CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
36. IDOLA SMA


__ADS_3

...Happy Reading...


Belajarlah ikhlas pada hal-hal kecil maka dengan demikian kamu akan terbiasa ikhlas saat melakukan hal besar. Dan lakukanlah satu kali hal besar dengan ikhlas, sehingga kamu akan ikhlas saat melakukan hal kecil.


Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, pertama kamu harus sabar dengan apa yang kamu benci. Terus bersabarlah, karena kesabaran adalah sebuah pilar keimanan.


Dan mungkin kesabaran Jani juga tanpa batas dalam menghadapi tingkah manja dari presdirnya, bahkan lama-lama dia jadi terbiasa dan malah mulai menikmatinya.


Kedua bi bir itu terlepas saat nafas Jani sudah ngos-ngosan, karena Samuel tidak henti-henti bermain dengan lidah tajamnya, memiringkan kepala Jani kesana-sini sesuka hatinya.


" Emphh.. pak.. STOP!"


" Nafasku sudah habis!" Jani menggelengkan kepalanya dan mendorong wajah Samuel.


" Memang siapa yang nyuruh kamu tahan nafas."


" Bernafas saja seperti biasanya."


" Tinggal ikuti gerakanku dan menikmati alurnya?"


" Gitu aja kok susah!" Samuel malah seolah tersenyum meremehkan.


" LAGI..!" Samuel sudah memiringkan wajahnya, namun Jani lebih dulu mendorongnya.


" Nggak boleh nolak!" Samuel tersenyum saat kekuatan Jani yang tidak seberapa itu berhasil diterobosnya.


" Emphh.."


" Paaaak..!" Jani terus menghindar dari serangan Samuel dan akhirnya tangan kirinya memeluk leher Samuel dan Jani langsung menyandarkan dagunya dibahu pria yang sudah seperti kemasukan setan ini, karena hanya dengan cara inilah Samuel bisa diam.


" Udah pak, aku udah capek!"


" Seriusan deh!" Jani mengatur nafas dan memeluk erat tubuh sang presdir dengan tangan kirinya agar tidak kembali berulah.


KENA KAMU...! kamu pikir aku dengan mudahnya kamu bohongi begitu saja? kamu pasti sedang membuat rencana dengan Niar, entah apa yang kalian rencanakan, yang pasti aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku, apapun alasannya.


" Ciiih... lemah kamu!"


" Lain kali ambil kelas Yoga, biar kuat dan tahan lama!" Samuel tersenyum dan membalas pelukan Jani dengan senang hati.


" Bapak kira aku semen apa?"


" Bisa kuat dan tahan lama!" Jani malah teringat dengan iklan produk itu.


" Sudah pak, aku udah ditunggu Niar ini."


" Bapak harus pegang kata-kata bapak lho?"


" Hari ini kan aku izin dengan Niar."


" Bapak nggak lupa kan?"


" Seorang pria itu yang dipegang omongannya lho?"


" Orang bisa dihargai karena menepati satu janji, bukan ketika berani mengucapkan seribu janji." Jani langsung memundurkan kepalanya dan menajamkan pandangannya ke mata Samuel.


" Lainnya juga boleh kok dipegang!" Samuel masih asyik memeluk pinggang Jani sambil tersenyum kearahnya, entah mengapa setiap berdekatan dengan Jani, Samuel menjadi diri yang berbeda, lebih banyak tersenyum walau kata-katanya masih tajam setajam Silet.


" Okey, jangan marah ya kalau aku pegang yang lainnya." Jani ikut tersenyum miring dengannya.


" Hmm.." Samuel malah mengganguk dan melebarkan senyumannya.


" Nah.. nah.. nah.." Rinjani menarik telinga Samuel dengan tangan kirinya sampai kepala Samuel miring kesamping.


" Aw.. aw.. lepas!"


" Heiiii... berani-beraninya kamu menarik telingaku ya!" Samuel langsung melepas pelukan dan mengusap telinganya yang terasa sedikit panas, baru kali ini ada yang berani menyentuh bahkan menarik telinga seorang Samuel seumur hidupnya, apalagi seorang wanita, mamanya saja tidak pernah melakukan itu pikirnya.


Yeeesss... kesempatan kabur !


Jani langsung berdiri dan ingin beranjak pergi dari sana.


" Heehhh!"


" Tanggung jawab kamu!" Samuel berhasil menarik satu lengan Jani dan menariknya kembali kepangkuannya.


" Apalagi sih pak!"


" Yaelah.. cuma dijewer doang, manja banget deh!"


" Trus siapa yang lemah sekarang ini!" Jani dengan santainya membalikkan kata-kata presdirnya.


