
...Happy Reading...
Cinta memberikan kita makna saat hidup hanya menyediakan waktu untuk bertahan, karena Cinta bukanlah soal bertahan seberapa lama, tetapi seberapa jelas dan ke arah mana tujuannya.
Siang berlalu dan malam pun menjelang, saat Samuel terbangun dia masih ada didalam dekapan Rinjani, bahkan sekarang wanita itu yang malah masih tertidur dengan nyenyaknya.
Dipandanginya wajah cantik Jani ketika tertidur, auranya tenang, tidak sama seperti saat dia terbangun dan selalu membuat Samuel kesal, bahkan amarahnya sering kali memuncak karena gadis yang berkali-kali mencuri perhatiannya ini, setelah puas memandang akhirnya Samuel membangunkan Jani karena perutnya sudah terasa lapar, karena mereka telah melewatkan makan siang dan suasana luar pun sudah terlihat gelap.
" Argghh... Dimana ini?" Samuel menoleh ke kanan dan kiri merasa asing dengan tempatnya, karena saat dia datang kemari, dia belom pernah masuk kamar Jani.
" Ternyata dirumah kamu sayang." Samuel tersenyum sambil mengusap pipi Jani dengan lembut setelah melihat foto Jani terpampang di dinding kamar.
" Sayang... yank..."
" Jani... Jani... Rinjani Bramantyo?"
" Hehe... bahkan namamu terlihat keren saat digandeng dengan nama keluargaku." Samuel memainkan hidung Jani yang memang mancung bawaan lahir itu.
" Hmmmm.." Akhirnya Jani terbangun, karena Samuel terus saja memencet-mencet hidungnya.
" Bangun sayang, sudah malam." Tak bosan-bosan Samuel memandangi wajah Jani sambil terus tersenyum, mood di dirinya langsung muncul ketika hal pertama yang dia lihat saat terbangun dari tidurnya adalah gadis yang satu ini.
" Heh?"
" Pak Sam sudah bangun?" Jani mengucek matanya, berusaha melihat dengan jelas keadaan pria yang sudah menggemparkan seisi rumahnya.
" He em." Dia mengganguk dengan imutnya, membuat Jani teringat dengan wajah Yoyo yang imut dan menggemaskan itu.
" Gimana keadaan bapak?"
" Apa yang bapak rasakan?"
" Apa masih pusing?"
" Masih demam enggak?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Jani yang sontak membuat Samuel semakin melebarkan senyumannya, merasa bahagia karena diperhatikan dan dikhawatirkan seperti ini.
" Sini coba aku lihat." Jani menempelkan tangannya di kening dan leher Samuel untuk mengecek suhu badannya.
" Enggak."
" Asal kamu berada didekatku, aku pasti akan baik-baik saja." Ucap Samuel yang tumben mau bicara jujur dari hatinya, mungkin karena moodnya sudah membaik kali ini.
Belum sempat Jani berbicara dan membalas ucapan Samuel, mereka berdua sudah langsung dikejutkan oleh suara berisik dari depan pintu kamar Jani.
Teng... teng... teng... teng... teng...
Suara panci dan sendok sayur yang terbuat dari besi itu menimbulkan suara riuh renyah saat bertemu.
" Astaga!" Rinjani kembali mendekap kepala Samuel kedalam pelukannya untuk menutupi kedua telinganya, dia masih takut jika Samuel kambuh lagi karena suara bising itu.
" Ayo... ayo... ayo..."
" Bangun... bangun... bangun..."
" Mau sampai kapan kalian kekepan terus kayak gitu!" Suara ibuk Jani menggelegar walau dia membuang arah pandangannya.
" Bapak sudah beneran baikan kan?" Jani berbisik disamping Samuel.
" Sudah." Jawab Samuel singkat.
" Brati bapak sudah siap menghadapi masalah yang akan datang kan?" Ucap Jani sambil menangkupkan tangannya diwajah Samuel sambil melihat sorot matanya.
" Hu um."
" Memangnya masalah apa?" Samuel bertanya setelah menggangukkan kepalanya, masih dengan senyum termanisnya.
" Tuuuuhhh!" Jani menunjuk ibuk dengan dagunya dengan lemas.
" Siapa dia?" Tanya Samuel saat memandang arah pintu.
" SAYA IBUNYA RINJANI!"
" PEREMPUAN YANG KAMU PELUK-PELUK SEENAKNYA ITU!" Suara ibuk Jani bahkan terlihat tidak bersahabat dengannya.
" Jangan diambil hati omongan ibuk nanti ya pak."
" Anggap saja cobaan dan angin lalu."
" Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri." Jani kembali berbisik yang hanya dibalas dengan senyuman.
