CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
22. Pura-pura Manja


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah pulang dari makan malam romantis, walau tidak dengan orang yang romantis, namun bisa membuat suasana hati dua orang ini bahagia, bahkan hanya dengan sedikit pujian dari Jani saja, Samuel sudah kembali bersikap lebih hangat dengan Jani.


Dan saat malam telah larut pun ternyata Samuel bisa memejamkan matanya sampai pagi dengan tenang tanpa terganggu oleh bayangan buruk kisah silamnya.


Pagi-pagi sekali Jani sudah rapi dan wangi, dia sudah memesan sarapan untuk dua orang, karena saat bangun tidur tadi pagi perutnya sudah langsung keroncongan, makan malam romantis, indah nan mewah memang selalu berkesan dihati, tapi tidak diperut, juga tidak pernah membuat orang bisa kenyang, karena makanannya cuma sepotong tapi harganya selangit, bahkan bisa buat beli makan di warung nasi Padang untuk satu minggu.


" Permisi pak.."


" Apa bapak sudah bangun?" Jani mengetok pintu kamar Samuel dengan membawa nampan berisi sarapan untuk dua orang.


" Masuk saja."


" Pintunya tidak dikunci." Terdengar suara dari dalam walau lirih.


" Selamat pa... pa... pagi pak!" Rinjani terkejut melihat Samuel masih bertelanjang dada setelah habis mandi.


" Maaf pak, saya tidak tahu kalau anda belum selesai memakai baju."


" Saya tunggu diluar dulu saja." Rinjani segera memutarkan tubuhnya ingin keluar kamar lagi.


" Duduklah!"


" Tutup pintunya, sebentar lagi selesai ini." Samuel tersenyum miring melihat Jani yang terlihat grogi sendiri, Samuel malah sengaja memamerkan bentuk tubuhnya yang atletis itu dengan sengaja berlama-lama mengancingkan bajunya.


" Sudah belom pak." Rinjani ternyata memejamkan matanya sedari tadi.


" Sudah apa?" Samuel malah menggoda Jani.


" Itu pakai bajunya!"


" Buruan.. kita bukan muhrim ini!" Jani takut iminnya tidak tahan untuk tidak melihat pemandangan bagus, bak artis majalah dewasa itu.


" Kenapa memangnya?"


" Bukannya aurat pria yang wajib ditutupi itu dari pu sar kebawah ya?" Samuel terlihat senang bisa menggoda Jani dipagi hari, seolah menambah imun ditubuhnya.


" Semua wajib ditutup pak!"


" Karena bisa membuat mata suci ternodai." Benar atau tidaknya Jani tidak tahu, yang pasti tadi saat dia tidak sengaja melihat tubuh sispex itu, membuatnya jadi terbayang-bayang dalam ingatannya.


" Benarkah?" Samuel masih saja memandang raut wajah Jani yang bersemu merah.


" Anggap saja benar."


" Apa tidur bapak tadi malam nyenyak?" Jani mencoba mengalihkan topik pembicaraanya.


" Emang kenapa?" Samuel duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya didepan Jani.


" Sepertinya wajah bapak tidak pucat?"


" Padahal aku lupa mengingatkan untuk meminum obat?"


" Apa bapak meminumnya tadi malam?" Karena capek, Jani jadi tertidur lebih awal dan lupa tidak kekamar Samuel untuk mengingatkan tugas utamanya.


" Iya... walaupun telat!"


" Kamu ini teledor, itu hal utama yang harus kamu ingatkan, kenapa bisa sampai lupa!"


" Kalau aku kambuh gimana coba?" Samuel pura-pura marah, padahal sebenarnya dia tidak meminumnya, asalkan suasana hatinya senang, dan tidak ada yang mengingatkan, trauma itu akan berangsur hilang sendiri walau tanpa obat penenang.


" Hehe... Ya maaf pak."


" Aku ketiduran, lain kali biar aku buatin alarm, jadi bapak nggak akan lupa, hehe.." Jani mendapatkan ide yang cemerlang dan bisa meringankan tugasnya juga pastinya.


" Lalu kalau pakai alarm, tugasmu apa?"


" Aku kasih kamu bonus besar lho kemaren?"


" Apa kamu mau makan gaji buta saja?"


" Lagian juga utang kamu sewa kamar juga belom dibayar lho."


