
"eh anak-anak bunda....sini mari makan malam bersama..."
ucap bunda saat melihat arif dan nana turun dari atas.
arif bingung...kenapa bundanya mengangkat nana sebagai anak...
"udik katrok dan gak banget pokoknya"
gumam arif benar-benar kesal dan tidak suka dengan kehadiran nana.
arif menarik kursi untuk bundanya dan ia pun menyusul duduk,
"sini nak...ayo sini...mari makan sama-sama..."
ucap bunda yang memintanya duduk di kursi yang di tarikkan arif tadi.
nana pun dengan patuh memuruti bundanya.
"apa-apaan sih bund!"
gerutu arif di sela menyuap makanannya.
"bund...om surya tidak ikut makan malam?"
tanya nana.
"kok om si nak...panggil ayah dong..."
jawab bunda.
"ia bund...ayah surya tidak ikut makan malam?"
tanya ulang nana.
"maaf sayang...di hari pertamamu makan malam disini...ayah tidak bisa ikut...masih di luar kota nak..."
ucap bunda menerangkan.
"tidak apa-apa bund...nana malah ingin makan malam ini mas rama ikut..."
ucap nana dengan polosnya.
namun...arif dan bunda farida sesaat saling memandang dan hampir meneteskan air mata.
mata keduanya berkaca-kaca.
lalu...
"hey...cepatlah makan...kakak ku itu super sibuk...jangan harap kau akan bertemu.mungkin setelah hari ini pun...kau tidak akan kemari lagi,"
ucap arif di sela makannya.
"rif...jaga ucapanmu!"
kata bunda farida dengan tegasnya.
"aku kenyang bund...aku ke atas dulu,"
kata arif dengan dinginnya.
padahal nasi di piringnya masih utuh.
"dasar setan...tidak bisa apa dia lebih lembut pada bunda nya ,"gumam dalam hati nana.
"sudah nak...jangan hiraukan dia..."
ucap bunda.
keduanya menyelesaikan makan malam mereka...dan setelah selesai...
bunda mengajak nana ke teras belakang rumah,
terhampar luas kolam renang yang panjang membentang disana.
nana begitu takjub.
hingga ia betah memandanginya disana.
"nak...dua hari nanti...bunda tidak bisa menemuimu...bunda sudah repot mengurus pernikahan kalian...aku harap...kamu tidak keberatan ya sayang?"
__ADS_1
ucap bunda.
"tidak apa-apa bund...apa ada yang bisa aku bantu?"
tanya nana.
"kamu kan pengantinnya...masak ia si kamu ikut repot...kamu di pingit lo..."
ucap bunda dengan candanya.
"baiklah bund...aku akan mematuhinya,"
balas nana.
"biar kamu di antar arif ya nak pulangnya..."
ucap bunda.
dengan tangan yang menggenggam jemari nana.
"kalau kayak gini...aku mana bisa nolak...keinginan bunda..."
ucap nana dalam hatinya.
"baiklah bund.."
jawab nana
lalu bunda meninggalkan nana memanggil arif yang ada di kamarnya.
"tok tok tok..."
bunda mengetuk pintu kamar arif dari luar.
lalu arif dengan ogah-ogahan pun membuka pintu kamarnya.
"ada apa bunda?jangan bilang...bunda suruh ngantar gadis itu pulang...arif tak mau bund..."
ucap arif dengan lesunya.
lalu bunda mengajak arif masuk ke dalam kamar nya,duduk di tepian ranjangnya.
tanya bunda
"ia bund...cuma...
janji adalah hutang
itu yang tertulis bund..."
ucap arif.
"kakak mu sebelum mengirinkan kalimat itu...pasti membicarakan sesuatu kan?mungkin dia menitipkan nana?"
kata bunda yang membuat mata arif terbelalak...
namun...saat itu...arif mengartikannya lain...bukan seperti yang di cernanya sekarang.
arif mengira itu hanya ucapan kakak nya sebelum tidur saja dan esok harinya kakakya itu terbangun seperti biasanya.
namun kini dia baru sadar...arti titip yang di maksudkan kakaknya itu.
"kau sudah mengerti?"
tanya bunda yang membuat arif masih mematung tidak percaya dengan apa yang kakaknya ucap itu.