" Sakit ini!"


" Tiupin cepat!"


" Sampai panasnya ilang!" Samuel kembali memeluk pinggang Jani dan memelototinya.


" Mana sih, coba aku lihat?"


" Merah dikit doang kok."


" Ya udah aku ambilin kipas dulu!" Jani memilih mengalah saja kali ini, karena telinganya memang terlihat sedikit memerah, tapi menurutnya itu tidak seberapa, Niar bahkan lebih gila kalau menarik telinganya.


" Pake mulut kamu!"


" Nggak usah banyak alasan buat kabur!" Samuel menatapnya dengan tatapan horor kali ini.


" Diiihhh... dasar manja!"


" Sini... sini... aduuh... tayank.. tayank.. chup.. chup.."


" Bukan sulap bukan sihir, fuuuuuuhh!"


" Sembuh deh! hehe.." Jani bahkan menggangap Samuel seolah-olah anak kecil yang sedang terjatuh, namun usahanya tidak sia-sia Samuel pun ikut tersenyum mendengarnya.


" Udah nggak panas lagi kan?" Jani memiringkan wajahnya ke wajah Samuel.


" Hmm.." Samuel bahkan seperti terkena sihir betulan, dia bahkan menyembunyikan senyumannya dengan menempelkan wajahnya dilengan Jani.


" Kalau gitu boleh dong aku berangkat sekarang?" Jani menaikkan kedua alisnya.


" Eherrm." Dia menetralkan kembali wajahnya.


" Aku anterin!" Samuel langsung ikut bangkit berdiri.


" NOO.."


" Eeh.. maksud aku, nggak usah pak."


" Aku bawa mobil sendiri noh didepan."


" Mau jemput Niar dulu! hehe.." Jani langsung buru-buru menolak.


" Emang kamu punya mobil?"


" Diiiihh..."


" Sepele banget bapak melihat aku ya?"


" Aku nggak se 'tipis' yang bapak kira kali!" Jani langsung melangkah turun dari balkon kamar Samuel.


Hem... pergi sana! Jangan harap kamu bisa lepas dariku, mau ke ujung dunia bahkan ke lubang semut sekalipun, pasti akan aku temuin dengan mudahnya.


" Hati-hati, jangan lupa pulang!"


" Kemanapun kamu berkelana, ingatlah kembali kemana arah tujuanmu pulang!" Samuel berjalan santai sambil bersidekap mengikuti langkah Jani.


" Maksud bapak apaan sih?"


" Aku sudah besar ya, masak arah tujuan pulang aja bisa lupa."


" Situ ngelawak boss!" Jani hanya bisa melengos setelah menoleh kebelakang sejenak.


" Baguslah!" Samuel masih saja terus mengekori langkah Jani sampai depan.


" Bapak mau kemana?"


" Aku kan sudah bilang bawa mobil."


" Nggak usah repot-repot nganterin aku pak."


" Bapak duduk aja nyantai, nemenin Yoyo bermain atau apa gituh?" Jani langsung menghadang dan berdiri didepan tubuh Samuel.

__ADS_1


Wah.. wah.. beneran ini, pasti dia menyembunyikan sesuatu dibelakangku, sampai dia ketakutan begitu kalau aku mengikutinya, lihat saja nanti, siapa yang lebih pandai bermain? You or Me..!


" Aku cuma mau lihat merk mobilmu saja!"


" Sekelas apa dan model keluaran tahun berapa yang kamu punya!"


" Aku nggak memaksa jika kau tidak mau aku anterin."


" Tadi cuma kasian aja, nanti uangmu habis buat bayar taksi!"


" Kamu pikir aku nggak punya pekerjaan lain apa!" Samuel selalu tidak pernah kehabisan ide, untuk menyombongkan dirinya, dia selalu berusaha agar harga dirinya tidak jatuh didepan Rinjani, walau berulang kali dia selalu saja gagal.


" Hmm yaa?"


" Terserah bapak saja!"


" Merk tidak pernah menjadi masalah dalam hidup saya pak, yang penting orang didalamnya!" Mobil Jani memang keluaran lama, tapi sudah di modif oleh Bromo sehingga walau lama tapi terlihat trandy, bahkan seperti mobil sport anak muda kekinian, karena Bromo yang sering memakainya.


" BEBAS AJALAH!" Jani tersenyum lepas.


Yang penting aku bisa pergi, Niaaarr... misi pertama berhasil, otewe Kencan cuy..!


