CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
83. Cobaan Hidup


__ADS_3

...Happy Reading...


Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Begitu kamu membuat pilihan, kamu harus menerima tanggung jawab. Kamu tidak dapat lepas dari segala konsekuensi pilihanmu, apakah kamu menyukainya ataupun tidak sama sekali.


Karena Marvin juga tidak ada kabar dan tidak ada tanda-tanda untuk datang, mau tidak mau, siap atau tidak siap Niar harus tetap melaksanakan pertunangannya.


Dan disinilah Niar sekarang berada, didepan kaca rias yang besar dengan segala jenis make up yang berada dihadapannya.


" Wow.. sabahatku cantik sekali, aku sampai pangling lho, you are so beautiful beb?" Rinjani datang dengan senyum yang merekah walau hatinya gelisah, akankah sahabatnya itu baik-baik saja nantinya atau mungkin malah sebaliknya.


" Thanks." Hanya satu kata yang keluar dari mulut Niar bahkan tanpa senyuman, hanya pandangan kosong saat menatap wajah dirinya didepan kaca.


" Hei.. are you okey beb?" Jani mengusap lengan Niar saat dia menundukkan kepalanya.


" Mbak, udah selesaikan? bisa tolong tinggalkan kami sebentar?" Niar meminta mbak-mbak yang merias dirinya untuk keluar dari kamarnya.


" Baik mbak, saya permisi dulu kalau begitu." Dua wanita yang merias dirinya membereskan make up nya dan keluar dari sana.


" Niar, ada apa? apa kamu berubah pikiran?" Jani duduk dimeja menghadap kearah Niar.


" Jani.. hiks.. hiks.." Niar langsung memeluk tubuh sahabatnya dengan erat dan menumpahkan air mata yang membendung sedari tadi.


" Niar.. hei, jangan begini dong beb?" Jani memundurkan tubuhnya akut kalau make up sahabatnya rusak.


" Jani aku harus bagaimana?" Niar benar-benar tidak memperdulikan riasan diwajahnya.


" Haduuh.. nanti make up kamu rusak Niar, sebentar lagi acaranya sudah akan dimulai lho? mau kamu kelihatan jelek, bedakmu luntur, eye shadowmu melebar sampai kemana-mana kayak hantu?" Jani langsung mencari tissu dan menempelkan dengan hati-hati takut merusak riasan.


" Sebelum make up tadi aku sudah berpesan kepada tukang riasnya, aku minta yang waterprof semuanya, mau biayanya naik dua atau tiga kali lipat aku nggak masalah, yang penting nggak luntur, jadi pasti aman kok." Jawab Niar dengan santainya.


" Astaga, jadi kamu sudah berencana untuk menangis nantinya, begitu?" Tanya Jani sampai dia memiringkan kepalanya, terkejut sendiri jadinya.


" Bukan merencanakan, tapi sudah pasti aku bakalan mewek boneng!" Niar langsung menendang kaki Jani dengan sepatu hak nya.


" Niarrr... sakit tauk, kamu jangan melampiaskan emosi kamu sama gw dong?" Jani mengusap-usap kakinya.


" Eh... tapi kalau itu bisa membuat kamu tenang, its okey deh, lakukan sesukamu, aku akan menjadi patung bagimu, khusus hari ini okey?" Jani membetulkan gaun yang Niar pakai saat ini dengan tatapan sedih dan pilu, seolah dia bisa merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan.


" Jan.. apa semua akan baik-baik saja?" Tanya Niar yang terlihat sudah pasrah dengan apa yang terjadi.


" Everything will be fine okey? jangan khawatir, jangan bersedih terus Niar, semua pasti akan baik-baik saja?" Jani mengusap lembut rambut Niar yang sudah disanggul dengan cantik sekali.

__ADS_1


" Tapi bagaimana dengan dokter Marvin Jan, apa dia akan baik-baik saja?" Bahkan saat acaranya sudah akan berlangsung pun Niar masih sempat-sempatnya memikirkan tentang keadaan Marvin.


