
...Happy Reading...
Hidup ini kadang terbalik. Yang luar biasa berlagak biasa saja, dan yang biasa malah berlagak luar biasa.
Hidup di dunia hanya sementara, jika kamu hanya ingin menyombongkan diri dan harta, lalu buat apa itu semua?
" Emmm... maaf semuanya." Jani kembali duduk dan mengedarkan pandangannya kearah mereka yang terlihat bingung.
" Saya mohon, tolong pengertiannya."
" Dan paman, saya mengundang paman disini dengan niat dan tujuan yang baik." Jani menatap wajah pamannya yang malah seolah tersenyum mengejeknya.
" Untuk mengumpulkan sanak saudara agar tetap rukun dan bisa berkumpul bersama, bukan untuk saling menghujat atau apapun itu."
" Tapi maaf, kalau paman hanya ingin membuat suasana menjadi tidak nyaman."
" Paman bisa tunggu didalam atau diluar saja!" Ucap Jani yang sungguh menyesal karena mengundang saudaranya yang satu ini, karena hanya membuat acara malam ini menjadi kacau saja.
" KAMU MENGUSIR SAYA!" Teriak Paman Jani.
" Kamu tahu siapa saya?" Dia langsung berdiri dan berkacak pinggang dengan angkuhnya.
" Saya paman kamu!" Dia bahkan menunjuk-nunjuk wajah Jani.
" Saudara dari ayah kamu!"
" Berani kamu mengusir saya?"
" TIDAK SOPAN KAMU!" Bentaknya kembali dengan suara cemprengnya.
" Pantas saja kamu dapat duda seperti dia!" Dia melirik Samuel dengan tatapan ejekan.
" Ciiiihhh... memalukan!" Ucap Sang Paman dengan nada kemarahan karena merasa diusir dari sana.
" PAMAAAAAAANNN..!" Teriak Jani.
" Pintu keluar ada diujung sana!" Jani berucap sambil mengusap da danya yang terasa panas.
" OKEY..!"
" Aku juga tidak sudi menghadiri acara pertunangan ini!"
" Kelas rendahan!"
" Ayo mah.. kita pulang saja!"
" Bawa anak-anak keluar semua!"
" Dari dulu keluarga mereka memang bukan level kita!" Dia berucap dengan sombongnya, karena diantara seluruh keluarga Jani dia memang paling kaya sendiri, mempunyai bisnis peternakan yang besar dan maju juga perusahaan yang dipegang oleh istrinya yang memang seorang pembisnis.
" Ciiiiiiiihhh..." Samuel langsung menggerutkan keningnya.
" Kelas rendahan dia bilang?"
" Seberapa hebat kamu?"
" Nama kamu saja tidak masuk dalam daftar pembisnis tersukses tahun ini?"
" Jadi penasaran, sekaya apa kamu?" Ucap Samuel langsung tersenyum sinis melihatnya.
" Maaf ya pak." Jani merasa malu sendiri atas sikap dari saudaranya yang sombongnya diatas langit itu, bahkan Samuel pun masih kalah sombongnya.
" Paman saya memang sedikit over." Jani merasa tidak enak hati, namun apa daya, kenyataannya memang ayahnya kakak beradik dengannya.
" Woaaaaah.."
" Aku merasa takjub dengan saudaramu itu."
" Seumur-umur baru kali ini ada orang yang berani menghinaku."
" Didepan saudara calon istriku lagi?"
" Herrmmm... berani-beraninya dia sombong didepanku yank?"
" Luaaar biasa bukan?" Sebenarnya dia ingin marah, namun lama-kelamaan dia malah ingin tertawa sendiri melihatnya.
" Tuuh... makanya jangan sombong jadi orang."
" Roda berputar, biasanya bapak yang sombong."
" Tapi sekarang bapak yang disombongin?" Jani mengingat perlakuan Samuel pada awal pertemuan mereka.
" Kapan aku sombong memangnya?"
" Dan roda bisnisku masih terus berada diatas sampai sekarang." Samuel bahkan tidak menyadari sifatnya dulu.
" Sering... pake banget malah." Jani berbisik dibelakang telinga Samuel.
" Kamu ini!"
" Harusnya belain aku!"
" Aku kan calon suami kamu!"
" Mau kamu kualat nanti!" Samuel langsung melotot kearah Jani.
" Uluh.. uluh.. gemes.. gemes." Jani menarik kedua pipi Samuel sambil tersenyum.
" Dari dulu!" Ucap Samuel yang langsung tersipu kalau sudah disentuh oleh tangan Jani.
" Sssttttttt..."