Akhirnya mobil Rinjani sudah keluar dari pekarangan rumah Samuel, sedangkan dia langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang, tidak selang beberapa menit, ada sebuah mobil sport keluaran terbaru yang harganya bisa buat beli rumah mewah itu, datang memasuki halaman rumahnya.


" Silahkan Tuan, ini mobilnya." Seorang pria berpakaian hitam keluar dan menyerahkan kunci mobil itu kepada Samuel.


" Hmm.." Samuel langsung mengambil kunci mobil itu dan masuk kedalamnya untuk segera mengejar mobil Jani.


" Woaaah.. boleh juga tuh gadis bawa mobilnya!" Samuel menambah kecepatan mobilnya ketika mobil Jani terlihat menyelip-nyelip diantara mobil lain, dipadatnya jalanan kota.


" Kemana dia pergi, kenapa masuk ke jalanan sepi begini?" Samuel melihat-lihat jalan yang kanan kirinya dipenuhi ribuan pohon pinus.


" Memangnya rumah Niar didalam hutan apa?"


" Berani kamu membohongiku ya!"


" Siap-siap saja kamu menerima hukuman dariku!" Samuel langsung mengumpat dan merencanakan hal licik yang akan diberikan kepada Jani.


Namun seakan alam mendengar umpatan Samuel, dan mereka seakan tidak rela ada orang yang berniat mendzalimi Jani, bahkan mungkin penghuni alam lain pun seakan tidak terima.


Duaaaaarrr!


Cekiiiiiiiiiiiiit!


Samuel langsung mengerem mobilnya saat merasakan mobilnya sedikit oleng, untung saja dia tidak berada dijalan yang menanjak.


" Aaaisssh... Si aaaalll!"


" Kenapa ban mobilnya bisa kempes gini!"


" Katanya mobil keluaran terbaru!"


" Kenapa bisa pecah gini!" Samuel langsung menendang-nendang mobilnya itu.


" Arrrrggghhhh!"


" Kenapa nggak ada sinyal ini!" Samuel menggoyang-goyangkan ponselnya karena sinyalnya timbul tenggelam.


" Dunia bagian mana ini, kenapa masih tidak ada sinyal?"


" Lihat saja, besok aku dirikan tower disini!" Samuel bahkan memanjat mobilnya dan berdiri diatas mobil untuk mencoba mencari sinyal.


" Yess... dapet, walau cuma satu!" Samuel langsung menghubungi Nisa sang sekertaris.


" Hallo pak?


" Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Nisa dari seberang telepon.


" Nisa antarkan mobil sport yang aman buat naik gunung."


" Sekarang juga!" Ucap Samuel dengan wajah yang terlihat kesal.


" Baik pak, saya antar kemana?"


" Entah ini dimana!"


" Aku pun tak tahu!"


" Kamu lacak saja GPS dimobil yang baru aku beli kemarin!"


Sedangkan Jani sudah sampai di alamat yang diberikan Niar tadi, ternyata kekasih Niar merayakan ulang tahun adeknya disebuah tempat pariwisata disebuah bukit di hutan pinus, karena mereka juga ingin sekalian berwisata keluarga disana.


" Niaaarrr.." Jani melambaikan tangan saat melihat Niar yang sudah menunggu dipintu masuk.


" Heiii..."


" Akhirnya kamu sampai juga!"


" Saluuut gw, elu bisa menakhlukan pangeran gila itu!" Niar langsung merangkul Jani untuk masuk kedalam.


" Aman kan dijalan tadi?"


" Soalnya jalanannya cukup ekstrim, gw sempet ketar ketir tadi, takut mobil luu kenapa-kenapa dijalan."


" Gw juga ngggak nyangka kalau cowok gw ngadain acaranya disini."


" Harusnya gw tungguin elu aja tadi ya?" Saat sampai diperjalanan tadi Niar bahkan sudah merasa bersalah.


" Its okey."


" Elu ngraguin kemampuan gw!"


" Gw ahlinya dalam menyetir mobil, mau of road naik gunung juga hayuk aja gw mah!" Jani memang sering diajak of road dengan Bromo dulu disaat mereka senggang.


" Hmm... sombong aja terus!"


" Udah tertular virus pangeran gila luu itu ya!" Niar menatap jengah wajah sahabatnya itu.


" Sepertinya, hahaha..." Jani malah terkekeh sendiri.


" Btw gimana cowoknya, ganteng nggak?" Jani langsung teringat akan misi utamanya.


" Beuuhh... mantep!"


" Sebelas dua belas gantengnya ama cowok gw!" Niar langsung nampak sumringah saat melihatnya tadi.


" Berarti jelek dong kalau mirip!"


" Enak saja!"