" Niar, mulai sekarang cobalah untuk melupakan dokter Marvin, okey?" Jani mengingat pesan suaminya untuk memberikan sedikit pengertian kepada sahabatnya.


" Apa aku bisa?" Tanya Niar yang sudah seperti orang bodoh karena cinta.


" Tentu, sebelum kamu mengenalnya hubungan kamu dengan Dito baik-baik saja kan?"


" Niar, sedikit banyak aku sudah mengenal siapa itu Dito dan dia itu orang baik, yang pasti dia tidak pernah kasar denganmu bukan?" Walau tidak sering, namun sudah lama dia mengenal Dito, bahkan dia sering ikut nimbrung saat mereka melakukan panggilan video.


" Ya enggak sih?" Akhirnya pikiran Niar berpindah ke Dito sang kekasih.


" Itu yang paling penting Niar, kamu pernah mencintainya bertahun-tahun, anggap saja Marvin itu cobaan okey, setiap kehidupan pasti ada cobaan, dan itu pasti ada lho, semakin tinggi suatu pohon, semakin besar guncangannya, jadi kamu harus kuat okey?" Dia lah orang yang lebih dulu mendapatkan goncangan dihidupnya, bahkan lebih parah.


" Gimana mau kuat kalau cobaannya seganteng dokter Marvin Jan, hiks.. hiks.." Susah payah dia memindahkan pikirannya ke Dito namun akhirnya balik lagi ke sosok Marvin.


" Diiiihhh..!" Jani langsung menoyor kening Niar dengan refleks.


" Sakit Jan!" Niar langsung memonyongkan bi birnya.


" Benar-benar sudah gendeng kamu Niar, itu si Dito masih kurang ganteng kah? dulu aja kamu bangga-banggain sampai kemana-mana, katanya pacar kamu paling ganteng, jangan gila dong sob!" Jani langsung memelototkan kedua bola matanya, rasa kasihannya sekejab hilang saat mendengar ucapan Niar.


" Mungkin aku memang sudah gila Jan!" Niar kembali menundukkan kepalanya dengan lemas.


" Percaya saja kepada Sang Pencipta, dia sudah menggariskan jodoh kita bahkan sejak kita belom lahir." Jani mencoba menguatkan sosok rapuh itu.


" Aku tahu itu." Niar mengusap perlahan air matanya yang masih terus saja menetes.


" Semangat ya, aku percaya Dito pasti bisa membuatmu bahagia sekarang ataupun nantinya." Jani percaya Dito juga orang baik, dia berharap dengan siapapun jodoh Niar nantinya, dia akan baik-baik saja.


" Apa aku masih bisa bahagia?" Sosok mata sayu itu menatap jauh keluar jendela.


" Tentu, Bahagia itu ada porsinya, kuncinya jangan sering mengeluh, pasti kebahagiaan itu akan datang dan mengalir dengan sendirinya." Jani pun mengikuti arah pandangan Niar, terlihat disana hiruk pikuk keluarga yang masih menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.


" Fuuhhh... Doakan aku ya Jan, semoga semua bisa berjalan dengan semestinya." Setelah dia menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya, dia merasa sedikit lega.


" Tentu, kamu pasti bisa bahagia juga, jangan kayak orang teraniaya gitu napa sob, kamu ini mau tunangan dengan pacar kamu sendiri juga, bukan karena dijodohin kok, gaya luu kayak orang dipaksa nikah aja deh?" Jani selalu mencoba untuk mencairkan suasana yang kaku saat itu.


" Semua ini gara-gara pak Samuel deh!" Niar langsung berdiri dan merapikan gaun berwarna putih berhiaskan payet-payet indah nan mewah itu.


" Diih... kenapa jadi nyalahin laki gue luu!" Jani langsung merasa tidak terima jika suaminya dibawa-bawa dalam masalah rumit sahabatnya.

