
...Happy Reading...
Rasa bimbang dan ragu sering kali menghantui pikiran Samuel, dia ingin sekali selalu dekat dengan Jani, namun terkadang saat dekat dengannya bukan kata romantis nan manis yang keluar dari mulutnya, terkadang malah ejekan yang mungkin membuat Jani tersinggung, setelahnya baru dia menyesal.
Ibarat kata pepatah ' Terkadang dia dekat seperti dua tangan saling menggengam, tetapi juga teramat jauh seperti dua tangan yang tidak saling menyentuh'.
Rinjani pun tidak pernah menunjukkan perasaan yang spesial dengannya, atau rasa ketertarikan yang lebih kepada dirinya, dia hanya melakukan tugas yang Samuel berikan karena mungkin hanya karena rasa tanggung jawab dan takut kalau nilai skripsinya menjadi buruk nantinya.
Namun entah mengapa Samuel juga tidak memperdulikannya, sedari kecil memang dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, jadi sifat egoisnya tertanam sampai sekarang, apa yang ingin dia miliki harus jadi miliknya, tidak boleh bilang tidak apalagi sampai incarannya menjadi milik orang lain.
Pagi ini akhirnya Jani pergi kekampus, perdebatan panjang sebelum naik pesawat kemarin, sudah pasti dimenangkan oleh presdir tampan itu dan akhirnya malam tadi dia tetap tidur di mansion mewah nah megah itu walau dengan rasa dongkol satu karung.
" Boneengggggg..." Jani menjerit memanggil sahabat karipnya yang sedang duduk didepan kantin kampus.
" Ah elu lama banget datangnya, gw tungguin dari tadi jugak!" Niar langsung menjeling kesal kearah gadis yang sedari tadi dia tunggu-tunggu itu.
" Ngapain aja jam segini baru nyampe?"
" Dikelo nin dulu lu ama presdir kita?" Niar langsung ngoceh asal tidak tahu tempat.
" Diem deh mulutmu."
" Ngawur saja kamu ini kalau ngomong."
" Disaring dulu kenapa!" Jani melirik kanan kiri, untung nggak ada orang yang memperhatikan mereka, kalau tidak rahasia besarnya bisa terbongkar.
" Ckkk... lebay luu."
" Mereka pada puyeng tuh ngerjain tugas."
" Nggak bakal dengerin ocehan kita." Karena memang teman-teman mereka bergerombol untuk membahas tugas-tugas yang memang menumpuk.
" Tugas luu udah kelar?" Jani duduk disamping Niar.
" Bereslah, jangan mengecewakan pihak kampus dong, udah ngasih beasiswa ekslusif kok, tugas gini aja belum kelar." Ucapnya dengan tingkat percaya diri yang penuh.
" Gaya luu Niar!"
" Sombongnya naikin lagi, biar tembus langit ke tujuh noh!" Jani langsung menoyor kening sahabatnya yang memang pintar itu.
" Coba lu cek tugas gw bentar deh." Jani menyerahkan laptopnya didepan Niar.
" Capek banget gw, habis pulang dari Kalimantan, jadi belom sempat review lagi."
" Entar gw traktir makan enak sepuasnya deh!"
" Gw dapet bonus besar kemarin, hehe..." Jani tadi pagi mengecek saldo di smartphonenya dan benar saja ada tambahan uang yang lumayan banyak direkening tabungannya.
" Siapa yang ngasih luu bonus?" Tanya Niar yang langsung iri melihat temannya yang selalu beruntung itu.
" Big boss kita lah, siapa lagi." Ucap Jani dengan santainya.
" Waaahh... nggak adil ini sih."
" Eluu tau nggak, gw jagain Yoyo kemarin seharian mati-matian tauk."
" Gw asyik dikerjain habis-habisan sama tu bocah!"
" Masih baik tante Weni sore udah pulang, jadi aku nggak harus nginep di neraka itu lagi."
" Harusnya gw juga dapet bonus ini, wah... masak iya mesti demo dulu baru dikasih bonus!"
" Keadilan di negara ini harus ditegakkan!" Niar mengomel merasa tidak terima.
" Kalau gitu kita gantian, luu yang jadi babysitter daddynya Yoyo, biar gw aja yang jagain Yoyo."
" Sono luu, daftar sama pak Sam, pasti luu dikasih bonus juga!" Jani langsung tersenyum kecut, belum tau saja Niar kelakuan big bossnya itu seperti apa gilaknya.
" Diiiih ogaaah!"
" Mau dia tampannya kebangetan juga pasti nolak gw."
" Bisa-bisa tensi darah gw naik entar."
" Masih mending naik darah gegara makan sate kambing, kenyang perut gw, dari pada ngurusin bayi bangkotan kayak dia mah!"
" Males.. males banget dah!" Niar bergidik ngeri sendiri mengingat paras dan kelakuan presdirnya.
" Hahaha.."
" Nggak jadi iri nih, gw dapet bonus banyak?" Jani seolah tertawa meremehkan sahabatnya yang seperti anti Samuel.
