CINTA MANIS Sang Pewaris

CINTA MANIS Sang Pewaris
86. Luluhnya hati seorang Ibu


__ADS_3

...Happy Reading...


Dua hari sudah Samuel dirawat inap dirumah sakit itu, walau dia merasakan rasa sakit diperutnya namun Samuel tidak merasakan kesedihan, dia malah terlihat bahagia karena Rinjani sang istri sangat memanjakan dirinya, apapun yang dia minta, apapun yang dia mau istrinya langsung mengabulkannya.


Seolah musibah yang terjadi pada diri Samuel malah membawa nikmat dan berkah tersendiri bagi keromantisan keluarga mereka, bahkan Yoyo pun terlihat sangat bahagia saat menemani mereka, berulang kali dia merengek ingin tidur dirumah sakit namun Samuel tetap menyuruhnya pulang karena dia tidak mau perhatian Rinjani terbagi untuk Yoyo.


" Sayang mau peluk?" Pinta Samuel yang mulai beraksi kembali.


" Tapi rambutku masih basah kak, lengket tadi jadi aku keramas, nggak ada hair dryer disini, nanti baju kakak basah lho." Ucap Rinjani memperlihatkan rambutnya.


" Suruh aja bibi bawa hair dryer kemari, padahal aku sudah pesan ruangan VIP disini, ternyata fasilitasnya tidak lengkap juga ya, payah sekali." Umpat Samuel yang memang sudah ganti ruangan kemarin.


" Bukan tidak komplit kak, tapi memang hair dryer tidak terlalu dibutuhkan untuk pasien kan." Jawab Rinjani yang lansung tersenyum melihat tingkah suami bucinnya itu.


" Trus gimana ini, aku mau peluk juga tapi, masih mending cuma minta peluk, nggak minta yang dibawah!" Pinta Samuel yang pantang untuk ditolak.


Dasar bayi tuek !


" Ya udah sini aku peluk, utututuh... suamiku tercayang, mau dimanja-manja ya?" Rinjani bahkan memperlakukan Samuel layaknya seperti bayi, sambil menoel-noel hidung mancungnya dengan gemas.


" Hu um." Jawab Samuel langsung menyembunyikan wajahnya dipelukan istrinya, bukan malu tapi sebenarnya dia tersenyum karena bahagia saat bermesraan dengan istrinya seperti ini.


" Jani." Sapa seseorang dari arah pintu.


" Ibuk?" Jani langsung menoleh kearah seseorang didepan pintu ruangan itu.


" Eherm.. aw... aw..." Saat Samuel melihat siapa yang datang dia langsung memundurkan tubuhnya dengan cepat, takut ibu mertuanya nanti murka, sehingga jahitan diperutnya sedikit tertarik.


" Kakak, pelan-pelan dong? sakit kan jadinya? sini aku lihat perban nya, keluar darah enggak." Jani langsung membuka perban diperut suaminya, benar saja luka itu sedikit mengeluarkan darah kembali.


" Tuh kan berdarah lagi, aku panggil suster buat ganti perban ya?" Rinjani ingin bangkit namun Samuel melarangnya.


" Nanti saja, sambut dulu itu ibu, beliau baru saja datang, masak mau ditinggalin." Pinta Samuel dengan perlahan, padahal sebenarnya dia cuma bingung nanti jika harus berduaan saja diruangan itu bersama ibu mertuanya, dia hanya tidak ingin membuat masalahnya menjadi tambah runyam saja.


" Iya, tapi luka kakak belum kering ini, jadi harus tetap ganti perban?" Jani kekeh ingin pergi namun Samuel menarik tangannya perlahan.


" Its okey sayang, nggak terlalu sakit kok." Samuel tersenyum kearahnya.


" Ibu, silahkan masuk, terima kasih sudah datang kemari untuk melihatku." Ucap Samuel kearah ibu mertuannya dengan sopan.


" Aku kesini ingin melihat putriku, bukan untuk melihat kamu!" Jawab ibu Rinjani dengan wajah yang sulit ditebak.


" Ibuk?" Jani langsung berdiri ingin mendekati ibunya.


" Sayang, nggak boleh marah sama ibuk okey? aku baik-baik saja kok." Samuel bahkan bisa tersenyum walau mungkin hatinya sangat terluka.

__ADS_1


" Buk, maaf kalau ibu datang hanya untuk memarahi kami, aku nggak punya tenaga untuk meladeni ibuk, tolong ibu pulang saja ya?"