" Lanjuuut, mau makin jadi bahan gosipan kalian." Ibu Jani langsung ikut melotot kearah mereka berdua yang malah terlihat mesra-mesraan disaat genting seperti ini.
" Oh iya.."
" Lanjut pak."
" Yang keren ngomongnya!"
" Nanti aku kasih hadiah." Bisik Jani kembali untuk memberikan semangat kepada calon imamnya.
" Okey."
" Kamu sudah janji ya?"
" Besok aku tagih." Ucap Samuel sambil meniup telinga Jani yang langsung memundurkan kepalanya karena geli.
" Eherm.. eheem..." Samuel mengatur kembali ritme suaranya.
" Maksud tujuan saya kemari, Saya ingin menyampaikan ketulusan hati saya untuk melamar putri ibu menjadi istri saya, menemani setiap langkah saya dan selalu menjadi penyejuk hati saya."
" Dari awal saya ketemu putri ibu, saya merasa seperti telah menemukan orang yang tepat untuk menemani sisa hidup saya, hingga hanya ajal lah yang bisa memisahkan kami nantinya."
" Mulai sekarang izinkan saya untuk menjaga dan membahagiakannya, layaknya perhiasan dunia yang paling berharga untuk saya."
" Dan melanjutkan hubungan kami berdua kejenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.” Kewibawaan Samuel telah kembali, suaranya lantang, tegas dan berkharisma bahkan Jani pun seolah terpukau melihat calon suaminya yang memang tampan itu.
__ADS_1
" Jani... apa kamu mau menerimanya?" Tanya Ibu Jani yang sebenarnya sudah nggak mood meneruskan acara ini, setelah kejadian tadi, namun dia tetap akan meneruskannya, dia tidak ingin mengecewakan almarhum ayah Jani yang sudah tenang diAlamnya.
" Iya buk." Ucap Jani sambil menundukkan kepalanya.
" Cantik." Bisik Samuel dibelakang telinga Jani sambil tersenyum.
" Apa kamu tidak akan menyesal nantinya?" Ibu Jani kembali meyakinkan lagi pilihan dari anaknya itu.
" Tidak buk." Ucap Jani kembali.
" Dan satu lagi." Tiba-tiba Samuel, kembali berbicara.
" Apa sih mas?" Bisik Jani tidak ingin suasananya kembali horor seperti tadi.
" Saya akan pastikan, Jani dan keluarganya tidak akan kekurangan satu apapun itu."
" Apalagi soal harta."
" Saya akan pastikan itu."
" Kalian boleh menjadi saksi dari ucapan saya ini." Ucap Samuel dengan bangganya, dia tidak akan miskin walau dengan memberi Jani beberapa perusahaan untuknya.
" Sudahlah."
" Saya tidak mempermasalahkan soal harta nak Samuel."
" Asal kamu berjanji tidak akan menyakiti putri saya."
" Itu sudah lebih dari cukup." Ucap Ibu Jani menatap jengah calon mantunya itu, hanya karna paman Jani terlihat sombong dan angkuh bukan berarti seluruh keluarganya seperti dia pikirnya.
" Pasti buk."
" Saya akan menjaganya, seperti saya menjaga nyawa saya sendiri." Samuel berucap sambil memandang wajah cantik Jani yang sedang terharu mendengar janji Samuel.
" Baiklah kalau begitu." Ibu Jani sudah tidak ingin memperpanjang acara yang memang sudah runyam sedari awal tadi.
" Saya sebagai orang tua Jani hanya berpesan, walaupun antara Rinjani putri ibuk dan nak Sam sudah menjalin ikatan cinta dalam bentuk lamaran atau pinangan ini, mohon untuk tetap menjaga martabat dan nama baik keluarga serta agama kita."
" Saya mohon untuk bisa saling mengingatkan dan menjaga pergaulan anak kami sesuai dengan norma, adat serta budaya yang berlaku." Ibu Jani berbicara formal dalam menyambut lamaran Samuel.
" Karena ayah Jani, sewaktu masih hidup, dia hanya ingin putrinya ada yang menjaga, menggantikan dia kedepannya." Ibu Jani terlihat menunduk dan mengusap ujung matanya, sedih mengenang mendiang suami tercintanya.
" Ibuk." Jani langsung memeluk tubuh ibunya yang sudah bergetar.
" Pasti buk."
" Jani adalah segalanya buat saya." Samuel menggangukkan kepalanya.
" Baiklah.." Ibu Jani kembali menegakkan tubuhnya.
" Mungkin acaranya sudah cukup sampai disini saja."
" Terima kasih buat semua sanak saudara yang sudah hadir menyaksikan acara lamaran putri kami."
