
...Happy Reading...
Jangan sesali apa yang sudah terjadi. Karena setiap hari akan selalu ada nilai penting didalamnya, yang bisa kamu ambil dalam setiap kejadian didalam hidupmu.
Samuel benar-benar menurunkan Jani sampai didalam mobil, bahkan dia melewati Gladis yang terbengong melihat aksi anarkis dari Samuel yang tidak pernah dia lihat sedari dulu, saat bersamanya dia begitu lempeng dan selalu menuruti semua kemauannya.
Mungkin karena kebaikan Samuel itu juga yang begitu penurut, Gladis jadi melakukan apapun sesuka hatinya, dan beranggapan Samuel tidak akan pernah meninggalkannya dan memaafkan segala kesalahan apapun yang dia buat.
Samuel memang memaafkan semua kesalahan Gladis namun tidak untuk 'PERSELINGKUHAN'. Karena perselingkuhan itu tidak akan bisa sembuh, sekali pernah berbuat, jika dimaafkan pasti akan mengulanginya lagi dan lagi, tidak ada kata khilaf dalam perselingkuhan, karena selingkuh terjadi karena dua orang yang saling menghendaki, jika salah satunya menolak itu semua tidak akan pernah terjadi.
" Fuuuhh..." Samuel berulang kali menghela nafasnya dengan kasar.
" Daddy..?"
" Are you okey?" Yoyo memajukan kepalanya kedepan, saat melihat ayahnya terlihat ngos-ngosan mengatur deru nafasnya, entah karena kecapekkan menggendong tubuh Jani atau karena beradu mulut dengan Gladis, wanita pada masa lalunya itu.
" Pak Sam?"
" Apa anda masih bisa menyetir?"
" Kalau pikiran anda sedang kalut, mending saya saja yang menggantikan bapak buat nyetir?" Jani pun ikut khawatir melihat perubahan mimik wajah Samuel, dia takut kalau penyakitnya kambuh saat ini.
" Aku masih ingin hidup!"
" Aku masih bisa konsentrasi untuk menyetir!"
" Ini gara-gara kamu!"
" Kenapa nggak ngikutin kita tadi!"
" Jadi aku harus beradu mulut dengan Mak Lampir itu!" Umpat Samuel dengan ketus, andai saja tadi dia tidak menjemput Jani kedalam restoran dia pasti tidak akan meladeni Gladis dan menjadi tontonan direstoran tadi.
" Haish."
" Serba salah kalau berhadapan dengan orang yang lagi sakit hati ini."
" Sudah.. biar aku saja yang nyetir pak."
" Bukan hanya bapak yang ingin hidup!"
" Aku juga masih pengen hidup, pengen wisuda dulu."
" Kerja, dapet duit banyak."
" Nyenengin orang tua dengan hasil jerih payah!"
" Nikah juga.. aku belum merasakan indahnya cinta saat menikah tau pak!"
" Sini.. biar aku yang nyetir!" Jani memaksa Samuel untuk keluar dari sana dan berganti posisi dengannya.
" Emang kamu mau nikah dengan siapa?" Tanya Samuel saat Rinjani sudah didepan pintu sebelah kanan.
" Rahasia dong pak!"
" Bapak mah kepo aja jadi orang!"
" Udah cepat turun!"
" Keburu mak lampir ngejar kesini tuh!" Jani menakut-nakuti Samuel yang langsung bergeser kesamping dari dalam mobil.
" Kamu bisa nyetir nggak?"
" Punya surat izin mengemudi nggak?" Tanya Samuel yang langsung menatap tajam kearah Jani.
" Punya.."
" Aku juga punya mobil kali pak, tapi males pake aja!"
" Bapak kira aku miskin banget gitu?"
" Sory ya, kami walau hidup sederhana tidak pernah minta belas kasihan orang lain."
" Selagi diberi kesehatan, percaya saja, rejeki lancar seperti air mengalir." Jani malah seperti curhat diacara reality show dadakan.
