
...Happy Reading...
Hawa dingin yang berhembus dipertengahan malam itu, tidak membuat orang-orang dihalaman rumah Niar merasa kedinginan, bahkan mereka ikut tegang saat menyaksikan perdebatan tiga orang yang menjadi peran utama malam ini, pertikaian diantara mereka bahkan lebih menegangkan daripada drama action, karena terlihat secara live dan real dalam kehidupan nyata.
" Dokter, apa yang kamu lakukan disini?" Niar mulai mrncoba untuk meluruskan masalah.
Dia pun sebenarnya tidak tega, namun sebagai seorang gadis dia memilih berpikir secara realistis, karena memang tidak ada pernyataan cinta atau status kejelasan diantara mereka, jadi dia memutuskan tetap memilih yang pasti-pasti saja.
" Ciiih... apa kamu bilang?" Marvin bahkan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Ini sudah larut malam lho, sebaiknya dokter pulang saja ya, besok kan ada jadwal cek kesehatan pagi-pagi." Ucap Niar perlahan.
Bahkan Niar pun sekarang sudah tahu hari apa saja saat Marvin jaga pagi karena akhir-akhir ini sering bersama, apalagi saat Samuel sakit kemarin, bahkan setiap hari mereka selalu bersama.
" Apa kamu mencemaskanku sekarang?" Marvin menarik jemari Niar dengan sedikit senyuman, merasa bahagia karena Niar sudah hafal dengan kesehariannya dan ternyata itu sontak membuat Dito kembali semakin meradang amarahnya, seolah Marvin tidak menggangapnya ada, sebagai seorang laki-laki sungguh harga diri Dito terinjak-injak saat ini.
" JANGAN SENTUH WANITAKU!" Ucap Dito sambil menarik Niar ke sisinya dengan kasar, tingkat kesabarannya bahkan sudah sampai diujung batas.
" DIA JUGA WANITAKU!" Ternyata Marvin tidak mau kalah, dia kembali meneriaki Dito dengan mata yang sudah berapi-api, dengan menarik lengan Niar yang satunya, seolah peperangan diantara mereka akan segera dimulai.
Dan akhirnya terjadilah aksi tarik menarik tangan Niar saat ini.
" LEPAS... sakit tauk!" Niar memilih mengibaskan kedua tangannya sekuat yang dia bisa.
" APA!" Ingin rasanya Dito tertawa, seolah ini hanya lelucon belaka.
" Sayang.. apa-apaan ini?" Padahal hubungannya selama beberapa tahun ini terlihat baik-baik saja dimatanya.
" Apa kamu selingkuh begitu?"
" Kamu berani menduakan aku sayang?" Sesuatu hal yang benar-benar tidak terbayangkan sama sekali olehnya.
__ADS_1
" Apa kamu cuma ngeprank doang yank?" Bahkan dia berharap Niar hanya memberikan sedikit surprize untuknya karena telah melamar secepatnya.
" Ini nggak lucu sayang, mas masih capek lho dari perjalanan jauh, langsung kesini tadi pagi?" Dito langsung mengguncangkan tubuh Niar yang memaku karena terkejut.
" Astagfirullah.. ada apa ini?"
" Kenapa jadi begini?" Bahkan ibu Niar pun tak kalah terkejut, dia sampai bersandar pada tiang rumahnya karena kakinya seolah tidak kuat untuk menopang tubuhnya, saat melihat putrinya menjadi bahan rebutan seperti ini.
" Enggak yank, aku nggak mendua." Bahkan mata Niar sudah memerah karena ketakutan.
" Dokter... kamu jangan mengada-ngada dong?"
" Aku besok mau tunangan ini."
" Tolong jangan bercanda keterlaluan seperti ini." Air mata Niar tak kuasa dia bendung lagi, air itu mengalir deras dikedua ujung matanya.
Dan itu sudah cukup memberikan bukti bagi Dito dan harapan untuk mendapatkan surprize sirnalah sudah malam ini, selama ini bahkan dia tidak pernah melihat air mata kesedihan keluar dari mata kekasihnya.
Amarah dan kekecewaan Marvin, juga rasa ingin berontak saat ini, langsung memudar saat melihat gadis yang dia kenal usil dan energik juga sering menjadi lawan gaduh setiap harinya itu meneteskan air mata kesedihannya.
" Niar?"
