
...Happy Reading...
Hari ini Samuel sudah merasa baikan, laporan dari asisten di perusahaannya membuat dirinya mau tidak mau harus datang ke perusahaan, karena terjadi beberapa masalah saat dia koma kemarin.
" Sam.. tapi kondisimu belum begitu stabil untuk saat ini."
" Sebaiknya kalian meeting virtual saja." Ucap Marvin yang sudah bersidekap sambil menyaksikan Samuel bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
" Salah satu klien terbesar di perusahaan, menginginkan bertemu langsung denganku."
" Kalau tidak mereka akan mencabut saham diperusahaanku."
" Dan aku tidak mau perusahaan yang sudah ayah bangun hancur karena kelalaianku sendiri."
" Kasian juga para karyawan disana kalau sampai harus kehilangan pekerjaan." Ucap Samuel sambil merapikan jas mahal miliknya.
" Itu kenapa aku malas mengurus perusahaan."
" Terlalu banyak beban yang harus dipikirkan." Ucap Marvin tersenyum miring, dia memang lebih memilih menjadi dokter dari pada ikut mengurus perusahaan milik keluarganya.
" Kalau begitu kamu ikut aku ke kantor saja." Samuel keluar kamar untuk pergi sarapan.
" Malas." Jawab Marvin sambil mengekori Samuel dari belakang.
" Aku suruh nanti Jani dan Niar datang kesana." Ucap Samuel sambil tersenyum licik, dia berteman dengan Marvin tidak sebentar, jadi dia tahu semua hal yang menyangkut tentang teman rasa saudaranya itu.
" Apa hubungannya denganku!"
" Mau ada Niar atau pun tidak, aku... aku tetap malas pergi ke perusahaan." Ucap Marvin tetap menjunjung harga dirinya di depan Samuel.
" Ya sudah, terserah saja."
" Hmm... asistenku juga masih jomblo, malah denger-denger banyak juga yang naksir dia, nanti biar dia saja yang aku suruh nemenin Niar." Samuel langsung melahap roti bakar yang sudah disiapkan oleh bibi.
" Enak saja!" Ucap Marvin keceplosan.
" Ya emang enak? yang dicari kan yang enak-enak bukan?"
" Apa ada masalah?" Samuel sudah menahan untuk tidak tersenyum saat melihat sahabatnya itu langsung terlihat gusar.
" Emm... tidak.. tidak masalah."
" Aku tidak perduli, cuma... yang aku perdulikan saat ini adalah kesehatanmu."
" Kamu belum pulih sepenuhnya, harus tetap ada dibawah pengawasanku."
" Jadi----" Marvin masih berfikir mencari alasan yang tepat agar tidak ketahuan kalau dia sebenarnya tidak rela jika Niar didekati oleh orang lain.
" Jadi?" Samuel sudah tersenyum miring melihat Marvin celingukan.
" Jadi aku harus ikutlah, walau terpaksa." Ucap Marvin sambil membuang arah pandangannya.
" Hahahaha.."
" Terserah kamu sajalah!" Ucap Samuel langsung bangkit dan segera pergi ke kantor.
Sampai di kantor, Samuel langsung disibukkan dengan beberapa meeting, bahkan Marvin pun ikut mendampingi, sedikit banyak dia juga tahu cara mengelola perusahaan, karena keluarganya juga punya perusahaan besar, hanya dia saja yang malas meneruskannya.
" Sam.. masih banyak lagi kah pekerjaanmu?"
" Kamu harus istirahat Sam, jangan terlalu di forsir begini tenaga dan fikiranmu."
" Ini sudah lewat jam makan siang, kamu harus minum obat dulu." Ucap Marvin yang ikut capek mengikuti kegiatan Samuel sedari tadi.
" Kenapa kamu jadi cerewet begini sekarang?" Umpat Samuel sambil melirik kearah Marvin yang malah berdecak kesal.
" Tinggal satu kali perjumpaan meeting lagi."
" Biar aku telepon istriku dulu." Samuel langsung mendail nomor Rinjani.
" Hallo, assalamualaikum kak?"
" Udah makan siang belom tadi?"
" Obatnya jangan lupa diminum?"
" Nggak usah lembur hari ini ya?"
Belum juga Samuel berkata-kata, ucapan Rinjani sudah panjang lebar, namun bukannya kesal atau marah, tapi malah semakin membuat hatinya berbunga-bunga karena merasa diperhatikan oleh wanita yang dia sayangi.