" Mohon maaf atas ketidaknyamanan tadi." Ibu Jani menundukkan kepalanya.
" Beneran nih buk udahan?"
" Cepet banget!" Jani berbisik ditelinga ibunya.
" Terima kasih semuanya."
" Hati-hati diperjalanan pulang, maaf saya tidak bisa mengantar sampai depan." Ibu Jani langsung berdiri dan otomatis saudara Jani langsung ikut berdiri dan berpamitan.
" Bromo."
" Ada dimobil belakang."
" Bagikan sesuka hatimu." Ucap Samuel memanggil Bromo.
" Heh?"
" Ada hadiahnya?"
" Kayak acara kuis saja?" Bromo ngedumel namun melangkahkan kakinya keluar juga.
" Yoyo mau ikut kakak nggak?"
" Kita bagi-bagi rejeki, biar orang nggak pada nyinyir lagi?" Bromo mengulurkan tangannya untuk menggendong Yoyo.
" Okey.. siapa takut?" Yoyo langsung menyambut gendongan Bromo dan ikut keluar.
" Memangnya nyinyir apaan kak Moo?" Tanya Yoyo terlihat serius.
" Hah?"
" Apa yah?"
" Nyinyir itu laper, hehe..."
" Dan jangan panggil kak Moo!"
" Kayak sapi kedengarannya!" Ucap Bromo ngasal, dia lupa sedang berbicara dengan anak yang memori otaknya diatas rata-rata itu.
" Hmm..."
" Brati Yoyo juga nyinyir."
" Tadi belom sempet makan." Ucap Yoyo dengan polosnya.
" Hahahaha.."
" Okey Yoyo nyinyir, setelah kita bagi-bagi hadiah, kakak akan mentraktir kamu makan sepuasnya!" Bromo semakin nekad menjahili anak polos itu.
" Asyikk.. asyikk.."
" YOYO NYINYIR.. YOYO NYINYIR..!" Teriak Yoyo seperti sedang mengucap yel-yel.
" Di restoran mana?" Tanya Yoyo antusias.
" Direstoran dapur kakak, hahaha..." Bromo langsung menaruh Yoyo duduk diatas mobil dan membagikan bingkisan untuk sanak saudara dan tegangga dekatnya, sedangkan Jani membuntuti langkah ibunya.
" iishh.. iish.. iish..." Yoyo hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kesal melihat Bromo terkekeh seperti itu.
" Ibuk." Jani memanggil ibunya yang langsung masuk kedalam kamarnya sendiri.
" Jani.. kita bicara sebentar." Ucap Samuel menarik lengan Jani.
" Tapi ibuk itu gimana?" Jani bingung harus bagaimana, dia nggak tega juga lihat ibunya sedih seperti itu, padahal kemarin dia yang semangat empat lima mau mengadakan pesta pertunangan yang heboh.
" Ibuk mungkin butuh waktu untuk sendiri dulu."
" Beliau pasti akan baik-baik saja." Samuel mengusap pipi Jani yang terlihat begitu kalut.
" Kita bicara disamping." Samuel merangkul pinggang Jani yang masih menoleh ke arah pintu kamar ibunya yang sudah tertutup.
" Jani.."
__ADS_1
" Maafkan aku." Samuel langsung jongkok didepan Jani yang sedang duduk ditaman.
" Kenapa minta maaf?" Jani memijit kepalanya yang terasa sedikit berdenyut, mungkin juga karena badan lelah mempersiapkan pesta pertunangan yang tanpa dia duga malah amburradul seperti ini.
" Gara-gara aku mengakui Yoyo sebagai putraku didepan seluruh keluargamu."
" Kalian jadi dihujat saudara kalian seperti ini."
" Maaf.. maaf.. maafkan aku." Samuel menghujani ciu man dikedua jemari Jani.
" Sudahlah pak."
" Aku tidak keberatan sama sekali."
" Bahkan dari awal aku mengira Yoyo memang anak bapak."
" Dan aku juga sangat menyukai Yoyo."
" Jadi jangan merasa bersalah karena Yoyo."
" Dia tidak tahu apa-apa."
" Dia masih anak kecil yang hanya membutuhkan kasih sayang orang tua."
" Jangan terlalu diambil hati ucapan paman."
" Biarkan saja orang berkata apa."
" Hubungan ini kita yang jalanin, bukan paman."
" Walau mungkin ibuk yang merasa terluka disini." Jani bahkan tidak merasa malu karena status atau apapun tentang Samuel dan Yoyo, dia seolah yang merasa malu saat keluarganya memandang rendah seseorang, hanya dengan takaran status dan harta semata.
