CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
56. Dosa Termanis


__ADS_3

...Happy Reading...


Hujan mengguyur dengan derasnya, diiringi dengan angin yang bertiup dengan kencangnya, bahkan petirpun menyambar-nyambar, seolah menertawakan Niar yang sedang menggigil kedinginan.


Selain karena bajunya yang memang tipis dan tadi dia juga belum sempat sarapan sama sekali, alhasil daya tahan tubuhnya menurun, seluruh tubuhnya kedinginan, wajahnya pucat dan bibirnya bergetar, walau dia tidak kehujanan namun angin di sekitar persawahan seolah berputar disekelilingnya.


Terdengar suara motor gede yang mendekat kearahnya, dengan tanpa melepas jas hujan, Marvin turun sambil menyodorkan bag yang berisi jas hujan untuknya.


" Nah... pakai!"


" Nyusahin saja kamu jadi orang!" Kata-kata Marvin langsung membuat Niar menengadahkan wajah cantik itu kearahnya.


" Maaf."


Niar berucap lirih sambil berusaha berdiri untuk mengambil jas hujan untuknya.


" Kamu menggigil?" Marvin memperhatikan raut wajah Niar yang pucat pasi.


" Astaga.. makanya jangan sok seksi jadi orang."


" Kalau naik motor itu, jauh dekat pakai jacket!"


" Lagian apa yang mau kamu tunjukkan sama semua orang."


" Badan lurus penuh kayak triplek aja sok-sok an tampil seksi kamu!" Umpat Marvin langsung melepas jas hujannya sambil terus mengoceh sesuka hatinya.


" Aku nggak tahu kalau hujan mau turun secepat ini."


" Tadi aku buru-buru, jadi lupa mau ambil jacket." Niar berbicara sambil terus mengusap lengannya.


" Baju yang kamu bawa kehujanan nggak tadi?" Marvin memeriksa paperbag yang ada dimotor Niar.


Sialan nih cowok, bukannya mengkhawatirkan orangnya, malah baju yang tidak bernyawa yang dia tanyain.


" Enggak, tenang saja, semua aman kok."


" Aku tadi langsung berteduh, jadi bajunya nggak kehujanan." Ucap Niar kembali jongkok karena tidak tahan dengan angin yang kembali berhembus kencang.


" Berdiri!" Ucap Marvin masih dengan suara datarnya.


" Nggak mau.. dingin dokter."


" Dokter boleh kembali pulang saja kok."


" Nanti kalau sudah reda aku pulang sendiri."


" Makasih buat jas hujannya."


" Maaf merepotkan." Niar kembali menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya.


" Bisa berdiri nggak kamu?"


" Apa suaraku kurang jelas, hah?" Marvin semakin menaikkan intonasi suaranya.


" Apaan sih dok?"


" Kalau mau pulang, yaa pulang aja sono."


" Duluan aja, nggak usah pake marah-marah deh."


" Kalau mau marah sama Jani noh, kan bukan aku yang nyuruh dokter kemari." Jani terlihat kesal saat mendengar setiap perkataan Marvin yang sangat dingin dan tidak sedap didengar.


" Mau berdiri sendiri atau aku tarik ini." Marvin melepas jacket kulit ditubuhnya dan menyisakan kaos hitam ketat ditubuhnya.


" Ckk..apaan sih?" Niar berdecak dan akhirnya mencoba berdiri, sudah badan nggak enak ditambah suara yang nggak enak, lengkap sudah penderitaan dirinya.


" Nih.. pakai." Marvin memakaikan jacket kulitnya ke tubuh Niar.

__ADS_1


" Ta.. tapi dokter?" Niar sebenarnya terkejut dan tidak enak hati dengan perlakuan Marvin yang terlihat gentleman itu, namun tubuhnya memang sangat memerlukan kehangatan itu, jadi dia menerima saja.


" Kenapa nggak naik taksi saja tadi?"


" Mana lewat jalur pintas lagi."


" Sekarang gimana mau cari taksi coba?"


" Mau suruh jemput pakai mobil juga nggak bisa masuk kesini."


" Mau cari air hangat juga kemana ini?" Marvin melihat kesekeliling, rumah penduduk bahkan masih jauh dari sana, sedangkan dia sebenarnya kasian melihat Niar seperti itu.


" Nggak papa dokter."


" Sebentar lagi juga pasti reda hujannya."


" Dokter kedinginan nggak?" Tanya Niar yang juga tidak tega melihat Marvin berulang kali mengusap lengan kokohnya.


" Ckkk.."


" Ya dinginlah, kena angin masak panas!" Jawab Marvin dengan nada ketus.


" Ya sudah pake saja jacketnya." Niar ingin melepas kembali jacketnya, dia lebih baik menggigil kedinginan dari pada dikasih bantuan tapi tidak ikhlas.


" Nggak usah dilepas!"


" Pakai saja jacketnya!" Ucap Marvin menatap tajam kearah Niar.


" Tapi dokter----"


" Sini kamu!" Marvin menjentikkan jemarinya ke arah Niar.


" Ada apa?" Niar ragu ingin mendekat, jadi dia tetap berada diposisinya sekarang.


Greepp!


