CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
28. Hangatnya Pelukanmu


__ADS_3

...Happy Reading...


Ketika kamu merasa nyaman dengan seseorang, tanpa disadari kamu sepakat untuk menerima kelebihan dan kekurangannya. Memahami dan mempercayai sikapnya untuk membawa hubungan ini.


Ada saatnya juga kamu akan merasa selalu ingin bersamanya dan siap untuk menghadapi banyak petualangan baru dalam hidup ini. Karena kenyamanan menjadi nilai berharga yang sulit didapatkan.


Begitu juga Samuel, entah mengapa pelukan Jani selalu membuat hati dan perasaanya selalu nyaman dan menenangkan, ingin rasanya dia setiap saat memeluk wanita ini, namun hidup harus terus berjalan, hidup tidak cukup hanya sekedar memeluk seseorang saja, kita juga perlu makan dan memenuhi kebutuhan yang lainnya.


" Rinjani.."


" Peluk aku.. peluk aku.."


" Cepaaat.." Samuel menggigil dengan wajah yang sudah pucat, darah dikeningnya pun masih terus mengalir.


" Sini, biar aku bawa dia ke kamarmu tadi saja." Marvin ingin memapah Samuel sampai dikamar yang Jani tempati tadi.


" Aku mau Jani.." Ucap Samuel dengan lemas.


" Yaelaaah.."


" Iyaa.. ambil tuh Jani."


" Karungin sekalian, aku nggak akan minta dah!"


" Aku cuma mau bantuin kamu tidur dikamar saja."


" Dulu juga biasanya yang kamu kekepin gw!"


" Mentang-mentang udah dapat yang bening jadi mudah berpaling luu!" Marvin tetap memapah tubuh Samuel sampai kamar itu, dengan mulut terus saja nerocos mengumpat Samuel yang merasa tidak terima dia bantuin.


" Emang dulu dokter sering tidur berdua ya sama pak Sam?"


" Kalau dia lagi kambuh gini."


" Minta di peluk gitu juga nggak?" Dengan polosnya Jani bertanya kepada Marvin.


" Iyaaa..!"


" Minta dipeluk dan dici pok juga!"


" Puas kamu!" Entah kenapa Marvin malah jadi emosi saat mendengar pertanyaan dari Jani.


" Tanya gitu doang marah-marah mulu deh dok."


" Jadi prihatin aku sama cewek dokter!"


" Pasti langsingnya kurus kering, karena keseringan makan hati diomelin dokter terus." Umpat Jani yang langsung duduk disamping tubuh Samuel.


" Ckkk... berisik kamu!"


" Disuruh jagain Samuel malah ditinggal pergi."


" Sudah gitu banyak nanya lagi."


" Nyumpahin cewek gw lagi luu!"


" Heran gw, Samuel kok bisa gitu nyaman banget ama modelan kayak eluu!" Marvin menatap Jani dengan jengah sambil terus mengoceh karena merasa tidak terima.


" Looh... dokter nggak tahu saja!"


" Kenyamanan hidup itu, tidak terlalu bergantung pada hal-hal di luar manusia saja, melainkan bergantung pada kekayaan batin di dalam diri manusia."


" Kalau batin kita tenang, damai, bahagia sentosa, orang juga akan nyaman dengan kita dong!" Ucap Jani yang langsung berfilosofi sendiri.


" Harusnya itu gw yang bilang!"


" Disini gw dokternya."


" Sudahlah.. kamu jagain dia, jangan ditinggal kemana-mana."


" Itu ada kotak P3K diatas meja."


" Kamu bersihin dulu lukanya."


" Kemudian kamu obatin."


" Aku mau meracik obat untuk Samuel dulu, sepertinya aku harus menaikkan dosisnya."


" Jadi butuh waktu sedikit."


" Buat dia merasa nyaman, lakukan apa yang dia minta."


" Aku pergi ke atas dulu." Marvin langsung berlari ke ruangan khusus yang dia ubah menjadi apotek pribadi, karena obat Samuel jenis racikan, dosisnya disesuaikan dengan gejala yang dia alami, jika tidak begitu parah, dia meminum obat dengan dosis paling rendah, tapi kalau kambuh seperti ini, Marvin langsung meracik dosis tinggi. Dia bahkan belajar khusus di apoteker rumah sakit tempat dia bekerja, agar bisa meracik sendiri, karena penyakit Samuel selalu dirahasiakan, tidak boleh banyak yang tahu.


" Janiii..." Panggil Samuel lirih.


" Hmm.." Jani memangku kepala Samuel dan membersihkan luka dan darah yang menetes dikeningnya itu.


" Jangan tinggalkan aku disaat seperti ini." Samuel menatap wajah Jani yang sibuk memperhatikan lukanya.