" Nggak!"
__ADS_1
" Yang penting eluu traktir gw makan banyak saja nanti."
" Tapi jangan cuma dikantin ya?" Niar mulai mencari kesempatan dalam kesempitan.
" Entar malam aja kita nongkrong di kafe cuy?"
" Luu libur full kan nanti?" Niar sudah bersemangat empat lima sambil melihat tugas Jani.
" Siang iya, tapi malam gw disuruh balik lagi kesono!"
" Padahal gw kangen banget pengen tidur sama ibuk!"
" Kangen juga masakan ibuk!"
" Tapi dia belom ngizinin gw nginep dirumah." Jani langsung lemas ketika mengingat ucapan Samuel kemarin, tadi pagi saja Samuel mendatangi kamarnya untuk mengatakan itu kembali, bahkan sampai detik ini sudah tiga chat masuk diponselnya untuk mengingatkan lagi.
" Emang sampai sekarang tiap malem eluu ngeke pin dia mulu ya?"
" Waahh... benar-benar aji mumpung luu, beruntung bisa dapet bantal guling hidup tampan seperti dia, haha."
" Pasti mimpi indah terus lu yak?" Sifat gilanya langsung kumat jika sudah membicarakan orang tampan.
" Aji mumpung kepale luu."
" Mimpi indah apaan!"
" Nggak sih... cuma malam itu saja." Jani merasa tidak terima dituduh seperti itu.
" Emang dia kalau kambuh kayak apa sih?"
" Orang bilang kalau trauma itu seperti orang yang kurang satu ons kan?"
" Apa boss kita juga kayak gitu?" Niar merapatkan kepalanya kesamping Jani, tiba-tiba dia takut kalau ada yang mendengar, nanti bisa panjang urusannya.
" Emm... kebanyakan sih emang gitu, soalnya itu menyangkut psikologi sih."
" Tapi sejauh ini gw lihat, dia cuma menggigil dan seperti ketakutan gitu aja."
" Mungkin saat kejadian itu terjadi, boss kita mendapatkan penanganan yang intensif, jadi belum begitu fatal." Jani mengingat betapa terpuruknya wajah Samuel saat sedang kambuh.
" Ternyata ngeri juga ya?"
" Nasip horang kaya nggak selalu bahagia lahir dan batin." Niar menggelengkan kepalanya, seolah membayangkan nasip Samuel yang nelangsa.
" Hmm.."
" Kebahagiaan yang kita lihat dari orang lain, belum tentu juga mereka rasakan, begitu juga sebaliknya, orang terlihat sengsara tapi belum tentu juga mereka merasakan sengsara."
" Karena kebahagiaan itu cuma hati kita yang merasakan, orang lain hanya melihat, tidak bisa ikut merasakan."
" Jadi intinya kita harus selalu bersyukur, walau hidup sederhana tapi selalu bahagia, malam bisa tidur nyenyak tanpa harus capek minum obat."
" Kalau orang kayak kita, mungkin nggak bisa tidur juga paling banter, karena mikirin jatuh tempo kreditan panci doang, besok mereka ngider keliling komplek, haha.." Jani mengingat rumpian ibu-ibu ketika mereka sedang belanja sayur didepan komplek.
" Yawda kalau gitu kita masuk kelas aja yuk, udah gw cek tugas luu."
" Nggak ada masalah, untung otak luu tidak terkontaminasi gegara ngurusin bayi bangkotan."
" Jadi masih bisa berfikir dengan cerdas."
" Kirain kebanyakan mepet sama orang tampan eluu jadi malas berpikir, ternyata masih encer juga, haha." Niar menyerahkan kembali laptop Jani.
" Sialan luu.."
" Berprasangka buruk aja luu ama gw, pikiran luu tuh condong ke me sum aja." Jani menoyor kening Niar namun setelahnya dia menggandeng Niar untuk pergi ke kelas.
Banyaknya tugas yang harus mereka selesaikan saat itu, hingga waktu tak terasa sudah sore hampir menjelang malam.
" Jani.. gw lapar!" Niar meletakkan kepalanya diatas meja.
" Jadi nraktir gw makan enak nggak nih." Kepalanya dia miringkan kearah Jani yang sudah terkekeh melihatnya.
" Hayuklah... kasihan banget gw lihat muke luu."
" Kagak ada manis-manisnya kalau sudah kelaparan."
" Sudah kayak kambing satu tahun nggak dikasih rumput, haha.." Jani berdiri dan menggandeng Niar keluar kelas.
Saat mereka keluar kelas, Jani dan Niar dikejutkan dengan suara heboh didepan gerbang kampus yang memang sangat luas itu.
" Ada apa sih, kenapa heboh banget?" Niar menarik Jani untuk mempercepat langkahnya menuju keramaian.
" Heleeeeehh... palingan juga kedatangan boy band kampus kita yang lagi viral di media sosial itu."
