang oleh ayahnya, namun saat dia memperkenalkan Lily kepada ayahnya untuk membantu menjalankan perusahaannya, ternyata ayahnya setuju bahkan memberi hak kuasa untuk menjalankan salah satu perusahaannya sendiri untuk Lily.
" E.. busset dah!" Rinjani langsung keceplosan bicara.
" Hehe.. maaf!" Jani mulai menyadari kesalahannya, saat mata Marvin melotot kepadanya, dan dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di da da bidang Samuel sambil cengengesan.
" Apa kamu sudah menemukan buktinya?" Tanya Samuel ikut memikirkan sesuatu.
" Sudah, setelah menurunnya omzet penghasilan perusahaanku seperti yang kamu katakan kemarin."
" Aku mengutus salah seorang anak buah papa yang bisa gw percaya untuk diam-diam menyelidikinya."
" Dan ternyata memang Lily lah pelaku utamanya." Jawab Marvin sambil menengadahkan kepalanya keatas dan bersandar dikursi.
" Hmm.."
" Aku sungguh tidak menyangka jika dia pelakunya." Ucap Samuel sambil meletakkan janggutnya ke kepala Jani perlahan.
" Apa lagi gw Sam!"
" Dia selalu saja manis didepanku."
" Dan selama ini, dia tidak menunjukkan satu hal apapun yang membuatku curiga."
" Saat aku memanggilnya, dia selalu bilang iya, tidak pernah menolaknya."
__ADS_1
" Bahkan dia tidak pernah marah atau ngajakin berantem atau apapun itu."
" Dia benar-benar terlihat seperti gadis idaman, yang tidak pernah mengeluh atau merepotkan aku sama sekali Sam." Ucap Marvin yang tidak habis pikir, bahkan dia seolah masih belum percaya jika pelakunya adalah kekasih yang sangat dia cintai.
" Pendapat dokter itu salah." Jani tiba-tiba menyela.
" Kamu---" Ucapan Marvin kembali terpotong.
" Justru wanita yang terlihat mandiri dan tidak membutuhkan seorang pria disisinya lagi, itu yang patut dicurigai."
" Itu tandanya, dokter tidak terlalu penting lagi untuknya."
" Jangan bangga punya cewek yang apa-apa semua bisa sendiri, tidak manja, tidak cerewet, tidak suka marah-marah, tidak ingin ini, tidak ingin itu, nggak mau dianterin kesana kesitu."
" Karena kalau dia bisa sendiri, itu artinya kalian para pria tidak dibutuhkan lagi."
" Atau bisa jadi wanita pak dokter itu menggantungkan dirinya kepada orang lain."
" Atau bisa disebut dengan yang namanya SELINGKUHAN."
" Paham kalian?" Rinjani dengan santainya berpidato didepan dua pria yang terlihat mendengarkan dengan seksama ucapan Jani, pada awalnya Marvin ingin protes saat Jani mulai berkomentar, namun saat dia mendengarkan kelanjutannya, ternyata ada benarnya juga perkataan Rinjani itu pikirnya.
Cup
" Hmm... kamu cerdas sayang." Samuel menghadiahkan kecupan manis di bi bir Jani yang baru saja berhenti berceramah itu.
Braaakkk!
Marvin mengebrak meja Samuel dengan keras, selain karena kesal melihat mereka berdua yang pamer keromantisan, dia juga kesal saat mengingat wajah Lily yang selalu dia puja-puja itu ternyata berkhianat.
" Siaaallll."
" Ternyata gw dikadalin!"
" Wajahnya saja yang cantik, tapi hatinya busuukkk!" Marvin mengumpat dengan wajah yang sulit digambarkan.
" Ya Salam.."
" Kaget aku lho pak!" Umpat Jani yang langsung mengusap da danya perlahan.
" Jangan keras-keras juga dong Vin, ngagetin saja!" Ternyata Samuel pun ikut terkejut mendengarnya.
" Sebentar lagi kami akan menikah."
" Kalau jantung kami bermasalah, kamu mau tanggung jawab!" Umpat Samuel yang langsung kembali memeluk Jani dengan erat.
" Justru bagus itu!" Ucap Marvin sambil tersenyum miring.
" Bagus apanya?" Tanya Samuel sambil menggerutkan keningnya.
" Kalau menikah justru malah bagus kalau keras-keras!"
" Kalau nggak keras gimana mau masuk coba!" Ucap Marvin dengan santainya, meracuni otak polos Rinjani yang masih suci, yang sesuci air lautan itu.
" Emang apanya yang keras?" Tanya Jani bahkan sampai menoleh kearah timbulnya suara.
" BAHAHAHAHAHA."
Tidak ada yang mau menjawab apalagi menjelaskan, mereka berdua malah tertawa terbahak-bahak bersama, sejenak melupakan rasa penat dan sakit hati dengan gadis yang benama Lily itu.
Pengkhianatan terasa menyakitkan karena justru dilakukan oleh orang yang mendapat kepercayaan, atau sosok yang dipercaya.
Hidup telah mengajarkan kita bahwa Anda tidak dapat mengendalikan kesetiaan seseorang. Tidak peduli seberapa baik Anda kepada mereka, bukan berarti mereka akan memperlakukan Anda sama. Tidak peduli seberapa besar artinya bagi Anda, bukan berarti mereka akan menghargai Anda sama. Kadang-kadang orang yang paling Anda cintai, berubah menjadi orang yang paling tidak bisa Anda percayai.
..."Hal yang paling menyedihkan tentang pengkhianatan adalah bahwa hal itu tidak pernah datang dari musuhmu tapi dari orang terdekatmu."...
..."Jenis luka terburuk adalah pengkhianatan karena itu berarti seseorang bersedia menyakitimu hanya untuk membuat diri mereka merasa lebih baik."...
__ADS_1