
...Happy Reading...
Kesabaran tidak berarti bertahan secara pasif, cukup berpandang jauh ke depan untuk memercayai hasil akhir dari suatu proses.
Apa artinya kesabaran?
Itu berarti melihat duri dan mawar, melihat malam dan fajar. Ketidaksabaran berarti berpandangan sempit sehingga tidak dapat melihat hasil.
Orang yang memiliki keteguhan hati yang kuat, tidak pernah kehabisan kesabaran karena mereka tahu waktu yang dibutuhkan bulan sabit menjadi purnama.
Samuel yang dulu selalu dengan mudahnya mendapatkan apa yang dia inginkan, kini dia mulai tahu apa itu arti dari kesabaran, wanita yang berada dipelukannya saat ini ibarat kata 'Jinak-jinak Merpati' Rinjani memang terlihat supel, ramah dan gampang berbaur dengan siapa saja, namun ternyata untuk menyelami hatinya perlu kesabaran yang super ekstra.
Berulang kali Samuel memberikan kode ataupun kata-kata manis, walau dengan nada datarnya, namun Rinjani seolah menggangap itu semua seperti angin lalu.
" Daddy.. daddy.."
" Aku mau juga dipeluk kayak kak Jani." Ucap Yoyo sambil menarik Jas Samuel dari belakang.
" Astaga.. bapak iih." Suara kecil itu menggagetkan mereka dan langsung menghentikan aktifitas yang bisa menodai mata suci, apalagi untuk anak-anak.
" Suka nggak tau tempat deh." Jani langsung bangkit dari pelukan Samuel yang sebenarnya terasa hangat itu.
" Aku lupa kalau masih ada Yoyo." Samuel langsung mengusap tengkuknya sambil memejamkan kedua matanya.
" Kamu sih, malah keenakan." Sang presdir maha benar itu, mana mau disalahkan begitu saja.
" Harusnya kamu ngingetin kalau masih ada Yoyo." Ucap Samuel lirih sambil sedikit tersenyum kearah Jani.
" Enak saja."
" Gimana mau ngingetin kalau bapak sudah nyosor duluan tanpa aba-aba kayak Soang!"
" Siapa juga yang keenakan, orang bapak maksa!" Umpat Jani langsung berjalan kearah Sofa, menjauh dari listrik bertegangan tinggi yang selalu bisa menyetrumnya kapan saja dan dimana saja itu.
" Orang kamu terlihat menikmatinya!" Samuel melirik Jani sekilas dan langsung menggendong Yoyo.
" Eehh... Yoyo sayang?"
" Mau dipangku juga kayak Mommy?"
" Sini..sini.."
" Mau nemenin daddy kerja?" Samuel mengangkat Yoyo kedalam pangkuan, dan kembali menyelesaikan pekerjaannya didepan layar komputer.
" Mommy... mommy.." Jani menirukan gaya Samuel berbicara.
" Belum apa-apa sudah nyuruh panggil mommy aja." Jani mengumpat lirih sambil membaca majalah bisnis didepannya.
" Kamu mau diapa-apain juga nggak mau!"
" Sekarang bisanya cuma protes saja kamu ini." Samuel menghentikan ketikan dikomputernya dan memutarkan kursinya menghadap kearah Jani.
" Ssssssttt... Daddy."
" Jangan marahin kak Jani."
" Karena wanita itu, cuma ingin dimengerti." Yoyo meletakkan jari telunjuknya dibi bir Samuel.
" Woaaaahh..."
" Yoyo.. kamu dapat kosa kata itu dari mana sayang."
" Nggak salah kakak Jani ngefans berat sama kamu memang." Jani menutup majalah yang dia baca dan langsung menatap kagum dengan sosok bocah ajaib itu.
" Dari kak Bromo, hihi..."
" Yoyo gitu lorh!" Dia bersidekap sambil tersenyum miring.
" Astaga Bromo."
" Anak ini tidak boleh terlalu sering berinteraksi dengan Bromo."
" Bisa dapat aliran sesat nanti dia."
" Jadi dewasa sebelum waktunya." Jani hanya bisa menghempaskan tubuhnya kembali di Sofa.
" Its okey kak Jani."
" Yoyo kan memang sudah gede, pinter lagi." Bibir mungil itu selalu saja membuat orang merasa gemas dan takjub dengan semua kata yang diucapkannya.
" Its true.. ya kan Dad?" Yoyo menangkupkan tangannya ke pipi ayahnya agar dia menatapnya.
" Yes sayang.."
" Of coures dong, siapa dulu daddynya!" Samuel tersenyum dengan bangganya.
" Owh begitu?" Jani langsung berjalan mendekati Yoyo yang masih didalam pangkuan Samuel.