" Selamat malam ibu mertua." Samuel langsung bangkit dari tidurnya dan merapikan bajunya yang sudah kusut dan berantakan.
" HAH?"
" Sejak kapan kamu jadi menantuku?" Ibuk Jani langsung berteriak dan melongo melihatnya, dia takut otak pria didepannya itu jadi gesrek setelah kambuh penyakitnya tadi.
" Saya Samuel, Calon suami Rinjani." Samuel terlihat menunduk sopan tanpa mempermasalahkan sikap judes ibu Jani.
" HEH?"
" Calon suami Rinjani yang mana?" Ibuk Jani semakin terheran-heran mendengarnya.
" Itu."
" Dia anak ibuk bukan?" Samuel menunjuk Jani yang sudah memejamkan kedua matanya.
" RINJANI."
" Jelaskan semuanya pada ibuk!"
" Berani-beraninya kamu menyembunyikan masalah seperti ini dari ibu yang sudah membrojolkan kamu dan membesarkan kamu sampai sebesar ini!" Kata-kata panjang lebar langsung keluar dari mulut sang ibu tanpa jeda.
" Hehe.. ibuk!"
" Dia memang suka ngomong nglantur kalau belum makan." Jani langsung berjalan mendekat kearah ibunya dan merangkul bahunya tanpa memperdulikan Samuel yang mematung berdiri disana.
" Gulai ikannya sudah mateng belum buk?"
" Jani lapar banget nih, dari siang belum makan?"
" Sudah nggak sabar banget pengen coba masakan khas koki terlezat seantero jagad raya ini." Jani langsung menggiring tubuh ibunya ke meja makan, dan ibunya pun menurut saja, dia tidak akan tega saat mendengar kata lapar dari putrinya.
" Waaaaahh... baunya harum banget buk!"
" Tumben ibuk masak banyak."
" Komplit lagi makanannya!" Jani sampai merem-merem menghirup aroma masakan ibuknya itu.
" Kamu nggak mau mandi dulu, ini sudah malam?"
" Ibu sudah masakin air anget tuh, buat kamu mandi." Segalak-galaknya ibu kalau menyangkut kesehatan anaknya pasti dia prioritaskan.
" Nanti saja buk."
" Habis makan saja, aku sudah lapar banget ini, tadi siang kami nggak sempat makan."
" Keburu pak Sam kumat!" Ucapnya sambil membuka piring dan menyendokkan nasi putih kepiringnya.
__ADS_1
" Heh?"
" Trus mana tadi pria yang sudah mengaku jadi calon suamimu tadi?" Ibu Jani menoleh ke kanan dan ke kiri, dia fikir tadi dia mengikuti mereka.
" Loh.. mana tadi pak Samuel?" Jani bangkit dari duduknya dan kembali masuk kedalam kamar.
" ASTAGA BAPAK?"
" Ngapain berdiri mematung disana!" Jani terbengong sendiri melihat Samuel masih berdiri mematung ditempat yang sama sedari tadi.
" Kamu tidak mengajakku!" Jawab Samuel dengan datarnya.
" Aduh gustiiiiiiiiìi!" Jani mengacak rambutnya sendiri.
" Tinggal ngikut saja kan bisa pak."
" Masak mesti digandeng?" Jani langsung mendorong tubuh Samuel untuk pergi keruang makan.
" Kayak Yoyo saja bapak ini!" Dia mengumpat dibelakang tubuh Samuel.
" Argh... jadi kangen sama si Yoyo, lagi ngapain dia ya." Biasanya dia selalu mendengarkan ocehan anak itu yang selalu membuatnya gemas.
" Sama Yoyo saja?"
" Sama aku nggak kangen?" Ucap Samuel yang merasa iri dengan putranya itu.
" Apa kangen.. kangen!"
" Jam segini ngomongnya kangen-kangenan aja kalian!"
" Makan yang banyak!"
" Setelah selesai, ibuk mau bicara yang serius dengan kalian berdua!"
" Bromoooooo.. ayok makan, mumpung masih anget ini." Ibuk Jani mengomel namum tangannya mendekatkan seluruh masakan yang dia buat, bahkan dia memasak berbagai macam lauk yang spesial.
" Yaa buk, duluan saja!"
" Nanggung ini." Bromo berteriak dari dalam kamarnya, kalau sudah maen game sering lupa waktu dia.
" Ibuk iiih..."
" Ngomongnya bikin merinding saja!" Jani langsung mengambil ikan gulai makanan favoritnya itu dengan sumringah.
" Kamu kenapa tidak makan?"
" Nggak doyan sama masakan ibuk?"
" Nggak suka sama masakan rumahan?"
" Atau nggak sudi makan hasil tanganku?" Ibu Jani terheran melihat Samuel hanya memandang saja tanpa menyentuh piring didepannya.