" Nggak nanya!" Ucap Samuel dengan cuek bebek.
" Enakan juga pake mobil, nggak kepanasan, nggak kena debu jalanan." Samuel tetep kekeh dengan segala pendiriannya.
" Enakan pake motorlah, bisa selip kanan kiri."
" Apalagi kalau pacaran, beuuuhh... paling mesra kalau naek motor!"
" Bisa sambil peluk, bersandar di bahu."
" Pokoknya chemistrinya pasti dapet dah!" Jani mengoceh sambil menjalankan mobil mewah milik Samuel.
" Kayak punya pacar aja!" Ucap Samuel tersenyum miring, kemarin dia menyuruh salah satu asistennya untuk menyelidiki kehidupan Jani dikampus, ternyata Jani sudah lama tidak berpacaran dan itu sontak membuat Samuel semakin semangat untuk mendapatkan Jani seutuhnya.
" Yoyo.."
" Nanti Yoyo bobok sama grandma ya?"
" Daddy dan mommy... eeh... kak Jani mau pergi keluar sebentar." Samuel tanpa sengaja menyebut 'mommy' lagi.
" Okey daddy."
" Tapi kak Jani nanti tidur nemenin Yoyo kan?" Tanya Yoyo antusias sambil memandang Jani yang lagi serius menyetir.
" Iya sayang.." Jawab Jani melihat wajah imut Yoyo dari spion tengah.
" Jangan tunggu kak Jani, daddy nggak bisa memastikan pulang jam berapa, jadi kalau waktunya tidur, Yoyo harus segera tidur, right?" Ucap Samuel sambil memejamkan matanya.
" Iya Daddy." Jawab Yoyo dengan lemas.
Setelah Yoyo turun dan masuk dalam rumah, Jani segera membelokkan kembali mobil itu keluar mansion kembali.
" Kita mau kemana pak?" Tanya Jani sambil fokus menyetir.
" Kerumah Marvin." Ucapnya dengan tegas.
" Kayak pernah denger namanya." Jani mengingat-ingat kembali nama itu.
" Dokter yang menangani sindrom traumaku!"
" Dia dokter pribadi sekaligus sahabatku!" Ucapnya kembali sambil menyandarkan kepalanya yang terasa berat.
" Owh iya, dokter jutek dan galak yang hari itu ya!" Ucap Jani akhirnya mengingat, kata-kata pedas dari Marvin.
" Memang kamu pernah bertemu dengannya?" Tanya Samuel yang langsung melirik Jani.
" Pernah, saat itu kan aku menghubunginya."
" Saat bapak pingsan tidak sadarkan diri hanya karena naik roal coaster itu!" Ucap Jani yang terkesan meremehkan.
" Itu juga gara-gara kamu!"
" Semua gara-gara kamu!" Ucap Samuel mengingat kisah itu kembali.
Bahkan hatiku kocar-kacir begini juga gara-gara kamu, puas kamu...!
Ingin sekali Samuel mengatakannya, namun hati masih sedikit sulit untuk menerima cinta kembali, ditambah tadi, penyebab luka dihatinya hadir kembali, mengusik hati yang mulai reda.
" Opo ra ngelingi, sopo sing ngancani sopo sing nulungi pas kowe susah ati!" Sebenarnya Jani juga tau itu salahnya, tapi juga bukan sepenuhnya salahnya, memang sudah ada bibit trauma didiri Samuel pikirnya, jadi dia tidak menjawab, dia lebih memilih menyanyikan lagu Jawa favoritnya dengan asyiknya dan menggangap stir bundar mobil itu sebagai gendangnya.
__ADS_1
" Kamu ini, kalau diajak ngomong sukanya mengalihkan pembicaraan!"
" Tanggung jawab kamu!" Samuel menatap jengah Rinjani yang seakan tidak merasa berdosa sama sekali.
" Pancen iki dalane, tak kuat-kuatke, tak ikhlas-iklaske, nanging bakal tak buktekne, dongaku ngo kowe langgeng selawase, aku iso tanpo kowe... aaaaaa... josss... jossss..." Jani melanjutkan lagi lagunya.