" Dok... dokter?" Niar terkejut bukan kepalang, tingkah dokter dingin yang satu ini memang sering diluar nalar.


" Diam kamu!"


" Aku juga butuh kehangatan!" Ucap Marvin sambil mengeratkan pelukannya.


" Maaf ya dok." Niar jadi serba salah, ingin menolak tapi nggak tega, sedangkan tubuhnya juga terlihat nyaman dengan itu semua.


" Kamu kok masih gemeteran sih?" Marvin menyandarkan dagunya dibahu Niar sambil melirik kearah bi bir Niar yang masih gemeteran.


" Aku masuk angin deh kayaknya dokter."


" Tadi aku belom sempet sarapan."


" Emphhh----" Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, namun bi birnya sudah disambar Marvin dengan ganasnya, dan meninggalkan sedikit luma tan disana, bahkan ciu man itu terjadi berlangsung cukup lama, Niar bahkan sampai memejamkan matanya sambil mengikuti kemana arah kepala Marvin yang sedang menyosor sesuka hatinya itu.


Niar sayang... Niar sayangku...


" Emphh.. dok.. dokter sudah." Entah mengapa seolah-olah suara kekasih Niar terngiang-ngiang ditelinganya.


" Cukup dokter!" Niar memundurkan kepalanya saat Marvin masih ingin mencari yang anget-anget disana.


" Ehermm.." Marvin langsung memalingkan wajahnya saat mata Niar menatap tajam kearahnya.


" Jangan ke GR an kamu."


" Sebagai dokter, aku cuma kasihan saja melihat bi bir kamu yang gemetaran tadi."


" Jadi aku berikan sedikit kehangatan disana." Marvin tidak mau menjatuhkan reputasinya sebagai pria berdarah dingin.


" Diiihh.."

__ADS_1


" Alasan klasik, sok jual mahal tapi dokter menikmati juga tadi kan?" Niar memicingkan matanya kearah Marvin yang terlihat cuek-cuek saja, seolah tidak melakukan kesalahan sedikitpun.


" Kepedean kamu!" Tangan kanan Marvin menoyor kening Niar, namun tangan kirinya masih memeluk pinggang Niar, dinginnya angin dipersawahan saat hujan membuatnya nekad melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan.


" Ciihh.."


" Masih saja tidak mau ngaku."


" Lain kali jangan kayak gitu lagi pak, apalagi sama gadis-gadis polos."


" Itu sama saja bapak ngantungin perasaan orang!"


" Apalagi kalau cuma buat main-main." Ucap Niar langsung memulai sesi ceramahnya.


" Memang gadis sepertimu masih polos?"


" Nggak yakin gw mah!"


" Tuh bi bir palingan juga sudah nggak ori, bekas orang banyak!" Marvin langsung tersenyum miring mendengar ocehan Niar.


" Hiiisssh."


" Nih bi bir kalau ngomong, pedesnya melebihi cabai setan sekilo deh!" Niar langsung menyentil bi bir Marvin yang malah tersenyum dengan manisnya.


Buseeeet dah, senyumnya manis banget gilak!


" Ehermm."


" Lain kali jangan kayak gitu lagi."


" Dosa tahu!" Niar langsung melepaskan diri dari kungkungan lengan Marvin.


" Memang dosa pun!" Dia kembali menyandarkan tubuhnya ke tiang penyangga.


" Tapi, kamu kayak gitu juga kan sama pacarmu!" Marvin langsung bersidekap sambil terus menatap Niar yang semakin salah tingkah.


" Tapi kan lain ceritanya, dia itu resmi pacarku!"


" Kalau sama dokter kan nggak ada hubungan apa-apa!" Niar masih tetap saja protes.


" Sama aja lah!" Ucap Marvin kemudian.


" Ya beda dong!" Niar langsung tidak terima.


" Apa bedanya coba?"


" Orang sama-sama nggak halal kok?"


" Sini.. deketan lagi."


" Masih hujan deras ini, nanti kamu tambah masuk angin!" Marvin dengan percaya dirinya menarik Niar kembali kedalam pelukannya.


" Diiihh... jangan dokter!"


" Dosa tahu!" Niar mencoba berontak namun pelukan Marvin terlalu erat dipinggangnya.


" Diamlah!"


" Anggap saja kali ini, DOSA TERMANIS yang pernah kita lakukan!" Kedua sudut bibir Marvin terangkat sendiri, setelah mengucapkan kata-kata gilanya itu.


" Argh.. dokter!"


Walau kekasihnya jauh dimata, namun Niar cukup merasa bersalah, karena tadi dia juga sempat menikmati ciu man manis dari dokter Marvin.


Entah setan apa yang merasuki dokter tampan itu kali ini, tidak biasanya dia berperilaku seperti ini dengan seorang wanita, apa mungkin karena perpisahannya dengan Lily membuatnya tidak terkendali lagi, atau mungkin memang didiri Marvin sudah mulai tumbuh benih-benih cinta.


..." *Ketika persahabatan berubah menjadi cinta, itu adalah hal terindah di dunia,...

__ADS_1


...namun jika kisah cinta itu tidak berakhir dengan sempurna, perasaan itu bisa saja merusak persahabatan itu sendiri*."...


__ADS_2