" Jangan mengurang-ngurangi tugas kamu!" Samuel langsung protes, sebenarnya dia terbiasa mandiri, tapi sejak ada Jani dia pura-pura manja, padahal cuma ingin diperhatikan saja.


" Yaelah pak.."


" Sama bawahannya itung-itungan amat dah!"


" Si Amat aja nggak gitu-gitu banget!" Umpat Jani langsung ikut unjuk rasa.


" Dalam hidup memang perlu perhitungan, agar semua bisnis bisa berjalan lancar!" Ucap Samuel menjawab dengan versinya sendiri.


" Itu kan bisnis, ini masalah tenggang rasa antar umat manusia pak!" Jani tidak mau kalah begitu saja.


" Lakukan tugasmu dengan baik dan benar, atau aku kurangi gaji dan bonusmu, dan aku tagih utangmu sekarang juga!" Samuel langsung berucap tegas.


" Ampun boss!"


" Iya deh, nurut ini." Kalau sudah menyangkut materi Jani malas berdebat dengan makhluk yang satu ini, tidak pernah bisa memenangkannya dari sudut mana saja.


" Ayok sarapan pak."


" Aku sudah pesenin nasi goreng seafood ini."


" Hmmm... baunya harum banget." Jani memamerkan nasi goreng dipiringnya dan langsung menyantap hidangannya dengan lahap.


" Kamu nggak nyuapin aku?" Tanya Samuel tiba-tiba, dia memang tidak menyentuh sendoknya sama sekali, hanya menatap nasi goreng itu saja.


" Tangan bapak mana?" Jani bertanya sambil terus melahap nasi gorengnya.


" Masih bisa dipake kan?"


" Udah sehat gitu juga, masih mau disuapin juga."


" Malu sama Yoyo, dia masih kecil tapi malah suka makan sendiri."


" Ini bapaknya udah kepala tiga, masih saja minta disuapin." Jani sama sekali tidak menggubris wajah Samuel yang terlihat kesal karena ocehannya.


" Utang dihapuskan!" Samuel punya senjata andalan sekarang.


" Weiiiss... beneran nih?" Jani seperti mendapat sinar terang dalam kegelapan.


" Hmm.." Samuel langsung menahan senyumnya, padahal dia tidak pernah menggangap Jani berhutang, dia cuma main-main saja.


" Wokey..."

__ADS_1


" Aaak dulu daddy Yoyo.." Jani langsung menepikan piringnya dan mengambil piring Samuel, semangatnya langsung membara ketika mendengar utangnya dihapus hanya dengan menyuapi makanan saja, dia memang paling terbebani dengan yang namanya hutang, makannya sebisa mungkin dia tidak pernah berhutang didunia ini, karena yang namanya hutang, walau sampai mati juga harus tetap dibayarkan.


" Nggak mau udangnya!" Samuel memundurkan kepalanya.


" Bapak nggak suka udang?"


" Padahal aku tadi pesen ekstra udang lho."


" Kirain bapak suka, soalnya Yoyo juga suka." Rinjani memang tidak tahu kalau Samuel tidak suka, karena menu kesehariannya sering ada udang, karena Yoyo suka sekali makan udang.


" Aku alergi sama udang."


" Nggak suka juga makanan dan minuman yang asam."


" Dan nggak suka makanan yang terlalu pedas, nggak baik buat kesehatan." Samuel memberitahukan semua yang dia tidak suka.


" Hmm.."


" Harusnya bapak bilang sama simbok."


" Yang masak kan dia, bukan aku." Jawab Jani yang langsung menyisihkan udangnya ketepi.


" Kamu juga harus tau itu!" Ucap Samuel sambil menerima suapan Jani.


" Kenapa?" Tanya Jani heran, tugas dia bukan mengurusi makan Samuel hanya jadi babysitter Yoyo, itupun selama dia magang saja, sebentar lagi juga sudah berakhir pikirnya.


" Karena nanti kamu----" Samuel tidak jadi mengatakannya.


" Saya? saya kenapa?" Jani bahkan memberhentikan aktifitas tangannya, untuk fokus mendengarkan jawaban dari Samuel.


Karena nanti kamu akan jadi kekasihku, eh.. bukan akan, tapi harus! wajib itu!


Ucapnya dalam hati.


" Kamu.. kamu kan harus ngurusin aku juga!"


" Selama kondisiku masih belom begitu stabil." Ucapnya mencari alasan yang masuk akal.


" Berat banget dah tugas gw."


" Masak jadi babysitter anak sekaligus bapaknya?" Rinjani pura-pura mengeluh.