" Suka." Ucap Samuel walau hanya berucap satu kata.
" Terus?"
" Kenapa cuma dipandang saja?"
" Kamu kira cuma memandang makanan terus perut bisa jadi kenyang gitu?"
" Kalau kayak gitu, bisa cepet kaya semua orang didunia ini!" Umpat ibu Jani melirik wajah datar Samuel.
" Jani..." Samuel berkata lirih dan memandang ke arah Jani yang masih asyik menyantap gulai ikan itu dengan nikmat.
" Ngapain manggil-manggil anak saya."
" Wah.. wah.. kamu memang benar-benar sudah menggangap dia jadi calon istrimu gitu?"
" Tangan kamu masih kaku gitu, nggak bisa ngambil makanan sendiri."
" Manja banget!"
" Besok kalau kalian beneran menikah, baru nyuruh-nyuruh."
" Itu pun kalau, belum pasti iya!" Ibu Jani kembali ngedumel ngalor ngidul sambil mengambil lauk didepannya.
" Aaak.." Jani langsung mendekatkan kursinya dan menyuapi Samuel dengan makanannya, dia sudah paham apa yang diinginkan Samuel.
" RINJANIIIIIIIIIII...!" Ibuk Jani kembali dibuat naik darah oleh kelakuan putrinya itu.
" Uhuuukk.. uhuuukk." Samuel yang baru saja ingin menelan makanan itu langsung tersedak, karena kaget mendengar teriakan ibu Jani yang melengking itu.
" Astaga ibuk!"
" Kenapa sih?"
" Keselek ini anak orang jadinya, jangan keras-keras kenapa sih ngomongnya."
" Jani masih denger buk, masih sehat telingaku." Jani langsung mengusap bahu Samuel dan mengambilkan air dari bekas minumnya tadi untuk Samuel.
" Woooaaaahhhhh..."
" Ibuk pasti sudah ketinggalan jauh ini beritanya!"
" Kalian sampai makan sepiring berdua?"
" Dan itu? bahkan satu gelas berdua?" Ibu Jani bahkan langsung bertepuk tangan dan sudah tidak sabar untuk memulai sidang malam ini juga.
" Ckkk.. ibu iih."
" Anak muda sudah biasa kayak gini." Dengan santainya Jani menyuapkan kembali satu sendok makanan ke mulut Samuel.
" Mau pake sambel enggak?" Bahkan Jani sudah tidak perduli lagi dengan tatapan ibuknya yang tajam mematikan itu, karena dia sudah tahu apa yang akan beliau bicarakan setelah ini.
" Enggak.. mau yang itu saja." Samuel bahkan terlihat cuek-cuek saja, seperti makan dirumah sendiri.
" Owh.. ini namanya tempe mendoan pak."
" Ibuk memang jagonya kalau buat tempe mendoan, bisa crispy diluar dan lembut didalam." Jani menyuapkan satu tempe kemulut Samuel dan menggigit sisanya untuk dia makan sendiri.
" Hmm.." Memang enak dan gurih." Ucap Samuel, Mereka menikmati makanan berdua, bahkan menggangap hanya ada mereka saja disana.
" Bromooooooo!" Baru saja Bromo nongol keluar dari kamarnya, suara teriakan ibunya sudah menyambutnya duluan.
" Apa sih buk?"
" Malem-malem kok teriak-teriak?"
" Sambelnya kepedesan atau gimana sih?" Bromo berjalan mendekat kearah meja makan.
" Kita makan diluar saja!"
" Sepet mata ibuk melihat tingkah mereka berdua!" Ibu Jani langsung melengos melihat kemesraan putrinya.
" Ya sudah.."
" Ibuk sama Bromo makan disini saja."
__ADS_1
" Kita pindah kekamar saja yuk pak?" Jani langsung menambahkan nasi dan lauknya lagi ke dalam piring besarnya.
" Ayok!" Samuel langsung semangat berdiri dari sana.
" DUDUK DIAM KALIAN DISANA!" Teriak Ibu Jani kembali, kemarahannya benar-benar diuji kali ini.
" Enak saja mau asyik-asyikan dikamar terus!" Mata ibu Jani langsung melotot ke arah mereka berdua.
" Hehe.."
" Tadi katanya sepet mata ibuk melihat kami."
" Jadi biar nggak sepet mending kami pindah kan?" Jani langsung terkekeh melihat kemarahan ibuk.
" Sayang..."
" Disebelah rumahmu kan ada taman."
" Kita makan disana saja." Ucap Samuel tanpa sungkan apalagi rasa malu.
" Waduuuuhhh... Mo!"
" Migren ibuk tiba-tiba kambuh kayaknya ini!"
