
Arif memilih bersama ayahnya untuk bersantai di teras samping setelah makan malam, Keduanya sama sama penyuka teh daripada kopi, terlihat dua gelas teh sudah terhidang disana, Dimeja dekat keduanya.
Terlihat keduanya asyik ngobrol ringan seperti seorang sahabat.
"rif...tabungan kamu sudah cukup untuk beli rumah?"
Tanya ayah tiba tiba di sela obrolannya.
"Kenapa ayah tanya begitu?kami masih ingin berada di dekat kalin ayah...kami rasa...kami masih betah disini bersama kalian..." Ucap Arif sambil matanya melirik ke arah ayahnya yang terlihat mengerutkan alisnya.
"nak...bukannya kami tidak suka kalian disini...tapi mengertilah...istrimu juga butuh privasinya bersama kamu...dan ayah semalam sudah berembuk sama bunda kamu...kalau kamu dalam waktu dekat ini...cukup baik untuk membeli sebuah rumah...kalian sudah berkeluarga...dan istrimu pasti setuju..." Ucap ayah dengan kata kata masuk akalnya. Terlihat arif hanya manggut manggut saja.
"beneran...uangmu sudah cukup untuk beli rumah nak?"
Tanya ayah lagi dengan tangan yang mengambil gelas teh dan mulai menghabiskan sisa sisa teh nya.
"cukup ayah...aku kira malah lumayan cukup kok yah...iya nanti aku bilang sama nana apakah ia setuju juga apa punya pemikiran lain, Soalnya kan kita kadang kerja juga waktunya nggak sama yah...kadang Arif masuk dan nana libur...ya...saling ngerti aja lah yah..." Ucap Arif memberitahu ayahnya.
"Itu ya bisa bisanya kalian aja gimana bisa bersamanya rif...ngatur waktu yang tepat...masak iya ayah ajarin juga..." Balas ayah yang masih menikmati minum teh nya, Dengan sedikit ledekannya.
di dapur, Nana dan bunda terlihat ikut sibuk membantu bibi membereskan sisa makanan, Meski bunda hanya duduk menonton karena kakinya yang masih sakit.
"sayang...kalian nggak lagi berantem kan?" tanya bunda pada nana yang terlihat masih ikut menata piring piring di rak atas.
"Bund....mana bisa kami berantem...bunda jangan khawatir ya bund..." Ucap nana sambil menghampiri bundanya dan duduk di sampingnya.
"sayang...bunda mau ke kamar...anterin bunda ya..." Ucap bunda sambil meraih tangan nana yang sudah mengulur di depannya dan dengan senang keduanya berjalan bersama menuju kamar bundanya, Dimana bunda sedikit di papah oleh menantunya tersebut.
__ADS_1
"sayang...tolong panggilkan ayah ya..." Ucap bunda setelah ia sudah sampai di kamarnya dan naik ke atas ranjangnya.
nana hanya mengangguk sambil tersenyum sebelum ia pergi meninggalkan kamar bundanya.
nana berjalan dari kamar bundanya melewati ruang keluarga dan ruang tamu, Lalu menuju dapur dan melewatinya menuju ke arah teras samping yang berada di sebelah dapur nya. Tidak lupa ia membawa serta cemilan ringan yang tadi sempat ia beli ketika akan pulang ke rumah.
"ayah...di panggil bunda di kamarnya..." Ucap nana seketika setelah ia berada tepat di samping suami dan mertuanya itu.
"Oh...iya iya...yasudah...ayah masuk dulu nemani bundamu...sebelum crewetnya kambuh..." Ucap ayah lalu pergi meninggalkan keduanya.
Terlihat arif menyambut istrinya dengan senyum ceria, Dimana ia sudah membayangkan akan hanya tinggal berdua saja dengan. Menikmati hari hari yang menyenangkan bersama, Membagi semua kisah sedih maupun bahagia.
Mengulang kisah yang pernah tertinggal untuk waktu yang lama, Merajutnya kembali menjadi buih indah di masa mendatang. Apa lagi kelak pasti akan datang buah hati keduanya, Pastilah arif sangat bahagia.
"sini sayang...temani mas duduk di sini sebentar..." Ucap arif sambil tangannya mengulur dan meraih jemari sang istri untuk membimbingnya agar ikut duduk di kursi dekatnya.
"Ada apa sih mas?kok kayaknya seneng banget gitu??" Tanya nana dengan keheranannya.
"Gini sayang...mas pingin tahu apa yang kamu pikirkan....mas ingin kamu jawab jujur ya sama mas..."
Ucap arif dengan seriusnya.
"Iya maas...mas mau tanya apa sih?" ucap balasan nana yang merasa sedikit gemas karena suaminya terlalu bertele tele.
"Kamu mau nggak kita punya rumah sendiri?kita bangun keluarga kecil kita dengan penuh kasih sayang...gimana?"
