
...Happy Reading...
Ingatlah kebahagiaan tidak bergantung pada siapa kamu atau apa yang kamu miliki, karena kebahagiaan hanya bergantung pada apa yang kamu pikirkan.
" Pak Dokter ini ngomong apaan sih?"
" Beliau tadi dosen pembimbingku lho!"
" Awas saja kalau sampai dia ngasih nilai aku jelek gara-gara omongan dokter." Niar mengepalkan kedua tangannya kearah Marvin yang malah terlihat menahan tawa bahagia.
" So what gitu loh?" Ucap Marvin sambil terus menahan tawa.
" Masuk mobil sekarang!" Perintah Marvin.
" Atau kamu mau, seluruh isi kampus ini mendengar apa yang aku katakan tadi?" Ancam Marvin sambil menaikkan kedua alisnya.
" Aiishhh.. dokter yang satu ini!"
" Kebanyakan menangani pasien kejiwaan, jadi ikut gila dia!" Umpat Niar terpaksa memasuki mobil itu, walau dia sebenarnya sedikit bangga juga saat banyak pasang mata melihat dirinya memasuki mobil mewah yang memang belum pernah dia naiki sebelumnya.
" Kita mau kemana?" Tanya Niar dengan ketus.
" Makan dulu gimana?"
" Ada restoran enak didekat sini." Ucap Marvin yang selalu beranggapan bahwa wanita dengan mudahnya dibujuk kalau sudah dihadapkan dengan makanan elit dan super mewah, karena dulu Lily juga seperti itu, kalau dia ngambek cukup diajak shoping di Mall dan makan mewah saja langsung nempel lagi.
" Aku sudah makan tadi." Tapi Niar bukan Lily yang gila harta, dia satu server dengan Jani, walau ucapannya terdengar selengek an, tapi dia sebenarnya jauh dari kata matre, bahkan dia menerima kekasihnya yang bukan seorang pengusaha, hanya pekerja kantoran biasa, namun sangat dicintainya.
" Langsung ke intinya saja!" Ucap Niar yang sebenarnya sudah tahu maksud dan tujuan Marvin menemuinya, apalagi kalau bukan tentang Rinjani dan Samuel yang langsung loss kontak dalam dua hari ini.
" Ckkk.."
" Buru-buru amat, makan dulu kenapa?"
" Semua butuh proses, kalau mau ke intinya itu harus melalui pemanasan terlebih dahulu."
" Kalau tidak, bisa berbahaya nanti endingnya!" Ucap Marvin yang memang sengaja mengulur waktu, agar bisa menginterogasi Niar tanpa dicurigai.
" Dokter ini dari tadi ngomong apa sih?"
" Nggak jelas banget tau nggak!" Umpat Niar yang langsung membuang mukanya ke arah jalanan yang terlihat ramai.
" Kamu ini kenapa?"
" Dari tadi sewot aja terus?"
" Bisa nggak lembut sedikit jadi perempuan?" Marvin melirik Niar yang masih memalingkan wajah cantiknya itu.
" Ckkk..."
" Mulai deh.. menghujat terus!"
" Dasar mulut netizen!" Umpat Niar perlahan.
" Kamu ngomong apa?" Marvin samar-samar mendengar umpatan Niar.
" Nyokap gw, nanti pulangnya minta dibeliin deterjen!" Ucap Niar malas berdebat.
" Owh." Dengan santainya Marvin ber owh Ria.
" Kalau bapak cari aku mau tanya soal Jani aku nggak tau ya pak."
" Aku nggak ikut-ikutan masalah mereka."
" Dan aku tidak tahu soal kemana mereka pergi, atau apapun yang berhubungan dengan keluarga Rinjani." Ucap Niar sambil menyandarkan kepalanya, dia hanya bisa bungkam untuk saat ini, karena ibuk Jani juga sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak berkata apapun tentang keberadaan mereka.
" Jadi kamu tahu kemana mereka pergi?" Tanya Marvin yang akhirnya berkata jujur, karena Niar sudah bisa menebak kedatangan dirinya.
" Nggak!" Ucap Niar sekilas.
" Bohong!"
" Aku belum tanya apa-apa, kenapa kamu sudah bilang mereka pergi?" Marvin tersenyum miring melihat kepolosan Niar yang tanpa di sengaja itu.
Argh... Niar, bodohnya kamu! kenapa harus bilang mereka pergi!
" Ehermm.."
" Aku cuma.. cuma tahu aja mereka pergi dari rumah, tapi nggak tahu pergi kemana?" Ucap Niar mencari alibi.
" Aku juga paham, kenapa mereka pergi."
" Aku pun mungkin juga akan melakukan hal yang sama, kalau kejadian seperti itu menimpaku dan keluargaku." Ucap Marvin sambil menurunkan kecepatan mobilnya, dia yakin seratus persen bahwa Niar pasti tahu keberadaan Jani sekarang, wajah gadis itu tidak bisa berbohong.
