CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
53. Curhatan Pria Tersakiti


__ADS_3

...Happy Reading...


Dalam menjalani hidup ini, kita tidak dapat menjalaninya sendirian, sebagai makhluk sosial kita membutuhkan orang lain, khususnya saat kita membutuhkan bantuan.


Berbagi tidak selamanya harus dengan sebuah barang yang besar atau berupa harta, kita juga dapat berbagi canda dan tawa dengan mereka yang sedang dalam keadaan bersedih.


Niar masih stay menunggu Marvin yang masih berganti pakaian diruang ganti untuk melihat pas dan tidaknya warna dan juga ukuran baju yang dia pilihkan tadi.


" Hallo Dokter?" Niar mengetuk-ngetuk kembali pintu ruang ganti itu.


" Iya, tunggu dulu!" Ucap Marvin dari dalam.


" Lama banget sih dok didalam?"


" Diapain aja sih, kok nggak keluar-keluar dari tadi!" Teriak Niar yang sudah tidak sabaran.


" Bisa nggak sih?"


" Kalau enggak aku bantuin sini."


" Biar cepet keluar!"


" Udah pegel nih tanganku, nungguin dari tadi, lama banget keluarnya!" Ucap Niar sambil terus berteriak, bahkan beberapa pengunjung menoleh kearahnya sambil tersenyum-senyum nggak jelas.


" Kamu ngomong apa sih!" Saat pintu terbuka Marvin langsung menutup wajah Niar dengan baju miliknya.


" Ngapain aja sih, kenapa lama banget keluarnya!" Niar kembali mengoceh tanpa rasa takut sama sekali, saat wajah Marvin sudah berubah terlihat menjadi lebih 'garang'.


" Kamu bisa diem nggak sih!"


" Kalau ngomong itu yang bener!"


" Omonganmu itu kayak orang lagi sa nge tau!" Umpat Marvin sambil menyentil mulut Niar yang terus saja nerocos.


" Sa nge apaan sih?"


" Saranghae ya?"


" Diiihhh... jangan ngarep deh Dok!" Niar langsung tersenyum miring saat dia malah memikirkan arti Saranghae.


" Orang aku sedang bertanya ini lho."


" Ngapain aj-----"


" Cukup!"


" Kamu diam saja itu akan lebih baik!" Marvin langsung mendekap mulut Niar dan membawanya ketempat lain, karena masih banyak yang ingin memakai ruangan ganti itu.


" Apa sih salah gw?"


" Perasaan nggak ngomong yang aneh-aneh deh?" Niar kembali mengingat kata-katanya tadi.


" Sudah nggak usah berisik."


" Gimana jas sama celananya, udah kelihatan pas belum ini!" Marvin langsung berdiri tegap didepan Niar, meminta pendapatnya.


" Kayaknya pinggangnya agak kegedean ini ya?" Niar memegang pingang Marvin sambil mengukur dengan jarinya, seberapa banyak bahan yang harus dipotong.


" Bagian kerahnya juga agak kesempitan ini kalau pakai dasi nanti."


" Dibesarin dikit kayaknya ya?" Wajah Niar hanya berjarak beberapa centi dari wajah Marvin, walaupun Niar memperhatikan kerah baju Marvin, namun mata Marvin tanpa sadar mengamati setiah gerak-gerik dari wajah Niar, tanpa dia sadari dua sudut bibirnya tertarik keatas.


" Apa senyum-senyum?" Niar tanpa sengaja melirik sekilas wajah Marvin.


" Eherm.. eherm.."


" Emang siapa yang senyum?"


" Kedua sudut bi birku ini cuma sedikit pegel saja tadi." Ucap Marvin yang gengsinya tidak pernah turun sedikitpun.


" Ciiihhh..."


" Seraah luu dah pak!"


" Yawdah ganti baju lagi."


" Emm.. nanti aku bilang sama pemilik butiknya."


" Biar sedikit dibenerin bajunya."


" Walau Jomblo juga harus tetep keren ya kan?"


" Siapa tahu nanti laku, jangan lupa persenannya buat gw ya dok, hehe..." Ucap Niar langsung tertawa kembali, ada kebahagiaan tersendiri saat bisa meledek Dokter yang satu ini.


" Kamu kira aku barang, hah?" Marvin langsung menyentil kening Niar dengan gemas.


" Mending barang bisa dijual."


" Pasti laku keras, lha ini?" Niar seolah menatap Marvin dengan tatapan meremehkan.


" Awaas kau ya!" Teriak Marvin kesal dan ingin memiting Niar kembali namun Niar berhasil menghindar.


" Ahahahaha.."