" Terima kasih sayang." Mata Samuel bahkan terlihat berkaca-kaca.
" Tidak salah aku memilih kamu menjadi calon istriku." Samuel bahkan tidak menyangka jika Jani menerima dia apa adanya, bahkan menerima Yoyo dengan senang hati, tidak seperti masa lalunya yang tidak pernah suka jika Yoyo menempel kepadanya.
" Kamu tulus kan, mau jadi mommy nya Yoyo?" Samuel mengusap pipi Jani yang tersenyum simpul.
" Hmm.." Jani menggangukkan kepalanya dengan cepat, dia memang sangat menyayangi Yoyo walaupun dulu dia nakal, sekarang bahkan dia sering merindui bocah imut itu karena tak lagi tinggal bersamanya.
" Owh iya?"
" Tadi belom jadi acara pemasangan cincinnya." Samuel mengambil kotak perhiasan disaku celananya.
" Haish..."
" Iya.. kan jadi lupa."
" Mana sudah dibuatin set panggung buat foto-foto sama Bromo and the geng lagi?"
" Ibu sih, udah buru-buru nutup saja acaranya." Jani terlihat menyesal sekali karenanya.
" Ya sudah.."
" Aku pakein disana yuk?" Samuel langsung menarik lengan Jani untuk membawanya kembali kehalaman depan tadi, untung saja disana sudah terlihat sepi, tinggal pak sopir saja yang setia menanti.
" Nggak ada yang lihat nih?"
" Cuma kita berdua?" Jani menoleh kanan dan kiri.
" No problem."
" Tuhan Maha Melihat meski manusia tidak dapat melihatNya." Ucap Samuel yang tiba-tiba seperti pak Kyai.
" Woaaahh..."
" Tumben bapak bener." Jani malah kaget sendiri mendengar Samuel yang terlihat religi.
" Hmm... Jani." Samuel memegang jari manis Jani, mereka berdiri ditengah-tengah panggung mini yang dihiasi banyak bunga mawar putih disana.
" Satu hati jauh lebih mahal dibandingkan dengan senyuman."
" Satu Jiwa sangat berharga dibandingkan hanya sebentuk cincin."
" Namun aku berharap, cincin ini dapat mengikat hatimu." Samuel memasangkan cincin itu perlahan.
" Agar kamu tidak lagi bermain-main soal hati."
" Cukup sampai disini hatimu berkelana." Samuel menci um cincin berlian yang sudah melingkar dijari manis Jani.
" Karena disini, ada hati yang harus kamu jaga!" Ucap Samuel dengan nada lembut, suara tenang, wajah tampan dan senyum yang terus menawan.
" Kalau sampai kamu kegenitan lagi sama pria manapun." Tiba-tiba dia menatap tajam mata Jani.
" Aku pastikan, saat itu juga aku akan membawa kamu ke depan meja penghulu."
" MENGERTI SAYANG?" Emosi Samuel kembali naik saat mengingat kejadian dihutan pinus saat itu.
" Diiihhh.."
" Baru aja ngomong romantis!"
" Masak udah galak-galak lagi!"
" Bapak mah nyebelin." Jani langsung memukul bahu Samuel dengan kesal.
" Hmmm.." Samuel langsung menarik tangan Jani dan membawanya kedalam pelukan.
" I LOVE YOU Gunung Rinjani." Ucap Samuel sambil tersenyum dan memeluk erat Rinjani.
" KOK GUNUNG SIH!"
" Namaku nggak ada gunungnya pak!" Jani semakin kesal saja dibuatnya.
" Hahaha.."
" Kenapa?"
" Kamu juga punya kan?"
" Coba sini... boleh nggak aku lihat?" Samuel mengendorkan pelukannya dan menggoda Jani.
" ARGH..!"
" Dasar bapak mesum!"
" Awas yaaaa..!" Jani langsung memukul kembali bahu Samuel sekuat tenaganya.
" Haha.. ampun yank.. ampuuuun!" Samuel berusaha menahan pukulan Jani yang membabi buta itu.
Cekrek.. cekrek..
Seorang pria tampan mengabadikan moment mereka saat ini, dia terlihat tersenyum lega dan bahagia, saat Samuel menemukan belahan hatinya yang selalu mampu membuatnya tersenyum ceria seperti saat ini.
..." DIA yang tulus mencintaimu, adalah ia yang tahu kekuranganmu, tapi tetap menerimamu bertahan bersamamu dan selalu bangga bersamamu."...
Siapakah DIA..?
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan hadiah kalian boskuh?