" Tuuh kan, Iya kan pak."
" Keluarga pak Sam memang keterlaluan kan?" Ucap Niar merasa satu pendapat dengan Marvin sekarang.
__ADS_1
" Tapi itu bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah bukan?"
" Sampai kapan mereka harus menghindar?"
" Bahkan mamah Samuel sudah bolak balik kerumah mereka, untuk minta maaf, atau bertanya apa yang harus mereka lakukan agar bisa menebus itu semuanya?" Ucap Marvin yang langsung menepikan mobilnya ditempat yang sepi, karena dia ingin bicara dari hati ke hati dengan Niar agar dia bisa membantunya kali ini.
" Tidak semudah itu dokter?"
" Kalau mereka mau bertanggung jawab, harusnya dari dulu dong?"
" Kenapa baru sekarang?"
" Kemana saja mereka selama ini?"
" Kalau mereka nggak ketahuan belangnya sekarang, pasti juga mereka akan tetap menutupi kelakuan bej*t anaknya, sampai kapanpun itu kan?"
" Dasar orang kaya, selalu saja menggangap semua bisa terselesaikan dengan uang!" Umpat Niar ikut kesal saat mendengar cerita keseluruhan dari ibu Jani kemarin.
" Huuftt." Marvin semakin yakin kalau Niar pasti mengetahui semuanya dari ibu Jani.
" Okey."
" Kamu bisa lihat saja nanti." Marvin langsung menekan pedal gas mobilnya dengan kecepatan penuh.
" Dok.. dokter?"
" Dokter kenapa?"
" Jangan ngebut-ngebut, aku takut dokter?" Ucap Niar memegang jok kursi mobilnya dengan erat.
" Tenang saja."
" Aku tidak akan membiarkan kamu mati, sebelum kamu melihat semuanya." Marvin bahkan menambah lagi kecepatan mobilnya, dia tidak memperdulikan Niar yang memejamkan matanya dan terlihat ketakutan.
Hanya butuh beberapa menit saja, mereka sudah sampai dihalaman rumah mewah, milik siapa lagi kalau bukan Samuel.
" Ayo turun, sudah sampai." Marvin membukakan pintu mobil untuk Niar yang masih terlihat memegang da danya karena ketakutan.
" Turun sendiri atau aku gendong?" Tanya Marvin sambil menahan tawanya.
" Dokter iiihhhh!" Niar langsung memukul bahu Marvin melampiaskan ketakutannya.
" Gimana?"
" Apa pendapatmu tentang kecepatan mobil ini?"
" Ciiihh.."
" Mau dikasih free juga ogah!"
" Mending mentahnya saja!" Niar langsung mendorong tubuh Marvin, dia lebih baik jalan sendiri dari pada digendong tapi terkena tekanan batin nantinya, andai saja kekasihnya yang menawarkan, tanpa butuh waktu yang lama untuk menjawabnya, mungkin dia sudah naik duluan kepunggung kekasihnya yang nun jauh disana.
" Sama saja itu!"
" Dasar, semua gadis memang sama saja." Umpat Marvin sambil menarik lengan Niar agar segera masuk kedalam rumah.
" Lihat." Marvin menarik tangan Niar masuk kedalam kamar Samuel, sedangkan mamah Samuel terlihat tertidur, sambil duduk disebelah ranjang Samuel.
" Jani..."
" Jani jangan pergi sayang..."
" Jani jangan tinggalkan aku..."
Walau suaranya lirih dan dalam posisi mata terpejam, juga tidak bertenaga sama sekali, namun suaranya masih terdengar jelas ditelinga Niar.
" Apa kalian tega melihat dia seperti itu?"
" Bahkan dulu pun dia seperti itu, lalu bagaimana dia bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya kalau seperti itu?"
" Bahkan dia bisa hidup dengan normal dengan bantuan obat."
" Seluruh tubuhnya, dari tangan sampai kaki penuh dengan bekas suntikan jarum."
" Karena kalau diinfus, selalu dia cabut dan di buang."
" Dimana naluri kalian kalau melihatnya seperti itu?"
" Bukan hanya keluarga Jani yang tersiksa dan kehilangan."
" Bahkan mereka kehilangan dua nyawa sekaligus Niar?"
" Apa sedikit saja kalian tidak bisa memberikan toleransi?"
" Bahkan pihak polisi juga tidak akan memenjarakan orang yang psikisnya sakit." Ucap Marvin panjang lebar dan Niar hanya bisa termenung saat mendengar semua penjelasan Marvin.
" Kamuuuu...!" Tiba-tiba mata Samuel terbuka dan melihat sosok Niar.
__ADS_1
" Kamuuu... kembalikan Jani padaku!"