__ADS_1
" Nggak minat banget gw, apalagi lihat vokalisnya itu, enèk banget gw." Jani sama sekali tidak berminat untuk melihatnya.
" Emang luu nggak nyesel apa, sekarang dia jadi terkenal gitu?"
" Dia kan dulu nembak eluu?" Niar mulai meledek Jani yang langsung mlengos.
" Diiiiiihhhh..."
" Mana ada, belum juga nembak udah gw tolak kali!" Jani mengingat Alex sang vokalis yang selalu saja cari perhatian dan tebar pesona didepannya, Jani memang tidak suka cowok yang selalu berlebihan dengannya.
" Hahaha... owh iya yah."
" Harusnya kita rekam aksinya dulu itu, biar nggak berlagak sekarang."
" Ngenes banget dah nasipnya." Niar terkekeh mengingat kejadian saat itu.
" Ambyar mak pyarr.. Balik kanan bubar jalan.. Langkah tegak maju.. Ninggalke harapan palsu, hahaha.." Niar langsung bernyayi sambil mengoyangkan kepalanya yang hampir mirip dengan artis Tina toon itu.
" Durung nembak.. Wes tak tolak.. Atimu kudu ikhlas.. tak gawe babak bundas.."
" Hahaha.." Jani ikut melanjutkan lirik lagu yang Niar nyanyikan dengan sedikit mengubah liriknya.
" Eits.. eits.." Niar berjinjit untuk bisa melihat siapa orang yang telah mencuri perhatian seisi kampus.
" Bukan deh Jan kayaknya, mobilnya kayak pernah gw lihat sih?" Niar hanya melihat mobilnya sekilas karena digerbang dipenuhi banyak mahasiswa yang seolah terkagum-kagum melihatnya.
" Lha trus siapa, yang udah bikin Geger seisi kampus sore-sore gini?" Jani pun akhirnya penasaran ingin melihatnya juga.
" Kita lihat yuuk.." Niar langsung mencoba mencari celah untuk bisa maju kedepan pemeran utama sore ini.
" Awas... awas... air panas... air panas..." Teriak Jani agar segerombolan mahasiswa itu memberi jalan.
Dan benar saja, kumpulan mahasiswa itu terkejut dan tanpa sengaja langsung menoleh kebelakang dan memberikan laluan untuk dua wanita ini.
" Huuuuuuuuuuuu..."
" Dasar penipu, gangguin lihat pemandangan bagus aja kalian!" Sorak mereka yang ternyata melihat Jani dan Niar yang sudah menerobos dan mengecoh keasyikan mereka.
" Apa sih yang kalian lihat, katrok banget deh kalian, sampai nutupi jalan keluar kampus saja!" Umpat Niar yang ikut sewot karenanya.
" Iya sih, kayak nggak pernah lihat yang indah-indah saja!"
" Hidup kalian terlalu menyedihkan kawan!" Umpat Jani yang dengan cueknya berjalan dibelakang Niar yang membelah keramaian mahasiswa disana.
" Omegooot Janiiii..." Niar pun tak kalah berteriak histeris.
" Haiiissshh..."
" Luu mah sama aja boneng!"
" Ngatain orang, eluu sendiri ikut heboh melihatnya!" Jani menendang sepatu Niar dibawah.
" Heeh..."
" Sini luu, buka lebar-lebar kedua bola matamu!" Niar menarik lengan Jani dan membawanya kedepan tubuhnya.
" MOMMY..." Terdengar teriakan khas anak kecil disana.
" Opshhh... sory!" Yoyo langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
" KAK JANIIIIIIII..." Teriak Yoyo kembali.
" Wooooaaaaahhhh... mommy?"
" Kak Jani?"
Terdengar orang bersorak bersamaan dan kasak kusuk dibelakang mulai terdengar saat seorang anak kecil tampan berada didalam gendongan pria tampan dan mempesona yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya di mobil mewah itu, dia berteriak kearah Jani yang langsung terkejut bukan kepalang melihatnya.
Jani hanya bisa terbengong melihat dua orang yang akhir-akhir ini, sudah menjungkir balikkan keadaan hidupnya itu ada didepan kampus bak artis yang lagi promo film terbaru.
" Mommy?"
" Apa eluu udah resmi jadi mommynya Yoyo?"
" Woaaahh... dua manusia itu memang sangat luar biasa!"
" Artis papan atas saja lewat cuy!" Umpat Niar yang langsung menggelengkan kepalanya.
" Mommy.. mommy gundulmu itu!"
" Aaaaaarggghhh... gimana ini, tercabik-cabik sudah harga diri keperawananku kali ini!" Jani hanya bisa pasrah dan menutupi wajahnya dengan tas slempang miliknya.
..."Makin tinggi Anda membangun tembok di sekitar hati Anda, makin keras Anda jatuh ketika seseorang meruntuhkannya."...
__ADS_1
..."Tidak ada yang sempurna sampai Anda jatuh cinta pada mereka."...
Jangan lupa, jempol mana jempolnya hayo?