CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
62. Kesakitan


__ADS_3

...Happy Reading...


Hargai apa yang kamu miliki saat ini. Ingat kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tidak menghargai apa yang telah dimiliki.


Bersikap baiklah pada semua orang, bahkan pada mereka yang membencimu. Tunjukkan kamu cukup dewasa untuk memaafkan kesalahan mereka.


Hari-hari Jani pun tak kalah menyedihkan, dia hanya mengurung diri dikamar saja, saat ini Jani tinggal disebuah rumah disudut kota yang tidak banyak keramaian, dia tinggal dirumah neneknya Niar yang hanya hidup sebatang kara, karena selalu menolak jika diajak tinggal bersama dengan keluarga Niar yang berada dikeramaian kota.


" Mbak.. aku beliin obat buat ibuk dulu ya?" Bromo masuk kedalam kamar, dua hari ini memang darah tinggi ibuk Jani langsung kumat, beliau juga hanya bisa terbaring lemah didalam kamar.


" Hmm.." Jawab Jani tanpa menoleh, hanya dengan tatapan kosong ke arah jendela.


" Mbak mau dibeliin obat juga nggak?" Tanya Bromo yang melihat wajah mbaknya yang memang terlihat lesu, bahkan ***** makannya menurun drastis sekarang.


" Mbak nggak sakit!"


" Ngapain beli obat." Ucap Jani menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


" Owh iya, sakit hati kan nggak ada obatnya ya kan?" Ucap Bromo ingin sekedar membuat mbaknya tersenyum walau sedikit.


" Diam kamu!" Namun hanya lirikan mata tajam yang Bromo dapatkan.


" Hehe.."


" Bercanda mbak." Bromo langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, dalam beberapa hari ini hilang sudah sifat humoris mbaknya.


" Sudah... berangkat sana!"


" Jangan ganggu mbak!"


" Aku mau istirahat!" Jani langsung mengusir adeknya agar segera pergi dari sana.


" Okey?"


" Jangan bersedih terus ya mbak?"


" Semua pasti ada hikmahnya, lagian juga kalau mbak jadi Janda masih perawan kan?"


" Gampang cari cowok lagi, hehe.." Ucap Bromo yang langsung dapat lemparan bantal dari Jani.


" Pergi kamuuuuu!"


" Dasar bocah edan!" Teriak Jani yang langsung terlihat emosi saat melihat Bromo yang langsung kabur dari sana.


" Janda.. janda!"


" Siapa emangnya yang jadi janda!"


" Aaaaaarrrggghhhh... aku tidak rela menjadi Janda!"


" Pak Sam.. kamu sedang apa?"


" Aku rindu." Jani langsung menggulung tubuhnya kembali dengan selimut.


" Hiks.. hiks.." Bahkan sudah puluhan kotak tissu dia habiskan untuk mengusap air matanya yang terus saja jatuh membasahi pipinya.


Klunting


Tiba-tiba ponselnya bergetar, ada sebuah notifikasi pesan masuk, dia sudah mengganti nomor ponselnya dengan yang baru, karena paksaan dari ibu nya, kalau tidak pasti semua notif pesan yang masuk dari Samuel semua.

__ADS_1


" Kirim apa ini Niar?"


" Kenapa dia belum datang kemari?" Ucap Jani yang dengan ogah-ogahan membuka ponselnya.


" Video apa ini?" Jani memicingkan matanya saat ponselnya masih loading, karena dia tinggal disudut kota jadi sinyalnya memang sering timbul tenggelam.


" Siapa dia?" Jani masih mencoba menerka video orang yang sedang berteriak-teriak disana.


" PAK SAM!" Jani langsung terduduk sambil mengamati video yang ada diponselnya.


" Astaga pak Sam?" Air mata Jani bahkan mengalir begitu saja melihat keadaan Samuel yang terpuruk itu.


" Kenapa sampai seperti itu?" Nafas Jani bahkan sampai tersengal-sengal saat melihat tangan dan kaki Samuel yang diikat paksa begitu.


" Kenapa sampai separah itu?" Dia semakin menangis tersedu saat melihat beberapa dokter memegangi tubuhnya dan menyuntikkan obat ditubuh orang yang masih berstatus suaminya itu.