" KEMBALIKAN JANI PADAKU!"
" Aaaaarrrgggghhhhhhhhh!" Teriak Samuel histeris, bahkan mamah Samuel langsung terlonjak terbangun dan langsung memeluk tubuh putranya.
" SAM.."
" Sam tenang nak."
" Jangan begini, nanti badanmu sakit semua." Beberapa dokter terlihat menahan tubuh Samuel yang ingin mendekati Niar.
" Kembalikan Janiii.."
" Jangan ambil Jani dariku!"
" CEPAT KEMBALIKAN!" Teriak Samuel dengan wajah yang sudah seperti kemasukan roh halus.
" Dok.. dokter.." Niar beringsut mundur dan memegang erat lengan Marvin yang ada disampingnya.
" Tidak papa."
" Dua hari dua malam ini, dia memang selalu seperti itu."
" Hanya nama Jani yang dia ingat!" Marvin menarik Niar kedalam pelukannya, namun tangannya menarik ponsel Niar yang ada disaku belakang celananya.
" AAAAAARRRRGGGHHHH... JANIII..!"
" Jangan pergi sayang!" Samuel terus saja berteriak histeris saat melihat wajah Niar.
" Dokter." Niar bahkan menyembunyikan wajahnya ditubuh Marvin, dia terlihat ketakutan melihat wajah dan tingkah Samuel, sungguh hilang sudah ketampanan dari dirinya dikala seperti ini.
" Sepertinya dia jadi ikut membencimu!" Ucap Marvin yang sengaja membuat Niar semakin panik, sehingga saat dia menyentuhkan kunci ponsel milik Niar ke jarinya dia bahkan tidak terasa.
" Argh!"
" Gimana ini?"
" Aku kan nggak tahu apa-apa dokter?" Niar ikut panik jadinya.
" IKAT DIA..!" Ucap Marvin kepada para dokter yang terlihat kuwalahan dengan gerakan Samuel yang tiba-tiba punya kekuatan ekstra.
" Berikan suntikan dosis tertinggi kembali." Ucap Marvin sambil merekam kondisi Samuel di ponsel Niar yang terlihat semakin mengenaskan dan menyedihkan dengan tangan di ikat kesamping kanan dan kiri, juga kedua kakinya yang diikat masing-masing.
" Astaga!" Niar sampai membungkam mulutnya, saat sedikit mengintip keadaan Samuel.
Siapa nama Rinjani ya? arghh.. mungkin aku lihat panggilan keluar saja!"
Marvin mencari-cari kontak yang bernama Jani, namun tidak ada, dan saat melihat panggilan keluar dia melihat foto profil dari Rinjani, langsung saja dia kirimkan video itu ke nomor Rinjani.
Yeeesss... aku percaya, dia tidak akan tega melihat Samuel seperti ini, si Jani itu walau resek tapi dia tipe cewek yang nggak tegaan, apalagi dengan suaminya sendiri, bahkan dia sudah terlihat mencintai Sam sekarang, tidak mungkin perasaannya akan hilang dalam dua hari, tinggal menunggu kedatangannya saja!
" Dokter?"
" Apa pak Sam selalu seperti itu?" Tanya Niar yang masih berada dipelukan Marvin.
" Hmm.."
" Apa kamu nggak lihat, ada dua kotak di atas mejanya itu?"
" Itu penuh dengan jarum dan obat suntikan."
" Lihat tangan dan kakinya penuh dengan bentol kemerahan itu?"
" Itu semua bekas suntikan, hanya dalam dua hari saja?"
" Bayangkan jika dia sampai satu bulan seperti itu?"
" Bagian tubuh mana lagi yang harus saya suntik?" Ucap Marvin yang tanpa sadar mengeratkan pelukannya dari belakang.
" Kasihan sekali pak Sam?" Hati Niar yang tadi tersulut emosi dan kemarahan karena Samuel, sekarang luluh begitu saja.
" Hmm.."
" Aku pun sama."
" Jadi bujuklah Jani untuk menemuinya?"
" Atau dia akan sekarat, kalau sampai Jani tidak mau datang!" Marvin sengaja mendramatisir suaranya.
" Hmm.." Niar langsung menggangukkan kepalanya.
" Anak pintar!" Marvin bahkan tanpa sadar menci um kepala Niar berulang kali, sambil tersenyum lega, tidak sia-sia perjuangannya hari ini, setidaknya Niar akan sangat membantu untuk membujuk Rinjani datang menemui Samuel.
..."Menahan amarah itu seperti menggenggam bara panas dengan maksud melemparkannya ke orang lain namun, kamulah yang terbakar."...
..."Bagian terbaik dari kehidupan orang baik adalah tindakan kebaikan dan cintanya yang kecil, tanpa nama, dan tidak diingat."...
__ADS_1