__ADS_1
" Sayang... kangen."
Samuel tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya dan membayangkan wajah Rinjani saat mengoceh seperti tadi.
" Hoeeeekkk." Marvin langsung melengos dan pura-pura muntah, saat melihat kelakuan Samuel saat sudah berhubungan dengan istrinya.
" Apaan sih kak, aku masih di kampus ini."
" Lagi banyak tugas nih." Ucap Jani sambil tersenyum.
" Cepat datang ke kantor, nanti aku bantuin tugasmu."
" Emang bisa?" Tanya Jani seolah meremehkan kemampuan suaminya.
" Ciiihhh.. apa yang nggak bisa dikerjakan oleh suamimu ini?"
" Bahkan aku bisa menjadi dosen pengujimu saat ujian skripsi nanti." Ucap Samuel sambil membanggakan dirinya sendiri.
" Cuma menakhlukan hati ibu mertua saja yang aku belum bisa, tapi tenang saja yank."
" Suatu saat nanti, kita berdua pasti akan mendapatkan restu dari ibuk, percayakan semuanya kepada suami tampanmu ini?"
" Bertahan ya sayang, aku akan memperjuangkanmu, sampai kapanpun itu."
Samuel sudah mengerahkan anak buahnya untuk membantu mengorek kejadian masa lalu, dan mengumpulkan semua bukti-buktinya, walau tidak mudah dan juga butuh proses pastinya.
" Hmm.."
" Mulai deh sombongnya, kirain sudah sembuh ternyata masih akut juga."
" Semangat ya kak, kamu pasti bisa, hehe.." Jani tersenyum saat suaminya mulai kembali ke sifat awalnya, dia juga bersyukur karena suaminya tidak membenci ibunya dan malah terus berusaha untuk memperjuangkan hubungan mereka.
" Ajak sekalian temenmu itu, biar Marvin ada yang nemenin."
" Kasihan si Jomblo baru itu, uring-uringan saja kerjaanya.
" Bahkan tadi, dia berani memarahi suami tampanmu ini yank." Samuel seolah mengadu kepada Jani.
" Yaudah... coba aku tanya Niar dulu, mau apa enggak dia."
" Aku tutup dulu ya kak?" Jani langsung menutup ponselnya.
" Lanjut besok aja tugasnya, capek banget deh dari tadi nggak kelar-kelar." Entah mengapa hari ini dia terlihat bersemangat pergi ke kantor menemui suaminya.
" Malaslah... Ogah banget gw jadi kambing congek luu." Ucap Niar langsung menolak ajakan Jani.
" Yaelah... ada dokter Marvin juga kok disana."
" Justru itu, tambah ada dokter sinting itu aku tambah males."
" Kenapa?"
" Gimana yah, aku tuh terkadang sering bingung juga, kalau lama-lama deket sama dia itu."
" Emm... jadi ngerasa berdosa gitu loh." Ucap Niar seolah selalu menyesal saat mengingat beberapa kejadian yang tanpa dia sengaja itu.
" Kok berdosa, emang kalian berdua ngapain?" Tanya Jani heran.
" Ya nggak ngapa-ngapain, aah... lu mah omes aja!"
" Gw cuma ngrasa kayak gw berkhianat gitu sama cowok gw."
" Gw tuh sering nggak sadar, walau awalnya sering adu mulut duluan tapi setelahnya sering... aduh gimana ya ngomongnya?"
" Intinya gw seolah kayak nglakuin dosa gitu deh, walaupun itu dosa terindah sekalipun."
" Atau jangan-jangan gw di pelet kali yaa Jan?" Terlintas pemikiran gila di pikiran Niar karena terlalu prustasi memikirkan hal itu.
" Pelet gundulmu itu!" Jani langsung menoyor kening sahabatnya dan kembali mendail nomor suaminya.
" Ya sayang?" Jawab Samuel dengan cepat.
" Apa kalian sudah sampai?"
" Langsung naik saja yank, tunggu diruanganku ya, aku masih ada meeting satu kali lagi, cuma sebentar kok." Samuel menjawab sambil berjalan menuju ruang meeting.
" Belom kak, tapi masalahnya Niar nggak mau nemenin aku kesana?"
" Karena-----"
__ADS_1
" Kasih ponselmu ke dia, aku mau bicara!" Ucap Samuel langsung memotong pembicaraan istrinya.