" Badanku lagi kurang fit kayaknya, lagian bau obat juga pasti ibu benci kan? ibu pulang saja okey?" Rinjani sedang tidak mau ribut, apalagi dirumah sakit pikirnya.


" Ibu datang bersama Bromo kah? biar aku bicara dengannya, mana dia?" Rinjani ingin berjalan keluar ruangan mencari adeknya, namun tangannya sudah ditarik ibunya kembali.


" Apa kamu juga mencintainya sekarang?" Tanya ibuk Jani yang sontak membuat Samuel pun ikut memasang kedua telinganya dengan benar, untuk siap-siap mendengar jawaban dari Rinjani yang sebenarnya ingin dia ketahui juga sekarang.


" Dengan seluruh jiwa raga ku buk, aku sangat mencintainya." Jawab Rinjani dengan mantap bahkan tanpa jeda, seolah itu mengalir begitu saja dari dalam relung hatinya yang paling dalam.


Dan senyum simpul yang indah pun menghiasi bi bir Samuel saat itu juga, hatinya bahkan terasa terbang ke awang-awang saat mendengar ungkapan hati dari sang istri, dia sungguh tidak menyangka jawaban Rinjani akan seperti itu, berarti cinta nya kali ini tidak bertepuk sebelah tangan lagi, karena ternyata istrinya juga sudah mencintainya dengan hati yang tulus tanpa adanya paksaan dari dirinya.


" Kalau begitu, setelah dia sembuh ajak pulang kerumah." Ibu Jani langsung membalikkan tubuhnya ingin segera pergi dari sana.


" Ibuk?" Samuel langsung berteriak memanggilnya.


" Kenapa? kamu tidak sudi untuk tinggal dirumah kecilku itu? kamu takut kakimu tidak bisa leluasa saat duduk dikursi tamuku? begitu!" Teriak ibu Rinjani sambil menoleh kearah Samuel.


" Bukan begitu buk, tapi---" Samuel malah jadi takut sendiri, padahal dia mau mengungkapkan rasa terimakasih sebesar-besarnya sebenarnya.


" Ibuuuukkk, makasih ibuku tersayang!" Jani langsung memeluk tubuh ibuknya dengan erat sambil menguncang-nguncangkan tubuh renta itu dengan gemas.


" Kamu mau membunuh ibuk!" Teriak Ibu Rinjani yang merasa tubuhnya terhimpit.


" Siapa bilang ibuk merestuinya sekarang, jangan kesenengan kamu!" Ucap ibuk Jani sambil menaikkan satu sudut bi birnya.


" Maksud ibuk?" Tanya Rinjani yang langsung terbengong kembali, padahal dia pikir ibuknya berkata seperti itu karena sudah merestui dan mau memaafkan suaminya.


" Aku cuma mau ngetes panci baruku saja, peyok apa enggak kalau buat mukul orang!" Ucap Ibu Jani dengan santainya.


" Aaaaaaaaa... ibukku tersayang, brati ibu udah mau menerima kak Sam kalau begitu! makasih buk, aku sayang ibuk!" Rinjani paham betul sikap ibunya, jikalau sudah begitu maknanya dia sudah menerima Samuel didalam keluarganya.


" Maafkan ibuk selama ini nak, walau dia pernah mencelakai suami ibuk, namun saat dia berani mengorbankan dirinya untukmu tanpa berpikir panjang, disitulah ibuk sadar, bahwa dia sebenarnya orang baik."


" Walau ibuk sebenarnya belum terima dengan kejadian yang menimpa ayahmu, namun jika pria itu rela mengorbankan nyawa demi kamu, ibu tidak akan melarang keputusanmu itu."


" Ibu hanya ingin kamu bahagia, semoga tidak akan ada penyesalan dibelakang nantinya ya sayang." Kata-kata ibunya yang seperti itu yang memang selalu dia nantikan.


" Ibu sayang kamu nak." Ibu Jani memeluk tubuh putrinya dengan penuh kasih sayang, sudah lama semenjak dia membenci Samuel, dia sudah tidak pernah memeluk tubuh putrinya yang terlihat semakin berisi saja.


" Terima kasih buk, terima kasih banyak, kak Sam memang orang yang baik, InsyaAlloh Jani tidak akan salah memilih pasangan, doakan yang terbaik buat hubungan kami ya buk?" Air mata kebahagiaan yang selama ini Jani nantikan akhirnya keluar begitu saja.