Akhirnya suara Marvin melembut saat melihat tetesan air mata Niar semakin jatuh dengan derasnya, seolah hatinya ikut sakit melihat gadis yang dia sayangi bersedih.
" Dokter Marvin.. aku mohon hentikan semua ini." Dia bahkan menangkupkan kedua telapak tangannya didepan da da.
" Tolong jangan buat aku seperti ini." Suara yang biasanya berisik seolah melemah, bak kerupuk yang tersiram air.
" Bukannya kita memang tidak ada hubungan selain teman baik dokter?" Niar sama sekali tidak berani memandang wajah Marvin, karena dia takut kalau keputusannya akan berubah dengan sekejap mata saja, saat melihat kedua bola mata yang selalu saja membuatnya dimabuk kepayang walau tanpa dia sengaja.
Apa aku sebegitu tidak berartinya dimatamu Niar? apa kedatanganku hanya akan membuat luka dihatimu? kalau memang kehadiranku tidak berkenan dihatimu, dan hanya membuatmu bersedih, baiklah... aku akan pergi Niar, terima kasih untuk hal-hal yang tidak sengaja kita pernah lakukan, aku tidak pernah menyesal saat mengenalmu... selamat tinggal Niar...
__ADS_1
Mata Marvin tidak pernah bisa berbohong, bahkan warnanya sudah mulai memerah dalam hitungan detik saja mungkin sudah akan menetes membasahi pipi diwajah tampannya. Namun demi menjaga kewibawaannya dia terus menahan sekuatnya, dia tidak ingin terlihat lemah, apalagi didepan rivalnya.
" Hmm... baiklah, aku akan pergi." Setelah berpikir sejenak, dia berkata-kata sambil tersenyum getir ke arah Niar.
Mengalah bukan berarti kalah, namun melepaskan adalah keputusan yang menurutnya terbaik untuk saat ini, untuk apa dia mempertahankan mati-matian jika hanya kemauan sepihak, walau didalam hati Marvin, dia sangat yakin kalau sebenarnya Niar juga punya perasaan yang sama untuknya, dilihat dari respon dirinya selama ini walau tanpa disengaja.
" Aku tidak akan menggangumu lagi, jika memang ini sudah kemauanmu dan sudah menjadi keputusanmu?" Marvin bukan tipe orang yang mudah menyerah, namun dia juga bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendaknya, jadi mundur adalah jalan yang terbaik untuk mereka semua, pikirnya.
" Selamat." Satu kata terucap dari bibirnya, Marvin menyodorkan tangan kekarnya untuk berjabat tangan dengan Niar.
Namun Niar hanya memandangnya saja, tanpa menyambut tangan Marvin yang terlihat sedikit bergetar.
" Izinkan aku menjabat tanganmu, setidaknya untuk yang terakhir kalinya."
" Jika kamu memang menggangapku sebagai seorang teman." Entah mengapa Marvin juga melihat kesedihan di wajah Niar, seolah dia juga merasakan hal yang sama dengannya.
" Terima kasih dok." Akhirnya Niar menyambut tangan Marvin dengan tangan yang sudah gemetaran, serta air mata yang mengalir semakin deras.
Marvin menjabat tangan lembut Niar dengan kuat dan sedikit menariknya, agar dia bisa berbisik disamping telinga Niar.
" Niar... Aku Sayang Kamu..."
Niar bahkan hanya bisa memejamkan matanya sambil menunduk, kata-kata itu seolah menancap bagai pisau tajam di hatinya, dia juga tidak berani melihat punggung Marvin yang berbalik dan pergi keluar dari halaman rumahnya, dia menahan isak tangisnya yang mendalam, dia bahkan tidak menyangka semua ini akan terjadi dimalam sebelum hari pertunangannya.
Kata-kata terakhir yang Marvin ucapkan, bukan menjadi kebanggaan diri karena merasa banyak yang menyayanginya, namun malah membuat hati Niar seolah teriris pilu saat mendengarnya.
SAKIT...
Satu kata yang mengambarkan hati Niar saat ini, namun dia juga tidak ingin menyakiti hati kekasihnya yang sudah bertahun-tahun menemani dirinya, walau hanya lewat smartphonenya, rasa sayangnya yang muncul tiba-tiba dengan Marvin tidak sebanding dengan perjalanan cintanya yang dia lewati bersama Dito walau hanya dengan hubungan LDR.
... "Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan."...
__ADS_1
..."Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan."...