" Yo.."
" Mulai nanti malam, kakak sudah nggak nememin Yoyo tidur lagi ya?" Senyum Jani merekah, seolah dia bisa terbebas dari kurungan tembok raksasa walaupun terlihat mewah itu.
" NOOOOOOO...!" Samuel dan Yoyo kompak berteriak dan memandang wajah Jani secara bersamaan.
" Astaga?"
" Kenapa kalian kompak sekali?" Jani memandang Samuel dan Yoyo bergantian.
" Soalnya sudah ada bibi baru yang menggantikan kakak?"
" Baik-baik bobok dengan bibi baru, okey?"
" Jangan kamu nakali ya sayang." Jani mengucap seolah babysitter itu akan datang hari ini juga.
" Memang siapa yang bilang babysitter Yoyo datang hari ini?" Samuel memicingkan kedua matanya.
" Memang kenapa harus besok?" Jani tidak mau kalah.
" Kamu sudah berani ya melawan saya?"
" Kalau aku bilang tidak ya tidak."
" Setidaknya sampai jadwal magangmu selesai." Samuel tidak mau tahu, apa yang dia mau harus dituruti.
" Tapi kan pak."
" Saya harus belajar juga kan pak?"
" Inti dari magang itu kan mengaplikasikan ilmu yang kita cari di bangku kuliah dan terjun langsung ke dunia kerja profesional pak."
" Kita harus mengikuti pembelajaran di lapangan, untuk memperkenalkan dan menumbuhkan kemampuan dalam dunia kerja nyata."
" Dan kita juga harus melalui hubungan yang intensif antara peserta program magang dan tenaga pembinanya di instansi."
" Kalau saya cuma dirumah aja, bagaimana saya bisa mendapatkan pengalaman kerja pak." Jani menghela nafasnya, dia merasa kesal sendiri, kenapa dia harus terjebak dalam situasi seperti ini.
" Memang siapa yang melarang kamu pergi ke kantor?" Samuel kembali memutarkan kursinya kearah Jani yang terkulai lemah bersandar di sofa.
__ADS_1
" Ya emang nggak nglarang."
" Tapi kasian Yoyo pak kalau harus dibawa kekantor."
" Anak sekecil dia itu harusnya puas-puasin bermain dan belajar."
" Kata para ahli tuh, bermain dapat mengembangkan otot-otot dan energi yang ada padaĀ anak."
" Selain itu juga untuk kesejahteraan psikologis, perkembangan kognitif, perkembangan sosial dan emosional, serta perkembangan fisik bagi anak."
" Kalau Yoyo ikut kekantor, masak dia harus bermain dengan fail-fail perusahaan?"
" Anak sekecil Yoyo mana tahu?" Jani tidak habis pikir, apa sebenarnya yang diinginkan Samuel.
" Yoyo bukan anak kecil lagi kakak?"
" Kenapa dari tadi bilang Yoyo anak kecil terus!"
" Huh." Yoyo langsung melengos membelakangi wajah Jani.
" Kalau begitu Yoyo berani dong tidur sendiri tanpa kak Jani." Jani malah tersenyum dibuatnya.
" Argh.. kakak jahat!" Teriak Yoyo tidak terima, sebenarnya dari dulu Yoyo terbiasa tidur sendiri, namun semenjak ada Jani dia lebih suka tidur ada yang nemenin, apalagi Jani selalu menceritakan dongeng dan cerita rakyat sampai dia tertidur.
" Tuuulll.." Samuel ikut menyetujui ucapan Yoyo.
" Katanya kakak janji, mau nemenin Yoyo dan bermain bersama, asalkan Yoyo tidak nakal lagi sama kakak?"
" Terus sekarang kakak mau mengingkarinya begitu?"
" Ish.. ish.. ish.." Yoyo bahkan menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, didepan wajah Jani.
" Padahal kakak sendiri yang ngajarin Yoyo, nggak boleh ingkar janji."
" Dosa, nanti bisa masuk Neraka, hiiiihhh.." Yoyo menggedikkan bahunya sendiri.
" CAKEEEPP...!" Samuel tersenyum sambil memeluk putra kesayangannya yang begitu membanggakan itu menurutnya.
" Astaga.." Jani menepuk keningnya sendiri, merasa menyesal pernah bilang itu kepada anak yang daya ingatnya sangat kuat bahkan mungkin melebihi dirinya itu.
" Tapi kakak juga harus belajar sayang."
" Kakak masih kuliah lho?" Jani menatap jengah Samuel yang seolah-olah menertawakan dirinya dan mendukung putranya itu.
" Yoyo jam delapan malam sudah tidur kakak."
" So.. kakak bisa belajar setelah Yoyo tidur." Celoteh Yoyo kembali.