" Jadi luu secara tidak langsung bilang cowok gw jelek!" Niar langsung mencubit pinggang Jani.


" Ahahahaha..."


" Ampun nyonyah, haha.." Jani tertawa sambil menahan rasa geli karenanya.


" Rasain kamu!" Niar semakin menganiaya sahabatnya yang semakin tertawa itu.


" HEH?"


" Apa itu cowok yang mau elu kenalin sama gw?" Jani langsung berhenti dan mencoba melihat dengan jelas seorang pria tampan yang sedang tersenyum berbicara dengan kekasih Niar.


" Iya!"


" Gimana?"


" Lumayan kan?" Niar ikut memperhatikannya.


" Kalau itu sih bukan lumayan lagi."


" Banget malah!"


" Tapi kok kayak gw kenal ya?" Jani semakin menajamkan pandangannya dan memutar memori dimasa SMAnya dulu.


" Sotoy luu!"


" Orang dia kerja di Kalimantan kok!"


" Main kesini juga baru kali ini." Niar langsung menoyor kening sahabatnya.


" Eeehh... beneran tuh!"


" Gw hafal gigi gingsulnya yang manis itu!" Jani langsung berjalan cepat menghampiri dua pria tampan itu.

__ADS_1


" Sssstttt... woles cuy!"


" Luu minta yang nggak nepsongan, eh malah eluu sendiri yang nepsong saat ngelihat gigi nya!" Niar langsung menarik lengan Jani agar berjalan beriringan dengannya.


" Kak Alief..!" Jani langsung memanggil pria itu tanpa aba-aba dari Niar.


" Sssttttt... kalem bos!" Niar mencubit pinggang Jani yang terlihat heboh melihatnya.


" Jaga Marwah!"


" Biar terlihat elegan, Boneng!"


Namun kata-kata Niar tidak Jani perdulikan, dia terus berjalan kearah dua pria itu dengan senyum merekah.


" Kamu..."


" Emm... Jani?"


" Rinjani bukan?" Alief menoleh dan mencoba mengingat-ingat seorang gadis yang terus berjalan kearahnya dengan senyum cantiknya.


" Hmmm.." Jani mengganguk dengan cepat!"


" Kelas IPA satu kan?" Alief mencoba memastikan.


" Iya kak."


" Aku Rinjani adek kelas kakak!" Jani mengajak Alief untuk ber Tos ria, yang langsung membuat Niar dan kekasihnya melongo melihat keakraban mereka berdua.


" Astaga dek!"


" Nggak nyangka lho, kita bisa ketemu lagi?" Alief juga terlihat begitu gembira bertemu dengan Jani.


" Gimana kabarnya kak?"


" Kakak kok bisa sampai kerja di Kalimantan sih?"


" Fans-fans kakak saat di SMA dulu, pada kehilangan kakak tahu!" Jani dan Alief langsung asyik sendiri tanpa memperdulikan yang lainnya.


" Hehe.."


" Masih ingat aja kamu!"


" Kakak ikut orang tua pindah kesana!"


" Jadi ikut kerja disana sekalian." Mereka bahkan langsung mencari tempat duduk untuk ngobrol berdua.


" Pantesan, saat reuni sekolah tahun kemarin kan tiga angkatan sekaligus."


" Kok nggak ngelihat kakak disana."


" Padahal kan dulu kakak ketua osis." Jani mengingat acara reuni tahun lalu.


" Iya.. kakak nggak bisa pulang saat itu."


" Soalnya dadakan juga kan itu?"


" Kakak banyak kerjaan dikantor."


" Harus planning beberapa hari sebelumnya, kalau mau cuti." Alief mengingat undangan di group SMA yang masih aktif sampai sekarang.


" Owh begitu?"


" Kirain kakak udah nikah."


" Trus nggak dibolehin sama istri dan anak-anak kakak."


" Fans kakak pada kecewa berat kakak nggak datang, haha.." Jani bahkan tidak pernah menyurutkan senyumannya, karena pria itu adalah Idola satu sekolahan dulu, termasuk dirinya.


" Kalau kamu kecewa nggak?" Tiba-tiba Alief memiringkan wajahnya menatap Jani.


" Hah?"


" Yaa.. yaa sedikit sih? hehe.."


" Aku kan juga ikut gabung dalam fans club kakak, haha.." Jani langsung tertawa saja, dari pada ketahuan wajahnya yang bersemu merah saat mendengar ucapan Idola nya dulu.


" Asyikk.."


" Punya fans cantik kayak kamu!"


" Kebanggaan tersendiri buat kakak, haha.." Alief pun ikut tertawa bersama.