" Tenang saja, nanti aku tambah bonusmu!" Ucapnya dengan cepat, karena cuma itu sisa senjatanya.


" Astaga.."


" Kalau gini aku terkesan jadi gadis matre deh."


" Dikit-dikit uang, masalah dikit solusinya cuma uang saja, kayak nggak ada yang lain aja deh?" Umpat Jani ingin menjawab 'Yes' tapi takut merusak citranya.


" Jadi nggak mau nie?" Samuel langsung memicingkan matanya kearah Jani.


" Nggak!"


" Ya sudah.. aku cancel saja!" Samuel langsung mengambil ponselnya.


" Nggak nolak, hehe.." Jani menaikkan kedua alisnya dengan imut, membuat Samuel langsung menerbitkan senyuman manisnya yang jarang sekali tampil.


" Ciiiihh.. dasar sok-sok an jual mahal.." Bahkan Samuel sudah berani menyentil kening Jani karena terlalu gemas melihatnya.


" Jual mahal itu penting tau pak!"


" Biar nggak terkesan banting harga, haha.." Jani sengaja membuat Samuel tertawa, dia sebenarnya suka melihat Samuel tersenyum dari pada marah-marah dan cemberut.


" Kamu suka udang?" Tanya Samuel melihat udang dipiringnya habis dicemilin Jani tanpa permisi.


" Sukak, banget malah!"


" Aku satu server sama Yoyo, bahkan sekarang aku jadi fans nya Yoyo."


" Fans?" Samuel menggerutkan keningnya terheran.


" Iya.. fans!"


" Dia itu bocah luar biasa sekali, selalu tenang dalam menghadapi keadaan genting sekalipun."


" Bahkan dia bisa berfikir jernih ketimbang saya yang sudah tua ini, hihi." Jani geli sendiri mengingat kejadian-kejadian saat bersama Yoyo, selalu saja dia dibuat terperangah dengan kelakuan bocah ajaib itu.


" Dulu ibunya nyidam apa sih pak?" Dari dulu Jani penasaran, seperti apa sosok ibu Yoyo itu, kenapa anaknya bisa se ajaib dia.


Tiba-tiba raut wajah Samuel berubah, dia mendorong dan menepis suapan dari Jani, dan memalingkan wajahnya.


Astaga... kenapa wajahnya berubah? jangan-jangan traumanya tentang ibu Yoyo ini, waah... bisa kacau ini nanti.


Jani langsung terlihat panik melihatnya.


" Emm... maaf pak, saya terlalu lancang menanyakannya."


" Nggak usah dijawab nggak papa pak."


" Tarik nafas pak.. tenang.. tenang.."


" Calm down okey?"


" Saya ambilkan obat ya?" Jani langsung mencarikan obat Samuel dan menyuapkan ke mulutnya.


" Rebahan saja pak."


" Biar tenang dan rileks." Jani langsung membantu Samuel untuk rebahan dikasurnya.


Mampus gw, kalau dia kumat disini bisa nggak pulang-pulang aku, mana besok harus ngumpulin tugas ke kampus lagi! aargghh... Jani, kamu bodoh sekali..


Jani langsung mengumpat dirinya sendiri, padahal beberapa jam lagi sudah jadwal keberangkatan pesawat.


" Maaf ya pak.."


" Jangan terlalu dipikirkan."


" Yang lalu biarlah berlalu, kita harus menyongsong hidup yang baru pak."


" Jika masa lalu itu sangat menyakitkan hati dan jiwa bapak, cobalah untuk melupakan dengan membuka hal-hal yang baru, kalau kita hanya menengok kebelakang terus menerus, waktu kita akan habis begitu saja pak." Jani duduk disamping Samuel yang masih terlihat melamun.


" Luka itu begitu dalam, bahkan mungkin sulit untuk disembuhkan."


" Terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan dimasa lalu."


" Walaupun bukan karena sengaja, tapi aku telah merenggut kebahagiaan banyak orang."

__ADS_1


" Bahkan aku mungkin sudah menorehlan luka yang sangat dalam untuk mereka."


" Dan aku tidak bisa apa-apa."


" Aku terlalu lemah untuk itu!"


" Aku salah Jani.. aku manusia yang penuh dosa." Tanpa terasa Samuel menitikkan air mata kesedihannya.


" Semua manusia pasti punya salah pak."