" Pak Sam.. hiks.. hiks.." Suara jeritan dan teriakan Samuel yang memanggil namanya semakin mengiris hati Rinjani yang tidak tahu harus berbuat apa.


Saat video berakhir Jani langsung mengambil sweater, dompet dan juga ponselnya, dia berjalan tergesa-gesa sampai keluar kamar.


" Nak.. kamu mau kemana?" Tanya ibu Jani yang berjalan perlahan mendekatinya.


" Emm.. aku.. aku mau keluar sebentar buk." Ucap Jani dengan ragu-ragu.


" Kamu tidak mencoba untuk menemui pria itu kan?" Ucap Ibu Jani menatap tajam mata Jani yang langsung terlihat gelagapan.


Degh!


Kenapa ibu bisa tahu ya? aku memang tidak pernah bisa berbohong dengan ibu.


" Argh.. tidak, siapa yang mau menemuinya."


" Tiba-tiba Jani pengen makan nasi goreng, hehe." Ucap Jani mencari alasan.


" Biar ibuk buatkan, nasi kita masih sisa banyak tadi pagi." Ucap Ibu Jani yang sudah tahu kalau anaknya itu hanya mencari alasan saja.


" Nggak usah buk."


" Ibuk kan masih sakit, jangan banyak bergerak."


" Biar Jani beli saja ya?" Ucap Jani langsung ingin menuntun ibunya kembali ke kamar.


" Ibuk lebih baik sakit, dari pada harus melihatmu kembali kepada pria pembunuh itu!" Ucap Ibu Jani berbicara dengan ketus, dia sama sekali tidak sudi menyebut namanya kembali.


" Buukkk?" Jani ingin mencoba merayu ibunya.


Apa gw lihatin video pak Sam yang tadi saja ya? emm.. nanti malah ibu nyangkanya pak Sam beneran gila lagi? makin nggak dibolehin aku kembali dengannya, argh.. aku harus bagaimana Tuhan?


" Jangan mencoba mencari alasan!" Teriak Ibu Jani kembali.


" Buk.. aku tahu pak Sam salah, tapi----"


" Jangan pernah menyebut namanya didepan ibuk!" Suara ibu Jani bahkan menggelegar didalam ruangan itu, untung nenek Niar sedang asyik berkebun dibelakang.


" Iya.. maaf buk." Jani tidak ingin membuat darah tinggi ibunya kumat lagi saat membahas tentang Samuel.


" Tapi setahu Jani, hidup mati seseorang itu kan sudah ditentukan buk, bahkan saat kita belum terlahir ke dunia ini."


" Kalau memang sudah takdirnya, mau sekuat apapun kita mempertahankan nyawa seseorang, mau kita melakukan semua cara agar bisa menundanya, tetap tidak akan bisa buk!"

__ADS_1


" Begitu juga sebaliknya, mau berbagai cara kita menyakiti orang lain, bahkan diguna-guna, ditabrak, atau perencanaan pembunuhan sekalipun, kalau memang takdir hidupnya panjang, dia masih akan tetap hidup buk."


" Jadi-----" Omongan Jani yang panjang lebar itu seakan tiada artinya didepan ibu Jani.


" Jadi kamu mau membela pria itu di depan ibuk?" Tidak ada seorang pun yang bisa meluluhkan hati ibunya saat ini, apalagi kalau berhubungan dengan almarhum suami yang sangat dia cintai itu.


" Bukan begitu buk?" Entah harus bagaimana lagi dia membujuk ibunya, dia pun kesal, dia pun marah saat tahu Samuel lah yang menabrak mobil ayahnya dulu, tapi selama ini dia juga melihat bagaimana tersiksanya Samuel atas kejadian itu.


" Begini saja!"


" Kamu pilih ibu atau dia!" Perkataan yang sama sekali tidak ingin Jani dengar, akhirnya keluar dari mulut ibunya, bagaimana dia bisa memilih orang lain selain ibunya, yang sudah mengandung dan melahirkan dirinya dengan bertaruh nyawa, bahkan membesarkannya dengan banyak perjuangan sampai saat ini pikirnya.


