
...Happy Reading...
Lain kisah yang terjadi di halaman rumah Niar, lain pula kisah dua manusia yang baru merasakan indahnya hubungan sah sepasang suami istri ini.
Setelah merasakan indahnya cinta, bahkan Samuel tidak rela berpisah dengan istrinya malam ini, sepanjang perjalanan pulang tadi, tangan kiri Samuel senantiasa menggengam jemari Rinjani didalam mobil, bahkan menghujani kecupan beratus-ratus kali sampai Jani merasakan tangannya pegel sendiri, karena nggak boleh dilepas sama sekali.
" Kak.. udah dong, aku harus masuk kedalam rumah ini, udah hampir tengah malam lho, nanti ibu makin curiga." Jani hanya bisa merengek ditempat saat tubuhnya dipelvk suaminya lama sekali, mereka berdua sengaja parkir agak jauh dari rumahnya agar tidak ketahuan, lagian juga tengah malam jarang ada orang yang melintas dijalan itu.
" Aaaa... sebentar sayang, orang masih kangen ini." Dia malah semakin merekatkan pelukannya.
" Masak kangen sama istri sendiri nggak boleh?"
" Apa kamu mau aku kangen sama istri tetangga?" Samuel pura-pura bersikap songong, seolah dia bisa berpaling dengan wanita lain saat ini.
" Ya udah nggak papa, sono?" Dengan santainya Jani berbicara seperti itu tanpa berpikir panjang dahulu.
" Beneran yank?" Samuel malah kaget sendiri saat mendengar jawaban istrinya, padahal dia berfikir istrinya akan ngambek, trus dia bisa minta manja-manjaan seperti pria pada umumnya.
" Beneran, kalau kakak mau silahkan." Jani berbicara bahkan terlihat sungguh-sungguh.
" Tetangga aku juga ganteng-ganteng kok, yang duren juga banyak." Padahal duda tetangganya juga sudah beruban semua, jauh dari kata ganteng.
" Atau mungkin... si juragan bakso itu, dia juga senantiasa menantikan diriku kapan saja, jika aku mahu lho kak?" Jani mengingat juragan bakso ganteng yang mengejar-ngejar dirinya, yang bahkan sempat membuat Samuel cemburu buta saat itu.
" NOO!"
" Kamu milikku, cuma aku yang boleh memilikimu seutuhnya!" Rahangnya langsung terlihat mengeras seketika.
" Kamu dengar itu!" Samuel langsung melotot dengan pipi yang sudah mulai memerah dikulit bersihnya.
Haduuuh... apa dia marah beneran? bisa gawat ini kalau dia kambuh disaat seperti ini? Mampus kau Rinjani...
Dia lupa kalau suaminya baru saja melewati masa-masa kritisnya, padahal Marvin sudah berkali-kali berpesan kepada dirinya, sehat atau tidaknya Samuel saat ini, bergantung pada perlakuan dirinya kepada Samuel.
" Hehe... bercanda sayang, cuma kamu seorang yang singgah dihatiku." Gantian Jani yang memeluk tubuh suaminya duluan, dia memilih mengalah saja saat ini, karena satu kesilapan saja yang dia lakukan bisa panjang dampaknya, apalagi besok hari penting buat Niar, bahkan dia rela mengakhiri liburannya demi ikut andil diacara sahabatnya itu.
" Jangan coba-coba punya pikiran untuk berpaling dariku yank?" Suara Samuel terdengar parau saat ini.
Heh... apa dia menangis? masak seorang Samuel yang terkenal killer itu sekarang jadi cengeng? apa ini efek dari komanya selama beberapa hari itu ya? aduuuhhh...
Jani langsung melepas pelukan dan menatap mata suaminya yang memang sudah memerah dan berkaca-kaca, sungguh diluar dugaannya Samuel bisa secengeng ini sekarang.
" Enggak kak, beneran cuma bercanda lho tadi?"
" Orang tadi kakak yang mulai duluan kan, kenapa jadi kakak yang sedih coba?" Jani mengusap pipi suaminya dengan lembut.
__ADS_1
" Tapi kamu ngomongnya kayak beneran tadi?" Bahkan suara Samuel sudah serak-serak ba sah sekarang.
" Panjang lebar nggak ada sedih-sedihnya?" Bahkan hidung mancungnya sudah kembang kempis sekarang.
" Padahal aku cuma bertanya saja tadi, bukan menegaskan seperti kamu!" Benar-benar diluar dugaan Jani, air mata itu menetes juga akhirnya.
" Kakak?" Antara kaget dan ingin tertawa yang Jani rasakan saat ini saat melihat wajah Samuel.
" Jangan pernah tinggalkan aku sayang."
" Aku tidak sanggup jika harus berjauhan lagi denganmu."
" Aku... aku..." Samuel kembali memeluk Jani dengan erat sambil menahan isak tangisnya.
Bahahahaha... Ya Tuhan, dia beneran nangis lho? ini suami gw apa bukan sih? Duh Gusti, jangan hukum aku karena menertawakan suamiku sendiri, karena aku tidak kuat lagi...