" Jadi puyeng gini kepala ibuk!" Ibu Jani memegang kepalanya yang semakin pusing melihat tingkah Samuel.
" Ayok pak... buruan!"
" Bawain air minumnya tuh."
" Keburu ibu pingsan dengerin omongan bapak, hihi.." Jani langsung ngacir duluan sambil membawa piringnya ke taman samping, bahkan Samuel tetap berjalan gontai seolah tidak punya beban hidup.
" Makan yang banyak pak." Jani sudah duduk bersila diatas kursi taman.
" Habis makan minum obat."
" Tadi dokter Marvin kesini, dia marahin aku tahu pak!" Ucap Jani seolah mengadu sambil terus menyuapi Samuel makan.
" Pasti kamu bandel!"
" Makannya Marvin sampai marahin kamu!" Seolah Samuel lebih mempercayai dokter Marvin dari pada dia.
" Diiiihh..."
" Siapa yang bandel?"
" Yang nabrak juga bapak kan?"
" Orang aku nggak ngapa-ngapain kok, yang nyetir kan bapak, bukan saya!" Jani langsung tidak terima.
" Tapi kan kamu yang bikin aku nabrak orang!"
" Kalau kamu nggak bikin aku kesal pasti kita baik-baik saja."
" Owh iya.. bapak yang kita tabrak bagaimana?"
" Masih hidup dia kan?" Tanya Samuel langsung memandang tajam kearah Jani.
" Kalau dia meninggal, mungkin bapak sudah dipenjara sekarang!" Jani ingin menyuapkan kembali makanannya namun langsung ditepis oleh Samuel.
" Aku sudah kenyang." Ucap Samuel langsung menghela nafas panjang.
" Ini masih banyak lho pak?"
" Orang baru makan dua suap saja kok tadi!"
" Masak sudah kenyang, dari siang kita belum makan lho?"
" Sedikit lagi ya?" Jani memaksa untuk menyuapkan makananya kembali.
" NGGAK!" Samuel bahkan menyampar sendok dari tangan Jani.
" Bapak?"
" Kenapa lagi sih?" Jani langsung meletakkan piringnya kesamping, tangannya kembali gemetaran lagi, takut kalau Samuel kambuh lagi.
" Ya sudah."
" Aku ambilin obat bapak dulu didalam, sebentar ya?"
Grep!
" Jani jangan pergi..!" Samuel langsung menarik Jani kedalam pangkuannya, memeluknya dengan erat dan menaruh wajahnya di ceruk leher Jani.
" Pak.. aku cuma mau ambil obat saja!" Jantungnya pun ikut kembali deg-degan, entah salah apa lagi dia, pikirnya.
" Jani..."
" Kalau dulu aku pernah melakukan kesalahan."
" Apa kamu akan meninggalkan aku?" Samuel memejamkan matanya seolah mengingat luka lama dihidupnya.
" Pak, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan."
" Kesalahan bukanlah kegagalan, tapi bukti bahwa seseorang telah melakukan sesuatu."
" Kita tidak boleh menilai orang atas kesalahan yang ia perbuat, tapi nilailah bagaimana cara ia bisa memperbaiki kesalahan tersebut."
" Orang yang tidak pernah mencicipi pahit, tidak akan tahu apa itu manis." Jani mengusap lengan Samuel dengan lembut mencoba untuk menenangkan kembali.
" Kamu harus janji."
" Tidak akan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi." Bukan Samuel kalau tidak memaksakan kehendaknya.
" Iya.." Rinjani memilih mengiyakan saja dari pada kumat lagi, dia sudah ketakutan sendiri.
" JANJI?" Samuel memutar tubuh Rinjani dan menautkan kening mereka.
" Iya.." Jani bahkan melembutkan suaranya ke nada paling rendah.
" Bilang Janji dulu!" Sebelum apa yang dia minta dikabulkan, dia akan terus memaksa.
" Janji sayang.."
" E.. eh.. " Jani jadi keceplosan lagi.
Cup
Samuel langsung menyambar bi bir Jani yang masih berasa gulai ikan itu, dia merasa bahagia sekali Jani memanggilnya dengan embel-embel kata 'Sayang'.
" RINJANI MAHESWARIIIIIIIIIIIIIIIIIII...!"
Teriakan siapa lagi kalau bukan tetua didalam kartu keluarga Rinjani, bahkan dia sudah berkacak pinggang ditengah-tengah pintu, bersama Bromo yang sudah menggelengkan kepalanya.
... "Orang bijak adalah orang yang menyadari kesalahannya, berani mengakuinya, mau memperbaikinya, dan mau belajar darinya."...
..."Berbuat kesalahan adalah kekurangan manusia, namun belajar dari kesalahan adalah kelebihan manusia."...
__ADS_1