"jadi...bunda menyembunyikan kematian kakak...dan memakamkan kakak di desa ayah...dan hanya ayah sendiri yang mengurus pemakaman kakak disana...itu juga karena kemauan kakak?"
ucap arif ingin tau.
karena...harusnya bunda ikut ayahnya memakamkan kakaknya di desa tempat kelahiran ayah,namun bundanya memilih menemani calon mantunya agar tidak curiga.
dan arif...karena janjinya pada kakaknya itu...dia tidak bisa ikut serta ayahnya.
bundanya hanya manggut-manggut.
"lalu tadi...nana mandi di sini...bunda juga yang mengaturnya?"
tanya arif yang langsung di balas senyum kecil disana
__ADS_1
"bund...jangan begini bund...aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat...dan tidak mungkin lagi dengan si nana itu bund..."
ucap arif dengan nada melasnya.
"apa kau tidak mau menuruti kata-kata terakhir kakak mu nak?
ucap bunda.
"bund...jangan paksa aku...aku mohon bund...
aku mohon bund..."
ucap arif dengan memelasnya.
"dua hari ini bunda mohon...jangan keluar rumah nak...bunda sudah terlanjur menyebar undangan untuk para kerabat...dan bunda juga sudah mendaftarkanmu dan nana menikah"
ucab bunda sambil berdiri meninggalkan arif yang mematung.
"tunggu bund..."
ucap arif sambil menyekal tangan bundanya.
"bund...harusnya bunda tau...bagaimana kehidupan kelam percintaan ku kan bund...apa bunda tidak mau mengerti dan menghargai kemauanku?
jangan kan menjaga seseorang...untuk mencintai seseorang saja aku tidak sanggup bund...aku takut...harus kehilangan orang yang aku cintai lagi...karena tumor rahim.
jadi jangan bunda berikan tanggung jawab padaku yang sebesar ini.aku tak sanggup bund..."
ucap arif dengan permohonannya.
"itu dulu nak...beda lagi sekarang...ini kemauan terakhir kakakmu...biarkan dia tenang dengan secepatnya menyelesaikan keinginannya itu."
ucap bunda dengan mantapnya.
"bunda tidak bisa mengabaikan begitu saja kemauan kakakmu nak..."
ucap bunda lagi,
yang lalu tangannya mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"lihatlah nak...setengah jam sebelum kakakmu benar-benar pergi..."
bunda...rama sudah tidak sanggup lagi bund...rama sepertinya akan benar-benar pergi...tolong agar arif menjaganya bund...menggantikanku...dan jika benar-benar ini malam terakhirku...jangan biarkan ia tahu kepergianku..
seketika kaki arif lunglai...ia benar-benar tidak sanggup berdiri.
betapa tidak...dulu...empat tahun yang lalu...arif mengalami masa-masa tersulit dalam hidupnya.
melihat begitu saja orang yang ia cintai meninggal di depan matanya tanpa ia bisa berbuat apa-apa karena sudah sangat terlambat menyadarinya.
dan sekarang cobaan apa lagi yang akan ia hadapi.
kakaknya...meninggalkan beban yang harus ia pikul.
"istirahatlah nak...biar pak supir yang mengantar nana pulang.maaf sayang..."
ucap bunda lalu menutup pintu kamar arif dan meninggalkannya dengan kesendiriannya .
tanoa terasa air mata bunda menggenang...di pelupyk matanya dan menetes membasahi pipi yang lalu di terpianya.
"tidak farida...kamu sudah benar...kamu melaksanakan keinginan terakhir almarhum rama...dan kamu harus menyatukan arif...dengan jodoh yang dipilihkan rama untuknya.
lambat laun...cinta pasti akan tumbuh pada keduanya."
ucap bunda farida dalam hatinya.
tibalah bunda di dekat anin berdiri di teras belakang rumahnya.
"nak...kamu nanti pulangnya di antar supir tidak apa-apa kan?karena arif sibuk dengan kerjaannya...apa kamu keberatan?"
tanya bunda.
"tentu tidak dong bund...tapi aku pulang sekarang saja ya bund...aku lelah sekali hari ini...belanja ternyata lebih melelahkan ya bund.. dari bekerja?"
canda nana pada bunda yang di sambut senyum oleh calon mertuanya itu.
"baiklah nak...hati-hati di jalan..."
ucap bunda lalu mengantar nana sampai pintu keluar dan menaiki mobilnya.
__ADS_1