Tanya arif dengan sungguh sungguh...dan ia juga penasaran dengan jawaban istrinya, Apakah ia akan menjawab mau atau masih memikirkannya atau malah sebaliknya.
__ADS_1
"gimana sayang?kamu mau kan kita punya rumah sendiri?"
ucap arif dengan tangan yang mengelus jemari istrinya, Karena dari tadi jemari keduanya masih menyatu.
"iya mas aku mau...terserah mas aja maunya gimana mas...aku nurut aja apa kata suami...tapi...apakah ayah dan bunda nggak akan keberatan ya mas?soalnya mereka sudah cukup kesepian selama ini...apa lagi saat aku di luar negeri...dan mas sibuk kerja...mereka pasti kesepian...lalu...setelah aku kembali...bukannya nemani mereka...malah ninggalin mereka mas..." Ucap nana dengan nada sendu nya. Dan arif sangat terkejut dengan jawaban sang istri yang bilang iya dengan cepatnya seolah tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
"Sayang...nggak perlu khawatir ya...ini tadi juga usulan ayah dan bunda sayang...bukan mereka tak sayang...tapi lebih menghargai privasi kita...toh nanti kita nyari rumahnya yang nggak jauh dari dini aja ya...biar tiap hari bisa main kesini...syukur syukur...kita akan punya anak...eiiits...tapi jangan dulu...beri waktu aku memanjakanmu sayang...satu tahun lagi ya...aku ingin puas buatmu bahagia...baru ngurus si kecil...aku masih ingin kamu perhatikan sayang...gimana...mau ya?" Tanya arif pada istrinya dan berharap istrinya mengiyakannya pula. Namun jika sebaliknya...arif pun akan senang hati menerimanya, Toh umurnya saat ini tidak muda lagi.
"iya mas...aku mau...gimana mas aja lah...tapi...kenapa mas baru bilang kalau mau nunda momongan selama beberapa waktu lagi?" Tanya nana dengan penasarannya.
"Lho memangnya kenapa sayang?" Tanya balik arif yang membuat nana kebingungan mau menjawabnya.
"Itu lo maaas...kan kemarin...mas nggak pakai pengaman...dan aku juga...kalau jadi gimana?"
tanya nana lagi.
"Nggak apa sayang...ah kalau begitu...biarin aja ya sayang...biar se jadi jadinya...hemmmz...mau kapan kita lihat rumahnya?" Tanya arif lagi.
"Emmmb....kayaknya kita bahas besok aja deh maaas...aku udah ngantuk nih...ini udah malam maaaas...mas sih ke asyikan ngobrol...Ngobrol terus dari tadi...jadinya kemalaman kan..." Ucap nana sabil bibirnya terlihat manyun disana. Arif yng melirik pun langsung saja merasa gemas, Lalu ia pun meraih tengkuk nana lalu membimbing wajahnya untuk salinh mendekat dan sedetik kemudian saling berciuman, Keduanya saling mencium tanpa aba aba, Cukup lama hingga saling terengah.
"Maaas ini di luar...malu kalau ada yang lihat..." Ucap nana dengan pipi yang sudah merona merah karena malunya.
"Nggak ada yang lihat sayang...lihat tuh pagar nya aja tinggi...dan lagi...aku masih mau berlanjut loh...nggak mau bersambung kaya gini..." Ucap nakal suaminya dan langsung membuat nana makin tersipu malu malu.
"Akh...udah ah aku mau masuk ke kamar dulu...mas kalau masih mau disini...disini aja sama nyamuk...mereka setia kok nemeni mas..." Ucap nana sambil bangkit berdiri dan mulai berjalan dengan cepat meninggalkan arif sendiri yang masih mematung di tempatnya.
"Hei sayang...siapa yang mau berciuman dengan nyamuk...aku maunya lanjut nyium kamu...tau nggak...awas ya...aku kejar nih..." Ucap arif dengan sedikit keras suaranya, Ia tidak peduli jika ada yang mendengarnya, Toh hari pun sudah malam...dan pastilah semua anggota keluarga sudah pada tidur semuanya.
__ADS_1
Namun arif tidak langsung mengejar sang istri, Ia masih betah untuk duduk disana, Membayangkan rumah yang seperti apa yang akan ia beli nantinya.
"Ada nggak sih rumah bagus yang di jual dekat dekat sini? Apa aku beli tanah saja lalu membangunnya? Ya...mungkin seperti itu juga bisa...kami bisa buat denah sesuai dengan yang kami inginkan...istana kita surga kita...aaakh...kenapa aku begitu sangat mencintai nana sih? Dan akhir akhir ini kayaknya makin bertambah kadar nya..." Gerutu arif dengan kedua tangan ke belakang menyangga kepalanya di bagian belakang, Matanya terpejam beberapa saat, Dan bibirnya tersenyum manis. Menikmati meresapi setiap perasaan yang timbul ternyata sangat membahagiakan baginya.