" Ibuk tidak pernah rela, jika ada orang berbahagia diatas penderitaan ayahmu dulu!" Ibu Jani bahkan memejamkan matanya saat mengingat kondisi jasad suaminya saat terjadinya kecelakaan.


" Jani yakin, ayah tidak pernah menyimpan dendam dihidupnya."


" Ayah adalah seorang yang berjiwa besar."


" Dan Jani yakin, ayah sudah bahagia di Surga, karena dosa-dosanya telah terhapus dengan segala amal kebaikan beliau." Ucap Jani lirih, dia sedari kecil memang dekat dengan ayahnya, dia tahu betapa baiknya hati ayahnya tercinta itu, yang selalu bisa memaafkan kesalahan orang lain, karena sejatinya manusia tidak pernah luput dari salah dan dosa di dunia ini.


" Teruuusss... terus saja kamu bela pria bej*t itu!"


" Ibu heran, ada apa denganmu?"


" Apa yang dia lakukan kepadamu, sehingga kamu membelanya mati-matian seperti ini, bahkan didepan ibumu sendiri." Teriak Ibu Jani makin tidak terkendali mendengar ucapan putrinya.


" Ibuuuuk..." Bromo yang baru datang langsung terkejut melihat dua wanita kesayangannya bertengkar kembali.


" Dia bahkan sudah menerima ganjaran atas perbuatannya buk." Suara Jani terdengar melemah.


" Dari dulu sampai saat ini, dia masih sering terluka buk."


" Dia bahkan lebih tersiksa dari pada kita." Jani berucap dengan tatapan kosong mengingat betapa menderitanya Samuel jika penyakitnya sedang kambuh.


" Mbakk... sudahlah!" Bromo ikut angkat bicara, dia bahkan sempat menyesal akrab dengan Samuel saat itu, setelah tau Samuel lah pelaku penabrak mobil ayahnya.


" Apa mbak nggak kasian melihat ibuk seperti ini."


" Sudah.. jangan bahas pria itu lagi didepan ibuk!"


" Apa stock pria di dunia ini cuma dia saja?"


" Buka mata mbak, masih banyak orang lain yang lebih baik darinya!"


" Jangan lemah jadi wanita!" Bromo tidak habis pikir, kenapa mbaknya masih saja membahas itu disaat keadaan ibuknya masih belum stabil seperti ini.


" Bromo?" Jani menatap wajah adeknya, mencoba meminta sedikit pengertian saja.


" CUKUUP!"


" Masuk kamar sana!" Teriak Bromo tidak ingin mendengarkan perkataan mbaknya yang terlihat nekad itu.


Dengan tubuh lunglai Jani masuk kembali kedalam kamar dengan perasaan morat-marit, dia pun tidak ingin semua itu terjadi, kalau dia bisa memilih dia lebih baik tidak mengenal Samuel sama sekali dihidupnya, agar keduanya tidak ada lagi yang terluka. Namun takdir berkata lain, perasaan tidak bisa dibohongi, atau disuruh pergi begitu saja, semua tertanam dalam hati.


Akhirnya Jani hanya bisa terduduk dilantai dan mulai menjatuhkan air mata yang seolah tidak ada habisnya menetes. Karena hanya air mata yang tahu betapa sakit hatinya saat ini, ketika melihat orang yang dia cintai kesakitan seperti itu.


Ujian merupakan warna-warni kehidupan. Tidak seorang manusiapun di dunia ini yang luput dari ujian. Dalam berbagai kondisi selalu terdapat ujian tersendiri, bahkan dalam kemudahan, kegembiraan, kelapangan, atau kekayaan sekalipun.


..."Karena sekuat apapun kamu menjaga, yang pergi akan tetap pergi dan sekuat apapun kamu menolak, yang datang akan tetap datang."...

__ADS_1


..."Apa yang terbaik untuk diri ini, tanyakan ke hatimu sendiri, karena ia tidak akan pernah mengkhianati. Jika orang lain selalu salah dimatamu, mungkin ada yang harus diperbaiki dengan hatimu."...


__ADS_2