" Pasti nak, semoga kalian berbahagia sampai maut memisahkan." Ibu Jani mengusap kepala putrinya.


" Jangan lupa, bawa dia pulang, PANCI IBUK MENANTINYA!" Ucap Ibuk Jani sambil tersenyum untuk yang pertama kalinya kearah samuel semenjak pernikahan mereka berlangsung.

__ADS_1


" Terima kasih ibu mertua." Samuel menangkupkan kedua tangannya dengan senyum tampan yang menghiasi wajahnya kali ini kearah ibu Rinjani.


" Ibu pulang dulu, rawat dia sampai sembuh, ibu nggak sudi duel dengan orang yang sakit!"


" Ibu pamit ya, assalamualaikum!" Ibu Jani langsung balik kanan untuk pulang dan menoleh kearah Samuel walau hanya sekilas, dan itu sudah membuat hati Samuel merasakan kebahagiaan yang tidak terbatas.


" Waalaikumsalam buk, hati-hati dijalan ya? maaf nggak bisa nganterin, i love you buk, muach!" Jani bahkan memberikan kiss bye kepada sang ibunda tercinta.


" Yeaay kakak... akhirnya, kita bisa mendapatkan restu ibuk juga." Rinjani langsung berlari kearah suaminya yang sudah merentangkan kedua tangannya.


" Iya sayang, doa kita terkabulkan juga akhirnya." Samuel memeluk tubuh Rinjani dan menempelkan kepalanya di kepala Rinjani.


" Nggak nyangka banget ya kak, Alloh memang selalu baik kepada hambanya yang mau bersabar." Rinjani akhirnya bisa tersenyum lepas, hal yang mengganjal dihati dan pikirannya akhirnya sirna sudah.


" Hmm... jadi pengen cepet-cepet nengokin hasil karya kita yank, kira-kira sudah jadi belum ya?" Tangan kiri Samuel langsung menyelinap dan masuk kedalam baju yang Jani pakai.


" Apaan sih kak, ini rumah sakit lho?" Rinjani langsung mendelik kesal kearah suaminya, belum juga sembuh pikirannya sudah terbang ke arah yang asoy geboy saja pikirnya.


" Emang kenapa kalau dirumah sakit? klas VIP ini sayang, tinggal tutup kordennya dan kunci pintunya dari dalam, beres kan?" Goda Samuel dengan genitnya.


" Kakak iihhh... mesvm saja pikirannya, orang lagi sakit juga!" Rinjani langsung memencet hidung mancung suaminya dengan kesal.


" Ahahahaha... bercanda sayang, Kang Pisang juga belum bisa bergoyang kok, hahaha...!" Akhirnya mereka berdua bisa tertawa dengan lega, kebahagiaan dari wajah mereka terpancar dengan indahnya.


Segala ucapan syukur mereka panjatkan dalam hati, karena ternyata lewat musibah Alloh sudah merencanakan sesuatu yang indah untuk mereka berdua.


Akhirnya masalah yang sangat rumitpun semua dapat terselesaikan dengan mudahnya, asalkan kita mau bersabar dan tidak harus melukai hati orang yang sudah melahirkan kita, cukup sabar dengan hati yang ikhlas, biar Tuhan yang mengatur rencana untuk kita, apapun masalahnya pasti ada solusinya, Tuhan selalu bersama kita, karena Tuhan tau apa yang kita butuhkan.


Selalu berpikir positif dan jangan pernah berprasangka buruk, karena saat pikiran kita positif hasilnya pun akan positif juga.


Mencintai dan dicintai adalah dua hal yang sangat diinginkan oleh banyak orang. Namun tetap harus bisa menyikapinya dengan bijaksana tanpa menyakiti pihak lain.


Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.


..." Mencintai merupakan sebuah anugerah besar yang Tuhan berikan kepada manusia. Maka dari itu, kita perlu senantiasa bersyukur dan menjaga segala anugerah itu."...


..." Mungkin ketidaksempurnaan kita yang membuat kita begitu sempurna antara satu sama lain."...


...TAMAT...


Bagaimana kisah cinta dokter Marvin?


Apakah rasa cintanya dengan Niar sang pujaan hati akan terbalaskan atau harus menjadi jomblo abadi?


Tunggu tanggal mainnya🥰

__ADS_1


__ADS_2