" Kamu ini.."
" Bisa diem nggak!"
" Suaramu jelek, bikin sakit telinga!" Samuel menarik pipi Jani dengan gemas.
" Awww..."
" Sakit pak, pelanggaran ini namanya!"
" Udah dianterin, nyakitin lagi!" Umpat Jani langsung menepis tangan Samuel.
" Belok kemana ini?" Tanya Jani sambil cemberut.
" Belok kanan, rumah paling mewah diujung komplek." Ucapnya dengan santai.
" Beuuuhhh..."
" Ternyata tajir juga tuh dokter!"
" Pantesan songong!" Umpat Jani saat memasuki gerbang rumah Dokter Marvin.
Samuel langsung berjalan gontai dan menekan pasword rumah Marvin dengan lancar dan pintu rumah itu pun terbuka dengan sendirinya.
" Heiih.."
" Bapak tahu sandinya?" Jani terheran sendiri melihatnya.
" Ini rumah kedua ku!"
" Aku sengaja memberikannya kepada Marvin karena dia sudah berjasa kepadaku!"
" Dia berhasil menyembuhkanku dengan baik!" Samuel adalah tipe orang yang tau balas budi, walau itu sudah menjadi pekerjaannya, namun Marvin berusaha dengan keras meminta bantuan sahabat dokter lainnya dan melakukan pemeriksaan dengan intens, bahkan dia sampai beberapa bulan tinggal dirumah Samuel hanya untuk memberikan perawatan khusus untuknya, jadi rumah mewah sebesar ini tidak ada artinya untuk membalas jasa Marvin.
" Waarbiyasah kalau bapak mah!"
" TE O PE banget dah!" Jani mengacungkan dua jempolnya kearah Samuel yang langsung tersenyum dengan bangganya.
" Vin... Marvin...!" Teriak Samuel yang langsung menjatuhkan dirinya dikursi sofa empuk itu.
" Sepi pak."
" Kayak nggak ada orang deh?" Jani clingak-clinguk sendiri sambil melihat kanan kiri dan melihat setiap sudut ruangan yang bernuansa putih semua.
" Mungkin dia lembur!"
" Tunggu saja dulu."
" Duduklah.. apa mau minum sesuatu?"
" Anggap saja rumah sendiri."
" Ambil saja dikulkas sana." Ucap Samuel dengan santainya.
" Beneran nih pak?"
" Nggak papa ini?" Tanya Rinjani memastikan.
" Hmm.."
" Marvin tidak akan berani marah, walau aku menghabiskan isi dalam kulkas itu!" Samuel menunjuk kulkas dua pintu disudut dapur bersih itu.
" Kalau bapak yang menghabiskan?"
" Diiihhh... kalau ingat tatapan matanya saat melotot itu, beuuuh... merinding euy!" Jani mengusap lengannya sendiri, serasa bulu kuduknya meremang.
" Hmm.. benarkah?"
" Bagaimana kalau dengan tatapan mataku!" Samuel langsung menahan pintu kulkas itu dan menatap mata Rinjani yang terlihat terlonjak kaget itu dengan senyum menawan.
" Aku bagaimana?" Tanya Samuel sambil menatap tajam kedua bola mata Rinjani.
" Hmm..?" Samuel seakan mulai menghipnotis Jani.
" Ganteng.. oopshh!" Jani menutup bibir nakalnya.
" Awas pak.. aku haus!" Jani langsung mendorong tubuh Samuel menjauh dari pintu kulkas.
" Hahahaha.." Samuel langsung tertawa lepas mendengarnya.
" Ckkk... mulutmu Jani, bikin malu saja!" Umpat Jani langsung menelan air satu botol sekali habis.
" Heh... Sam!"
" Kapan kamu datang?"
" Kenapa tidak menelponku dulu."
" Aku lembur tadi." Ucap Marvin yang langsung melempar jas kebanggaannya keatas sofa begitu saja, badannya begitu lelah menangani pasien yang setiap harinya membludak saja.