" Lucu deh kalau inget masa-masa sekolah dulu."


" Owh iya, apa istri kakak juga salah satu dari fans gila kakak dulu?" Jani ingat banyak sekali wanita cantik yang terang-terangan naksir dengan Alief disekolah dulu.


" Eerrm.."


" Aku belom menikah!"


" Bahkan Jomblo sekarang!" Alief meluruskan pandangannya kedepan.


" BOHONG..!" Jani langsung tersenyum tidak percaya.


" Beneran." Alief kembali menoleh kearah Jani.


" TIPU."


" Mana mungkin orang sekeren kakak masih jomblo!"


" Kemana saja orang cantik di tempat kakak tuh, hehe.."


" Perlu pake kaca mata kali ya, biar bisa melihat barang bagus, haha!" Jani memang akrab dengan Alief sedari dulu, karena saat naik ke kelas dua, Jani juga masuk dalam anggota OSIS jadi masih sering bertemu dengan Alief walau dia sudah tidak menjadi OSIS saat itu.


" Berarti kamu juga sudah menikah dong?"


" Dulu fans kamu juga banyak kan?"


" Bahkan ada yang nembak kamu dilapangan sekolah dulu!"


" Apa dia yang jadi suami kamu sekarang?" Alief mencoba membalikkan pujian dari Jani, karena dia dulu juga termasuk dalam jajaran primadona sekolah.


" Hehe.."


" Dia sudah punya anak tiga sekarang kak."


" Tapi bukan aku istrinya, dia nikah saat masih kuliah."


" Aku juga datang ke pernikahannya, soalnya istrinya satu kelas denganku dulu." Jani sungguh merasa bahagia hari ini, bisa flashback jaman gokil-gokilnya saat dibangku sekolah yang selalu dikenang dan tak terlupakan, bahkan sedikitpun tidak terbesit nama apalagi wajah Samuel sekarang, entah bisa dibilang misinya lancar atau gagal hari ini, dia sudah tidak memperdulikan lagi, seolah dia terbebas dari kenyataan yang memenjarakan dirinya.


" Berarti boleh dong ikut daftar jadi fans club kamu?"


" Siapa tahu jodoh nih?" Alief yang sebenarnya sudah tertarik dengan Jani saat di SMA dulu, namun dulu memang dia tidak begitu tertarik berpacaran, karena menurutnya pacaran saat masih SMA hanya menggangu konsentrasi belajarnya, karena dia termasuk siswa berprestasi juga saat disekolah, sama seperti Rinjani, mereka sering naik ke panggung bersama saat menerima piagam penghargaan dari kelas masing-masing saat akhir semester.


" Apaan sih kak?"


" Sekarang aku udah kuliah, sebentar lagi skripsi."


" Udah nggak ada lagi fans-fans segala, hehe..." Jani hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Alief yang dia anggap lelucon itu.


" Kalau begitu, kata-kata diatas fans apaan dong?" Alief seolah berfikir dengan keras.


" Maksudnya?" Jani langsung mencondongkan duduknya ke arah Alief.


" Hmm.."


" Kalau saat masih muda kan fans untuk mengharapkan jadi calon pacar ya kan?"


" Kalau sudah dewasa, fans jadi emm..."


" Calon suami kali ya, haha.."


" Kamu belum punya calon suami kan?" Alief langsung menelisik wajah cantik didepannya yang langsung terlihat terpaku melihatnya.


" SAYA CALON SUAMINYA..!"


" AMBYAAAAAARRR MAK PYAAARRRRRR... balik kanan bubar jalan, langkah tegak maju, ninggalke harapan palsu, hahaha.."


Terdengar suara cempreng Niar yang sudah bersenandung ria dengan lagu favoritnya, dibelakang seorang pria tampan, gagah perkasa yang berdiri ditempat duduk, dibelakang Rinjani dan Alief berada.


..." Yakinlah semua orang pernah berada dititik terendah sepertimu, merasa semuanya ingin segera berakhir, merasa Dunia begitu kejam, semua yang kau lakukan terasa sia-sia, tapi terkadang mereka sangatlah kuat, pandai memanipulasi senyum, pandai melobi keadaan, pandai beradu semangat."...


..." Sekarang yang kau perlukan hanyalah kepercayaan, percaya bahwa semua akan berakhir dengan indah, berdamailah dengan keadaan, nikmatilah segala proses yang menurutmu menyakitkan, hingga suatu saat, Takdir indah akan datang padamu, tanpa perlu izin darimu untuk Singgah di Hati."...

__ADS_1


Jangan lupakan jempol kalian ya boskuh😚


__ADS_2