__ADS_1


" Ya iyalah, kalau nggak kenal sama pak Sam kan nggak bakalan ketemu juga sama dokter Marvin itu!" Umpat Niar sambil yang tetap menyalahkan keadaan.


" Gile aja luu, pada awalnya yang bikin kita mengenal laki gue kan elu juga oneng! nggak nyadar diri banget sih luu!" Hilang sudah kisah haru pilu diruangan itu, berganti dengan perdebatan seperti biasannya.


" Iya juga sih, salahin aja gue terus, kisah hidup gue itu memang bermasalah!"


" Apalagi kisah cinta gue kan?" Niar kembali memasang tampang kusutnya.


" Yup, terasa mengenaskan sekali." Bukannya bilang tidak, dia malah seolah memperkeruh suasana.


" Ciihh... kisah cinta elu juga! banyak gaya luu!" Teriak Niar merasa tidak terima karena memang mereka senasip.


" Kita emang sahabat sejati ya sob, sama-sama punya kisah cinta yang rumit kan?" Jawab Jani dengan santainya.


" Kisah rumit kok bangga sih?" Niar sudah kuat untuk memukul lengan Jani saat ini.


" Dari pada nggak punya kisah cinta sama sekali, tragis mana hayow?" Jani malah mengangkat satu sudut bi birnya keatas.


" Maaf mbak, keluarga dari pihak laki-laki sudah datang, apa mbak Niar sudah siap?" Tiba-tiba perias tadi muncul kembali disela-sela perdebatan mereka.


" Hmm.. kami akan segera keluar mbak." Ucap Jani yang langsung menjawab karena Niar terlihat diam saja.


" Doa biar kuat menghadapi kenyataan apa sih Jan?"


" Berdoa itu bisa dilakukan dalam hati, Alloh sudah pasti bisa mendengarnya, yang penting niatnya aja dulu." Jani percaya dengan apa yang sudah Tuhan gariskan terhadap seluruh umatnya.


" Haaaah... seandainya jatuh cinta ada tukang parkirnya, bisa diberhentikan sebelum mentok, pasti hatiku tidak akan sesakit ini sekarang, nasib-nasib!" Umpat Niar sambil membawa ponselnya dan bersiap-siap keluar kamar.


" Dasar wong edan!" Umpat Jani sambil menggelengkan kepalanya.


" Sesama wong edan jangan saling menghina!" Niar sontak langsung menoleh kearah Jani.


" Bercanda doang kali, yaelah... gitu aja ngambek!" Jawab Jani kemudian mengikuti langkah Niar dari belakang.


" Mentang-mentang sudah jadi ibu presdir ya sekarang, apalah dayaku ini yang tumbuh dari keluarga bawahan, yang saat dihina hanya mampu memahami dan mencoba mengikhlaskan!" Perkataan-perkataan Niar hari ini benar-benar seperti bukan Niar yang sebenarnya.


" Astaga Niar? ngomongnya kayak orang bener aja deh?" Bukannya marah Jani malah terbengong sendiri mendengar kata-kata Niar yang seolah tersakiti karena keadaan.


Dan akhirnya Rinjani menuntun Niar untuk memasuki ruangan utama rumah milik Niar, yang sudah dihias begitu cantiknya dengan untaian-untaian bunga sekebon, seluruh keluarga mereka berdua pun sudah berkumpul untuk menyaksikan hari pertunangan Niar dan Dito saat ini.


Lupakan soal suka dan tidak suka. Keduanya bukanlah konsekuensi. Kerjakan apa yang harus dikerjakan. Lakukan apa yang harus dilakukan. Mungkin itu bukanlah sesuatu yang membahagiakan, namun di situlah terletak kebesaran.

__ADS_1


..."Kita bebas memilih jalan kita, tetapi kita tidak dapat memilih konsekuensi yang menyertainya."...


... "Ada saatnya dalam hidupmu, ketika kamu harus memilih untuk membalik halaman, menulis buku lain atau menutupnya."...


__ADS_2