" Hmm.. its okey!"
" Aku hanya ingin ngobrol sebentar dengan kamu!" Ucap Samuel langsung duduk menyilangkan kakinya.
" Heh... ada kamu juga!" Dia melihat Jani berjalan dari arah dapur dengan membawa dua kantong plastik cemilan ditangannya.
" Kamu ambil dari mana itu!" Marvin langsung menatap cemilan yang baru saja dia beli kemarin.
" Kata pak Sam, aku disuruh menggangap rumah ini, rumah sendiri, hehe.."
" Kalau mau marah, noooh... marah sama pak Sam! werk.." Jani malah menjulurkan lidahnya didepan Marvin yang sedang melotot.
" Kalau gitu aku mau kacangnya."
" Kupasin juga!" Pinta Samuel sambil tersenyum melihat Jani yang berani melawan Marvin.
" Okey.." Jani dengan santainya duduk bersila diatas sofa menghadap ke arah Samuel dan membukakan kulit kacang dan menyuapkannya ke mulut Samuel.
" Ciiihhh..."
" Kalian berdua pacaran?"
" Pantas saja hari itu dia menemanimu saat trauma mu kambuh!" Marvin sudah curiga saat itu, dia hanya belum sempat ngobrol banyak saja kepada Samuel sejak saat itu, karena Samuel juga tidak mengeluh apa-apa dengannya.
" ENGGAK..!" Bantah Jani seketika.
" SALAH..!" Ucap Samuel melanjutkan.
" HAH?"
" Enggak atau salah, atau malah enggak salah jadinya?" Marvin menggaruk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal.
" DIAMLAH.."
" Aku mau cerita ini."
" Ada persediaan obat kan dirumahmu!" Ucap Samuel langsung mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
" Kenapa?"
" Ada apa?"
" Kita bicarakan dikamar saja atau bagaimana?" Marvin langsung bangkit dari duduknya dan menelisik raut wajah Samuel.
" Woaaaah... urusan suami istri memang selalu terselesaikan jika sudah pergi ke kamar."
" Silahkan kalian ke kamar, saya tunggu disini saja nggak papa."
" Santai saja!" Jani mengingat sapaan Marvin saat itu di telpon, dia mengatakan 'Apa Samuel kangen' berarti dugaannya benar, ada sesuatu dibalik hubungan persahabatannya.
Woah... jangan-jangan dia putus dengan ceweknya karena dia Ho mo lagi, jadi dia sudah nggak minat lagi dengannya, waahh... parah ini sih..!
Rinjani menggelengkan kepalanya sendiri dan menatap Samuel dan Marvin secara bergantian.
" Apa yang kamu pikirkan!"
" Jangan berpikiran negatif!" Samuel langsung memiting leher Jani dengan gemas, dia tahu apa yang ada diotak wanita gila kesayangannya ini, walaupun belum diakui.
" Jadi gimana ini?"
" Kamu mau diatas atau dibawah saja?" Tanya Marvin yang semakin membuat Rinjani salah paham.
" Woaah... gilak.. gilak..."
" Awas pak, aku mau ke dapur saja!" Jani ingin beranjak pergi dari sana, namun tarikan tangan Samuel membuatnya ambruk didalam pangkuan Samuel.
" Duduk diam saja kamu!" Samuel memeluknya dari belakang dan merapatkan Jani kedalam tubuhnya.
" Aku tidak seperti yang ada di otak gesrekmu itu!"
" Aku masih normal!" Bisik Samuel ditelinga Jani yang langsung membuat bulu kuduk Jani meremang.
" Sialaaaann!"
" Kalian kesini cuma mau nunjukin kemesraan kalian ya!" Teriak Marvin yang langsung tidak terima.
" Wokey!"
" Gw telpon cewek gw sekarang nih!"
" Kita adu keromantisan saja malam ini!"
" Gimana!" Marvin langsung mengambil ponselnya, siap menghubungi kekasih hati belahan jiwanya.
