CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
80. Nenekku Pahlawanku


__ADS_3

...Happy Reading...


Malam yang dingin pun telah berlalu, kehadiran sang mentari menghangatkan suasana pagi disebuah desa yang jauh dari keramaian kota, udara yang masih segar ditambah lukisan alam yang sangat indah dipandang mata.


Disinilah Marvin berada, malam itu setelah dia bertemu dengan Samuel, dia memilih menyendiri untuk menenangkan hati dan perasaannya, Niar memanglah wanita yang baru saja singgah dihatinya, namun seolah-olah dia dapat membalikkan hati seorang Marvin, membuat suasana hatinya menjadi hidup dan bersemangat dalam menjalani hari-harinya, saat dia terbangun dipagi hari, wajah Niar lah yang selalu terbayang dan memberikan energi positif didirinya.


Entah sejak kapan wanita itu mulai menembus benteng pertahanan dirinya, namun Marvin seolah sangat terluka saat membayangkan dirinya tidak lagi bisa menemui Niar, bercanda dan tertawa lagi dengannya, apalagi setelah kejadian tadi malam, hancur sudah harapan dirinya untuk memiliki gadis seperti Niar dihidupnya.


" Cu... diminum dulu kopinya, oma sudah buatin pisang goreng crispy kesukaan kamu dulu."


" Makanlah selagi hangat nak?" Terlihat seorang nenek tua yang wajahnya sudah terlihat keriput, bahkan giginya hanya tinggal beberapa saja.


" Oma.." Begitulah sapaan Marvin kepada neneknya yang memilih tinggal dikampung, di lereng bukit yang dipenuhi pepohonan hijau.


" Iya, kamu ada masalah?"


" Pasti dengan seorang wanita kan?" Oma Marvin mengusap rambut cucunya dengan senyuman.


" Hmm.. kenapa oma bisa tahu?" Tanya Marvin yang langsung memilih memeluk neneknya.


" Pasti taulah... ketika kamu lebih memilih memeluk wanita yang tinggal tulang saja seperti ini, daripada memeluk wanita yang sem*k dan m*nt*k, berarti kamu sedang patah hati sekarang!" Firasat orang tua terkadang sangat kuat, bahkan sebelum diceritakan pun dia sudah menduga terlebih dahulu.


" Apa Oma mau memarahiku, karena kami sekeluarga jarang menjenguk Oma?" Marvin melihat senyuman tulus dari seorang wanita yang sudah semakin menua itu.


" Tentu saja, kalian datang hanya setahun sekali."


" Kalau tidak, jika ada masalah baru datangkan, dasar cucu bandel!" Bukannya memukul atau mencubit, sang oma malah memilih memijit punggung cucunya.


" Ahh.. memang cuma pijitan oma yang paling menenangkan." Marvin sampai memejamkan matanya, seolah urat-urat yang menegang di otaknya sedikit mengendor karena pijitan Oma tersayang.


" Makannya, lain kali sering-sering datang kerumah Oma, selagi oma masih bisa memijit tubuhmu yang semakin besar ini." Ucap Oma sambil terus memijit punggung Marvin.


" Maafkan aku Oma, sebenarnya aku juga pengen sering-sering mengunjungi Oma."


" Tapi pekerjaan selalu menuntutku untuk siaga setiap harinya." Apalagi dia juga menjadi dokter pribadi Samuel yang harus selalu siaga dua puluh empat jam.


" Apa Oma mau aku temenin, tapi aku jadi pengganguran?"


" Mana ada nanti wanita yang mau denganku Oma, apa Oma mau bertanggung jawab karenanya?" Marvin kembali memeluk tubuh renta itu, seolah mendapatkan kenyamanan disana.


" Siapa nama wanita itu?" Oma langsung membidik pertanyaan pas disasaran.


" NIAR." Ucap Marvin yang langsung keceplosan, karena memang sedari dia datang kemari, hanya nama Niar lah yang memenuhi otaknya.

__ADS_1


" Eh.. maksud Oma wanita siapa, wanita yang mana?" Marvin langsung menegakkan tubuhnya, dia seolah sudah terciduk oleh Omanya.


" Ya itu, wanita yang kamu sebut tadi itu."


" Apa kamu sangat menyayanginya?" Oma tersenyum sambil mengusap rambut tebal Marvin.


" Tapi dia tidak menyayangiku Oma, dia lebih memilih pria lain daripada Marvin Oma." Otaknya kembali berputar menampilkan wajah-wajah Niar dari segala sisi.


" Padahal Marvin begitu tulus menyayangi dia Oma." Mata Marvinpun sudah memanas, saat kehilangan kekasihnya sebelum Niar dia hanya emosi sesaat, dan mulai mereda setelahnya, namun saat melihat Niar mengabaikan dirinya, hatinya bahkan serasa diiris, bukan emosi namun lebih merasa tersakiti.


Masih baik dia adalah dokter Jiwa, jadi dia bisa mengontrol kejiwaannya selalu, kalau tidak mungkin dia akn menjadi dokter sekaligus pasiennya.


" Cu.."