" Tapi kakak perlu ketenangan juga dalam belajar Yo?" Jani masih mencoba untuk melakukan sesi tawar menawar dengan bocil didepannya itu.
" Yoyo janji, tidak akan gangguin kakak kok!"
" Yoyo juga selalu dengerin nasehat kakak sekarang." Sebenarnya bukan hanya anaknya, bapaknya pun sudah takhluk dengan Jani.
" Bukan Yoyo yang gangguin kakak, tapi Daddy." Ucap Jani sudah pasrah saja sekarang.
" Dad.."
" Apa daddy sering gangguin kak Jani saat malam hari?" Dengan polosnya Yoyo bertanya kepada Samuel.
" HAH?" Samuel bingung harus menjelaskan apa, masak iya dia harus bilang kalau dia sering ngekepin Jani saat tengah malam tiba.
" Begini saja deh.." Jani juga tidak ingin Samuel menjelaskan apa yang dia lakukan kepadanya saat malam hari kepada anak dibawah umur itu.
" Kalau weekend kakak akan datang kerumah Yoyo, nemenin Yoyo bermain sepuasnya."
" Gimana.. okelah ya?" Jani lebih baik menyerahkan hari weekendnya untuk Yoyo dari pada harus setiap hari jadi babysitternya, lagian juga dia jomblo, nggak akan ada jadwal kencan di hari minggu seperti layaknya pasangan pada umumnya.
" Trus aku bagaimana?" Samuel ikut unjuk rasa juga dengan nasipnya.
" Apaan sih pak?" Jani bahkan berani memelototkan matanya.
" Aku sudah gaji kamu mahal plus bonusnya kemarin kan?"
" Jangan pura-pura lupa."
" Kamu kan harus selalu menemaniku saat aku masih dalam proses pemulihan."
" Apa kamu lupa kata Marvin?" Samuel membalas memelototi Jani.
" Ya elah pak."
" Tadi malam juga udah bisa tidur dengan tenang."
" Tinggal minum obat doang." Jani meniup poni rambutnya sendiri saat mendengar ocehan Samuel yang kalau sudah menyangkut tentang harta, selalu itu saja yang dia buat menjadi senjata andalan.
" Tapi gaji dan bonusmu aku kasih untuk satu bulan penuh itu!" Kalau sudah menyangkut tentang uang, Samuel pasti akan selalu menang.
" Yawda.. gini deh."
" Aku akan nemenin bapak setiap makan siang."
" Kalau perlu aku suapin terus deh, gimana?" Jani menemukan ide yang cemerlang.
" Itu saja?"
" Jadi? mau apa lagi?"
" Sarapan juga lah, makan malam juga dong pastinya."
" Pak... kalau nemenin sarapan dan makan malam kejauhan dong?"
" Perjalanan rumah saya kerumah bapak itu hampir satu jam."
" Capek dong pak, harus bolak balik?"
" Kalau makan siang kan bisa dikantor, jadi nggak memakan waktu." Jani pusing sendiri menghadapi tingkah Samuel yang semakin ngelunjak dengan segala keinginannya.
" Nggak mau tahu!"
" Kalau nggak mau ya sudah!" Samuel kembali mengerjakan pekerjaanya tanpa memperdulikan raut wajah Jani yang semakin kesal dibuatnya.
" Okey.. okey.." Jani angkat tangan menyerah saja.
" Tapi sarapannya dikantor ya."
" Kalau untuk makan malamnya jangan malam-malam, ngeri aku pulang malam sendirian."
" Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian."
" Aku tahu, kamu sudah terbiasa pulang denganku, kamu pasti ketagihan kan?"
" Kamu nggak akan bisa jauh dari aku."
" Dan nggak akan PERNAH BISA."
" Ingat-ingat itu!" Samuel menegaskan kata-katanya, kalau dia sudah begitu, tidak akan ada yang mampu mengalahkannya.
__ADS_1
" Ciiih.."
" Okey.."
" Kalau begitu aku tinggal dulu Yoyo disini ya pak."
" Aku mau ke ruangan divisiku dulu." Jani sudah malas terus berdebat dengan dua makhluk ciptaan Tuhan yang luar biasa itu.
" Hmm.."
" Jangan lama-lama."
" Sebentar lagi sudah waktunya jam makan siang."
" Kita makan diluar nanti."
" Yeaaaayy..."
" Yoyo mau makan udang Dad!" Yoyo langsung bersorak gembira.
" Udang lagi udang lagi kamu ini."
" Okey deh!"
" Bilangin sama mommymu, jangan lama-lama perginya."
" Nanti Daddy kangen."
" Eeh.. maksudnya nanti daddy bosan menunggu!"