" Sudah sana, buruan ganti."

__ADS_1


" Jangan lama-lama tau!"


" Kayak cewek saja, kebanyakan gaya!" Niar langsung mendorong tubuh Marvin untuk kembali masuk kedalam ruang ganti.


" Nah." Setelah beberapa saat Marvin kembali menyerahkan baju itu ketangan Niar.


" Kemana perginya calon pengantin me sum itu!" Ucap Marvin sambil melipat lengan kemejanya sambil berjalan.


" Sudah pulanglah!"


" Kelamaan sih nungguin dokter nyobain baju satu doang."


" Sudah kayak artis saja dokter ini!"


" Pasti tadi pose miring kanan, miring kiri, kayak model kan?" Umpat Niar mempraktekan gayanya, dia sudah menerima pesan dari Jani bahwa mereka akan pulang duluan dan disuruh membawakan gaun pengantin miliknya.


" Kamu bisa nggak, sekali saja nggak bikin aku kesel?"


" Meledek mulu bisanya!" Umpat Marvin yang semakin dibuat darah tinggi dengan segala ocehan Niar.


" ENGGAK." Bahkan dia menjulurkan lidahnya, tidak marah apalagi ngambek hanya karena ucapan Marvin yang selalu saja terdengar pedas.


" Jadi cewek kok nggak ada anggun-anggunnya kamu ini."


" Yang kalem gitu bisa nggak!"


" Jadi terlihat berkelas!" Kata-kata Marvin selalu saja menusuk tetap pada sasaran, namun bukan Niar namanya kalau tidak bisa membalikkan kata-kata dokter dingin ini.


" Buat apa punya cewek yang Anggun, kalem dan berkelas?"


" Kalau ujung-ujungnya mendua dibelakang kita."


" Hanya memanfaatkan kita dan mencari kelemahan kita."


" Perempuan kalau sudah sekali selingkuh, pasti ketagihan lagi."


" Dan kalau sudah selingkuh, bahkan kelas mereka jauuuuuhhhhh... dibawah standar, bahkan lebih menarik gadis yang biasa, namun tetap SETIA!"


" Paham boskuh?" Ucap Niar langsung meninggalkan Marvin yang makin kesal dibuatnya.


" Heh kamu mau kemana?"


" Jalan keluarnya kearah sana!" Ucap Marvin mengejar langkah Niar.


" Urusan kita sudah selesai sampai disini."


" Mau gw kemana juga, terserah gw kan?"


" Elu mau kemana juga gw enggak PERDULI." Teriak Niar yang sedikit kesal, dia sedikit tersinggung dibilang tidak berkelas, kalau lainnya tidak masalah, walau memang dia hanya gadis biasa dan bukan dari golongan orang berkelas, namun setidaknya dirinya tidak serendah itu.


" Marah apa enggak, bukan urusanmu!"


" Pergi sana, cari saja teman yang berkelas!"


" Diiih... tapi kalau gw, sekedar berteman dengan modelan kayak gini juga males!" Niar langsung melengos dan menuju sebuah restoran diujung.


" Salah ngomong gw tadi!"


" Nggak usah ngambek deh, kayak anak kecil saja!" Ucap Marvin langsung mengambil beberapa paperbag ditangan Niar.


" Heh, kenapa diambil?" Tanya Niar terkejut sendiri.


" Aku bantu bawa!"


" Biar nggak makin banyak beban hidupmu!"


" Biar nggak gampang ngambekan jadi orang!" Ucap Marvin yang seolah tidak pernah membuat kesalahan.


" Ciiihhh... pria yang satu ini."


" Benar-benar menyebalkan!" Umpat Niar ingin sekali menonjok tubuh Marvin kalau bisa, namun sepertinya hanya didalam bayangannya saja.


" Mau makan apa?" Tanya Marvin yang langsung duduk dan mengambil buku menu direstoran itu.


" Memang siapa yang bilang aku mau makan?" Ucap Niar sok jual mahal.


" Trus ngapain ikut duduk disini?" Tanya Marvin sambil tersenyum miring.


" Hah?" Dia tidak sadar kalau omongannya berbanding terbalik dengan gestur tubuhnya yang langsung duduk karena memang sebenarnya dia lapar sedari tadi.


" Emm... ya karena kamu membawa barang-barangku lah!"


" Jangan Ge eR kamu!" Niar langsung memalingkan wajahnya.


" Ini baju calon pengantin kan?"


" Aku bisa nganterin ini juga, mereka juga tidak akan protes!" Ucap Marvin dengan santainya.


" Kamu---" Niar seolah terkena skak dengan kata-kata Marvin.


" Apa?"