__ADS_1


" Iyaa.."


" Aku nggak pergi kemana-mana kok pak."


" Tadi cuma tidur disini saja."


" Aku nggak tahu kalau bapak nyariin." Jani dengan telaten menutup luka itu, suaranya pun lembut mengalun ditelinga Samuel.


" Aku mimpi buruk lagi tadi." Samuel langsung memejamkan matanya.


" Sudahlah pak, namanya juga mimpi."


" Jangan terlalu difikirkan, mimpi kan hanya bunga tidur." Ucap Jani mencoba menenangkan perasaan Samuel.


" Tapi mimpiku lain."


" Hanya itu-itu saja."


" Aku selalu tersiksa jika bayangan itu selalu muncul." Tanpa terasa air mata Samuel menetes disudut matanya, dia benar-benar merasa ketakutan, seolah-olah kejadian masa lalu itu terulang kembali.


" Hmm..."


" Bapak tadi belum minum obat ya?" Jani meletakkan kepala Samuel kembali ke atas bantal dan mengusap air mata hangat yang menetes itu.


" Sudah aku bilang, itu kan tugasmu."


" Kenapa kamu selalu mengabaikanku?"


" Apa aku ini sama sekali tidak penting bagimu?" Tanya Samuel yang langsung membuat Jani terpaku karena terkejut.


Kenapa dia jadi baper begini? ngapain nanya penting nggak penting? Siapa gw siapa elu bung? memang gini kali ya kalau psikologinya kena, gampang sensitif, mending gw iya in aja deh apa maunya, dari pada kumat lagi, malah ribet urusannya nanti.


Jani malah jadi melamun sambil mengumpat Samuel didalam hati.


" Bukan gitu pak."


" Tadi habis mandi aku langsung ketiduran, mungkin capek seharian bikin tugas dikampus kali ya, hehe.." Berbohong untuk kebaikan nggak salah pikirnya.


" Coba lihat kaki nya, sakit nggak nih?" Jani mencoba mengalihkan pembicaraan agar Samuel tidak baperan lagi.


" Hmm... perih." Rengek Samuel dengan manja, seperti anak kecil yang jatuh dari sepeda.


" Lain kali hati-hati dong pak."


" Ngapain tadi lari-lari sih?" Jani memberi obat tetes sambil meniup-niup luka di kaki Samuel yang tergores.


" Bayangan itu seperti mengejar-ngejar aku!"


" Kepalaku langsung terasa berat setelahnya." Samuel kembali memegang kepalanya, merasakan pusing kembali.


" Kenapa pak?"


" Apa yang bapak rasakan?" Rinjani beralih duduk disamping kepala Samuel.


" Arghh... pusing!" Samuel menjambak rambutnya sendiri.


" Tenang pak, tenang.."


" Coba tarik nafas dulu!" Jani langsung merapatkan tubuhnya dikepala Samuel, sambil sedikit memijatnya perlahan.


" Peluk aku Jani.. peluk aku." Samuel bahkan memukul-mukul kepala yang kembali terasa sakit, hilang sudah rasa kesombongannya didepan Jani, kharisma seorang pria arrogantnya sudah hancur berkeping-keping didepan Jani, tidak ada yang bisa dia banggakan lagi kecuali harta kekayaannya yang melimpah ruah itu saja.


" Iya.. iya.."


" Tapi jangan dipukul-pukul dong pak kepalanya, nanti sakit, lukanya juga bisa berdarah lagi nanti." Jani langsung memeluk Samuel kembali, dan mengusap-usap lembut rambutnya.


" Yang kuat ya pak, yang sabar."


" Bapak pasti bisa melewati ini semua."


" Karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan Hamba-Hambanya." Jani bahkan merasakan badan Samuel yang terasa sedikit panas, dia ikut prihatin melihatnya, dia sendiri tidak bisa membayangkan kalau malam-malam Samuel dilewati seperti ini, padahal siangnya pun dia bekerja keras, selalu sibuk dengan skedule kerja yang padat.


Didepan pintu Marvin terpaku berdiri dengan membawa satu gelas air dan beberapa butir obat yang sudah dia racik tadi.


" Pantas saja kamu takhluk dengan gadis itu."


" Dia begitu lembut saat menenangkanmu."


" Bahkan dia tidak merasa jijik saat memeluk seseorang yang notabenya terkena sindrom trauma, bahkan hampir mirip seperti depresi atau mengalami gangguan jiwa.


" Aku ikut senang Sam, kamu bisa menemukan wanita seperti itu."


" Tapi aku takut jika suatu hari nanti, wanita itu mengatakan perasaan yang sejujurnya, bahwa dia hanya kasihan melihatmu."


" Dan lebih mengerikan lagi kalau dia memilih pasangan yang lain selain kamu."


" Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya."


" Aku takut kamu akan kembali terpuruk, bahkan lebih parah dari yang sebelumnya."

__ADS_1


" Haaah.. semoga lama kelamaan gadis itu juga merasakan hal yang sama dengan Samuel." Marvin berbicara perlahan dengan dirinya sendiri, karena tidak ada orang lain yang bisa dia ajak curhat tentang masalah Samuel, jadi curhat dengan pintu adalah solusi yang paling tepat.


" Semoga kelak dia juga menyukai Samuel dengan hati, bukan karena rasa belas kasihan."


" Fuuuhh.." Berulang kali Marvin membuang nafasnya dengan kasar.


Marvin memejamkan matanya sejenak dan berjalan masuk untuk memberikan obat itu kepada Samuel.


" Udaah.. mesra-mesraannya dilanjut nanti."


" Minum obatnya dulu!"


" Tadi dia udah makan belom?" Tanya Marvin, dia memang selalu sengaja bersikap sok cuek dan galak didepan Samuel, karena dia tidak ingin Samuel merasa rendah diri, karena dikasihani, bahkan dulu dia hampir ingin bunuh diri saat mengetahui kenyataan pahit yang dia alami.


" Udah tadi, makan nasi goreng."


" Tapi habis nggak ya tadi?"


" Keburu Gla... emm.." Jani tidak jadi melanjutkan perkataannya saat Marvin melotot kearahnya karena ingin menyebut nama wanita masa lalu Samuel.


" Aku bawa pizza tadi."


" Biar aku hangatkan sebentar." Marvin langsung meletakkan obatnya dimeja dan mengambil pizza yang tadi sempat dia beli, rumah pria lajang memang hanya ada makanan instant dan junkfood saja, karena dia hanya memperkerjakan asisten rumah tangga saat siang hari saja, khusus untuk bersih-bersih saja, malamnya dia pulang.


Tak selang beberapa lama Marvin membawa beberapa potong pizza diatas piring.


" Nih... suruh dia makan." Marvin menyodorkan makanan itu ke tangan Jani.


" Setelah itu baru minum obat, soalnya obat itu keras, kalau perut tidak terisi banyak, bisa gemetar nanti dia.


" Aku tinggal ke kamar ya."


" Kalau ada apa-apa, panggil gw diatas!" Marvin tidak ingin menggangu mereka karena Samuel terlihat tenang saat berdua dengan Jani seperti itu.


" Wokey.."


" Kita makan dulu ya pak?"


" Hmmm... baunya mantap banget nih!" Jani mencium wangi pizza yang baru dihangatkan itu, lumeran kejunya benar-benar menggoda selera.


" Kok kita!"


" Aku hanya menyuruh Samuel saja yang memakannya."


" Kamu kan nggak minum obat."


" Ngapain makan?" Marvin yang sudah akan keluar kembali menoleh lagi saat mendengar ucapan Jani.


" Ckkk... pelit amat sih dokter."


" Ini kan banyak!"


" Masak minta satu potong juga nggak boleh sih?"


Jani langsung cemberut menatap Marvin didepan pintu.


" Mana baunya enak lagi." Jani kembali mencium aroma lelehan kejunya, membuat perutnya ikut bergejolak, bahkan dia sudah menelan air liur sedari tadi.


" Jangan dengarkan dia."


" Suapi aku saja."


" Kita makan berdua."


" Aku juga nggak akan habis makan segitu." Samuel akhirnya bisa tersenyum saat melihat perdebatan Marvin dengan Jani, dia malah merasa terhibur.


" Weerkkk.." Jani menjulurkan lidahnya ke arah dokter Marvin.


" Hehe.. gw sukak gaya bapak."


" Baik hati dan tidak pelit kayak dia!"


" Aku cobain dulu rasanya ya pak." Jani langsung menyindir Marvin yang malah tertawa dan melangkah pergi dari sana, dia memang sengaja hanya ingin menggoda Jani saja.


" Suka gayanya saja nih?"


" Orangnya enggak?" Tanya Samuel sambil menatap wajah Jani yang langsung kaget.


" HAAH?"


" Uhukk.. uhukk.."


Jani selalu saja dibuat tersedak oleh omongan Samuel yang sering tiba-tiba mengejutkannya.


Setiap orang yang sudah nyaman, memang selayaknya memperjelas apa yang sedang mereka jalani. Agar tidak ada lagi sesak atas ketidakjelasan.


..."Sepanjang kita yakin telah melakukan sesuatu dengan baik, selalu belajar untuk lebih baik, terbuka dengan masukan, rasa nyaman dan tenteram itu akan datang, karena kemuliaan hidup tidak pernah tertukar." ...


Jangan lupa lempar bunganya yaa..🌹

__ADS_1


__ADS_2