" Nih... kak Sam mau ngomong sama luu?" Jani menyodorkan ponselnya.
" Aissh... nggak mau!"
" Ngapain ngomong segala, luu aja kan bisa!" Ucap Niar langsung memundurkan tubuhnya.
" NIAR." Walau ponsel Jani tanpa di loudspeaker sekalipun, suara Samuel sudah terdengar menggema dan membuat Niar ketakutan.
" I... i... iya pak? a.. ada apa?" Jawab Niar dengan terpaksa.
" Setelah wisuda nanti kamu masih berminat nggak kerja di perusahaanku?" Tanya Samuel.
" HAH?"
" Minat dong pak, minat banget malah!" Wajah Niar langsung berubah sumringah.
" Kamu mau aku terima masuk perusahaan tanpa tes?" Samuel langsung mengeluarkan senjata paling ampuh untuk menjinakkan seseorang.
" Mau.. mau pake banget pak, hehe.." Jawab Niar tanpa ragu-ragu.
" Kalau begitu, berangkat kemari sekarang juga bersama istriku, tanpa banyak protes!"
" Sekarang kembalikan ponselnya ke istriku." Ucap Samuel dengan tegas dan lugas.
" Siap.. siap laksanakan pak." Niar langsung tersenyum dan memberikan ponselnya kepada Jani.
" Ciiiihh... apa ini yang dinamakan the power of kekuasaan?"
" Sudah nggak takut dosa lagi luu?" Jani langsung memiringkan wajahnya, menatap remeh wajah Niar, dengan mudahnya suaminya bisa menakhlukkan Niar begitu saja.
" Hehe..."
" Siapa yang bisa nolak, masuk kerja di perusahaan raksasa tanpa pengalaman kerja, hanya lulusan baru, belum juga tahu nilai IP ku berapa, bahkan yang paling menggiurkan tanpa tes cuy?"
" Hanya orang bodoh yang menolak, hehe..." Bisik Niar ditelinga Jani, bahkan dia sudah membayangkan langsung menjadi pegawai saat sudah wisuda nanti.
" Ciiih... sak bahagiamu Jum!" Umpat Jani sambil berdecih saat mendengar perkataan Niar.
" Hallo kak?" Jani kembali berbicara dengan suaminya.
" Sayang nanti bawa sekalian makan siang ya?"
" Beli yang banyak, untuk kita berempat."
" Aku sudah mentransfer uang bulanan direkeningmu."
" Owh iya... untuk biaya kuliahmu juga, jangan minta sama ibu mertua lagi, pakai uang dari rekeningmu itu, okey." Samuel baru tersadar kemarin dia belum melakukan tanggung jawab sepenuhnya sebagai suami.
" Tapi kak----"
" Nggak ada tapi-tapian, setelah aku mengucapkan kalimat Ijab Qobul didepan penghulu, semua tanggung jawabmu sudah berpindah kepadaku."
" Semua biayamu juga semua kebutuhanmu, aku yang menanggungnya."
" Owh iya... satu lagi, uang kuliah Bromo juga aku yang akan menanggungnya."
" Biar ibu mertua tidak terlalu banyak beban."
" Mungkin bisa jadi karena beliau terlalu capek bekerja, jadi ibu itu sering emosi."
" So, mulai sekarang biar ibu mertua menikmati hasil jerih payahnya itu untuk beliau sendiri dan untuk hari tuanya nanti."
" Hmm... sekali-kali ajak ibu mertua jalan-jalan yank... shoping atau makan di hotel yang mewah ya?"
" Biar ibu senang dan bahagia." Ucap Samuel panjang lebar.
" Kak---?"
" Kalau begitu sekarang aku meeting dulu ya, biar cepet selesai."
" Bye sayang.. hati-hati dijalan nanti ya." Samuel langsung menutup sambungan telponnya karena dia sudah berada diruang meeting saat ini.
" Hmm.." Jani mengganguk sambil meneteskan air matanya.
Rinjani sungguh tidak menyangka jika Samuel bisa berfikiran seperti itu dengan ibuknya, bahkan dia tidak menyimpan dendam sedikitpun dengan ibu, padahal ibuk sudah memaki habis-habisan Samuel saat itu dan bahkan sampai sekarang, namun dia malah tetap memikirkan kebahagiaan ibuknya.
To be continue...
__ADS_1