" Kesalahan itu memang menyakitkan ketika terjadi, tetapi bertahun-tahun kemudian kumpulan kesalahan itulah yang disebut pengalaman."


" Setiap kesalahan dapat memberi kita pelajaran."


" Salah satu aturan dasar alam semesta adalah tidak ada manusia yang sempurna."


" Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan."


" Jangan menyiksa diri dengan terus mengingatnya."


" Bapak pasti bisa, semangat dong." Jani mengepalkan tangannya seolah memberikan semangat didiri Samuel.


" Hmm.."


" Aku sudah mencobanya dan terus mencobanya."


" Lain kali, keluarkan segala unek-unek yang mengganjal dihati dan pikiran bapak, agar beban yang bapak pikul lebih ringan."


" Carilah seseorang yang mungkin bisa bapak percaya."


" Itu akan membantu bapak untuk tidak terlalu stress menanggungnya sendiri."


" Walau mungkin teman bapak tidak bisa membantu lebih, setidaknya beban pikiran bapak sedikit berkurang." Jani mencoba memberi solusi, karena pria itu begitu terlihat lemah saat ini.


" Mau kah kamu menjadi orang itu?" Samuel menatap Jani dengan penuh harap.


" Hmmm..."


" Tapi ada syaratnya."


" Gimana?" Jani mencoba membuat suasana tidak terlalu tegang.


" Apa?"


" Bonus double?" Tanya Samuel seketika.


" Ckkk... serius ini pak!"


" Ya apa?"


" Hmm... nanti setelah pulang dari sini saya langsung pulang kerumah ya?"


" Trus besok izin libur sehari semalam, hehe."


" Boleh ya pak?"


" Saya janji deh, akan jadi pendengar setia untuk bapak?" Rinjani sudah beberapa hari nggak pulang, dia sudah kangen dengan masakan ibunya, dan kangen juga jahilin adek cowoknya.


" NGGAK BOLEH..!" Ucapannya tiba-tiba langsung kembali normal.


" Ckkk... pak.."


" Besok saya harus ngampus pak."


" Ada banyak tugas yang harus saya kumpulin pak."


" Please..?" Jani menangkupkan kedua telapak tangannya.


" Kalau mau ngampus ya ngampus saja!"


" Aku tidak melarangmu pergi ke kampus."


" Tapi berangkat dari mansion kan bisa?"


" Kenapa harus pulang kerumahmu dulu?"


" Besok hari sabtu, aku bisa menjaga Yoyo siang hari." Samuel kembali kepada mode semula, bahkan melupakan kisah kelamnya sejenak.


" Masak nggak boleh nginep dirumah sendiri sih pak?"


" Saya kangen masakan ibu pak?"


" Atau.. kalau tidak, besok malamnya aja saya nginep dirumah ya pak?"


" Pagi-pagi janji deh, udah sampai dirumah bapak okey?" Jani mencoba membuat kesepakatan.


" Mampirnya siang atau sore saja, malamnya harus balik ke mansion pokoknya!" Entah mengapa Samuel tidak rela jika sehari semalam saja tidak melihat Rinjani.


" Paaakk... saya pengen tidur sama ibuk!"


" Tadi malam sampai mimpi peluk ibuk, mungkin dia kangen tidur bareng aku pak."


" Aku juga kangen pengen peluk ibuk pak?"


" Semalam saja deh pak?"


" Okey?" Rinjani bahkan memasang tampang memelas.


" NGGAK..!"


" Kalau kamu kangen... kamu bisa tidur peluk aku saja!" Ucap Samuel dengan santainya.


" HAH..?"


" Yang enaknya saja, aku kangen pengen peluk ibuk bukan sama bapak." Jani langsung berontak.


" Ya udah sih, sama-sama dipeluk ini, kenapa mesti ribet!"


" SEKALI TIDAK, TETAP TIDAK, TITIK NGGAK PAKE KOMA!" Samuel menegaskan omongannya, tanpa memperdulikan wajah Rinjani yang sudah memerah menahan kesal yang mendalam, dia bingung sendiri, sebenarnya apa sih maunya pria tampan yang satu ini?


..."Saat yang menyakitkan dalam hidup kita adalah apa yang disebut sebagai krisis penyembuhan. Kita melepaskan sesuatu yang lama dan membuka sesuatu yang baru." ...


..."Kesalahan kemarin adalah kebijakan hari esok." ...


... “Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan, yang terpenting adalah tidak membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya?

__ADS_1


__ADS_2