" Hahaha..cie.. cie.. daddy?"
" Nggak bisa jauh-jauh dari Mommy ya? haha.." Yoyo langsung meledek daddynya yang keceplosan bicara itu.
" Ciiihh..."
" Dasar, sok jual mahal."
" Padahal ngarep!" Jani melenggang keluar ruangan tanpa memandang wajah Samuel yang tetap bertahan memasang wajah datarnya walau sudah kelepasan bicara.
Jani dengan semangat langsung pergi keruangan yang dulu dia tempati, senyum kebebasannya kembali terpancar, dia rindu menggosip dengan seniornya, rindu membuatkan kopi khas racikannya yang selalu membuat orang tersenyum saat menyeruput kopi buatannya.
" Hai Epribadehh..."
Jani sudah akrap dengan semua orang disana, karena memang dia orangnya gampang akrab dengan siapapun itu apalagi bermodalkan parasnya yang cantik, bahkan karyawan cowok disana sering menggoda dan berusaha untuk bisa mendapatkan perhatian Jani.
" Janiiiiiii..."
" Akhirnya kamu balik lagi."
" Kirain kamu kena masalah trus dipecat." Mbak biang gosip di divisinya langsung mendekat kearahnya.
" Eeh.. btw beneran kamu ada hubungan spesial dengan presdir kita?"
" Iya Jan, berita luu heboh lho di grup kantor kita."
" Yang bener gimana sih?"
Mereka langsung menyerang Jani dengan berbagai pertanyaan, ternyata gosipnya menyebar dengan cepatnya.
" Enggak bener itu semua."
" Sebenarnya gw itu ternyata masih saudaraan jauh sama pak Samuel." Jani mencari alibi yang mungkin bisa mereka percayai.
" Yang bener luu?"
" Nggak percaya gw?"
" Kalian memang nggak harus percaya sama gw."
" Karena percaya itu memang harus dan hanya kepada yang Diatas saja." Umpat Jani dengan entengnya.
" Gaya luu Jan!"
" Jadi mulai sekarang luu balik lagi ke divisi kita nih?"
" Iya dong, mulai sekarang sampai magang gw selesai, hehe.."
" Kenapa?"
" Pada kangen semua ya, ama akuh?"
" Aku tuh memang ngangenin sih orangnya, hahaha.." Jani lega, teman-temannya tidak membahas Samuel lagi.
" Iya kangeeenn banget!"
" Tapi sama kopi buatan eluu!"
" Buatin gih sono!"
" Haiyaaaah.."
" Kalian ini, bisa nggak sih pura-pura saja kangen sama orangnya."
" Bohong sedikit buat nyenengin hati gw kan bisa."
" Lebih enak didengar gitu!" Umpat Jani namun dia juga berjalan melenggang menuju pantry untuk membuatkan kopi.
Belum juga dia berhasil keluar ruangan, tiba-tiba pintu ruangan itu sudah terbuka dulu dari luar.
" Mommy..!"
" Sudah selesai belum."
" Ayo kita makan, daddy sudah lapar katanya!" Yoyo muncul dari balik pintu didalam gendongan Nisa sekertaris presdirnya.
" MOMMY..?"
Sontak semua kepala menoleh kearah suara anak kecil yang mereka sebut sebagai Tuan Muda itu, semua orang mengenal siapa itu Yoyo.
" Ya salaaaamm.."
" Kedua orang itu sungguh tidak pernah mengizinkanku untuk bisa hidup dengan tenang.
" Arrrgghhh!" Ingin sekali Jani melampiaskan semua kekesalannya, tapi dengan apa dan siapa?
Hidup adalah sebuah pilihan. Ketika kita menghadapi situasi yang sulit, mungkin cuma ada dua pilihan yaitu mengikuti kata hati atau mengikuti alur cerita dengan pasrah. Begitu juga dengan Jani, sejauh apapun dia ingin berlari, tetap saja ada yang menghadang dan menghambat jalannya, sehingga dia tetap kembali ke posisi awal.
Kita yang menjalani hidup seperti mengalirnya air, mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.
Hanya ikan mati yang mengikuti arus.
Yang diperlukan agar dunia tetap selaras hanyalah bila semua makhluk mengikuti hukum alam.
Hidup adalah pilihan, melawan gelombang atau mengikuti arus. Masa depanmu tidak selalu mengikuti rencanamu, tetapi selalu mengikuti tindakanmu.
..."Jika dunia senang bercanda, maka jangan menangis tapi tertawalah, dunia akan menyakitkan jika kau lawan, tapi akan baik-baik saja jika kau mengikuti alurnya."...
__ADS_1
Apapun itu yang terpenting Jempol kalianš¤