" Ckkk.."
" Gw mau konsultasi bro!"
" Jangan panggil cewekmu!" Samuel menendang meja didepannya kearah Marvin yang langsung melotot.
" Ciih.. konsultasi apa curhat tentang hati!"
" Ngapain eluu bawa cewek luu."
" Maen peluk-peluk aja didepan gw!"
" Trus gw peluk apaan dong!" Marvin langsung iri melihat mereka masih duduk berpangku seperti itu.
" Noooh bantal!" Samuel kembali menendang bantal disebelahnya, karena tangannya masih memeluk Jani yang berontak ingin melepaskan diri sedari tadi.
" Lepasin dong pak!"
" Aku nggak mikirin bapak yang aneh-aneh kok!"
" Aku cuma mau minum lagi!" Jani berusaha lepas dari dekapan Samuel namun tidak bisa.
" Diem kamu, jangan gerak-gerak terus!"
" Atau mau aku seret ke kamar kamu!" Ancam Samuel yang langsung membuat Jani terdiam.
" His.. his.. his.. "
" Lama nggak pacaran kamu semakin ganas ya bro!"
" Langsung ngajak ke kamar aja luu!" Marvin langsung menggelengkan kepalanya.
" Ckkk..."
" Dia itu suka ngelawan, kalau nggak dikekepin suka kemana-mana!"
" Sudah jangan pedulikan dia!"
" Aku tadi ketemu dengan Gladis!" Samuel langsung menghela nafasnya setelah menyebut nama wanita masa lalunya itu.
" HAAAH.." Marvin tak kalah heboh mendengarnya.
" Trus elu bagaimana?"
" Baik-baik saja kan?" Marvin ingin mendekat kearah Samuel namun kaki Samuel langsung menangkisnya.
" Diem saja disitu kamu!" Samuel melotot kearah Marvin.
" Beneran, nanti dia tahu masalahmu nggak papa?" Marvin menunjuk Jani untuk memastikan kembali, tidak biasanya Samuel mau bercerita didepan orang lain.
" Its okey."
" Dia memang harus tahu!" Ucap Samuel dengan santainya.
" Hmmm.." Marvin langsung memicingkan matanya.
" Pantesan saat kambuh eluu sudah nggak butuh gw lagi!"
" Ternyata gw sudah diduakan!" Ucap Marvin sambil tersenyum miring.
" Ehhh... "
" Jangan salah paham, aku tidak punya hubungan apapun dengan pak Sam?" Jani langsung membantahnya, walaupun dia tidak setuju dengan hubungan sesama jenis, namun dia tidak mau menggangu privasi orang pikirnya.
" Jangan merasa diduakan dokter?" Dua telapak tangan Jani langsung melambai ke udara.
" Kami cuma berteman!" Jani bahkan menegaskan setiap perkataannya.
" Seriusan deh!" Jani langsung mengangkat kedua jarinya juga.
" SEKARANG KITA PUNYA HUBUNGAN..!"
Cup
Samuel langsung menyambar bibir cerewet Rinjani yang kalau sudah mengoceh susah sekali untuk diam itu.
" HEH.. HEH.. HEH..!"
" Dasar pasangan me sum!"
" Jangan didepan gw dong broooo!" Marvin langsung sewot sendiri dan kembali membalas menendang meja didepan, ke arah Samuel yang masih menikmati bi bir Jani yang kaku itu.
... "Di dalam percintaan hanya permulaan yang menarik, itulah sebab banyak orang yang sering memulai kembali."...
... "Bersabarlah dalam segala hal, tetapi yang terpenting adalah bersabar dengan emosi yang ada di dalam dirimu sendiri."...
..."*Jangan pernah menangis untuk seseorang yang telah menyakitimu."...
__ADS_1
... "Tersenyumlah dan katakan 'terima kasih' karena dia telah memberimu kesempatan untuk menemukan seseorang yang lebih baik*."...
Jangan lupa mana VOTE kalian dong bosque 🥰