" Mau pesan apa?"


" Aku traktir sepuasnya, tambah dibungkus juga boleh!" Ucap Marvin dengan santainya.

__ADS_1


" Nyebelin."


" Nasi Padang pake rendang daging, telor dadar, lalapan plus sambel lombok ijo!" Ucap Niar kesal namun langsung mengucapkan apa yang terlintas dipikirannya dengan mantap.


" Yang benar saja kamu!"


" Ini restoran western food."


" Mana ada nasi Padang dan kawan-kawannya."


" Steak daging lada hitam mau nggak?"


" Tambah kentang goreng deh, apa mau chicken wing juga?" Marvin langsung menyebutkan menu andalan disana.


" Tidak masalah!"


" Yang pedes chicken wingnya."


" Biar ngalahin pedasnya omongan kamu!" Sindir Niar yang langsung tidak bisa menolak makanan apalagi gratisan.


" Diih.. masih ngambek aja!" Marvin langsung tersenyum miring melihatnya.


" Ya jelas lah!"


" Jadi orang tu yah, kalau nggak bisa nyenengin orang, setidaknya omongannya itu nggak nyakitin!" Umpat Niar langsung menyampaikan segala unek-uneknya.


" Kamu juga ngatain aku jomblo ngenes!"


" Memangnya itu nyenengin?" Marvin langsung membalikkan omongan Niar.


" Tapi kan itu kenyataan."


" Orang emang dokter jomblo sekarang!"


" Harus 'Legowo' jadi orang itu."


" Jomblo ya jomblo, nggak usah malu!" Celoteh Niar yang membuat Marvin mengepalkan tangannya dengan kesal.


" Apa? nggak terima?" Tantang Niar sambil menajamkan pandangannya kearah Marvin.


" Nih makan!"


" Nggak usah kebanyakan ngoceh!" Marvin langsung menyuapkan sayap ayam kemulut Niar saat pesanannya sudah datang.


" Emang beneran dokter diselingkuhin?"


" Makannya jangan galak-galak jadi orang dok."


" Aku kan sudah bilang dari dulu." Ucap Niar sambil menikmati makanannya.


" Haaaah..."


" Hal terbesar dalam hidup adalah menemukan seseorang yang tahu segala kesalahan kita dan dia masih menerima apa adanya."


" Itu yang disebut dengan cinta, jika dia tidak bisa menerimaku, berarti dia memang tidak mencintaiku."


 "Jujur, aku lelah menjadi orang lain untuk dicintai. Aku harap, seseorang bisa mencintaiku dengan apa adanya diriku."


" Mungkin memang lebih baik putus."


" Jika cinta kita terlihat sangat rumit, maka lebih baik ditinggalkan saja bukan?"


" Karena sesungguhnya, cinta itu sederhana." Marvin menghela nafasnya berkali-kali, baru kali ini dia mau berbicara terbuka dengan orang lain, biasanya dia hanya bicara dengan Samuel saja.


" Hmm.."


" Aku setuju dokter."


"Jangan mengubah diri kita hanya karena ingin dicintai, jika dia tak bisa menerima kita apa adanya, temukan seseorang yang bisa."


" Masih banyak para janda-janda."


" Ya kan, mau enggak aku kenalin janda kembang di komplekku?"


" Body nya tuh ya dok, beeeuuuuhhh... ngalah-ngalahin model deh." Ucap Niar yang bukannya menghibur malah menambah kekesalan Marvin.


" Kenapa harus Janda!" Marvin yang sempat merasa nyaman curhat dengan Niar, malah jadi menyesal sekarang.


" Bukannya Janda semakin TERDEPAN?" Ledek Niar sambil menaikkan kedua alisnya, dia paling suka melihat wajah Marvin kalau sudah badmood seperti ini.


" Kenapa nggak KAMU SAJA."


Marvin bahkan menekankan kata-katanya, sambil menaikkan kedua sudut bibirnya, saat Niar melongo mendengar ucapannya.


Jika kamu benar mencintainya, jangan pernah merasa kalau hubungan kalian akan sia-sia hanya karena kekurangan. Jadikan kekurangan sebagai kekuatan baru dalam menjalin hubungan.


SUKA adalah saat kita melihatnya, kita akan berkata;


"Dia cantik" ; "Tampan ya Dia?" ; "Seksi banget".


CINTA adalah saat kita melihatnya, kita akan menilainya dengan hati, bukan dengan mata duniawi.


SAYANG adalah saat kita melihatnya, bagaimana rupanya kelak, kita akan berkata;


" Dia anugerah terindah yang Tuhan hadiahkan untukku".

__ADS_1


__ADS_2