" Ada kalanya didalam hidup ini, kita menemukan seseorang yang salah terlebih dahulu, sebelum menemukan pendamping hidup kita untuk selama-lamanya." Ucap Oma sambil memandang jauh kearah pegunungan yang membentang indah dari teras rumahnya.


" Tapi dia sudah bertunangan Oma, bahkan mungkin pagi ini mereka sudah terikat sebuah janji, menuju hari pernikahan mereka." Marvin sengaja pergi jauh kerumah Omanya disini, agar tidak tergoda setan untuk merusak acara Niar.


" Baru juga pertunangan Cu, kenapa kamu sudah sesedih itu?" Tanya sang Oma sambil terus tersenyum menunjukkan giginya yang ompong.


" Jadi maksud oma, Marvin harus terus maju, merebut tunangan orang begitu?"


" Marvin nggak tega Oma, nanti dia terluka." Bukan dia tidak mampu, atau karena takut dengan Dito, namun dia lebih memikirkan perasaan Niar itu saja, karena kalau dia bersedih hatinya seolah ikut perih.


" Apa kamu sendiri tidak terluka?" Senyum kebanggaan khas nenek tua itu semakin jelas terlihat, saat dia mendengar penjelasan Marvin.


" Namun ini semua salah Marvin Oma, akulah yang masuk dalam hubungan mereka tanpa izin."


" Jadi, biarlah aku yang terluka dan menanggung semua itu sendiri, karena ini memang kesalahanku." Ucap Marvin yang mencoba menghibur diri sendiri sebisanya.


" Waah... kamu sudah benar-benar dewasa sekarang Cu?" Pijitan hangatnya kembali mendarat di kepala Marvin.


" Tidak ada cinta yang salah Cu... cinta itu munculnya dari hati."


" Jika memang dia sudah menemukan pasangan hati yang tepat, kita bisa apa?"


" Dilarang juga tidak bisa, dicegah juga tidak kuasa, karena hati bukan kita yang menciptakan, kita hanyalah makhluk-Nya." Oma yang sudah mengalami banyak lika-liku kehidupan dapat memahami apa yang cucunya rasakan saat ini.


" Jangan terlalu bersedih, itu tidak baik cu."


" Kita ikuti saja alur dan skenario Tuhan, Oma percaya suatu saat ada keajaiban yang akan menemuimu."


" Jadi bersabarlah cu, banyak-banyak doa, sholat Istiqarah agar Alloh memberikan petunjuk dan jalan yang memang terbaik untuk kamu." Oma memberikan sedikit wejangan, agar cucunya tidak melenceng dari takdirnya sebagai makhluk ciptaan yang Maha Kuasa.

__ADS_1


" Semoga Marvin bisa melalui ini semua ya Oma?" Perkataan Omanya terasa menyejukan hati dan perasaannya.


" Ingat ya cu, yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik untuk kita."


" Tuhan memberikan kita kesulitan dulu, agar kita pandai bersyukur disaat kita mendapatkan kebahagiaan nantinya."


" Tuhan menjanjikan itu, sabar dan jangan terlalu larut dalam kesedihan, apalagi keputus asaan."


" Di atas langit masih ada langit, dan bumi masih terus berputar pada porosnya."


" Kalau dia memang jodohmu, Alloh pasti memberikan jalan yang indah untukmu?"


" Mungkin dia, ataupun orang lain." Sang Oma pun ikut bersedih, jika cucu merasa tersakiti seperti ini.


" Hmm.." Marvin hanya menggangukkan kepalanya yang mulai terasa berat.


" Apa dia cantik?"


" Jelek, tengil, usil, nyebelin dan yang pasti dia bodoh, karena lebih memilih pria itu dari pada cucu Oma yang tampan ini." Seolah kekesalan Marvin tiba-tiba muncul semua.


" Woaaahh... begitu rupanya, sini Oma peluk?"


" Hmm... kasiannya cucu kesayangan Oma ini, apa mau Oma kenalin sama kembang desa disini?"


" Dia sangat langsing, seksi, juga menawan dan yang pasti tidak akan nyakitin kamu?"


" Siapa?"


" Teman satu angkatan Oma, nenek Wari, mau?"


" Omaaaaa...!"


" Hihihi..." Sang Oma malah terkikik sendiri melihat cucunya yang terlihat serius mendengarkan sedari tadi ternyata hanya ledekan dari Omanya tercinta.


" Kalau memang dia jodohmu, percayalah cu... akan ada jalan untuk kalian bisa bersatu."


" Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, karena hanya Tuhan yang bisa membolak-balikkan hati seseorang." Ucap Oma panjang lebar.


" Amin yaa Rab.."


" Aku sayang banget sama dia Oma, sebenarnya aku nggak rela dia dimiliki pria lain, disentuh orang saja aku nggak suka, gimana yang lainnya Oma.."


Akhirnya air mata yang dia sembunyikan itu, menetes juga didepan Omanya tercinta, karena otak sucinya itu tiba-tiba membayangkan Niar di unboaxing oleh pria lain disaat malam pernikahannya, selagi nasip dia masih menjadi jomblo ngenes, sungguh sangat memprihatinkan.

__ADS_1


Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya.


..."Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar, karena berjuang tak sebercanda itu." ...


__ADS_2