Dengan tampang gilanya Jani malah tertawa tanpa suara dipelukan suaminya, entah mengapa jadi lucu melihatnya, andai Niar melihatnya, bisa tertawa berjamaah mereka berdua, orang sudah dibilang bercanda masih saja merengek sedih bahkan sampai menangis, dia pun ikut bergetar dan mengeluarkan air mata, tapi bukan air mata kesedihan yang pastinya.
" Sayang... kamu denger nggak?" Tanya Samuel kembali.
" Iya... denger kok." Akhirnya dia mengigit bi birnya sendiri agar tidak sampai ketahuan kalau dia malah tertawa.
" Janji ya... yang di Atas saksinya lho?" Samuel meregangkan pelukannya.
" Hu.um" Jani hanya bisa menggangukkan kepalanya saja saat ini.
" Hmm.. hmm.." Jani menggelengkan kepalanya, sebenarnya bukan tidak mau mencivum suaminya, tapi karena dia masih menahan tawanya sekarang.
" Tuh kan? udah nggak mau lagi civm suaminya sendiri?"
" Kamu beneran mau ninggalin aku yank?"
" Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan kamu bersama orang lain."
" Kalau aku tidak bisa bersamamu, orang lain pun tidak akan bisa menyentuhmu, walau secuil saja!"
" Ingat itu!" Wajah Samuel berubah menjadi garang, otot-otot diwajahnya seakan tertarik semua, seolah dia sedang menghadapi lawan yang menjadi dendam kesumatnya.
" Kakak... sayangku, hehe..." Jani memelvk kembali suaminya agar tawanya tersembunyi dibalik punggung suaminya.
Panggil sayang tapi nggak mau kiss suami sendiri, apa-apaan dia!
Tubuh Samuel mematung, tidak berniat untuk menyambut pelvkan istrinya.
" Lepas, turun sana!" Umpat Samuel pura-pura menggertak saja.
__ADS_1
" Okey... kamu hati-hati di jalan ya?" Padahal Samuel berharap Jani menolak dan merengek kepadanya, namun dugaannya langsung meleset jauh.
" Kalau sudah sampai kabarin ya kak?" Jani memilih segera turun saja, daripada terkekeh didepan suaminya.
" SAYANK!" Setelah beberapa bulan berlalu baru kali ini Samuel berani membentak istrinya.
" Apalagi kak? katanya disuruh turun tadi?" Bukannya marah, Jani malah tersenyum kembali sambil menoleh kearah suaminya.
" Kamu ini-----" Ingin sekali dia memarahi istrinya, tapi sama sekali tidak bisa.
" Aaaiissshhh!" Akhirnya dia menghantukkan wajah tampannya ke stir bundar mobilnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Ya Ampun... ampunilah hambamu ini sebagai istri.. hahahahaha...
" Fuuuhh.." Akhirnya Jani menghirup udara disekitarnya dalam-dalam, agar tawanya meredam, cukup didalam hati saja.
" Ehermm... ehermm..." Dia menetralkan suaranya kembali.
" Ya udah, sini aku kasih kiss."
" Mau yang sebelah mana kak?" Tanya Jani yang sudah mulai bisa menormalkan kembali wajahnya.
" Kamu ini jahat banget yank!" Bahkan Samuel belum mengangkat wajahnya dari sana.
" Tuh kan salah lagi?"
" Ya udah kalau nggak mau, aku turun beneran nih!" Ucap Jani pura-pura mengancam.
" MAUK..!" Teriak Samuel yang semakin membuat Jani gemas karenanya.
Ya Rabb, gimana aku nggak mau ketawa coba, tingkahnya seperti anak TK gini dia lho?
" Pffttthhh" Hampir saja dia kelepasan tertawa lagi.
" Bagian mana?" Tanya Jani sambil tersenyum geli sendiri melihat tingkah absurd suaminya, ingin rasanya dia ambil ponsel dan merekamnya, namun dia juga tidak tega.
" Sini." Akhirnya dia memonyongkan bi birnya setelah aksi ngambeknya.
" Haaaishh... bikin emess.. emess banget deh laki gw!"
" Jadi makin sayang dah!"
Walau sambil tersenyum menahan tawa, Jani akhirnya memiringkan wajahnya dan memberikan civman terhangat untuk suami tercintanya, bahkan dinginnya AC mobil seolah tidak cukup untuk mendinginkan ga irah sepasang suami istri ini, dalam mengungkapkan rasa sayang mereka masing-masing dimalam yang sunyi ditemani ribuan kilauan bintang dilangit diatas sana.
Cinta itu sulit ditebak. Saat patah hati, kamu mengira hati sangat terluka dan akan sulit sembuh. Tapi, saat belajar melepaskan dan merelakan masa lalu, tiba-tiba muncul yang lain yang mampu menyembuhkan semua luka-lukamu.
__ADS_1
..."Kebahagiaan terbaik itu bukan lewat dipuji, apalagi dicaci, cukup kamu ciptakan saja sendiri kebahagiaan menurutmu."...